Tempat ini sangat indah. Dipenuhi dengan berbagai macam bunga, harum semerbak pun memenuhi tempat yang terlihat seperti replika surga ini. Sungguh sangat nyaman.
Mataku menatap binar pada seorang lelaki yang sedang merangkai bunga menjadi bentuk sebuah mahkota yang sangat indah. Dengan tersenyum, ia memasangkan mahkota bunga itu di atas kepalaku. Aku terkagum dengan hasil tangannya, sangat cantik.
"Bunga ini terlihat sangat indah." Pujiku dengan melirik sisa bunga yang masih berada di tangannya.
"Ya, bunga ini memang sangat indah. Namun kau tau apa yang lebih indah dari ini?"
"Apa?"
"Dirimu. Bahkan dirimu tak bisa disandingkan dengan berjuta ragam bunga di dunia." Lagi-lagi lelaki itu tersenyum manis padaku.
Aku tertawa mendengar penuturannya. Dia memang sangat suka memberiku kata-kata manis, hingga pipiku memerah dibuatnya.
"Kau selalu saja berkata manis." Balasku dengan sedikit kesal.
"Haha. Tapi kau memang indah dan sangat cantik." Pujinya lagi, membuat pipiku semakin bersemu merah.
"Sudahlah. Aku harus kembali, sebelum mereka mencariku." Balasku yang segera ingin mengakhiri percakapan. Sebenarnya aku masih ingin berbicara banyak hal dengannya, namun Sang Surya sebentar lagi akan menenggelamkan cahaya terangnya, aku memang tidak bisa melihatnya di dimensi ini, namun perhitunganku tak pernah salah.
"Aku harap kita memiliki banyak waktu lagi." Ucapnya dengan memegang lembut tanganku. Aku tersenyum kecil membalasnya, kuusap salah satu tanduknya yang berbentuk panjang dan sedikit melengkung, membuatnya memejamkan matanya sejenak.
"Aku harus kembali, Lucy. Besok kita bisa bertemu lagi." Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku akan selalu menunggumu, Angel."
Ia mengecup bibirku hangat, sangat lembut. Dan aku menyukainya.
Clauva merenung di hadapan jendela besar kamarnya. Ia masih memikirkan mimpinya semalam. Di dalam mimpi itu, ia melihat seorang gadis yang sangat mirip dengannya yang terlihat bahagia bersama seorang pria bertanduk.
Saat Clauva membayangkan wajah pria itu, membuat dadanya sesak, ada rasa kehilangan di dalamnya. Ia merasa sangat merindukan pria itu. Namun Clauva tidak mengenalnya. Bahkan ia baru melihat pria itu dari mimpinya.
"Memikirkan semua ini membuatku pusing." Gumam Clauva.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Snow yang berada di belakangnya.
"Ya." Jawab Clauva singkat.
"Kau mau berbagi cerita denganku?"
"Ehm, sepertinya untuk saat ini tidak. Mungkin lain kali aku akan menceritakannya." Snow hanya menganggukkan kepalanya lucu.
"Oh ya! Snow, apa kau tau sesuatu tentang festival Dýnami Agóna?" Tanya Clauva penasaran, kakinya berjalan menuju sofa yang sedang Snow diami.
"Dari mana kau tau festival itu?" Snow malah balik bertanya, membuat Clauva gemas dibuatnya.
"Aku tau dari Putri Arlina. Ayo, ceritakan sesuatu tentang festival itu!" Seru Clauva.
"Baiklah, baiklah. Kau tau festival ini diadakan satu tahun sekali?"
"Ya, aku tau." Jawab Clauva yang mulai mendengarkan cerita Snow.
"Festival ini dilakukan oleh Pangeran dan Putri dari seluruh kerajaan, dan diadakan di Kerajaan Earyeltizes. Namun sebenarnya, ini tidak cocok disebut sebagai festival, ini lebih ke pertandingan. Dýnami Agóna dibagi menjadi tiga bagian, Aneta, Mesaío, dan Dýskolos.
Aneta merupakan pertandingan yang mudah, seperti adu kecepatan lari, memanah, berpedang, dan adu tombak. Di saat pertandingan Aneta, para peserta tidak boleh menggunakan sihir sedikit pun. Jika ketahuan, maka akan dikeluarkan dari pertandingan." Snow menjeda kalimatnya sejenak.
"Mesaío merupakan pertandingan yang medium, terdapat tiga pertandingan di dalamnya. Dalam pertandingan Mesaío, semua boleh menggunakan sihir. Seperti membunuh monster-monster kecil yang bernama Mikró, siapa yang paling banyak membunuhnya, maka ia yang akan memenangkan pertandingan. Lalu ada juga mengalahkan dua makhluk bernama Orc dan Ogre, dalam pertandingan ini paserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Yang terakhir adalah adu sihir. Di sini kalian akan melawan satu sama lain. Dalam Mesaío, kalian hanya boleh menggunakan sihir, tidak dengan senjata.
Terakhir ada Dýskolos, pertandingan yang tersulit. Dalam pertandingan pertama, setiap peserta akan melawan lima orang dari pasukan elit Kerajaan Earyeltizes, peserta harus bisa membuat kelima orang itu keluar dari batas arena pertandingan. Pertandingan kedua, kalian akan melawan satu sama lain, sama seperti di Mesaío, hanya saja kalian boleh menggunakan sihir dan juga senjata bantuan, selain itu, kalian boleh bekerja sama dengan peserta lain. Pertandingan akan terus berlanjut walau lawan terlihat tidak seimbang."
Clauva terus saja diam, pikirannya sudah melayang ke hal-hal buruk yang kemungkinan akan terjadi jika ia ikut dalam festival Dýnami Agóna. Membayangkannya saja Clauva sudah meringis, tak perlu dilihat pun pasti ia akan kalah nantinya.
"Lalu apa ada lagi?" Tanya Clauva.
"Ini yang tersulit. Pertandingan ketiga, peserta yang telah berhasil melewati pertandingan-pertandingan sebelumnya, akan dikirim ke hutan Haeluli. Peserta harus bisa mengumpulkan mutiara bernama Caeruleum dalam waktu satu hari. Tentu saja tidak semudah itu, di dalam hutan Haeluli terdapat berbagai makhluk yang buas dan berbahaya. Di sini kalian tidak boleh bekerja sama. Kalian bisa menggunakan sihir dan senjata juga."
"Snow, bukankah pertandingan ini terlalu kejam? Maksudku, dalam pertandingan ini banyak hal-hal yang berbahaya yang akan terjadi. Bagaimana jika ada korban jiwa?" Clauva meremas tangannya kuat.
"Tidak akan ada korban jiwa. Tentu saja semua itu ada batasannya. Jika sesuatu yang darurat benar-benar akan terjadi, maka pihak kerajaan akan langsung membantu. Lagipula, para Pangeran dan Putri sudah sangat mahir dengan hal-hal seperti ini. Mereka tidaklah lemah. Festival ini sebenarnya sangat penting, Clauva. Festival ini menyangkut seberapa kuatnya kerajaan tersebut, dan rakyat bisa membandingkannya. Dan para peserta yang memenangkannya, akan mendapatkan kehormatan tertinggi dari Kerajaan Earyeltizes. Rakyat akan mengakui kekuatan mereka."
"Apa.. apa aku harus ikut juga?" Tanya Clauva cemas.
"Sepertinya tidak. Yang Mulia pasti tidak akan mengizinkanmu untuk ikut." Seketika Clauva menghela napas lega.
Dibandingkan dengan para Pangeran dan Putri, Clauva sangatlah lemah. Dilihat dari segi manapun, ia akan kalah pada akhirnya. Ia hanya bisa berlari cepat dan memanah, itu adalah kemahirannya. Namun dengan senjata lain, ia sangat tidak bisa. Apalagi dengan sihir, Clauva sama sekali tak memilikinya.
"Kudengar festival ini akan diadakan 3 purnama lagi. Namun aku tidak tau kapan pastinya." Clauva meringis sendiri mengucapkannya, pasalnya selama orang-orang di kerajaan ini membicarakan tentang perhitungan purnama, ia sama sekali tidak tau.
Snow tertawa kecil mendengarnya.
"Kupikir kau tau, 1 purnama sama dengan sembilan hari. Jadi, jika 3 purnama sama dengan dua puluh tujuh hari lagi. Namun sekarang tinggal dua puluh empat hari lagi."
Clauva mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Lalu bagaimana dengan peraturannya?"
"Peraturannya sederhana. Peserta tidak boleh bermain curang, harus mematuhi aturan, dan yang terpenting tidak boleh saling membunuh antar peserta."
"Ehm.. aku sangat penasaran dengan pertandingannya. Walau kedengarannya menyeramkan, tapi itu pasti sangat menarik."
Snow mengangguk semangat, "aku juga tidak sabar menantinya."
Suasana mendadak hening sejenak. Clauva pun tidak tau ingin membicarakan apa lagi dengan Snow. Hembusan angin menerpa gorden jendela, membuatnya berkibar tak beraturan. Namun semakin lama, angin itu semakin mengencang. Bahkan menjatuhkan beberapa barang di dekatnya.
"Anginnya kencang sekali." Ucap Clauva, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Hari sudah menjelang malam, ia ingin menutup jendela sebelum anginnya membuat seluruh ruangannya berantakan.
Baru saja ia memegang jendelanya, sebuah gulungan daun masuk dan jatuh di depan kakinya. Clauva segera menutup jendela dan mengambil gulungan daun berwarna kuning itu. Snow yang penasaran pun ikut melihat gulungan daun itu ketika Clauva ingin membukanya.
Dia benar-benar ingin melihatmu. Tapi kau melupakannya. Dia akan menemuimu. Tunggu saja, Malaikat.
Clauva mengerutkan artinya, bukan karena apa, ia hanya tidak mengerti arti tulisan itu. Snow yang turut melihat pun juga menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Pesan yang terlihat singkat itu tetap saja membuat ia kebingungan, karena ditulis dengan aksara asing.
"Apa kita harus memberitahu Yang Mulia?" Tanya Clauva pada Snow.
"Sepertinya memang begitu. Tidak mungkin pesan ini tiba-tiba masuk ke kamarmu. Pasti ada maksud tersembunyi di dalamnya. Sayang sekali aku tidak tau apa artinya." Balas Snow.
"Kau benar. Mungkin saja Yang Mulia bisa membaca tulisan asing ini. Aku ingin tau siapa dan mengapa orang itu mengirim pesan ini." Clauva kembali menggulung daun kuning itu, lalu menyimpannya di dalam laci meja yang berada di samping tempat tidurnya.
"Ini terlihat mencurigakan. Kau harus lebih berhati-hati, Clauva. Siapa pun bisa berbuat jahat tanpa kita ketahui." Ucap Snow, mata bulatnya menatap manik mata Clauva.
"Kau benar. Yang terlihat baik pun belum tentu seperti itu. Aku harus lebih berhati-hati lagi."