CHAPTER 11 : Kisah Seorang Malaikat Pengkhianat

1408 Kata
Dahulu kala, saat Dewa dan Dewi Olympus masih mendiami dimensi di mana hanya ada peradaban manusia yang mendominasi tanpa ada makhluk immortal lain, di kala itu manusia hidup dengan damai diberkahi oleh para Dewa yang memimpin. Namun, karena ketidakpuasan Dewa Zeus, ia menciptakan beberapa makhluk yang lebih sempurna dari manusia, makhluk immortal. Makhluk immortal terbagi menjadi beberapa kaum, di antaranya kaum Vampire, Werewolf, Elf, Fairy, Mermaid, dan Witch. Itulah awal dari diciptakannya dunia para makhluk immortal, dunia Aiónia. Dimensi manusia dan makhluk immortal berbeda, karena perbedaan kekuatan mereka yang mendominasi. Dewa Zeus memilih Lucifer yang seorang malaikat yang berasal dari surga untuk memimpin dunia baru itu, sedangkan para Dewa dan Dewi menciptakan alam mereka sendiri yang dinamakan Olympus. Lucifer sendiri adalah seorang malaikat yang paling dipercaya dan dekat dengan Dewa Zeus, wajahnya pun paling tampan dan menawan di antara malaikat lain. Awal mulanya semua berjalan normal di bawah kepemimpinan Lucifer, hingga suatu ketika dunia Aiónia menjadi kacau karena kesombongan dan keserakahan Lucifer. Kaum immortal dipaksa menjadi pengikut setianya dan menyerahkan jiwa mereka. Akal sehat mereka dimanipulasi, hati murni mereka telah ditelan oleh kegelapan. Lucifer mengkhianati Dewa Zeus, malaikat pengkhianat itu hanya haus akan kekuasaan. Di setiap harinya, banyak kaum immortal yang mati karena diserap jiwanya. Dewa Zeus yang mengetahui hal itu pun memutuskan untuk mengasingkan Lucifer ke dimensi lain. Namun kekuatan yang diperoleh Lucifer dari jiwa-jiwa makhluk immortal membuatnya menjadi sangat kuat, hingga Dewa Zeus tak bisa mengatasinya sendiri. Peperangan pun tak bisa dielakkan. Dewa Zeus dengan Dewa Olympus lainnya berperang melawan Lucifer dan pasukannya yaitu para makhluk immortal yang telah ia kendalikan. Di saat itulah dunia Aiónia hancur.  Lucifer dengan pasukannya kalah telak. Kaum immortal banyak memakan korban jiwa. Namun pada akhirnya Dewa Zeus tidak berhasil menangkap Lucifer, karena Raja Satan itu langsung menghilang tanpa jejak. Dunia Aiónia kembali diperbaiki, dengan pemimpin yang baru, yaitu seorang makhluk dari ras iblis. Dewa Zeus membuat perjanjian dengan beberapa iblis kuat yang telah ia taklukan untuk membuat pemimpin Aiónia yang baru menjadi makhluk terkuat di dunia itu. Lord pertama tercipta dari api merah dan setengah jiwanya dikuasai kekuatan iblis. Namun beberapa ratus tahun ia memimpin, jiwanya seolah dikendalikan oleh iblis yang terikat perjanjian dengannya dan membuatnya hilang kendali, membuatnya hampir menghancurkan seluruh dunia Aiónia. Bukan tanpa sebab hal itu terjadi, Dewa Zeus mengetahui hal itu pun memutuskan untuk mengambil jiwa Lord pertama itu. Ciptaannya yang pertama masih belum sempurna. Begitu pula dengan Lord kedua. Lord kedua diciptakan dari api merah dan api biru, terikat dengan perjanjian iblis yang lebih kuat lagi. Namun hal serupa pun terjadi lagi. Lord kedua mengalami hilang kendali dan hampir memusnahkan seluruh kaum immortal. Memang begitulah resikonya jika membuat perjanjian dengan iblis. Dewa Zeus yang tak menyerah pun kembali menciptakan pemimpin baru lagi. Lord ketiga, Axero El Vasiliá Daimona. Tercipta dari api merah, biru, dan hitam. Terikat dengan perjanjian empat iblis penjaga neraka, yaitu iblis Azazael, Beelsebub, dan Astaroth. Axero memiliki setengah dari seluruh kekuatan kaum immortal, ia juga merupakan titisan Dewa kematian, Dewa Thanatos. Ia pun yang sekarang menjadi Raja Iblis.  Hingga beribu-ribu tahun kepemimpinannya pun, ia masih bisa mengendalikan sisi iblisnya. Lord Axero merupakan Lord terkuat yang pernah diciptakan oleh Dewa Zeus. Ia tak bisa dibunuh oleh siapa pun, kecuali seseorang yang menjadi pasangan hidup dan takdirnya. Hanya matenya yang bisa membunuhnya. Hingga kini, kisah peperangan antara Dewa-Dewi Olympus dengan Lucifer masih dikenang oleh penghuni Aiónia. Kisah itu menjadi sejarah hingga saat ini. Mengingat kejadian tragis itu, membuat Lucifer menjadi musuh terbesar kaum immortal. Sejak kejadian itu, Lucifer diusir dari surga karena keserakahan dan kesombongannya. Namun belum habis akal, Lucifer membujuk beberapa malaikat untuk mengikuti jejaknya. Sejak saat itu, Lucifer menjadi Raja Satan dan dengan kekuatannya, ia membujuk rayu para malaikat dan manusia untuk menjadi pengikutnya. Kisah Lucifer sangatlah terkenal dan menjadi sejarah, bukan hanya menjadi musuh dunia Aiónia, namun juga menjadi musuh bagi para umat manusia, kisahnya kini sudah terdengar ke beberapa dimensi lain. Hingga kini tidak ada yang tau di mana keberadaan malaikat yang sekarang menjadi Raja Satan itu. Ia seolah menghilang dari alam semesta ini. *** Bulan purnama bersinar terang dengan warna emasnya. Menyinari seorang gadis yang saat ini sedang menatap pemandangan taman di bawahnya. Dari atas balkon kamarnya, ia dapat melihat hamparan bunga beraneka ragam warna yang semakin banyak tumbuh di sana. Gadis yang tak lain adalah Clauva itu sangat ingin keluar dari kamarnya. Ia sudah jenuh berada di ruangan mewah nan luas itu terus-menerus. Namun itu tak akan bertahan lama lagi, karena besok Axero sudah mengizinkannya untuk keluar dari kamarnya. Ditambah lagi Axero akan mengabulkan apapun permintaannya. Mengingat pria yang selalu menemani hari-harinya itu, membuat gadis itu kian rindu padanya. Sudah dari tadi pagi Axero belum mengunjunginya hingga malam ini. Ia harap nanti Axero akan datang menemuinya lagi. "Huft.." Clauva menghela napasnya pelan. Ia berniat membalikkan tubuhnya dan kembali ke dalam kamarnya untuk segera beristirahat. Namun niatnya itu terhenti saat cahaya bulan menerpa kalung berliontin permata berwarna biru langit yang ia kenakan. Permata biru itu bersinar terang, seakan menyambut cahaya bulan emas yang menerpanya. Clauva yang menyaksikannya terkagum dengan mata berbinar. Kalung yang entah dari mana ia dapatkan itu terlihat semakin indah di bawah cahaya rembulan. Clauva masih mengingat saat ia di bawah alam sadarnya, suara seorang perempuan memberi taunya kalau ia tidak boleh melepaskan kalung itu. Clauva menepatinya, hingga kini ia tak pernah melepaskan kalung itu. Lagipula kalungnya memang sangat cantik, akan sayang jika tidak ia kenakan. Namun Clauva juga penasaran, mengapa ia tidak boleh melepaskannya? Lalu, apa yang akan terjadi jika ia melepaskannya? Apa sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya jika ia melepaskan kalung itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Tanpa Clauva sadari, seseorang yang telah ia rindukan sekarang berada di hadapannya, fokusnya pada kalung itu membuatnya tak menyadari kehadiran Axero yang sedang menatapnya intens. Dengan sayap hitam berkilau yang terbentang, Axero melayang tepat di hadapan Clauva. Di kepakkan sayapnya sekali hingga menimbulkan suara hembusan angin, membuat Clauva sadar saat itu juga. Gadis cantik bermanik cokelat itu menatap Axero terkejut dan juga dengan perasaan bahagia yang membuatnya tersenyum seketika. Pria yang telah dirindukannya kini berada di hadapannya, menatap matanya lembut. "Axero.." Fokus Clauva kini beralih ke sayap hitam milik Axero. Sayap itu terlihat sangat indah dan lembut. Cahaya emas rembulan membuat bulu-bulunya terlihat berkilauan. Jari-jari lentik Clauva tanpa sadar mengelus sayap hitam itu, menikmati kelembutan di setiap sapuannya. Clauva terlihat sangat terpana dengan sayap milik Axero. "Sayapmu indah sekali.." ujar Clauva sembari berdecak kagum. Tangan kekar Axero meraih jari-jari lentik milik Clauva yang sendang mengelus sayapnya, menggenggamnya erat dan menyalurkan rasa hangat. Dikecupnya punggung tangan itu dengan lembut, manik merahnya menatap Clauva dengan sedikit senyuman di bibirnya. "Selamat malam, Putri Clauva." Axero mengucapkan salam, ibu jarinya dengan lembut mengelus punggung tangan Clauva yang masih setia bertengger di tangannya. "Selamat malam, Yang Mulia Axero." Clauva tersenyum manis, tidak biasanya Axero memanggilnya dengan sebutan 'Putri', maka dari itu ia juga turut memanggil Axero dengan embel-embel 'Yang Mulia'. Pria itu tersenyum tipis, dengan tiba-tiba, Axero melesat cepat dengan kekuatannya, kini ia sekarang sedang berada di belakang Clauva yang sedang terkejut akan tindakannya. Axero terkekeh pelan melihat reaksi Clauva. Tangan kekar milik pria itu melingkar erat di perut ramping Clauva. Memeluk tubuh mungil itu dengan lembut, menyalurkan kerinduan. Clauva tersenyum kecil merasakannya. "Aku merindukanmu." Bisik Axero pelan tepat di samping leher Clauva, membuat gadis itu merinding seketika.  "Apa kau makan dengan baik?" Tanya pria itu. "Tentu saja, para pelayan memperlakukanku dengan sangat baik." "Aku penasaran akan satu hal." Axero meletakkan dagunya di bahu Clauva, mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. "Penasaran dengan apa?" Clauva bertanya. "Hm.. aku penasaran, kenapa dewa menciptakanmu dengan sangat cantik seperti ini?" Mendengar kalimat itu membuat wajah Clauva merona merah, apa Axero sedang menggodanya? "Kalau begitu aku juga penasaran, mengapa dewa menciptakanmu dengan sangat tampan seperti ini?" Clauva membalikkan kata-kata Axero, membuat pria itu tersentak kecil. Tanpa aba-aba, Axero secara tiba-tiba mengangkat tubuh Clauva yang dipeluknya hingga melayang bersamaan dengan kedua sayapnya yang mengepak. "A-axero.." pelukan Axero semakin mengerat saat Clauva menyebutkan namanya. "Gadisku ini pintar membalikkan kata-kata, ya.." "Tunggu, kau berjanji akan mengabulkan permintaanku setelah ini." Ucap Clauva dengan antusias, berniat mengalihkan pembicaraan juga. Jika seperti ini terus, mana bisa Clauva tidak salah tingkah dengan sikap Axero yang manis padanya. Pria itu terkekeh pelan mendengarnya. Ternyata gadisnya tidak melupakan hal itu, "apa yang kau inginkan, hm?" "Apapun itu?" Clauva tak dapat lagi menahan senyum senangnya. Penantiannya akhirnya akan dikabulkan oleh Axero. Sungguh ia tak sabar lagi ingin mendapatkannya. "Iya, katakan." "Aku ingin melihat keindahan duniamu, dunia Aiónia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN