Malam perlahan menyelimuti pulau kecil itu...
Langit berubah gelap, namun tidak sepenuhnya kelam. Cahaya bulan yang menggantung rendah di ufuk barat memantulkan sinarnya dengan lembut, ditemani ribuan bintang yang bertaburan seperti butiran cahaya. Angin malam berembus cukup kencang, membuat dedaunan di sekitar mereka bergesekan dan menghasilkan suara yang samar namun menenangkan.
Di tepi pantai, Syifa dan Regan duduk berdampingan di depan api unggun sederhana yang baru saja berhasil dinyalakan Regan sekitar tiga puluh menit lalu dengan susah payah.
Api itu sempat hampir padam beberapa kali karena tiupan angin. Regan harus berkali-kali menambahkan ranting, meniup bara, dan menahan arah api agar tetap hidup. Belum lagi suara Syifa yang sejak tadi terus mengeluh lapar.
Jujur saja, dalam hati kecilnya, Regan sempat ingin melempar gadis itu ke laut.
Namun tentu saja, itu hanya pikiran sesaat.
Dengan beralaskan batang pohon tua yang tumbang, mereka duduk menunggu ubi singkong yang sedang dipanggang di atas bara api. Ubi itu mereka dapatkan setelah hampir satu jam berkeliling mencari makanan.
Memang bukan makanan yang mereka harapkan.
Namun untuk kondisi seperti ini
Itu sudah lebih dari cukup.
“Masih lama ya?” tanya Syifa, suaranya terdengar lemah sekaligus memelas.
Tangannya memegang perut yang sejak tadi sudah berbunyi protes.
Regan menggeleng pelan tanpa menoleh. Tangannya tetap sibuk memutar ubi-ubi itu agar matang merata.
“Perut gue lapar banget, Gan…” rengek Syifa lagi.
Wajahnya benar-benar seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen. Tatapannya sendu, bibirnya sedikit mengerucut.
Regan berdecak pelan. “Sabar. Kalau nggak mau nunggu, ya makan saja sekarang. Tapi kalau keras, jangan salahkan saya.”
Syifa langsung menggeleng cepat.
Ia membayangkan giginya yang rapi harus berhadapan dengan ubi keras seperti batu.
Tidak, terima kasih.
“Mau?” tanya Regan lagi, memastikan.
“Nggak.”
“Ya sudah. Sabar.”
Nada suara Regan kali ini lebih lembut.
Syifa akhirnya diam.
Ia menyelonjorkan kedua kakinya ke depan, sementara tangannya menjadi tumpuan di belakang tubuhnya. Pandangannya perlahan terangkat… menatap langit malam.
Dan saat itulah
Ia terdiam.
“Indah banget…” gumamnya lirih.
Langit malam di atasnya tampak begitu luas, dipenuhi bintang yang berkelip pelan. Bulan sabit yang menggantung menambah keindahan pemandangan itu.
Untuk pertama kalinya
Syifa benar-benar memperhatikan.
Dulu, saat masih tinggal di rumah, ia tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti ini. Langit hanyalah langit. Bintang hanyalah bintang.
Tidak ada yang spesial.
Bahkan ia sempat menganggap orang-orang yang suka kegiatan alam sebagai orang yang membuang waktu.
Namun sekarang
Di tempat asing ini
Ia justru menemukan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Indah banget ya ternyata langit malam,” ucapnya pelan.
Regan yang merasa diajak bicara melirik sekilas, lalu ikut menatap ke atas.
“Hm.”
Syifa langsung menoleh. “Hm maksudnya apa? Setuju atau nggak?”
“Iya.”
“Ya ampun… ngomong tuh yang panjang dikit napa sih!” gerutu Syifa.
Regan tidak menanggapi.
Syifa kembali menatap langit.
“Bodoh banget ya gue…” lanjutnya pelan. “Baru sadar sekarang kalau langit itu seindah ini.”
Regan berhenti sejenak memutar ubi. Ia melirik ke arah Syifa.
“Bukan bodoh,” katanya tenang. “Mungkin dulu kamu tidak fokus ke sana.”
Syifa menoleh, menatapnya. “Maksudnya?”
"Mungkin kamu dulu tidak ada waktu untuk memandang lama kearah langit dan ditambah kesibukanmu dulu jadi penampakan seindah ini tak mengubris hatimu" jelas Regan dengan tangannya yang masih sibuk membolak balikan ubi.
Syifa terdiam.
Penjelasan itu… masuk akal.
“Kalau lo?” tanyanya balik.
Regan sempat terdiam.
Ia mengalihkan pandangan ke arah api, lalu ke arah langit.
Namun tanpa sengaja
Tatapannya bertemu dengan mata Syifa.
Dan entah kenapa
Dadanya terasa berdesir.
“Sial…” makinya dalam hati.
Ia langsung mengalihkan pandangan.
“REGAN!” panggil Syifa kesal karena merasa diabaikan.
“Hm.”
"Menurut lo gimana? jangan ham hem ham hem!" gerutunya
Regan menarik napas pelan. "Saya suka dengan alam tentu saya sering takjub dengan semua yang berunsur alam, bahkan dirumah saya punya teleskop untuk lihat benda yang sedang kamu lihat itu"
Mata Syifa langsung berbinar. “Lo punya teleskop?”
“Iya.”
“Wah! Boleh dong gue pinjam—”
Kalimatnya terhenti.
Ekspresi wajahnya berubah.
Yang tadi cerah, kini meredup.
Regan mengernyit. “Ada apa?”
Syifa menunduk. “Apa kita bakal selamat dari pulau ini?”
Suasana langsung berubah.
Hening.
Regan menghela napas pelan. Ia mengangkat tangannya, lalu mengelus lembut rambut Syifa.
“Tentu,” ujarnya tenang. “Kita hanya perlu bertahan. Berusaha. Dan berdoa.”
Syifa menggigit bibirnya. “Gue takut… kita bakal selamanya di sini.”
“Tidak,” jawab Regan mantap. “Orang-orang pasti mencari kita.”
Syifa mengangkat tangannya, menjulurkan jari kelingkingnya ke arah Regan.
Regan menatapnya bingung. “Apa itu?”
“Janji,” kata Syifa. “Lo harus janji kalau kita nggak bakal selamanya di sini.”
Regan menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Saya janji. Tapi kamu harus ganti cara bicaramu.”
Syifa mengerutkan dahi. “Maksud lo?”
“Ganti ‘gue-lo’ jadi ‘saya-kamu’. Lebih sopan.”
Syifa terdiam.
Beberapa detik.
Lalu
Wajahnya berubah.
Ia menahan sesuatu.
Dan tiba-tiba
“Hahaha… hahahaha!”
Ia tertawa lepas.
Sampai memegang perut.
Regan mengernyit. “Kamu kenapa?”
“Lucu banget!” ujar Syifa di sela tawa. “Serius amat sih lo!”
Regan menghela napas. Ia memilih diam.
“Kenapa lo nggak ketawa sih!” protes Syifa.
“Nggak ada yang lucu,” jawab Regan datar.
“Datar banget sih… jadi nggak lucu lagi.”
“Ini, sudah matang.”
Regan menyodorkan ubi bakar.
Syifa langsung menerimanya.
Tanpa pikir panjang, ia hendak menggigit
Namun ditahan.
“Apa lagi sih!” protesnya.
“Kamu mau makan langsung?”
Syifa mengangguk polos.
“Kamu pernah makan ubi bakar?”
“Pernah dong,” jawab Syifa sombong.
Regan mengangkat alis. “Saya tidak percaya.”
“Apaan sih, gue lapar!”
Regan tidak menjawab. Ia mengambil ubi itu, lalu mengupasnya dengan telaten. Setelah itu, ia memberikannya kembali.
Syifa tersenyum lebar. “Hehe… makasih, Regan.”
“Hm.”
Malam semakin larut.
Api unggun mulai mengecil, namun masih cukup hangat untuk menemani mereka.
Setelah makan, keduanya kembali duduk diam, menatap langit.
“Hoam…” Syifa menguap.
Regan melirik. “Kalau ngantuk, masuk.”
“Nggak berani,” jawab Syifa polos.
Regan menoleh. “Ha?”
Syifa menatapnya.
Lalu berkata santai
“Tidur bareng yuk, Gan.”
Angin malam seolah berhenti sesaat.
Dan Regan
Terdiam.
To Be Continued…