CHAPTER 19 : Zero

1419 Kata
Hari ini, Clauva memakai gaun yang terlihat lebih mewah dari biasanya. Beberapa aksesoris emas juga turut melekat membuat kesan elegan dan mewah. Rambutnya ditata dengan rapi, dicepol ke atas memperlihatkan bahu dan lehernya yang putih. Sekali lagi, Clauva menghela napasnya berat. Hari ini ia akan menemani Axero untuk menyambut para Raja yang datang dari berbagai kerajaan. Situasi ini membuatnya sedikit gugup. "Anda sudah siap, Putri Clauva?" Hera tersenyum geli melihat wajah Clauva yang terlihat gugup. "Aku siap!" "Tidak perlu tegang seperti itu. Kau membuatku ingin tertawa." Ucap Hera dengan menahan tawanya. Mendengar hal itu membuat Clauva sedikit kesal, lalu ia mencoba menetralkan raut wajahnya. "Sebentar lagi Yang Mulia akan datang." Dan benar saja, Axero datang dengan jubah kebesarannya yang terlihat perkasa dan elegan. Jiwa pemimpinnya menguar begitu saja membuat Clauva terpanah. Belum lagi, Axero memakai mahkota di kepalanya, namun mahkota itu terlihat berbeda dari yang ia lihat saat ke pesta Kerajaan Floiries. "Siapa gadis cantik ini, hm?" Axero mencium kening Clauva, sedangkan Hera sudah pergi setelah memberikan penghormatannya kepada Axero. "Pasanganmu." Refleks Clauva. "He..? Tidak mau memberiku sebuah ciuman?" Axero mencoba menggoda gadis di depannya. "Tidak, terima kasih." "Kalau begitu aku yang akan memberinya." Pria itu menarik tengkuk Clauva dengan perlahan, mencium lalu melumat bibir Clauva dengan lembut. Tangannya yang lain mengusap punggung Clauva yang terbuka, membuat gadis itu merinding seketika. "Kau sangat cantik jika wajahmu memerah seperti ini." Bisik pria itu setelah melepaskan ciumannya, sedangkan Clauva berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang berdebar kencang tak karuan. "Menyebalkan." Pria itu terkekeh pelan, "kenakan ini juga." Axero mengulurkan tangannya yang kosong, tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari balik telapak tangannya, seiring cahaya itu redup terlihatlah sebuah mahkota yang dipenuhi mutiara. Axero meletakkan mahkota itu di kepala Clauva, sekali lagi ia mengecup kening Clauva lembut. "Mahkota ini sangat indah." Gumam Clauva saat melihat dirinya yang memakai mahkota dari pantulan cermin. "Semua yang kau kenakan terlihat indah." Ucap Axero tiba-tiba, membuat Clauva tersenyum kecil. "Ayo, kita akan menyambut mereka." Axero mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh Clauva. Dengan sekejap mata ia sudah berada di depan pintu besar Kerajaan Earyeltizes. Jauh dari sana Clauva dapat melihat rombongan kereta kuda yang mulai memasuki gerbang utama kerajaan besar ini. Kereta-kereta kuda itu berhenti dengan tersusun rapi, para pelayan menyambut dengan berbaris sejajar di samping kanan dan kiri karpet merah yang berada di depan Clauva dan Axero. "Selamat datang di kerajaanku." Ucap Axero dengan lantang saat melihat para tamunya membungkuk hormat di hadapannya. "Terima kasih atas sambutan Anda, Yang Mulia." Ucap salah satu dari mereka yang Clauva ketahui bernama Raja Sadoch, dari Kerajaan Wolves. Para penguasa itu digiring oleh pelayan-pelayan menuju ruang penjamuan yang megah. Mereka benar-benar disambut oleh Axero. Sedangkan Clauva, setelah acara penjamuan itu selesai ia dibolehkan untuk kembali ke kamarnya, sementara Axero melakukan rapat dengan Raja-Raja itu. "Bagaimana? Tidak seburuk itu, kan?" Tanya Hera, Clauva mengangguk menanggapi. "Ya, ternyata ini tidak terlalu membuatku gugup." "Sementara Yang Mulia sedang melakukan rapat, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hera lagi. "Aku.. aku ingin memberitahukan tentang hal ini kepada Yang Mulia." Ucap Clauva dengan menunjukkan sebuah gulungan daun kuning yang ia ambil dari laci lemarinya. "Apa itu?" "Aku tidak tau. Tiba-tiba saja saat aku ingin menutup jendela, daun ini masuk begitu saja. Terdapat tulisan di dalamnya, tapi aku tidak bisa membacanya." Jelas Clauva, lalu ia memberikan daun itu kepada Hera. Berharap Hera mengerti sesuatu. "Aku.. maaf, aku tidak bisa membacanya." Hera memberikan daun itu kepada Clauva lagi. "Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada urusan yang ingin kukerjakan." "Urusan apa?" Tanya Clauva. "Lumayan penting, nanti aku akan kembali lagi." Setelah pamit, Hera keluar dari kamar Clauva meninggalkan gadis itu sendirian lagi. Clauva yang bosan pun memutuskan menunggu Axero di taman, menikmati pemandangan yang menyejukkan mata di sana. Namun ia hanya sendirian, membuatnya sedikit kesepian. Tiba-tiba dalam keheningan yang menyelimuti Clauva, angin berhembus kencang membuat gaunnya berkibar tak beraturan, rambutnya yang semula dicepol pun terurai karena kuatnya hantaman angin tersebut. Clauva menyipitkan matanya, matanya sedikit pedih karena angin. Sesosok pria bertubuh tinggi tegap menjulang tak jauh dari hadapannya. Pakaiannya serba hitam, Clauva tak melihat jelas wajahnya karena rambut pria itu yang penjang terkena angin menghalangi wajahnya. "Siapa?" Guman Clauva dengan menatap pria itu yang terus diam di tempatnya. Angin sudah tidak berhembus lagi, membuat Clauva dengan leluasa memperhatikan situasi sekitarnya. Clauva sama sekali tak berniat untuk menuju pria itu. Ia hanya ingin waspada jika sesuatu terjadi dengan dirinya. Namun saat matanya berkedip, pria itu sudah tidak lagi berada di tempatnya. Hilang begitu saja membuat Clauva kebingungan. Matanya menelisik ke sekitar taman, namun hanya ia dapati dirinya sendiri. "Apa aku berhalusinasi?" Guman Clauva bingung. "Kau tidak berhalusinasi." Bisik seseorang di belakangnya dengan tiba-tiba membuat Clauva terkejut sekaligus berusaha menghindar dan melihat siapa yang berada di belakangnya. "Kau.. kau siapa?" Tanya Clauva. "Aku? Terserah kau ingin memanggilku apa. Namun aku ingin memberitahukanmu sesuatu." Balas pria itu terlihat santai, kaki panjangnya tiba-tiba maju satu langkah, membuat Clauva otomatis memundurkan tubuhnya. Mata Clauva menatap menyelidik kepada pria asing itu. Kulitnya putih pucat, rambutnya panjang namun terlihat indah, wajahnya tampan dihiasi seringaian kecil di sana. Pria itu terlihat sangat asing di matanya. "Apa kau.. Vampire?" Tanya Clauva lagi. Pria itu menggeleng, menatap penuh arti, pria itu tersenyum miring melihat Clauva yang tampak waspada kepadanya. "Pesan itu, aku harap kau tidak mengerti artinya. Tidak kusangka ia kembali secepat itu hanya karena dirimu yang telah kembali lagi. Kau masih sama seperti dulu. Sangat cantik dan menarik." Ucap pria itu dengan penuh arti, suaranya berat namun terkesan lembut di telinga Clauva. Ucapannya terdengar sangat membingungkan, membuat Clauva mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Apa kau yang mengirim pesan itu?" "Tidak, itu bukan aku. Aku tidak ingin kau bersama Si Iblis itu, namun aku juga tidak ingin kau kembali lagi dengan ia seperti dulu." Ucapan pria itu lagi-lagi membuat Clauva bingung. "Bisakah kau berbicara dengan jelas? Aku tidak mengerti!" Kesal Clauva. Pria itu tertawa kecil, "satu lagi, jangan terlalu percaya dengan orang-orang disekitarmu. Jangan dibohongi oleh tampang baik mereka. Kau bisa celaka." "Terserah. Sekarang apa maumu? Kau membuatku bingung. Aku tidak mengenalmu, berhenti mengatakan hal yang aneh." Balas Clauva mencoba lebih tenang. Sepertinya gadis itu sudah terbiasa dihadapi oleh ucapan-ucapan orang asing yang menggangunya. "Aku hanya ingin kau bersembunyi denganku. Dengan begitu, kau akan aman." Clauva tertawa kecil, seakan-akan hal yang diucapkan pria itu terdengar lucu. "Kau benar-benar aneh. Pertama, kau muncul tiba-tiba di hadapanku dan mengatakan hal yang aneh. Kedua, aku tidak mengenalmu dan kau hanyalah orang asing. Ketiga, kau mengajakku untuk bersembunyi denganmu. Apa kau bercanda?" Pria itu menghela napasnya pelan, "kau bisa memanggilku Zero, dan aku bukanlah orang asing. Aku hanya ingin kau aman. Itu saja." "Sudah cukup, lebih baik kau pergi dari hadapanku." Pria yang mengaku bernama Zero itu terdiam sesaat, lalu ia kembali menghela napas. "Baiklah, aku akan pergi. Lain kali aku akan memaksamu. Jika kau butuh bantuan, sebut saja namaku." Clauva mengangguk asal, mengabaikan Zero yang menurutnya sangat aneh. "Sampai jumpa, Angel." Bisik Zero yang tiba-tiba berada di belakangnya, membuat Clauva merinding sekaligus terkejut. Saat ia membalikkan badannya, Zero sudah menghilang entah ke mana. Seharusnya Clauva lega karena Zero sudah pergi dari hadapannya, namun ucapan terakhir pria itu terasa ganjal di hatinya. Clauva merasa tak asing dengan nama yang disebut oleh Zero. "Angel?" Guman Clauva, ada gelenyar aneh yang ia rasakan saat menyebut nama itu. Nama itu mengingatkannya dengan mimpi yang kemarin malam menjadi bunga tidurnya. Ia memimpikan seorang gadis yang mirip dengannya, gadis yang bernama Angel, benar-benar menghantui pikirannya. Jantungnya seketika berdetak dengan cepat mengingat pria bertanduk yang berada dalam mimpinya juga. Perasaan ini membuatnya tak nyaman. "Apa yang kau lakukan?" Suara yang sangat familiar tiba-tiba datang dari arah belakangnya, sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluk perutnya. "Kau sudah selesai?" Clauva balik bertanya. "Hm." Jawab Axero singkat. Ia terlihat tidak ingin membahas rapat itu sekarang. "Axero, ada yang ingin kuberitahu kepadamu." Clauva membalikkan badannya, kepalanya mendongak menatap mata Axero. "Katakan." Clauva menggeleng pelan, "jangan di sini." Axero yang penasaran pun otomatis menstanfer tubuh mereka ke kamar Clauva, agar gadis itu lebih leluasa berbicara dengannya. "Jadi?" Clauva membuka laci mejanya, mengambil sesuatu yang berada di sana. "Ini. Kemarin saat aku ingin menutup jendela, tiba-tiba saja daun kuning ini masuk, terdapat tulisan di dalamnya. Namun aku tak bisa membacanya." Clauva memberikan gulungan daun iti kepada Axero. Pria itu membuka dan membaca tulisannya, Axero mengepalkan tangannya kuat. Clauva sudah merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dari Axero. Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Dia sangat ingin melihatmu. Namun kau melupakannya. Dia akan menemuimu. Tunggu saja, Malaikat. "Ini.." Axero meremukkan daun itu hingga menjadi abu. Axero benar-benar marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN