Semilir angin yang berhembus lembut juga harum bunga-bunga di taman tak dapat meredakan kekesalan yang Clauva rasakan. Wajahnya terlihat cemberut dengan alis yang menekuk tajam, menghiraukan angin yang menerbangkan rambut hingga menutupi beberapa bagian wajahnya.
Di sinilah Clauva sekarang, di taman samping kamarnya yang menghadap ke balkon, gadis itu mengelus-elus bulu lembut Snow sambil menahan kesal di hatinya. Bagaimana ia tidak kesal, permintaannya untuk berjalan-jalan melihat dunia Aiónia tidak dituruti oleh Axero. Padahal pria itu sendiri yang bilang akan menuruti apapun permintaannya.
"Aku berjanji akan membawamu berkeliling nanti, namun tidak untuk saat ini."
Setidaknya begitulah yang diucapkan pria itu, dan Clauva hanya mengangguk menuruti. Namun Clauva cukup senang karena ia sudah bisa keluar dari kamarnya tiga hari yang lalu, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengelilingi Kerajaan Earyeltizes, namun akhirnya ia menyerah karena kerajaan ini terlalu besar untuk ia kelilingi.
Clauva berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju kolam ikan dan meninggalkan Snow yang tertidur mendengkur di kursi taman. Ia mencelupkan tangannya ke air jernih itu, ikan-ikan di sana menghampiri tangan Clauva dan seakan memijatnya di sana membuat Clauva tertawa kecil karena geli.
Kegiatannya itu terhenti saat sebuah suara mengejutkannya. "Apa yang kau lakukan?" Clauva menolehkan kepalanya ke samping. Posisinya yang berjongkok membuatnya susah melihat pemilik suara itu. Clauva pun memutuskan untuk berdiri dari jongkoknya dan melihat lawan bicaranya.
"Aku hanya ingin melihat ikan. Ehm, kau siapa?" Tanya Clauva bingung, pasalnya ia tak pernah melihat pria ini sebelumnya. Namun melihat tatapan pria di hadapannya yang terlihat merendahkan, membuat Clauva berusaha tak peduli.
"Ah, jadi kau ya orangnya. Aku heran mengapa Yang Mulia Axero memilihmu. Padahal ia bisa memilih gadis lain." Ucap pria itu dengan kekehannya di akhir, tanpa menjawab pertanyaan Clauva.
"Apa maksudmu? Lagipula aku tidak mengenalmu." Ucap Clauva terlihat biasa saja. Tak peduli dengan perkataan pria asing itu yang membuatnya kesal.
"Kau tau? Rakyat tidak akan menerima kehadiranmu. Kehadiranmu di sini hanya sebagai ancaman. Kau seharusnya dibuang oleh Yang Mulia Lord." Ucap pria itu dengan angkuh. Tatapannya terlihat sangat merendahkan, rambutnya yang berwarna hitam tertiup angin karena sedikit panjang, hal itu terlihat semakin menyebalkan di mata Clauva.
"Atas dasar apa kau bicara seperti itu? Itu adalah kehendak Yang Mulia ingin memilih siapa, tidak ada hubungannya denganmu." Ucap Clauva tak mau kalah. Oh ayolah, dia sudah cukup direndahkan oleh ibu dan saudara-saudara tirinya. Axero mengatakan jika ia harus bisa melawan.
"Woah, kau rupanya gadis yang pemberani. Oh, aku tau! Wajahmu memang cantik, dan tubuhmu juga bagus. Kau pasti sudah menjualnya ke Yang Mulia Lord, pantas saja ia memilihmu." Hina pria itu lagi, matanya menatap Clauva dari atas ke bawah seakan menilainya. Entah apa yang membuatnya berani berkata seperti itu.
Clauva menatap pria di hadapannya geram, ingin rasanya ia mencakar wajah pria itu yang berani berkata sembarangan kepadanya. Sungguh ia merasa sangat direndahkan di sini.
"Kau berkata seakan sudah tau semua hal tentang diriku. Kau tau? Ucapan bodohmu itu tidak akan memengaruhi apapun, bahkan sampai kau berlutut atau merendahkan dirimu, Yang Mulia tidak akan mengubah kehendaknya. Lebih baik tutup mulutmu dan bersikaplah yang sopan." Ucap Clauva dengan tenang, tangannya ia lipat di dadanya, setelah mengucapkan kalimat itu ia segera membalikkan badan dan pergi dari situ.
Suasana hatinya semakin memburuk mendengar perkataan pria asing itu. Langkah kakinya terhenti saat ia kembali mendengar celotehan tidak jelas pria kurang ajar itu.
"Kau lancang sekali, Nona. Kupastikan kau tidak akan menjadi Ratu di sini, posisimu terlalu rendah untuk
mendapatkannya. Lebih baik kau bersiap angkat kaki dari dunia ini, manusia terkutuk. Entah apa jadinya dunia ini jika memiliki Ratu yang lemah sepertimu." Pria itu menatap datar Clauva, berusaha untuk tak melayangkan tangannya pada gadis itu.
"Tuan, sebaiknya jaga ucapanmu. Saya bisa saja melaporkan hal ini pada Yang Mulia karena telah berperilaku tak sopan pada pasangan takdirnya. Maaf sekali, aku tidak punya waktu untuk meladeni orang bermulut besar sepertimu." Clauva melirik pria itu dengan ekor matanya.
"Kau akan menyesali ucapanmu, Nona."
Hanya kalimat itu yang kembali Clauva dengar, saat ia membalikkan tubuhnya, sudah tidak ada lagi pria asing berambut hitam itu. Clauva berusaha memedam rasa kesalnya.
"Lagipula siapa juga yang ingin menjadi Ratu? Dasar pria menyebalkan." Gumam Clauva dengan nada menahan amarah.
Suasana hatinya semakin memburuk semenjak ia sudah boleh keluar dari kamarnya, ia tak pernah menemui Axero lagi. Clauva tidak tau kemana perginya pria itu. Namun Clauva memakluminya, Axero adalah pemimpin dunia ini, pasti ia sangat disibukkan dengan pekerjaan antar kerajaan.
Clauva memutuskan untuk kembali ke kamarnya, tak mau memikirkan pria kurang ajar itu tadi. Saat dalam perjalanan melewati lorong istana, Clauva bertemu dengan ketiga pelayannya, Hera, Eria dan juga Aeli.
Mereka membungkuk hormat kepada Clauva sebelum memulai percakapan.
"Putri, Anda harus segera bergegas." Ucap Aeli.
"Bergegas untuk apa?" Tanya Clauva bingung.
"Malam ini Anda akan mengikuti Yang Mulia untuk menghadiri pesta Kerajaan Floiries."
"Tapi dia tidak memberitahuku apapun."
"Anda harus segera bergegas, kami akan membantu." Ucap Hera lalu menuntun Clauva untuk kembali ke kamarnya. Clauva pun hanya menurut saat ketiga pelayannya mengantar ke kamarnya, mereka tampak sedikit tergesa-gesa.
"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk Anda berendam." Ucap Hera menggiring Clauva ke kamar mandi, sedangkan Aeli dan Eria menyiapkan gaun dan beberapa hal lain.
"Aku bisa sendiri." Ucap Clauva sedikit meringis karena Hera ingin membantunya membersihkan diri. Ia malu jika ada orang yang melihat tubuhnya, walau itu perempuan sekalipun.
"Ini perintah Yang Mulia Lord, mohon dimengerti Putri." Ucap Hera lalu membantu melepaskan gaun yang dipakai Clauva. Akhirnya Clauva pun pasrah walau dengan rasa malu.
Aroma bunga mawar segar dan s**u tercium di indera penciuman Clauva saat ia mulai merendam tubuhnya di kolam berbentuk bulat yang cukup besar untuk dirinya sendiri. Hera membantunya menggosok punggungnya, dan mengeringkan tubuhnya saat selesai membersihkan diri. Clauva merasa sangat canggung dan malu atas perlakuan Hera.
"Anda bisa memilih gaun mana pun yang Anda suka. Gaun-gaun ini sudah dipilih langsung oleh Yang Mulia." Ujar Eria sembari menunjukkan tiga pasang gaun yang terletak di peraduan besar milik Clauva.
"A-aku tidak bisa memilihnya." Ucap Clauva dengan terkagum melihat gaun-gaun itu yang terlihat sangat indah di matanya.
"Gaun ini terlihat indah untuk Putri." Aeli menunjuk gaun berwarna ungu muda dengan hiasan bunga-bunga di bagian d**a.
"Baiklah, aku akan memakai yang ini." Putus Clauva. Dengan segera Eria dan Hera membantu Clauva memakai gaun indah itu. Selesai memakai gaun itu, Aeli, Eria, dan Hera membantu merias wajah dan tatanan rambut milik Clauva agar terlihat lebih indah.
"Kalian sangat ahli melakukannya." Ucap Clauva tersenyum melihat hasil kerja mereka bertiga. Wajahnya kini terlihat lebih cantik, dan juga tatanan rambutnya dibuat sangat indah dan terlihat rumit.
"Anda terlihat sangat cantik, Putri. Anda juga harus mengenakan ini." Aeli mengambil sebuah kotak yang dipegang oleh Eria, di dalamnya terdapat mahkota kecil berhias bunga yang terlihat sangat cantik. Aeli memasangkannya perlahan pada rambut cokelat Clauva.
"Ini sangat indah.." gumam Clauva terkagum. Pasalnya baru kali ini ia memakai sebuah mahkota.
"Mahkota milik Anda yang sebenarnya lebih cantik, Putri." Ucap Hera seraya tersenyum.
"Maksudmu?" Tanya Clauva bingung.
"Ah, bukan apa-apa."
"Untuk sentuhan terakhir, Anda akan memakai sepatu ini." Eria menunjukkan sepasang separtu berwarna merah muda yang terlihat sangat menawan dengan hiasan daun dan bunga di sisinya.
"Aku bisa memakainya sendiri." Ucap Clauva saat melihat Eria akan memasangkan sepatu itu untuknya. Namun Eria hanya menggeleng pelan dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Lagi-lagi Clauva terkagum melihat benda yang sedang ia kenakan.
"Semua ini sangat indah dan terlihat mewah, aku tidak yakin pantas mengenakannya." Lirih Clauva pelan.
"Anda terlihat sangat cantik, Putri. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi Yang Mulia akan datang." Ucap Eria menenangkan. Clauva pun hanya mengangguk menanggapinya.
Tak selang beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan menampilkan seorang Axero yang terlihat gagah dengan baju kebesarannya yang berwarna hitam juga emas. Pria itu terlihat sangat tampan dengan mahkota yang menghiasi kepalanya.
Axero menatap Clauva dengan terpanah, begitupun sebaliknya. Axero tampak sangat perkasa dengan baju kebesarannya dan Clauva terlihat sangat cantik dengan gaunnya yang indah. Mereka terlihat sangat cocok.
Axero berjalan menghampiri Clauva dan mengangkat tangan kanan gadis itu, menciumnya pelan di punggung tangan mungil itu. Clauva merasa pipinya memerah karena perlakuan Axero. Sedangkan Aeli, Eria dan Hera membungkukkan badan mereka kepada Axero.
"Kau sangat cantik. Apa kau merindukanku?" Bisik Axero pelan tepat di telinga Clauva membuat pipi gadis itu semakin bersemu merah.
"Terimakasih.."
"Tidak merindukanku, ya?" Axero sedikit memiringkan kepalanya, wajahnya memasang ekspresi yang sedih.
"Tentu saja aku merindukanmu." Clauva tersenyum manis, walau dia terpaksa mengatakannya. Jangan lupakan gadis itu yang masih kesal dengan Axero yang mengingkari janjinya.
Axero tersenyum tipis, "kau sudah siap, cantik?" Bisik Axero yang masih menatap wajah cantik Clauva, gadis itu pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Ayo!"