CHAPTER 10 : Snow dan Altiro

1379 Kata
Terhitung sudah lebih dari tujuh hari Clauva terkurung di kamar mewah ini. Axero sama sekali tidak membolehkannya keluar dari kamarnya dengan alasan di luar berbahaya dan Axero tidak ingin dirinya terluka. Axero tak hanya membiarkannya diam di sana, pria itu memberikannya seekor peliharaan yang lucu. Hewan itu adalah peliharaan peri hutan, namun entah bagaimana Axero bisa mendapatkannya. Clauva memberikannya nama Snow, karena warnanya yang seputih salju. Tubuhnya berbentuk bulat seperti gumpalan, sangat gendut dan empuk. Kaki dan tangannya kecil hingga hampir tak terlihat karena tertutupi bulunya yang lebat. Snow juga memiliki ekor berbentuk bulat kecil seperti kapas, manik matanya berwarna biru cerah, dan tak lupa sepasang sayap kecil. Clauva sungguh menyukai hewan yang hanya seukuran kepalanya ini, di saat ia terpaksa terkurung di sini, ia selalu mengobrol dengan Snow. Jangan heran, Snow bisa berbicara dengan suaranya yang lucu. Ia mengerti apa yang dikatakan Clauva padanya. Kelebihannya yang lain ia juga bisa merubah bentuk tubuhnya menjadi benda-benda yang ukurannya lebih kecil. Sihirnya pun tak main-main. "Jadi kau pernah digigit oleh vampir?" Tanya Clauva sedikit terkejut dengan cerita Snow. Tangannya yang mungil mengelus-elus bulu Snow yang sedang berbaring di pahanya. "Heum, untung saja darahku tidak cocok dengan vampir itu. Namun semenjak itu gigiku menjadi seperti taring." Jelas Snow lalu memperlihatkan giginya yang seperti taring vampir. Clauva tertawa kecil mendengarnya, "ehm.. Snow, bisakah kau ceritakan sedikit tentang Axero kepadaku?" Mata bulat Snow menatap wajah cantik Clauva yang terlihat berbinar. Hewan kecil itu diam sejenak lalu menjawab pertanyaan Clauva. "Berikan aku kue bunga teratai dulu. Baru aku akan menceritakannya." Clauva yang mendengar itu memutar bola matanya laku terkekeh pelan. Pantas saja Snow sangat berisi, hewan putih itu selalu makan setiap saat. Apalagi jika ia selesai menggunakan kekuatannya, maka makannya akan bertambah dua kali lipat. "Baiklah, nanti akan kuberikan padamu. Tapi sekarang ceritakan dulu." Snow memutar-mutar tubuhnya, ekornya ikut bergerak ke sana kemari lalu berhenti setelah mendapatkan posisi yang nyaman. Telinganya bergerak kecil, ia sejenak mendiamkan dirinya sebentar sebelum menceritakan tentang Axero pada Clauva. "Yang Mulia Axero adalah Raja yang tegas dan juga kejam." Ungkap Snow yang memulai bercerita. "K-kejam?" Tanya Clauva tidak percaya, pasalnya Axero selalu bersikap manis padanya. "Dengarkan dulu. Heum, sebenarnya dia sangat kejam. Hanya saja ia menunjukkan sikap manisnya hanya kepadamu. Selain itu, Yang Mulia Axero telah hidup beribu-ribu tahun lamanya. Ia merupakan Lord ke tiga dunia Aiónia. Heum." Snow menjeda sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Ekornya sedari tadi tak bisa diam hingga membuat Clauva gemas dan ingin sekali meremasnya. "Heum. Yang Mulia Axero merupakan titisan dari Dewa Thanatos. Berbeda dari dua Lord sebelumnya, kekuatan Yang Mulia Axero lebih besar berkali-kali lipat. Menurut ramalan, ia lah orang yang akan dipercaya oleh Dewa Thanatos sebagai penguasa neraka. Kau beruntung memilikinya. Heum." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Snow menjilat pelan tangan kanannya yang mungil. Tak mempedulikan tatapan Clauva yang nampak ngeri mendengar ceritanya. Clauva yang mendengar kalimat terakhir dari Snow, langsung menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah merahnya. Ia sudah tau apa arti mate bagi kaum immortal, yaitu pasangan yang ditakdirkan oleh Dewi Selene, atau yang biasa dikenal sebagai dewi bulan (Moon Goddess) untuk para kaum immortal. "M-maksudmu penguasa neraka?" Tanya Clauva setelah menetralkan wajahnya. "Heum, jadi dia akan mengemban tiga kepercayaan sekaligus." Jawab Snow sambil menatap mata Clauva. "Tiga kepercayaan?" Tanya Clauva bingung. "Heum. Pertama, ia dipercaya sebagai Lord dunia Aiónia, yaitu dunia kaum immortal. Kedua, ia dipercaya sebagai penguasa kegelapan, dunia para siluman dan iblis yang sebenarnya. Dan terakhir, dia akan dipercaya sebagai penguasa neraka selanjutnya." "Bagaimana mungkin dia mengemban tiga kepercayaan besar sekaligus?" Clauva menganga tak percaya. "Heum. Kau tidak perlu khawatir, Yang Mulia Axero memiliki jiwa iblis di dalam dirinya yang sekarang mengemban tugas sebagai penguasa kegelapan. Jadi sekarang ia hanya fokus pada dunia Aiónia." Clauva yang mendengarnya mengerutkan keningnya bingung, "jadi maksudmu dia ada dua?" "Heum, begitulah. Tapi, saat ini ia masih memiliki musuh terbesarnya. Musuh yang telah ada di saat Lord pertama berkuasa." Kali ini Snow mengepakkan sayap sambil bercerita. Ia terlihat seperti gumpalan kapas terbang. "Apa musuhnya sangat berbahaya?" Tanya Clauva hati-hati. Ia jadi memikirkan kondisi Axero sekarang yang sudah empat hari tidak menemuinya. Ia beruntung mendapatkan Snow sebagai teman bicaranya saat Axero tak ada, dan juga tiga pelayan pribadinya yang akan mengunjunginya setiap saat. "Heum, dia sangat-sangat berbahaya. Sampai sekarang Yang Mulia Axero masih mengincar dan mencari tempat persembunyiannya yang ia yakini berada di dimensi lain." "S-sebenarnya, siapa musuhnya itu?" "Ia adalah seorang Raja Satan, musuh semua makhluk di dunia ini." *** Axero menatap tajam orang yang saat ini berada di hadapannya. Tubuhnya penuh luka dan terlihat sangat mengenaskan, belum lagi ia dipaksa membungkuk di depan Axero yang terlihat siap memberinya pelajaran. "Katakan padaku, apa yang membuatmu berani menyerang Ratuku?" Tanya Axero dengan suara rendah. Sedangkan orang yang berada tepat di bawah kakinya ini hanya diam tanpa menjawab, sedari tadi ia terus menutup mulutnya. Ia hanya mengerang kesakitan saat sihir Axero melukai dirinya. "Katakan, atau kubuat kau mengaku dengan caraku." Axero menunggu orang itu mengucapkan kalimatnya. Kesabarannya menipis saat orang itu tak kunjung menjawab. "Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu, Altiro." Ucap Axero dengan nada sinis. "Brengsek.." Altiro bergumam pelan, sedangkan Axero yang diumpati olehnya hanya terkekeh geli, melihat Altiro yang semakin tidak berdaya. Axero mengangkat salah satu kakinya, menginjak wajah Altiro yang sudah tak berbentuk lagi dengan sangat kuat. "Lain kali jika ingin mengumpat, gunakan lidah busukmu itu untuk menjilati sisa kotoranmu." Dengan luka bakar di kedua kakinya, luka sayatan di beberapa anggota badannya, belum lagi luka dalam yang penyihir itu peroleh, Axero kembali memberikan siksaan yang lebih pada tubuh dalam Altiro. Tubuhnya mengejang, matanya membola seakan ingin keluar, darah segar keluar dari mulut dan telinganya. Ia mengerang kesakitan atas apa yang diberikan Axero padanya. Eugeo yang melihat itu hanya diam dan memandang Altiro datar. Selama enam hari Altiro dipenjarakan di ruang bawah tanah, dan selama itulah ia selalu mendapat siksaan dari Axero. Namun setiap satu hari kesakitan yang ia dapat, Axero selalu menyembuhkannya. Bukan karena kasihan atau apa, ia hanya tak ingin Altiro mati terlalu cepat dan membuat semuanya menjadi membosankan. Sebenarnya Axero sudah tau apa motif p*********n yang Altiro lakukan pada Clauva saat di taman bersama Putri Sienna. Namun Axero ingin mendengar langsung dari mulutnya, hingga kini ia masih menunggu dan selalu bermain-main dengan Altiro. Axero bisa saja langsung membunuh Altiro dari jauh-jauh hari, namun ia ingin menjadikan Altiro sebagai objek pelampiasannya atas kutukan yang membuat Clauva menderita. Axero marah. Marah pada dirinya sendiri, karena hingga saat ini ia masih belum tau bagaimana cara mematahkan kutukan yang di dapat Clauva. Ia bisa saja menanyakan itu kepada Dewa Thanatos, namun waktu pemanggilannya hanya berada di waktu-waktu tertentu. Dan ia masih harus menunggu selama tiga puluh malam purnama lagi. "B-bunuh a-aku.." ucap Altiro lirih hampir tidak terdengar. Namun Axero masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Axero tersenyum miring mendengarnya, "kau membosankan." "Eugeo, berikan pedangmu padaku." Dengan segera Eugeo menarik pedang yang berada di pinggannya dan memberikannya langsung pada Axero. Pedang Eugeo bukanlah pedang biasa. Di dalamnya terdapat kekuatan naga hitam dari lembah Reanoqe yang berhasil ia kalahkan, sehingga semua kekuatan naga itu berpindah ke pedang yang telah membunuh naga itu. Axero menambah kekuatannya pada pedang itu, ia membuat pedang Eugeo menjadi lebih panas, bahkan sangat panas. Mungkin ia akan sedikit bermain-main dengan Altiro. Axero menusuk punggung Altiro yang sedang membungkuk di hadapannya. Ia tak segera mencabut pedangnya, membuat Altiro berteriak kesakitan. Rasa panas menjalar dari punggungnya, darahnya keluar hingga mengenai baju Axero. Belum sampai di situ, Axero menggerakkan pedangnya ke atas hingga sampai belakang leher Axero. Merobeknya dengan gerakan pelan, darah semakin bercucuran ke mana-mana. Axero segeran mencabut pedangnya dan memenggal kepala Altiro saat itu juga. Darah memenuhi pedang Eugeo, membuat sang pemilik pedang menelan salivanya pelan melihat kekejaman Rajanya dalam menghabisi lawan. Axero mengembalikan pedang Eugeo yang masih berlumuran darah. "Makhluk menjijikkan, seharusnya aku membiarkan Chimera untuk menguliti tubuhmu hidup-hidup." Axero memandang mayat Altiro dengan tatapan jijik. Ia memejamkan matanya sejenak memedam kemarahan dalam dirinya. Matanya yang berwarna merah pun kembali seperti semula menjadi warna hitam kelam. Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, ia segera menghilang dari tempat terkutuk itu dengan kekuatannya, meninggalkam Eugeo sendiri di sana. Hukuman yang di dapat Altiro termasuk hukuman yang lumayan berat menurut perhitungan Axero. Hukuman itu masih belum seberapa jika dibandingkan saat Axero memberikan hukuman kepada pengkhianatnya. Tak perlu dijelaskan kekejamannya, bahkan Dewa dan Dewi pun tau seberapa brutal penguasa dunia Aiónia itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN