"Eria, apa kau melihat Yang Mulia? Sudah tiga hari terakhir ini aku tidak pernah melihatnya, dia juga tidak mengunjungiku." Clauva menatap Eria penuh tanda tanya.
"Aku tidak tau mengenai hal itu, Clauva. Mungkin Yang Mulia sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini terjadi kekacauan di beberapa wilayah kerajaan." Jelas Eria seadanya.
Eria dan Clauva sedang duduk santai di kamar Clauva yang terdapat meja dan kursi yang empuk, Eria terlihat sangat menikmatinya. Apalagi ia tidak perlu berbicara formal pada Clauva, membuatnya merasa lebih dekat dengan Clauva.
"Aku ingin bertemu dengannya." Gumam Clauva, tangannya tak berhenti mengelus Snow yang tertidur di pangkuannya.
"Kenapa kau tidak menemuinya saja?"
"Bolehkah? Apa aku harus mencarinya di istananya?"
"Itu ide yang bagus." Eria mengacungkan jempolnya.
"Bagaimana jika aku mengganggu pekerjaannya?"
"Jika yang bertamu adalah matenya, pasti Yang Mulia tidak akan merasa terganggu." Eria tersenyum geli mengucapnya.
Clauva tersenyum mendengarnya, lalu ia mengangguk menyetujui usulan Eria.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Yang Mulia Lord Axero."
"Mau kutemani?" Tawar Eria.
"Tidak, aku akan pergi sendiri." Clauva meletakkan Snow di peraduannya secara perlahan, setelah itu ia menuju pintu untuk keluar dari kamarnya.
"Jangan sampai tersesat." Canda Eria, Clauva mengacungkan jempolnya.
"Tidak akan."
Clauva melewati beberapa lorong, anak tangga dan banyak ruangan. Para prajurit dan pelayan yang bertemu dengannya selalu menyapa dan membungkuk hormat padanya, dan Clauva belum terbiasa akan hal itu.
Tinggal melewati satu lorong lagi ia akan menemukan ruang kerja pribadi Axero. Dalam perjalanan, Clauva dapat melihat beberapa orang yang terdiri dari tiga orang pria dan satu orang wanita berjalan berlawanan arah dengannya.
Dari pakaiannya, Clauva menebak mereka adalah bangsawan atau orang penting lainnya. Gadis itu masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Oh, Putri Clauva!" Ucap salah satu pria itu yang berambut merah tua, Maroone Callazéo, seorang pejabat tinggi dari kerajaan Haffenq.
"Salam hormat kami untuk Putri Clauva, semoga Anda diberi umur panjang." Mereka berempat serentak membungkuk hormat pada Clauva.
"Salam untuk kalian." Ucap Clauva dengan senyum tipisnya.
"Putri ingin menemui Yang Mulia?" Tanya wanita itu, ia terlihat sangat cantik dengan rambut pirangnya yang dicepol ke atas dan gaun merah yang terlihat mewah dan berkualitas. Wanita itu bernama Leana Howard, anak dari seorang petinggi kerajaan Earyeltizes.
"Iya,"
Leana tersenyum sarkas, "Yang Mulia sedang sibuk, sebaiknya Putri jangan mengganggu beliau."
Clauva mengerutkan keningnya, "aku tidak ingin menggangu Yang Mulia, aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar saja."
"Pasti Yang Mulia sudah jarang mengunjungi Putri sehingga Putri sampai memutuskan untuk menemui beliau." Ucap pria yang berambut cokelat terang, Steward Howard, saudara kembar Leana. Alis Clauva menekuk mendengarnya.
"Sepertinya Yang Mulia sudah mulai bosan dengan Putri." Ucap pria berambut cokelat tua, Zion Wallend, bangsawan dari Kerajaan Haffenq.
Telinga Clauva memanas mendengarnya. Clauva tidak mengerti dengan orang-orang di hadapannya ini, mengapa mereka terlihat seperti tidak menyukai dirinya? Tatapan mereka terlihat sangat-sangat tidak ramah, apalagi Steward yang menatapnya secara terang-terangan dan tidak senonoh.
"Bisakah kalian menyingkir? Aku ingin bertemu Yang Mulia." Ucap Clauva mencoba tetap terlihat tenang.
"Anda mengusir kami, Putri?" Tanya Leana deng menekankan kalimatnya yang terakhir.
Clauva tersenyum datar, "bukan begitu, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan waktuku dengan mengobrol bersama kalian." Clauva mencoba memberanikan ucapannya seperti yang diajarkan Axero padanya.
"Wow, lihatlah calon Ratu kita, sudah merasa sombong." Maroone terkekeh sinis.
"Dia bukan calon Ratu kita." Ucap Leana angkuh.
"Ya, kau benar. Manusia lemah sepertinya tidak cocok menjadi seorang Ratu dunia ini. Aku harap Yang Mulia segera mengganti calon Ratunya." Zion tersenyum kemenangan melihat Clauva yang terlihat menahan emosinya.
"Aku tidak peduli dengan omongan orang yang lebih rendah dariku, jika sudah, biarkan aku melewati jalan ini." Ucap Clauva dengan tak lagi menampilkan senyumannya.
"Sombong sekali, sebaiknya kau cepat pergi dari dunia ini, Aiónia tidak membutuhkan Ratu yang lemah sepertimu." Mereka tertawa pelan mendengar penuturan Leana.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini. Aku tidak tahan dengan auranya, sangat tidak mengenakan." Ucap Leana lagi, membuat Clauva berusaha menahan emosi yang sebentar lagi akan meluap.
"Jangan pikir aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku lemah, bukan berarti aku menerima atas apa yang kalian lakukan." Ucap Clauva dingin, sedangkan mereka hanya melalui Clauva tanpa melihat gadis itu.
"Huft, kau harus lebih banyak bersabar lagi, Clauva." Ucap Clauva menyemangati dirinya sendiri, tangannya mengusap setetes air mata yang sempat keluar. Kakinya kembali melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke ruang kerja Axero.
Perjuangannya beberapa menit telah berlalu, dan sekarang Clauva sudah berdiri di hadapan pintu besar berukiran naga di yang menjulang tinggi. Dirinya masih merasa bimbang, haruskah ia masuk ke sana?
Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu di depannya ini, kebetulan pintu ruang kerja Axero tidak dijaga oleh prajurit. Beberapa kali ia mengetuk pintu, namun tidak mendapatkan balasan dari dalam sana.
Apa Axero ada di dalam?
Akhirnya Clauva memutuskan untuk membuka pintu itu, beruntung karena pintu itu tidak dikunci oleh Axero.
"Axero..?" Clauva mematung melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang membuat hatinya entah mengapa berdenyut sakit.
Di sana, ia melihat Axero menindih seorang perempuan yang pakaiannya terlihat berantakan, perempuan itu terbaring di atas meja kerja Axero dengan Axero di atasnya yang berdiri dengan tubuhnya yang menindih perempuan itu.
Perempuan cantik itu melihat ke arah Clauva, begitupun dengan Axero yang terlihat terkejut menyadari kehadiran Clauva.
"Clauva? Apa yang ka-"
"Maafkan Saya yang telah mengganggu waktu Anda, Yang Mulia. Saya permisi." Clauva membungkuk hormat, lalu dengan langkah yang terburu-buru ia segera pergi dari ruangan itu.
Pikirannya sangat kacau, ditambah lagi dengan Axero yang tidak mengejarnya, hingga membuat Clauva berpikiran macam-macam tentangnya. Tanpa sadar air matanya jatuh, semakin deras hingga membuatnya tak bisa menahannya, tangisan yang mengiringi langkah kakinya yang entah menuju kemana.
Hatinya terus berdenyut sakit mengingat kejadian tadi, entah mengapa Clauva merasa sangat kecewa dengan Axero. Sudah cukup beberapa orang tadi membuat harinya hancur, niatnya yang ingin bertemu dengan Axero membuatnya semakin hancur. Ia sangat tidak menyangka akan melihat Axero bersama dengan seorang gadis dengan posisi yang tidak seharusnya.
Mungkin benar kata orang-orang tadi, manusia lemah sepertinya memang tidak pantas hidup berdampingan bersama seorang Raja yang sangat berkuasa. Semakin lama Axero akan bosan dengannya, sehingga pria itu memutuskan untuk mencari pasangannya yang lain, yang tentunya tidak lemah seperti Clauva.
Clauva memang tidak menyangkal akan hal itu, dirinya memang manusia lemah, tidak memiliki apapun di dunia asing ini. Ia memang tidak pantas jika diharuskan menjadi Ratu besar dunia ini.
Langkah kakinya membawa Clauva ke sebuah taman luas yang nampak indah, dipenuhi dengan bunga berwarna hitam, tanpa bunga jenis lainnya. Entah apa nama bunga itu.
Selain itu juga, di sana terdapat sebuah danau berukuran sedang, terlihat sangat unik dengan airnya yang berwarna biru tua. Clauva mendudukkan dirinya di atas rumput hijau, di antara bunga-bunga berwarna hitam itu. Air matanya masih menetes, sambil memandangi danau di hadapannya, Clauva terisak pelan.
Mengapa ia merasa sangat sedih seperti ini? Apa karena Axero adalah pasnagan takdirnya?
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya.." lirih Clauva, pikirannya dipenuhi dengan Axero. Suasana taman yang sepi ini menambah kesan sendu untuknya.
Clauva menarik napasnya panjang, berusaha untuk menghentikan air matanya. Jika dipikir-pikir lagi, tidak ada gunanya ia menangis sendirian di sini, hanya akan membuang-buang air matanya. Kejadian tadi memang membuatnya merasa sakit hati, namun jika ia hanya diam saja, maka tidak akan ada yang berubah.
"Apa aku terlalu berlebihan?" Gadis itu kembali bergumam, punggung tangannya mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya.
Clauva tiba-tiba teringat dengan perkataan ayahnya dulu, jangan hanya menilai suatu kejadian dari satu sudut pandang saja. Karena bisa saja, setiap sudut pandang memiliki pemahaman yang berbeda.
Dan Clauva melakukannya, ia hanya melihat dari matanya saja, tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu dari Axero. Bagaimana jika ini hanya salah paham?
"Sepertinya aku harus menemuinya.."
"Hei,"
Clauva menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari sumber suara yang didengarnya. Namun ia tak dapat menemukan seorang pun selain dirinya sendiri. Lalu dari mana suara itu berasal? Apa ia berhalusinasi saja?
"Hei, kemarilah."
Suara itu terdengar lagi, membuat Clauva berdiri dan mencari di mana sumber suara itu berasal. Air danau yang tadinya nampak tenang, bergerak pelan seperti ada yang melintasinya.
Tanpa sadar kakinya mulai melangkah mendekati danau itu, ia penasaran apa yang terdapat di dalam danau itu.
"Ya, kemarilah.." suara itu semakin jelas terdengar selaras dengan langkah kakinya yang membuatnya semakin mendekat.
"S-siapa itu?" Clauva berusaha melihat isi di dalam danau itu. Kakinya berusaha untuk tidak melewati batas atau ia akan tercebur ke sana.
Air di hadapannya membuat suara-suara gelembung. Semakin keras dan mengejutkan Clauva saat tiba-tiba sebuah tangan dari air itu menariknya masuk ke sana hingga membuatnya tercebur ke danau itu.
Clauva berusaha menggapai udara di atasnya, namun kakinya terus ditarik ke bawah oleh sebuah tangan. Ia tidak bisa bernapas. Lebih parahnya ia tidak tau cara berenang, apalagi ditambah gaunnya yang semakin memberatkannya untuk menggapai udara di atas.
Kepalanya terasa pening, air mulai memasuki paru-parunya, menimbulkan rasa sakit di area hidungnya. Matanya semakin memburam.
Clauva pasrah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya berharap semoga seseorang datang menolongnya. Sebelum ia benar-benar kehilangan nyawanya. Gadis itu masih belum mau mati.