CHAPTER 14 : Dia Akan Kembali!

1432 Kata
Ini memalukan! Benar-benar memalukan untuk Clauva. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, ia terus menunduk setelah Axero berhasil menciumnya di depan para tamu undangan. Rasanya Clauva ingin segera pergi dari situ saja. Namun Clauva tak habis pikir dengan Axero. Pria itu terlihat sangat tenang, seakan tak terjadi apa-apa. Setelah Axero melepaskan ciumannya, sontak semua para tamu undangan bertepuk tangan melihat mereka, seakan-akan pesta ini adalah pesta untuk mereka berdua. Namun Clauva juga menyadari bahwa beberapa dari mereka, khususnya para wanita bangsawan menatap tak suka ke arahnya. "Kau masih malu, hm?" Bisik Axero pelan. "T-tidak. Tentu saja tidak!" Balas Clauva gugup. Sambil terkekeh pelan, Axero mengelus rambut panjang Clauva, membuat gadis itu semakin malu. "Kau ingin pulang?" "Ya, aku mau." Seketika Clauva kembali berantusias. Axero mengajak Clauva keluar dari ballroom, membuat Clauva bingung akan sesuatu yang terlewatkan. "Kita langsung pulang?" Tanya Clauva. "Tentu saja." Ucap Axero santai, lalu ia membuka portal di hadapannya. "Maksudku, kau tidak berniat memberitahu dulu kepada pemilik pestanya?" "Untuk apa? Aku Rajanya, jadi tidak apa-apa." Clauva hanya mengangguk-angguk saja menanggapi, lagi pula ia juga ingin segera pulang. Saat Axero dan Clauva mulai melangkah memasuki portal, seseorang dari arah belakang mereka menyapa Axero dengan tiba-tiba. "Salam hormat Saya untuk Yang Mulia Lord Axero," Axero membalikkan badannya, begitu juga Clauva, lalu menatap seorang lelaki berambut cokelat di hadapannya tajam. Axero terlihat tidak menyukai orang di hadapannya ini. "Yang Mulia sudah ingin pulang? Saya baru saja ingin mengobrol sejenak." Ucap pria itu sembari tersenyum. Clauva menatap pria itu sambil mengerutkan dahinya. Dia pria yang menghinaku kemarin, kan? "Apa yang kau inginkan? Aku ingin pulang." Ucap Axero datar. "Jangan terburu-buru dulu, Yang Mulia. Berhubungan dengan kehadiran Anda di sini, Saya juga ingin memperkenalkan adik Saya." "Aku tidak tertarik dengan ucapanmu, Pangeran Deon." Axero berujar dengan wajah yang amat datar. Deon, seorang pangeran dari kaum Werewolf, pangeran kedua dari pasangan Raja Sadoch dan Ratu Elfania. Pria dengan perawakan tinggi dan berambut hitam itu menatap Clauva lalu tersenyum. "Salam untuk Putri Clauva." Ucapnya tenang. "Salam." Clauva mengalihkan pandangannya ke samping, enggan menatap lawan bicaranya. Lagi pula ia merasa aneh dengan pria itu, kemarin saat mereka pertama kali bertemu Deon bersikap sinis dengan ucapan-ucapannya yang menyakiti hati Clauva, namun sekarang ia terlihat seperti pria yang baik. "Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, lebih baik pergi dari hadapanku." Ujar Axero nada sedikit angkuh, lalu ia menarik Clauva untuk kembali mamasuki portal meninggalkan Pangeran Deon yang masih terlihat tenang di sana. "Jika kau melihatnya lagi, jangan pernah berbicara dengannya." Axero berujar kepada Clauva setelah portal mereka membawa mereka ke kamar Clauva secara langsung. "Kenapa?" "Aku hanya ingin kau baik-baik saja. Tidurlah." Axero mencium kening Clauva lembut, lalu menggiring Clauva ke peraduan. "Kau tidak ingin tidur?" Tanya Clauva menatap Axero yang berada di hadapannya, gadis itu duduk di pinggir ranjang dengan menghadap ke arah Axero yang juga menatapnya. "Demon tidak perlu tidur." Axero terkekeh kecil melihat ekspresi Clauva yang tampak lucu di matanya. "Woah, itu sulit dipercaya." Gumam Clauva pelan. "Jangan dipikirkan, sebaiknya kau cepat tidur." Pria itu mencubit pelan hidung Bangir Clauva. Clauva menggelengkan kepalanya, "aku ingin mengganti gaunku dulu." Axero mengangguk mengerti, lalu ia keluar dari kamar Clauva guna memberikan gadis itu privasi. Setelah beberapa saat Axero menunggu, pria itu kembali masuk dan melihat Clauva yang sudah akan memejamkan matanya, gaun pestanya sudah berganti menjadi gaun tidur berwarna emas. "Tidurlah," Axero mengelus pelan puncak kepala Clauva, memberikan kelembutan di sana, membuat Clauva semakin merasa nyaman. Gadis itu membuka kedua matanya dengan perlahan, namun sepertinya ia masih sangat mengantuk. Hingga tanpa sadar perkataannya mulai melantur. "Tampan sekali.. jika aku pasangan takdirmu, pasti akan sangat beruntung." Gumam Clauva, matanya mulai menyipit kembali. Axero tertawa kecil, "kau kan memang pasangan takdirku, Ratuku, calon isteriku, dan calon ibu dari bayi-bayi kita nanti." Clauva tersenyum tipis, "tanganmu juga kekar, aku suka.." gadis itu menggenggam telapak tangan Axero, membawanya ke sisi pipinya yang lembut. Perlakuan Clauva yang tiba-tiba itu membuat wajah Axero memerah tipis tanpa ia sadari, "aku jadi ingin memakanmu." Hening sejenak, tampaknya Clauva sudah benar-benar terlarut dalam mimpi indahnya. Napasnya terlihat teratur dengan wajah yang tampak damai. "Bagaimana mungkin kau secantik ini." Gumam Axero pelan, perlahan wajahnya mendekat ke wajah Clauva, menempelkan bibirnya di bibir ranum gadis itu. Mengecupnya pelan, tanpa ada lumatan. "Jika melihatmu tidur nyenyak seperti ini, Demon sepertiku juga ingin tidur." Axero terkekeh kecil. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping Clauva, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Clauva, menikmati harum gadis itu. Dan ya, Axero ikut tertidur bersama Clauva, mungkin ini sejarah baginya karena ini untuk kedua kalinya ia tertidur dalam beberapa abad terakhir. Axero tersenyum kecil di akhir kesadarannya, "selamat tidur, Ratuku." *** "Yang Mulia, Anda akan mendapat kunjungan besok." Axero menatap tajam Eugeo, "siapa yang akan berkunjung?" "Putri Arlina dan Pangeran Deon dari Kerajaan Wolves, Yang Mulia. Mereka ingin membicarakan sesuatu kepada Anda." "Jika tidak penting, aku tidak akan menerimanya." Ucap Axero datar, matanya kembali fokus pada lembaran-lembaran yang berisikan laporan-laporan antar kerajaan menggunakan tinta hitam. "Baik, Yang Mulia. Akan saya sampaikan." "Eugeo, pastikan Pangeran Deon tidak bertemu dengan mateku nanti." "Baik, Yang Mulia." "Kau boleh pergi, antarkan surat ini ke Kerajaan Haffenq." Eugeo menerima gulungan surat yang terbang ke arahnya, menerimanya dengan hormat. "Akan Saya laksanakan, Yang Mulia." Setelah mengucapkan kata itu, Eugeo mengundurkan dirinya berniat melaksanakan tugasnya. Tiga hari semenjak Axero dan Clauva menghadiri pesta di Kerajaan Floiries, Axero disibukkan kembali dengan rutinitasnya sebagai Raja besar, hingga ia tak bisa menemui Clauva. Axero benar-benar merindukan gadisnya, rasanya ia sangat ingin memeluk dan menciumnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi di dunianya, masalah demi masalah terus menerus timbul. Pemberontakan, kekeringan, ilmu hitam, para pengkhianat, semua terus terjadi dari beberapa minggu terakhir. Sebelumnya tidak pernah terjadi kejadian dengan separah ini. Semua ini membuat Axero harus memutar otaknya. Pikiran Axero terus berkecamuk, termasuk Clauva yang terus berada di pikirannya. Belum masalah kerajaannya, masalah tentang kutukan gadis itu juga belum terselesaikan. Segala cara telah ia lakukan selama ini demi melepaskan kutukan yang berada di dalam tubuh pasangan takdirnya. Semua usaha yang Axero lakukan, rasanya berakhir dengan sia-sia. Tidak ada yang bisa mematahkan kutukannya. Axero harus bisa lebih bersabar lagi, menunggu 27 purnama lagi maka ia dapat berkomunikasi dengan Dewa Thanatos, guna meminta jawaban atas kerisauannya. Kini para bangsawan telah mengetahui bahwa ia telah menemukan matenya. Ia sangat tau bahwa banyak dari mereka tidak menyetujui hubungan di antaranya dengan Clauva. Lagi-lagi karena status. Clauva hanyalah gadis manusia yang entah dari mana asalnya, namun gadis itu juga adalah matenya, pasangan seorang Raja Iblis. Takdir tengah bergurau dengannya, semua kekacauan ini benar-benar membuatnya muak. Entah masalah apalagi yang akan ia hadapi. Namun hanya satu keinginannya, yaitu hidup bahagia bersama Clauva tanpa ada gangguan dari makhluk mana pun. Suara ketukan dari jendela terdengar, membuat Axero menghentikan aktivitasnya. Mata elangnya menatap tajam jendela besar itu, menelisik siapa dalang dibalik ketukan yang mengganggu pekerjaannya. Aroma beberapa Stealth witch tercium di indera penciuman Axero, membuat Axero tersenyum miring. Bagus, tengah malam begini berani sekali mereka mengganggu iblis yang sedang bekerja. Axero melangkahkan kakinya pelan menuju jendela. Dengan raut wajah dinginnya, Axero mengeluarkan sebuah api berukuran kecil di jari telunjuknya. Menyentilnya pelan ke arah jendela dan menembusnya, membuat orang di balik sana terbakar karena api merahnya. "Ck," Axero berdecak pelan melihat pemandangan dari atas jendelanya, melihat tiga orang Stealth Witch terbakar habis menyisahkan jubah mereka. Entah bagaimana caranya mereka bisa masuk ke dimensi Aiónia, hingga bisa menyusup masuk ke Kerajaan Earyieltizes. Axero hendak melanjutkan aktivitasnya, namun niatnya terhenti dikala sebuah daun berwarna kuning berukuran besar, menempel di kaca jendelanya dari arah luar. Axero mengambilnya dan membaca tulisan aneh yang terdapat di permukaan daun itu. Axero mengepalkan tangannya kuat. Tentu saja ia mengerti arti dari kalimat itu. Manik matanya memerah, amarah kembali menguasai dirinya. Rasanya ia ingin menghancurkan segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Benar-benar keterlaluan! Axero mengeluarkan sayap hitamnya, membuat baju bagian belakangnya robek seketika. Dengan perasaan menahan menahan amarah, ia segera keluar dari tempat kerjanya, terbang menembus kaca jendela membuat jendela besar itu pecah seketika. Beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan darah, namun dengan cepat pulih kembali tanpa menyisahkan bekas luka. Pikirannya berkecamuk, bisa saja ia hilang kendali sekarang juga jika tak mengingat Clauva yang masih menunggunya. Pesan itu adalah sebuah tanda akan hadirnya musuh besar dunia ini. Pesan yang dapat diartikan, dunia ini akan segera hancur cepat atau lambat. Axero sungguh tak menyangka, persembunyian Satan itu kini akan berakhir sebentar lagi. Axero benar-benar sulit mengendalikan dirinya untuk tak melampiaskan amarahnya pada orang lain. Hanya dua kalimat dari isi pesan itu bisa membuatnya semarah ini. Bisa kau bayangkan bagaimana jika dunia ini hancur? Dia yang kalian kira bersembunyi dalam ketakutan, akan mengambil kembali semua yang dimilikinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN