"Duduklah di sampingku, Putri Sienna." Clauva menepuk kursi kosong di sebelahnya, yang langsung dituruti Putri Sienna.
"Kau berasal dari kerajaan Nõid, kan? Aku ingin mendengar tentang kerajaanmu." Pinta Clauva dengan mata yang berbinar.
Putri Sienna yang tak mampu menolak pun akhirnya menceritakan beberapa hal tentang kaum penyihir kepada Clauva yang tampak antusias.
Di pertengahan pembicaraan mereka, tiba-tiba bunga-bunga yang berada di taman itu berubah menjadi layu dan menghitam, termasuk rumput yang mereka pijak. Ikan-ikan terlihat mengambang ke atas air dan mati.
Kejadian tiba-tiba itu mengejutkan Clauva dan Putri Sienna yang sedang berada di taman itu. Namun tiba-tiba..
Sringg!!
"Putri Clauva!" Teriak Putri Sienna saat tiba-tiba di tengah percakapan mereka sebuah cahaya merah memanjang dan hampir mengenai Clauva.
Clauva perlahan membuka kedua matanya, wajah tampan Axero yang sedang menatap tajam ke arah bayangan hitam yang jauh dari mereka tampak menyeramkan.
"Kau tidak apa-apa?" Axero mengalihkan pandangannya ke arah Clauva yang sedang dalam dekapannya.
"Aku baik-baik saja." Ucap Clauva sambil melepaskan dekapan Axero.
Axero tampak menatap bayangan itu datar, ia tak melakukan apapun untuk menghabisi bayangan hitam itu. Hingga bayangan hitam itu perlahan menghilang menjadi debu, Axero hanya menatapnya datar. Entah apa yang direncanakan lelaki itu sekarang.
"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu." Perintah Axero pada Clauva.
"Kalau begitu hamba mohon undur diri, Yang Mulia dan juga Putri Clauva." Putri Sienna membungkukkan badannya hormat lalu meninggalkan Clauva dan Axero berdua.
"Aku akan mengantarmu." Clauva hanya mengangguk menurut kepada Axero.
Sesampainya di kamar, Clauva menatap Axero yang sedang menggumamkan sesuatu, memberi perlindungan yang kuat pada kamar Clauva agar aura jahat tidak masuk ke dalam kamarnya.
"Selama beberapa hari tetaplah di sini, jangan keluar dari kamarmu." Ucap Axero sambil memegang dagu Clauva agar gadis itu menatap kedua matanya.
"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Clauva.
"Aku tidak ingin kau terluka. Setelah semuanya selesai, aku berjanji akan mengabulkan semua permintaanmu."
"Benarkah?" Mata Clauva tampak berbinar mendengar penuturan Axero. Ini adalah kesempatannya untuk menjelajahi dunia ini.
"Beristirahatlah, aku harus menyelesaikan sesuatu." Ucap Axero, mengecup kening Clauva cukup lama dan kembali menatap manik cokelat gadis itu.
"Aku berjanji kau akan baik-baik saja." Bisik Axero, setelah mengucapkan kalimat itu ia berjalan pelan menuju pintu kamar untuk keluar.
"Axero," panggil Clauva. Lelaki itu menghentikan langkah kakinya.
"Hm?"
"Apa yang terjadi kepadaku?" Tanya Clauva pelan, sangat pelan. Namun Axero masih bisa mendengarnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Clauva, Axero segera keluar dari kamar Clauva. Hal itu membuat Clauva kecewa. Tiga hari lalu, ia bermimpi suara-suara asing itu lagi. Dan kemarin, ia juga memimpikan hal yang sama. Ia melihat sekilas bayangan seorang gadis yang mirip dengannya nampak menangis meratapi sesuatu.
Hal itu membuat hati Clauva gelisah dan tak tenang. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Clauva yakin pasti Axero mengetahui sesuatu tentang dirinya.
Clauva membaringkan tubuhnya di atas peraduan, ia menutup kedua matanya mencoba tidur dan melupakan sejenak kejadian yang telah terjadi.
Sedangkan di sisi lain, Raja Ilois, Putri Sienna sedang membicarakan sesuatu yang penting di ruang pertemuan. Raja Ilois menjelaskan situasi yang sedang terjadi di kerajaannya.
"Saat itu, Saya sedang mengunjungi batu Saatus karena Saya merasakan sesuatu yang tidak beres di sana. Namun Saya melihat sesuatu yang aneh pada batu Saatus itu, di sana terdapat tulisan yang mengatakan bahwa ada pertanda buruk di dunia Aiónia. Batu rubinya memancarkan cahaya hitam pekat dan berbau menyengat." Jelas Raja Ilois.
"Lebih tepatnya, ada sebuah kutukan." Timpal Putri Sienna. Putri Sienna memiliki anugerah untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Namun itu hanya sekilas dan kurang jelas. Bayang-bayang masa depan akan nampak dalam pikirannya jika sesuatu yang besar akan terjadi.
Batu Saatus sendiri, berasal dari danau Püha yang terdapat di Kerajaan Ñoid sebelah tenggara. Batu itu berwarna hitam, seperti batu biasanya. Namun terdapat beberapa pola abstrak yang terbuat dari batu rubi, setiap malam batu itu selalu memancarkan cahaya merah terangnya.
Batu Saatus diyakini kaum penyihir memiliki kekuatan yang dahsyat, dan dapat meramalkan hal buruk yang akan terjadi di dunia Aiónia. Saat hal itu terjadi, warna cahaya yang dipancarkan bukan lagi merah, melainkan hitam dan mengeluarkan bau menyengat. Kini batu itu tersimpan di Kerajaan Ñoid dan dikenal sebagai batu yang keramat.
"Aku ingin membicarakan ini pada kalian. Sebenarnya, Ratuku terkena kutukan. Aura kegelapan berpadu dengan kesucian. Dugaanku, alam semesta telah mengutuknya." Ucap Axero dengan ekspresi datar. Raja Ilois dan Putri Sienna terkejut mendengar penuturan Axero.
"A-apa?"
"Ini terjadi saat ia baru datang di kerajaan ini."
"Yang Mulia, sebaiknya kehadiran Putri Clauva tidak dipublikasikan dulu, jika mereka menyadari ada kutukan pada Putri Clauva, maka rakyat dan para petinggi tidak akan menerima kehadiran Putri." Usul Putri Siena.
"Aku juga berpikir begitu."
"Selanjutnya apa rencana Anda, Yang Mulia?" Tanya Raja Ilois.
"Aku ingin berbicara dengan Dewa Thanatos."
"Dewa Thanatos?" Ucap Putri Sienna dengan ekspresi terkejut.
"Pertemuan selesai. Rahasiakan semua ini." Axero meninggalkan ruang pertemuan.
Sedangkan Raja Ilois masih mencerna apa yang terjadi, begitu juga dengan Putri Sienna. Mereka terlalu terkejut akan apa yang terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Yang Mulia, Ayah?" Tanya Putri Sienna.
"Ayah juga tidak tau. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja."
***
Gadis itu menggeliat dalam tidurnya, keningnya mengerut tak nyaman. Wajahnya dipenuhi dengan keringat. Sesaat kemudian gadis itu membuka kedua matanya. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa sakit.
Ia mengambil posisi duduk dari tidurnya, matanya tampak berkaca-kaca menahan sakit. Namun ia berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan air matanya. Kepalanya pun ikut merasa pusing, suara-suara asing terdengar di telinganya. Bagaikan lantunan lagu yang berantakan, membuatnya ingin tuli saat itu juga.
"A-apa yang terjadi... pa-daku.." Clauva meremas kuat d**a kirinya, tepat di bagian jantungnya berada.
"Clauva.." sebuah suara terdengar di telingannya. Suara yang selalu menemani hari-harinya.
"A-axero.. sa-kit.." Clauva tak dapat menahan tangisnya lagi, ia mengeluarkan air matanya. Rasanya benar-benar sakit. Jika dapat memilih, lebih baik ia mati saja dari pada merasakan sakit yang luar biasa hampir setiap harinya.
Axero menangkup wajah mungil gadisnya, mengusap air matanya pelan menggunakan ibu jarinya. Ia tak tega melihat belahan jiwanya terus tersiksa seperti ini. Hatinya turut berdenyut sakit melihat kondisi Clauva yang tampak mengenaskan menahan sakit.
"Tutup matamu." Pinta Axero. Setelah Clauva menutup kedua matanya, perlahan ia dekatkan wajah tampannya dengan wajah gadis malang itu. Di dekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir ranum milik Clauva. Melumatnya pelan, dengan membaca sebuah mantra di dalam pikirannya, ia berusaha menghilangkan rasa sakit yang diderita pasangannya.
Clauva yang mendapat ciuman hangat itu, tubuhnya berubah menjadi kaku. Ia terlalu terkejut untuk menyadari apa yang Axero lakukan pada bibirnya. Namun perlahan-lahan, rasa sakit di dadanya turut menghilang digantikan dengan detakan jantungnya yang berdebar sangat keras.
Setelah dirasa keadaan Clauva sudah membaik, Axero melepaskan ciumannya dan menatap dalam manik cokelat mikik Clauva. Tatapannya terlihat sangat mendamba, ia kembali mengecup sekilas bibir manis gadisnya, dan segera menjauhkan wajah mereka.
Axero terkekeh pelan melihat raut wajah terkejut Clauva, terlihat sangat lucu di matanya. Apalagi dengan pipi merona gadis itu, matenya terlihat sangat menggemaskan.
"Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Axero.
"Apa yang.. eh? Aku sudah tidak merasakan sakit lagi. T-terima kasih." Ucap Clauva dengan pelan. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping, tak mau menatap wajah Axero yang membuatnya gugup.
Axero mengelus pelan surai cokelat milik Clauva, tangannya menikmati setiap kehalusan yang terdapat di rambut panjang itu. Mata hitam kelamnya menatap wajah Clauva yang masih memerah, menikmati pemandangan indah di hadapannya.
"Sebaiknya kau tidur." Ucap Axero setelah melepaskan tangannya dari rambut Clauva.
"I-iya." Clauva kembali membaringkan tubuhnya di atas peraduan, dan mencoba memejamkan kedua kelopak matanya.
Baru saja ia memejamkan kedua matanya berniat untuk tidur, gerakan pelan di samping kasurnya membuat ia kembali membuka kedua matanya. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan, mendapati wajah Axero yang sangat dekat dengannya.
Wajah tampan Axero hanya berjarak beberapa senti di hadapannya, membuat detak jantungnya kembali berdebar dengan kencang. Axero terus menatap matanya, menembus dalam keindahan manik mata cokelatnya.
"K-kenapa kau.."
"Ssstt, aku hanya ingin tidur di sampingmu." Ucap Axero lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu. Membawa wajah cantik itu tenggelam di d**a bidangnya.
"A-axero, kita tidak bisa melakukan ini. Lebih baik aku tidur di kamar lain saja." Tolak Clauva halus, tangan mungilnya berusaha mendorong d**a bidang Axero. Namun usahanya gagal, karena kekuatan tangan Axero yang tidak sebanding dengannya.
"Kenapa tidak? Kau mateku, aku berhak atas dirimu." Kalimat yang dilontarkan Axero membuat wajah Clauva memerah seperti tomat, ia menyembunyikan wajahnya di balik d**a bidang pria itu.
"Axero.." panggil Clauva pelan.
"Iya, Sayang?" Ucapnya dengan menggoda, lantas Clauva yang mendengarnya membuat pipinya bersemu lebih merah. Namun dengan cepat ia menepis kegugupannya.
"Aku.. tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan diriku."
"Sstt, tidurlah. Kau tidak perlu memikirkannya."
"Tapi.." belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Axero lebih dulu mencium keningnya hangat. Kecupan itu membuat Clauva mengantuk secara tiba-tiba hingga ia tak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Kelopak matanya mulai menutup, jiwanya mulai menaungi alam mimpi.
"Selamat tidur, Ratuku."