CHAPTER 16 : Danau Thlípsi

1431 Kata
"MENJAUH DARIKU!" Suara Axero menggema di seluruh ruangan bernuansa emas dan merah itu. Matanya menatap nyalang perempuan yang berdiri di depannya yang sedang menuduk takut. Perempuan itu mencoba memegang lengan Axero mencoba menenangkan, "Y-yang Mulia, S-saya bis-" "Jangan lancang!" Desis Axero sinis, tangannya menepis tangan perempuan itu yang mencoba memegangnya. "Urusan kita belum selesai." Ujar Axero dingin, lalu dengan sekejap mata ia menghilang dari ruangan itu, meninggal perempuan itu sendiri. "Huft, hampir saja.. perempuan itu benar-benar mengacaukan semuanya!" Ia mengepalkan tangannya kuat, meredam kekesalannya karena rencana yang ia buat gagal hanya karena satu orang. Perempuan itu mencoba membenarkan letak gaun dan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Perempuan itu sangat cantik, dengan wajah yang terlihat polos dan menawan, ditambah rambut cokelat kemerahannya yang menjuntai lurus ke bawah. Ia terlihat sangat anggun dan menawan. Ia adalah Arlina Epis Milciades, seorang Putri dari Kerajaan Wolves. Kecantikannya sudah diakui di seluruh penjuru negeri, ia adalah sosok pribadi yang kuat dan baik. Wajahnya yang cantik dan polos banyak memikat para bangsawan pria untuk melamarnya. Namun tidak ada satupun yang diterima oleh Putri Arlina, ia hanya ingin menunggu matenya. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh orang-orang tentang dirinya. Di balik wajahnya yang polos, tersimpan sejuta rencana licik untuk mendapatkan posisi sebagai Ratu dari segala Ratu dunia ini. Semua orang tertipu dengan wajahnya yang menawan, Putri Arlina selalu mendapatkan apa yang ia mau, walaupun itu harus menggunakan cara terkeji sekalipun. Axero memang mengakui kecantikan Putri Arlina, namun menurutnya, dibandingkan dengan Putri Arlina, Clauva jauh lebih cantik. Axero sama sekali tidak tertarik dengan Putri Arlina. Perempuan itu mengacaukan semuanya, baginya Putri Arlina hanyalah penghalang baginya. Ia sudah muak dengan segala tingkah laku yang selalu Putri Arlina yang baru ditemuinya kemarin. Menurutnya perempuan itu sudah sangat lancang dengannya. Dan kini, Axero harus mencari Clauva yang entah pergi ke mana. Axero tidak sadar dengan kehadiran Clauva yang berada di depan ruang kerjanya tadi, karena Axero membatasi segala bentuk media yang bisa masuk ke ruangannya, termasuk aura dan suara. Dengan kekuatannya, ia tak akan bisa mendengar suara dari luar ruangannya, begitu pula ia tidak bisa mencium aura seseorang yang berada di luar ruang kerjanya. Sekarang Axero menyesali hal itu. Clauva pasti salah paham atas apa yang dilihatnya. Dan sekarang ia harus benar-benar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Indra penciumannya membawanya ke sebuah taman paling barat Kerajaan Earyeltizes. Ternyata Clauva pergi cukup jauh, karena istananya yang berada di timur, sedangkan wilayah barat adalah istana untuk para bangsawan yang datang berkunjung. Taman itu bernama Thlípsi, taman yang sangat luas dan terletak hampir di luar kerajaan. Taman yang tidak ada satupun orang yang akan mengunjunginya. Sesuai dengan namanya, taman itu menggambarkan kesedihan dan penderitaan. Di sana terdapat sebuah danau dengan air berwarna biru tua, warna yang hampir mendekati warna hitam. Di dalam danau itu berpenghuni seorang Dziwozona, makhluk yang memiliki paras cantik namun mematikan, ia sering menghasut siapapun yang datang ke wilayahnya, biasanya ia akan mengurung mangsanya di dalam danau untuk menemaninya, namun banyak yang tidak bisa bertahan dan mati, mengharuskan Dziwozona itu memakannya. Itulah sebabnya Axero membuat pembatas di wilayah taman ini, agar tidak ada siapapun yang datang ke taman ini. Namun entah mengapa Clauva selalu saja bisa menembus kekuatannya. Mengetahui hal itu membuat Axero khawatir dengan Clauva. Ia dapat mencium aroma Clauva yang semakin pudar tertelan danau Thlípsi. Tanpa pikir panjang Axero langsung melompatkan tubuhnya ke danau itu. Dengan kekuatannya, ia dapat sangat cepat berenang dan penglihatannya pun tidak memburam karena air. Jauh dari dalam sana, ia dapat melihat Clauva yang ditarik oleh seorang Dziwozona. Dengan cepat ia meraih tangan Clauva dan langsung berteleportasi untuk kembali ke daratan. "Clauva.." panggil Axero pelan, ia tak menghiraukan baju kebesarannya yang telah basah karena air. Axero mendekatkan wajahnya, mencium bibir Clauva lembut, menyalurkan kekuatannya untuk membuat Clauva cepat sadar. Tak lama kemudian Axero menjauhkan bibirnya, melihat Clauva yang mulai tetbatuk mengeluarkan air dari mulutnya. Wajahnya tampak pucat dan lemas. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Axero lembut. Ia membantu Clauva duduk dari tidurnya. "A-aku baik-baik saja.." balas Clauva dengan wajah yang menunduk, enggan menatap Axero yang sedang menatapnya intens. "Kau harus beristirahat," Axero menggendong tubuh mungil Clauva dengan kedua tangannya yang kekar, berteleportasi langsung ke kamar Clauva. Di kamar itu sudah ada Eria dan Hera yang sedang membersihkan perabotan-perabotan yang ada di kamar itu. Mereka terkejut dengan kehadiran Axero yang muncul secara tiba-tiba, membuat mereka spontan membungkukkan badan mereka hormat. "Gantikan gaunnya, dengan cepat." Perintah Axero dengan menatap tajam mereka berdua, ia meletakkan tubuh Clauva di sofa yang berada di sana. "Setelah ini tidurlah." Clauva tetap terdiam, tidak mau membalas ucapan Axero. Bahkan ia menghiraukan Axero yang mengecup keningnya sebelum keluar dari ruangan. "Clauva, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Hera khawatir melihat gaun Clauva yang basah kuyup. "Tidak ada, tadi aku hanya terjatuh ke danau." Balas Clauva dengan tersenyum tipis. "Astaga, bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Eria heran. "Aku tidak tau. Tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku, lalu aku terjatuh ke danau itu." Jelas Clauva. "Memangnya kau terjatuh di danau yang mana?" Tanya Hera, mereka bercakap sambil membantu Clauva menggantikan bajunya yang basah. "Aku tidak tau. Namun danau itu terletak di sebuah taman di istana, taman itu dipenuhi dengan bunga berwarna hitam, dan air danauny-" "Berwarna biru tua?" Tebak Eria. "Ya, kau benar." "Astaga! Jangan pernah ke taman itu lagi. Aku tidak tau bagaimana caramu masuk ke taman itu. Tapi yang pasti jangan pernah ke sana lagi." Peringat Hera. "Memangnya ada apa dengan taman itu?" "Bukan tamannya, namun danau yang berada di tanam itu. Danau itu bernama Thlípsi, dihuni oleh seorang Dziwozona. Aku tidak akan menjelaskannya padamu." Ucap Hera dengan menggelengkan kepalanya ngeri. Sedangkan Clauva hanya mengangguk-angguk saja, terlihat tak begitu tertarik. Semangatnya hilang begitu saja karena melihat kejadian tadi. "Aku heran mengapa kau selalu bisa menembus mantra penghalang Yang Mulia." Ucap Eria. "Aku tidak tau." Clauva mengedikkan bahunya. "Ah! Ini pasti karena ikatan mate." Ucap Hera dengan senyuman jahil. Sedangkan Clauva tak menanggapinya. "Ada apa dengan raut wajahmu? Hm, bagaimana dengan yang tadi? Bukannya tadi kau ingin menemui Yang Mulia, namun kenapa bisa sampai ke danau Thlípsi?" Tanya Eria heran. "Sudahlah, jangan membahasnya lagi." Balas Clauva tak minat. Tangannya mengelus-elus Snow yang tiba-tiba naik ke pangkuannya, tertidur nyenyak di sana. Hera dan Eria saling menatap, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di antara Yang Mulia mereka dengan matenya. Sepertinya terjadi sesuatu yang serius di antara mereka berdua. "Jangan cemberut begitu. Kau tau? Sekitar 20 purnama lagi adalah hari pelantikanmu!" Girang Eria. Tiba-tiba saja pintu diketuk, dan Hera membukakan pintu tersebut. Terlihatlah sosok Aeli yang membawa nampan makanan di sana. "Pelantikan apa?" Tanya Clauva, tangannya sudah mulai mengambil makanan yang diletakkan Aeli di hadapannya. "Pelantikan menjadi Ratu!" Jawab Aeli mewakili Eria. Seketika itu juga Clauva menghentikan kegiatan makannya. Lalu ia menatap mereka datar, membuat mereka bertiga menjadi tak enak dilihatnya. "Aku tidak mau menjadi Ratu." Balas Clauva. Mengingat perlakuan para bangsawan terhadapnya, belum lagi status dirinya yang hanya manusia biasa, Clauva benar-benar merasa sangat tidak pantas. "T-tapi kau adalah mate dari Raja kami. Jadi seharusnya.." Hera menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Clauva yang berubah semakin muram. Mendadak suasana menjadi sunyi. "Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku akan beristirahat, kalian juga harus beristirahat." Ucap Clauva lalu tersenyum menenangkan, ia sudah tak lagi memakan makanannya. Clauva berjalan ke arah peraduannya dan membaringkan badannya di situ, bersama Snow yang menemani tidurnya. "Seharusnya kita tidak mengatakannya." Bisik Hera pelan, tak mau mengganggu tidur Clauva. "Kau benar. Sepertinya ada sesuatu di antara Yang Mulia dan Putri Clauva." Balas Eria. Aeli membereskan sisa makanan Clauva yang tidak habis, setelah itu mereka bertiga langsung pergi meninggalkan Clauva yang sedang tertidur. Saat pintu kamar dibuka, mereka terkejut dengan sosok Axero yang berdiri tepat di depan pintu. "Y-yang Muli-" "Pergilah." Perintah Axero, lantas dengan cepat mereka bertiga langsung pergi dari hadapannya. Axero langsung memasuki kamar Clauva, ia melihat punggung kecil Clauva yang membelakanginya. Axero terus berjalan hingga berada tepat di belakang Clauva. "Aku tau kau belum tidur." Bisik Axero di telinga Clauva. Tak ada respon, Axero langsung membalikkan badan mungil Clauva. Axero dibuat terdiam dengan pemandangan dihadapannya. Clauva tampak terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Axero. Namun bukan itu yang membuat Axero terdiam. Gadis itu terlihat sangat muram dan itu semua karena dirinya. "Axero..?" "Apa kau sedih karena melihatku bersama Putri Arlina?" "Aku tidak sedih karena hal itu." Memang benar apa yang dikatakan Clauva, gadis itu berekspresi muram bukan karena kejadian tadi. Tapi memikirkan bagaimana nasib dirinya kedepannya mengenai pelantikannya menjadi Ratu. "Clauva-ku tidak boleh sedih seperti ini. Aku hanya ingin selalu melihat wajah bahagiamu." Pria itu mengecup pelan dahi Clauva, memberikan pelukan hangat untuk calon Ratunya. Ah, tanpa Clauva sadari gadis itu telah terbuai dalam pelukan Axero.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN