Seharusnya Clauva berdiam diri di istana saja, seharusnya ia tak ikut serta bersama Axero hari ini untuk pergi ke sebuah acara kerajaan. Ya, seharusnya memang seperti itu. Setidaknya itulah hal yang Axero pikirkan pertama kali saat melihat undangan Kerajaan Floiries--kerajaan kaum Fairy--yang akan mengadakan pesta pernikahan untuk pangeran mereka.
Namun tindakan Axero berkebalikan dengan pikirannya, ia mengajak Clauva untuk pergi dengannya. Ini memang beresiko, para tamu undangan bisa saja mencium aura kutukan dari tubuh Clauva, menentang mereka, atau bahkan pemberontakan akan terjadi di mana-mana.
Clauva adalah matenya, mate sorang Axero, sang penguasa dunia Aiónia. Axero memutuskan untuk tetap mengajak Clauva, namun dengan cara menghilangkan aura dalam tubuhnya maka semua orang tidak akan tau apa yang sebenarnya terjadi.
Kini, Axero dan Clauva telah sampai di Kerajaan Floiries dengan menggunakan portal, berbeda dengan bangsawan lainnya yang menggunakan kereta kuda agar terlihat elegan. Namun Axero tidak suka membuang-buang waktunya, sehingga ia menggunakan portal saja.
Terlihat di hadapan mereka kini terdapat sebuah kerajaan yang berdiri dengan megahnya, kerajaan yang didominasi warna putih itu terlihat sangat bercahaya, Clauva dapat melihat beberapa kaum peri berlalu lalang menyiapkan segala sesuatu, namun berhenti saat melihat Axero dan sekedar membungkukkan badan mereka hormat.
Terdapat sebuah jalan yang menunjukkan langsung ke depan gerbang utama Kerajaan Floiries yang dihiasi tanaman-tanaman yang berbentuk aneh dan indah di mata Clauva. Saat mereka sudah sampai di depan gerbang, dua penjaga gerbang membungkuk hormat pada mereka sebelum membukakan pintu.
Setelah mereka masuk, terdapat dua pelayan yang menunggu dan menuntun mereka menuju ballroom, tempat acara dimulai. Lorong demi lorong yang telah dihias indah telah mereka lewati. Genggaman tangan Axero tak pernah lepas dari tangannya membuat rasa gugup Clauva hilang karena ini adalah pertama kalinya ia mendatangi pesta.
Clauva sudah dapat melihat sepasang pintu besar berwarna silver di hadapannya. Clauva dapat merasakan Axero melepaskan genggaman tangannya, Clauva dapat melihat Axero mempersilahkan ia untuk menggandeng lengannya, menatap mata Clauva, dengan tanpa ragu Clauva mengalungkan tangan kanannya pada lengan kekar Axero.
Pintu pun terbuka, sebuah ruangan yang sangat besar dan mewah menyambut mereka. Dari Clauva lihat, sepertinya acara akan segera dimulai dari banyaknya tamu undangan yang hadir, meja dan kursi terlihat penuh. Kecuali satu meja di depan yang nampak kosong. Meja yang terlihat berbeda dari yang lainnya.
Para tamu undangan yang melihat mereka, sontak membungkukkan badan mereka, termasuk para Raja dan Ratu yang turut hadir. Clauva sedikit terkejut, ia tak menyangka Axero sangat di hormati, apalagi hingga Raja dan Ratu dari kerajaan lain membungkuk hormat padanya.
Clauva melihat raut wajah Axero yang tenang, wajahnya tidak tersenyum, Clauva bahkan tidak tau ekspresi apa yang ditunjukkan Axero saat ini. Ia sangat berbeda saat mereka hanya berdua, Clauva bahkan bingung melihatnya.
Axero dan Clauva menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk mereka, duduk di sana dan mengamati acara demi acara yang sedang berlangsung. Clauva menyadari saat acara berlangsung, beberapa bangsawan yang hadir tampak melirik ke arahnya, namun saat Clauva menoleh untuk melihat, mereka langsung mengalihkan pandangan. Clauva pun memutuskan untuk tak peduli dengan itu.
Tamu undangan dipersilahkan menikmati jamuan makan yang telah disediakan. Beberapa Raja dan Ratu sempat menyapa Axero dan Clauva. Hal itu membuat rasa takut sedikit merayapi hati Clauva. Bagaimana ia tidak takut, semua yang berada di pesta ini bukanlah manusia biasa sepertinya. Dan mungkin satu-satunya manusia di sini hanyalah ia seorang.
"Kau tidak perlu takut." Bisik Axero saat melihat raut wajah Clauva. Sedangkan gadis itu hanya mengangguk memberi jawaban.
Sepasang suami isteri menghampiri mereka, membungkuk hormat pada Axero. Dapat Clauva lihat dari pakaiannya, mereka adalah seorang Raja dan Ratu.
"Salam hormat kami untuk Yang Mulia Lord Axero." Hormat Raja dan Ratu tersebut.
"Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Yang Mulia." Ucap Raja Sadoch, Raja kaum Werewolf.
"Ya." Jawab Axero singkat. Namun Raja Sadoch sudah terbiasa dengan hal itu. Raja mereka memang begitu, Axero akan berkata panjang jika mengenai sesuatu yang penting.
"Dan gadis di samping Anda?" Tanya Raja Sadoch melirik Clauva, sedikit terkagum dengan kecantikannya, namun ia tak memiliki cukup keberanian menatap Clauva terus terang. Ratu Elfania menatap Clauva dengan pandangan yang sulit diartikan, menyadari seorang gadis manusia sedang bersama Raja besar mereka membuat Ratu Elfania terkejut.
"Mateku, calon Ratu kalian." Jawab Axero, namun matanya menatap Clauva yang tersenyum kikuk.
Raja Sadoch dan Ratu Elfania yang mendengarnya langsung memasang wajah terkejut. Tak menyangka Axero sudah memiliki seorang mate, padahal banyak sekali Raja dan Ratu yang berusaha menjodohkan putri mereka dengan Axero karena pria itu belum memiliki seorang mate.
Sontak Raja dan Ratu kerajaan Werewolf itu membungkukkan badan mereka hormat kepada Clauva, "salam untuk Putri."
Clauva tersenyum kikuk melihatnya, "salam."
"Kami tidak tau jika Yang Mulia sudah memiliki seorang mate." Ucap Ratu Elfania, sedikit ada nada kecewa di sana. Sedangkan Axero hanya menanggapinya dengan wajah datar, mengingat putri mereka pernah mencoba mendekatinya.
"Kalau begitu Saya pergi dulu untuk menyapa yang lainnya." Ucap Raja Sadoch sopan, setelah memberi salam hormat, Raja Sadoch dan Ratu Elfania pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mereka tadi siapa?" Tanya Clauva.
"Raja Sadoch dan Ratu Elfania dari Kerajaan Wolves, kaum Werewolf."
Setelah mengucapkan itu, sepasang pengantin menghampiri mereka, tokoh utama malam ini menghampiri mereka dengan wajah bahagia mereka. Pangeran Harlest dari Kerajaan Floiries, dan Putri Selica dari Kerajaan Leoatle--kerajaan kaum Mermaid--menghampiri mereka dengan senyuman, sepasang mate itu nampak sangat bahagia hari ini.
"Salam hormat kami untuk Yang Mulia Lord Axero." Mereka membungkuk hormat menyapa Axero. Pandangan Putri Selica beralih ke arah Clauva, Putri Selica terdiam sejenak, sedikit terkejut melihat Clauva berada di sini, tentu saja ia tau Clauva adalah manusia biasa.
"Selamat atas pernikahan kalian." Ucap Axero datar, sedangkan Clauva tersenyum kepada mereka.
"Terima kasih, Yang Mulia. Kami merasa tersanjung atas kedatangan Anda di acara pernikahan kami." Ucap Pangeran Harlest, pandangannya beralih ke arah Clauva dengan wajah sedikit bingung.
Axero yang menyadari itu pun lantas menjawab, "dia mateku."
Perkataan Axero langsung membuat sepasang suami isteri itu membungkuk hormat dan memberi salam pada Clauva.
"Salam untuk Putri." Putri Selica tersenyum kepada Clauva, begitu pun dengan Pangeran Harlest. Hal itu membuat Clauva lega karena merasa diterima kehadirannya.
Raja dan Ratu lain pun turut menyapa Axero dan Clauva, bahkan pangeran dan putri yang turut hadir pun menyapa mereka. Tentu saja Clauva menyadari, ada beberapa dari mereka yang terlihat tak menerima kehadirannya. Namun Clauva bersyukur masih ada yang mau menerima kehadirannya. Hal itu wajar saja terjadi, ia adalah manusia biasa, namun ia adalah seorang mate dari Raja besar.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang telah tiba, saatnya berdansa bagi para pasangan. Pangeran Harlest dan Putri Selica nampak menjadi pusat perhatian malam ini. Mereka berdansa dengan anggun dan indah, alunan alat musik turut mengiringi dansa mereka. Para tamu undangan yang lain pun turut serta berdansa dengan anggun.
"Kau ingin berdansa?" Tanya Axero lembut, menatap mata Clauva. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak terlalu bisa berdansa." Ucap Clauva ragu, ia memang sudah mempelajari bangsawan, termasuk berdansa. Namun ia masih ragu untuk melakukannya.
Axero menghiraukannya, tangannya menggenggam telapak tangan Clauva, membawa punggung tangan gadis itu untuk dikecupnya, tak lupa dengan postur tubuh yang sedikit membungkuk dan tangan kirinya yang ia letakkan di belakang punggung.
"Maukah engkau berdansa denganku, Putri Clauva?"
"Tentu." Pasrah dengan keinginan Axero, pada akhirnya Clauva menurutinya.
"Tapi bagaimana jika aku melakukan kesalahan?" Bisik Clauva.
"Tak apa, injak saja ujung sepatuku. Ikuti langkahku." Axero mengulurkan tangannya, mengajak Clauva untuk berdansa bersamanya. Dengan sedikit keraguan, Clauva menerima uluran tangan Axero.
Pria itu mengajaknya ke lantai dansa. Kedua tangan Clauva ia lingkarkan ke lehernya, tangannya yang kekar memeluk pinggang Clauva erat. Axero menggunakan gaya berdansa yang berbeda dari yang lain, membuat Clauva semakin tidak yakin ia bisa melakukannya.
Axero mendekatkan keningnya ke kening gadis itu, menatap matanya dalam dan menikmati wajah Clauva yang terlihat sangat cantik. Pipi Clauva memerah entah untuk ke berapa kalinya, dan itu karena pria yang sekarang menjadi matenya.
Axero mulai melangkahkan kakinya teratur mengikuti alunan musik, Clauva mencoba menyeimbangkan langkah kakinya. Mereka sangat terhanyut akan situasi saat ini yang tiba-tiba menjadi romantis, hingga tanpa sadar merekalah yang sekarang menjadi pusat perhatian.
Pasangan-pasangan yang awalnya berdansa, mulai mengundurkan dirinya, membiarkan penguasa mereka menikmati waktunya bersama pasangannya. Axero mengubah gaya dansanya, ia melepaskan tangannya dari pinggang Clauva membuat gadis itu juga melepaskan tangannya dari leher pria itu.
Axero memegang tangan kiri Clauva, memutarkan badan mungil itu, lalu kembali memeluk pinggangnya. Dansa mereka semakin menjadi-jadi, membuat Clauva sedikit kualahan menghadapi Axero yang tampak semakin liar.
Tanpa Clauva sadari, Axero tersenyum kecil menatapnya. Pemandangan yang tak luput dari penglihatan tamu undangan lain, membuat mereka terkejut bukan main.
Raja mereka tersenyum!
Axero segera mengakhiri dansa, ia membuat Clauva seakan terjatuh, namun ia menangkap pinggang gadis itu. Membuat wajah Clauva sekarang berada di bawahnya. Tanpa aba-aba Axero menempelkan bibir mereka, menciumnya lembut.
Bibirnya mulai melumati bibir ranum Clauva, membuat gadis itu terkejut dan juga malu. Tak sampai di situ,
Axero mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu, mengabsen gigi Clauva satu-persatu. Saliva mereka saling mengadu, dan Axero sangat menikmati ini.
Sebuah ciuman yang sangat berarti untuk Axero. Malam ini, ia sangat bahagia, karena kehadiran gadis itu, Ratunya.