CHAPTER 17 : Putri Arlina

1404 Kata
"A-ada apa?" Tanya Clauva gugup, matanya enggan menatap Axero yang sedang menatapnya penuh arti. Ia berusaha menyembunyikan jejak air mata yang sialnya terlihat jelas di kedua sisi pipinya. "Jangan menangis," Axero menyapu sisa air mata Clauva, menatap gadis itu lembut. Ia membantu Clauva duduk dari posisi tidurnya, tangannya terus menggenggam tangan Clauva dengan lembut. "Sudah kukatakan aku tidak menangis karena hal itu." Bantah Clauva, kepalanya ia tundukkan agar Axero tak bisa menatap wajahnya yang sembab. Kenapa juga aku menangis? "Aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Axero. Clauva menggeleng pelan, "untuk apa? Itu tidak perlu, Yang Mulia." Axero mengerutkan dahinya, heran mengapa Clauva tidak lagi memanggil namanya. "Kau perlu tau." Clauva menghela napas pelan, "sudah saya katakan, saya sedih bukan karena hal itu. Lagipula itu merupakan hak Yang Mulia ingin melakukan apa. Belum lagi, kita bukan siapa-" Ucapan Clauva terhenti saat tiba-tiba Axero mencium bibirnya dengan sedikit terburu, pasokan paru-parunya sudah mulai habis saat Axero tak kunjung melepas tautan mereka. Clauva mendorong pelan d**a Axero, mencoba melepaskan tautan bibir mereka. "Kau mateku, dan selamanya akan seperti itu." Bisik Axero, matanya terus menatap wajah Clauva yang sedang mengatur napasnya. "Axero, aku ingin tidur.." gumam Clauva pelan, wajahnya masih memerah karena ulah Axero. Gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tidak, sebelum aku menjelaskan semuanya." Dengan gerakan lembut, Axero memegang pinggang Clauva dan meletakkan tubuh mungil gadis itu di pangkuannya. Clauva mencoba untuk berdiri dari posisinya, namun tangan Axero menahan tubuh gadis itu dengan memeluk erat perutnya. "B-biarkan aku duduk di sana saja," Clauva menunjuk peraduannya. Ia sedikit tidak nyaman dengan posisinya saat ini, bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba masuk dan melihat mereka berdua? Clauva akan sangat malu nantinya. "Biarkan seperti ini, aku suka." Axero mengendus leher Clauva, menikmati aroma yang keluar dari tubuh matenya. Sangat harum dan candu. "Jadi?" Tanya Clauva, berusaha terbiasa dengan sikap Axero yang semakin lengket dengannya. "Semua yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan. Saat itu Putri Arlina tidak sengaja terjatuh karena menginjak ujung gaunnya, lalu dia menarik bajuku sehingga aku ikut terjadi di atasnya. Namun entah mengapa ia terjatuh di atas meja, bukan di lantai. Itu yang membuat semua ini menjadi salah paham." Jelas Axero, tangannya memainkan rambut Clauva yang menjuntai panjang. "O-oh.." seharusnya aku tidak menangis, lanjut Clauva dalam hati. Ia sedikit meringis mengingat kejadian dimana ia terjatuh ke Danau Thlípsi karena kebodohannya sendiri. "Apa kau cemburu?" Axero mengulum senyumnya. "Tentu saja tidak! Aku hanya.. hanya.." Clauva bingung sendiri memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Axero. Apa aku cemburu? "Aku senang kau menangis karena cemburu denganku." Kekeh Axero pelan. "Aku tidak cemburu.." bantah Clauva. "Ya, ya kau tidak cemburu." Axero mengalah dengan Clauva, tak mau membuat gadis itu semakin kesal karena ulahnya. "Sekarang kau tidurlah. Aku akan menemuimu lagi nanti." Setelah mengucapkan kata itu, Axero mencium kening Clauva. Lalu membaringkan tubuh Clauva di atas peraduan. "Axero, aku ingin bertemu dengan Putri Arlina." Ucap Clauva tiba-tiba. Axero mengerutkan keningnya, "kau tidak perlu menemuinya." "Kenapa? Dia adalah tamu, seharusnya aku juga turut bertemu dengannya." Axero menggeleng pelan, "tidak. Kau tidak akan menyukainya." "Tapi.." "Tidurlah." Dengan tiba-tiba Axero menghilang dari ruangan itu secara tiba-tiba, menyisakan hembusan angin yang menerpa kain-kain disekitar peraduan. Clauva menghela napas pelan. Tak mengerti dengan jalan pikiran Axero yang selalu melarangnya banyak hal. Perlahan gadis itu memejamkan matanya, menuju alam mimpi. Yah, walau hari masih sore. *** "Oh, Putri Clauva!" Clauva melihat seseorang yang berjalan pelan ke arahnya, langkahnya terlihat sangat anggun. Dengan gaun berwarna kuning cerah, perempuan itu terlihat sangat cantik, apalagi rambut cokelat kemerahannya yang tertimpa sinar matahari membuatnya terlihat berkilau dan indah. "Salam untuk Putri Clauva," perempuan itu menundukkan badannya sedikit. "Salam untukmu juga," balas Clauva dengan senyuman. "Perkenalkan, nama Saya Arlina Epis Milciades, putri dari Kerajaan Wolves." Putri Arlina memberikan senyuman manisnya. Oh, jadi dia Putri Arlina.. "Ah, suatu kehormatan mendapat kunjungan Anda, Putri Arlina." Balas Clauva, ia mempersilahkan Putri Arlina untuk duduk di samping paviliun yang langsung menghadap ke arah kolam ikan yang sangat besar, paviliun itu berada di Istana Vasílissa, istana untuk Sang Ratu. Dia terlihat baik, mengapa Axero melarangku untuk bertemu dengannya? Dasar pria aneh. Pikir Clauva dalam hati. "Kudengar penobatan Putri tinggal 20 purnama lagi, aku tidak sabar menantinya." Putri Arlina memulai percakapan. "Oh iya,dari mana kau tau hal itu? Kau juga tau namaku." Tanya Clauva. "Tentu saja! Aku tau dari Panglima Herlan, dan bagaimana aku mengetahui nama Putri, itu karena Putri Clauva adalah mate Yang Mulia Lord, seluruh penjuru negeri ini sudah mengetahui Anda." Jelas Putri Arlina terlihat riang. "Sebegitunya, kah? Aku tidak tau aku bisa seterkenal itu." Kekeh Clauva. Putri Arlina tertawa kecil mendengarnya, namun tiba-tiba raut wajahnya menjadi sedih. "Tapi.." "Tapi kenapa?" Tanya Clauva bingung melihat perubahan wajah Putri Arlina. Putri Arlina menghela napasnya pelan, "tidak, bukan apa-apa." "Tak apa, ceritakanlah." Putri Arlina seakan-akan menimbang-nimbang sesuatu, lalu dia menghela napas lagi dan mulai bercerita. "Sebenarnya, Putri, semenjak kehadiran Putri diketahui oleh rakyat, sempat terjadi beberapa pemberontakan. Akhir-akhir ini juga banyak terjadi kekacauan di beberapa kerajaan. Sebelumnya hal ini sangat jarang terjadi, jika ada pun tidak sampai banyak seperti ini. Ehm, sebenarnya banyak rakyat yang.." Putri Arlina menjeda kalimatnya, matanya melirik raut wajah Clauva yang mulai penasaran. "Sebenarnya apa?" Tanya Clauva gemas, pasalnya Putri Arlina menjeda kalimatnya cukup lama. "Sebenarnya banyak rakyat yang.. menolak kehadiran Putri Clauva. Itu karena Putri hanya seorang.. manusia." Putri Arlina memelankan suaranya di akhir kata. Sengaja membuat Clauva panas mendengarnya. "A-apa?" Seketika Clauva menghentikan napasnya sesaat. "Rakyat dan beberapa bangsawan banyak yang tidak setuju akan keputusan Yang Mulia yang akan menjadikan Anda sebagai Ratu dunia ini. Apa Anda tidak mengetahui hal ini?" Tanya Arlina dengan wajah polosnya. Clauva menggelengkan kepalanya lesu, "tidak. Axer- maksudku, Yang Mulia tidak pernah menceritakannya padaku." Putri Arlina mengangguk-angguk menanggapi. "Selain itu juga, banyak Raja dari berbagai kaum untuk menawarkan Putri mereka sebagai calon untuk Yang Mulia. Jika Yang Mulia setuju, maka.." "Maka aku tidak akan bisa bersama Axero lagi.." gumam Clauva, membayangkannya saja sudah membuat dadanya sesak. "Oh ya! Kalau tidak salah, dalam beberapa hari lagi Yang Mulia akan mengadakan rapat dengan semua kerajaan. Mereka akan membahas kandidat Anda sebagai calon Ratu. Jika banyak yang menentang, bisa saja posisi Anda sebagai calon Ratu akan jatuh." "Sepertinya aku memang tidak pantas menjadi Ratu, apalagi pendamping untuk Yang Mulia." Clauva tersenyum pedih. Bukan karena ia tak akan menjadi Ratu, namun karena ia akan berpisah dengan Axero. Ia belum siap akan hal itu. Clauva sudah sangat tau diri untuk mengetahui siapa ia. Clauva berpikir dirinya memang tidak pantas menjadi pendamping Axero, apalagi Ratu bagi dunia ini. Seketika ucapan-ucapan beberapa bangsawan kemarin yang ia temui mungkin memang benar adanya. Semakin lama, ia semakin tidak berguna di sini. Axero bisa saja mencari pengganti dirinya jika pria itu mau. Clauva meringis dalam hati. Ia seperti tak punya pilihan lain. Apalagi penyebab kekacauan akhir-akhir ini disebabkan oleh dirinya, membuatnya ingin pergi saja dari sini. Putri Arlina menggenggam tangan Clauva lembut, "Anda tidak perlu khawatir, Putri. Yang Mulia pasti tetap akan memilih Anda. Yah, jika ia setia." "Terima kasih untuk informasimu, Putri Arlina." Clauva mencoba tersenyum. "Bukan masalah. Lagi pula Anda berhak mengetahuinya, Putri. Aku heran mengapa Yang Mulia tidak memberitahumu informasi sepenting ini, apalagi ini menyangkut dirimu." Balas Putri Arlina, nada bicaranya ia buat kesal agar Clauva semakin terganggu akan perkataannya. "A-ah, mungkin dia lupa." Jawab Clauva seadanya. Bahkan dia tak memberitahu hal ini kepadaku. Apa dia tidak percaya padaku hingga aku harus tau dari orang lain? "Oh satu lagi, Putri! Aku sampai lupa memberitahumu." "Apa itu?" "Sekitar 3 purnama lagi festival Dýnami Agóna akan diselenggarakan di Kerajaan Earyeltizes. Festival ini melibatkan seluruh Pangeran dan Putri di seluruh kerajaan. Festival ini akan disaksikan langsung oleh Yang Mulia dan semua Raja dan Ratu di Aiónia. Jadi, Putri Clauva juga harus ikut." Putri Arlina tersenyum manis. "Festival Dýnami Agóna? Memangnya itu festival apa?" Tanya Clauva yang memang tidak tau menahu akan festival itu. "Festival ini merupakan festival adu kekuatan antara Pangeran dan Putri. Akan ada banyak macam pertandingan. Pemenang terdiri dari tiga Pangeran dan Putri terbaik dan terkuat yang akan mendapatkan hadiah langsung dari Yang Mulia. Festival ini diadakan setiap setahun sekali. Jadi sangat sayang untuk dilewatkan." Jelas Putri Arlina dengan semangat. Clauva tak tau saja ada banyak rencana licik di balik senyum manis Putri Arlina. "Apakah aku harus ikut juga?" "Seharusnya sih, begitu. Baiklah kalau begitu, Saya ingin pergi dulu, Putri Clauva. Saya masih ada urusan di kerajaan ini." Putri Arlina mengundurkan dirinya dengan anggun, meninggalkan Clauva yang masih dipenuhi dengan berbagai pikiran. "Festival Dýnami Agóna.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN