Dari atas balkon kamarnya, pikiran Clauva terus tertuju pada Axero, penguasa dunia ini. Clauva mengira Axero adalah penguasa yang kejam, dingin, dan bukan seorang lelaki tampan. Namun semua itu jauh dari ekspetasinya, ternyata Axero tak sedingin itu, tak terlihat kejam, dan juga sangat tampan.
Clauva bahkan tak mengerti akan sikap Axero terhadapnya, lelaki itu bersikap seakan-akan ia adalah istrinya. Ucapan Axero yang mengatakan bahwa ia adalah Ratunya, terus berputar dalam kepalanya. Entah mengapa itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Kau sedang memikirkan apa, hm?"
Tiba-tiba suara seorang lelaki yang sedang ia pikirkan terdengar dari arah belakangnya. Itu membuat Clauva terkejut.
"Yang Mulia.." Clauva hendak menundukkan badannya hormat, namun ditahan oleh kedua tangan kekar Axero.
"Kita hanya berdua di sini, jadi tak perlu memberi salam hormat seperti itu. Satu lagi, panggil aku Axero."
Axero mendekatkan dirinya pada Clauva, yang membuat gadis itu mundur hingga pinggangnya menyentuh pembatas balkon. Clauva tak berani menatap lawan bicaranya saat ini, entah mengapa ia selalu gugup. Apalagi saat pertemuan pertamanya dengan Axero, rasanya ia tak mau mengulanginya lagi.
"Tatap mataku, Clauva." Axero menyentuh dagu Clauva agar gadis itu mau menatap matanya.
"Apa kau nyaman di sini?" Tanya Axero, matanya sedang meneliti wajah cantik gadis itu.
"A-aku merasa nyaman.."
"Kalau begitu, jangan meminta untuk pergi. Karena kau akan selalu di sini bersamaku." Axero membalikkan tubuh gadis di depannya, pria itu memeluk Clauva yang tampak tegang dari belakang. Gadis itu terlihat berusaha melepaskan lengan Axero yang melingkar di perutnya, namun usahanya sia-sia. Bergerak sedikitpun tidak.
"Apa maksudmu?"
"Aku selalu menunggumu, menantimu, mencarimu di seluruh penjuru negeri ini. Hingga saat itu tiba, kau sudah berada di sini. Aku tak mungkin membiarkanmu pergi dariku."
Jantung Clauva berdebar-debar, wajahnya tampak memerah karena malu. Namun dalam benaknya bertanya, mengapa Axero mengatakan semua itu? Mengapa lelaki itu selalu ingin dekat dengannya? Padahal mereka baru bertemu.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Axero, sebaiknya kau melepaskan pelukanmu, nanti ada yang melihat." Ucap Clauva dengan malu-malu, matanya melirik sekitar dengan pandangan was-was.
Axero terkekeh pelan mendengarnya, "biarkan saja. Aku hanya ingin memeluk mateku, apa itu tidak boleh?"
"Mate?" Gumam Clauva.
"Kau akan mengetauinya nanti." Ucap Axero dengan senyum penuh arti.
Setelah itu, baik Clauva mau pun Axero tak mengucapkan apapun lagi. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Pikiran Axero tertuju pada Chimera, makhluk buas peliharaannya. Chimera tak mengatakan apa pun, ia sedikit lebih buas dari biasanya. Para Siren, mereka hanya terdiam tak bernyanyi lagi melihat kedatangan Axero. Semua itu lantas membuat amarah Axero ingin meledak saat melihat hal yang tidak pasti.
Axero yakin, pertanda yang mereka keluarkan berhubungan dengan kutukan yang Clauva dapatkan. Hingga saat ini, ia belum mendapatkan jawaban yang ingin ia ketahui. Namun Axero sudah menduga-duga siapa dalang dibalik kutukan yang Clauva dapatkan.
Aura kegelapan yang berpadu dengan aura suci. Hanya ada satu di pikiran Axero. Namun ia sangat ingin menyangkal apa yang ia duga, dan juga hal itu masih belum bisa dibuktikan.
Sedangkan Clauva, sedari tadi jantungnya berdegup kencang tak karuan. Tubuhnya kaku saat dipeluk oleh Axero yang terlihat menikmati pelukan mereka.
Berdua dengan seorang pria tampan dan berkuasa, apalagi dengan posisi mereka yang sangat dekat benar-benar membuatnya gugup dan juga kaku. Clauva bahkan dapat merasakan tangan Axero semakin erat di pinggangnya.
"Axero," panggil Clauva pelan. Ia sangat tak nyaman berdiam diri seperti ini.
"Hm?"
"Bolehkah aku bertanya kepadamu?"
"Tentu."
"Dunia ini, bisakah kau menjelaskan keseluruhannya padaku? Aku tidak mengetahui apa pun." Axero mengecup kepala Clauva singkat, hidungnya menikmati keharuman rambut gadis itu.
"Dunia ini bernama Aíonia. Di sini terdapat beberapa kaum, di antaranya kaum Vampire, Werewolf, Mermaid, Fairy, Elf, Witch dan terakhir Demon. Setiap kaum memiliki kerajaannya masing-masing, di pimpin oleh Raja dan Ratu kaum mereka. Namun hanya ada satu pemimpin dunia ini." Jelas Axero.
"Dan itu kau?"
"Begitulah. Selain itu, di sini juga ada beberapa makhluk mitologi. Sebaiknya kau berhati-hati jika menemui salah satu dari mereka. Sekarang yang kau tempati adalah kerajaan utama, Kerajaan Earyeltizes."
Pria itu menjelaskan dengan suara lembutnya, tangannya tak henti mengusap pelan surai cokelat Clauva dan manik hitamnya yang tak lepas memperhatikan paras cantik pasangan takdirnya.
"Axero, kau termasuk kaum apa?" Tanya Clauva penasaran.
"Menurutmu?"
"Ehm, Vampire? Atau Werewolf?"
"Salah." Axero menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu apa?" Clauva memiringkan kepalanya.
"Menurutmu siapa kaum yang paling pantas memimpin dunia ini?" Axero malah balik bertanya.
"Menurutku.. Werewolf? Oh tidak, jangan-jangan.. kau seorang D-demon?" Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sedikit takut.
"Aku tidak akan menyakitimu, jadi jangan takut padaku." Ucap Axero yang menyadari ketakutan Clauva.
Gadis itu menganggukan kepalanya singkat, berusaha mengurangi rasa takutnya. Sungguh ia tak menyangka saat ini ia sedang dipeluk oleh seorang iblis penguasa dunia ini.
"Axero, kenapa aku bisa di sini?" Tanya Clauva lagi.
"Tanpa sengaja kau telah memasuki dimensi ini, kau ingat hutan yang kau masuki? Hutan itu bernama Curse Forest, di hutan itu terdapat beberapa makhluk immortal yang telah kubuang dari duniaku. Namun entah mengapa, kau bisa melewati mantra pembatas yang telah kubuat." Clauva diam mendengarkan penjelasan Axero. Dirinya juga turut bingung mengapa ia bisa sampai di dunia para makhluk immortal, dunia yang sangat asing baginya.
"Saat itu aku dikejar oleh beberapa serigala.." ucap Clauva pelan.
"Mereka adalah para Werewolf liar."
"Panglima Zeron yang telah menolongku." Ucap Clauva lagi.
"Jangan menyebut namanya. Apalagi membahasnya." Pelukan Axero semakin erat mendengar nama Panglima Zeron disebut.
"B-baiklah." Sesaat kemudia Axero melepaskan pelukannya, ia memutar tubuh Clauva agar menghadap ke arahnya.
"Ini sudah larut, sebaiknya kau tidur." Ucap Axero yang tidak langsung memerintahkan Clauva. Sedangkan gadis itu hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Atau kau ingin aku menemani tidurmu?" Senyuman miring tercetak di bibir Axero.
"T-tidak perlu. Aku bisa tidur sendiri." Pipi Clauva bersemu merah mendengar penutiran Axero.
Sedangkan lelaki itu tersenyum tipis melihat reaksi Clauva yang tampak malu. Axero mengecup kening Clauva singkat yang membuat gadis itu terkejut dan pipinya semakin bersemu merah.
"A-apa yang-" ucapan Clauva terhenti saat Axero yang tidak ada lagi di hadapannya. Baru saja lelaki itu mengecup keningnya, sekarang ia telah menghilang dengan cepatnya.
Clauva menggelengkan kepalanya pelan.
"Ingat Clauva, dia adalah Demon, hal mudah seperti itu pasti bukan sesuatu yang sulit baginya." Clauva bermonolog sendiri.
Gadis bertubuh mungil itu menghampiri peraduannya yang sangat besar dan empuk. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya, dan juga ia sudah sangat mengantuk.
Perlahan matanya mulai menutup, jiwanya mulai menaungi alam mimpi. Satu hal yang gadis itu tidak sadari, sekelebat bayangan hitam dari kejauhan tengah memperhatikannya.
***
Hari-hari Clauva di Kerajaan Earyeltizes sangat damai. Sudah beberapa hari semenjak pertemuannya dengan Axero, membuat Clauva merasakan perasaan bahagia. Apalagi perilaku dan perhatian yang lelaki itu berikan kepadanya, mampu membuat hatinya berdetak sangat cepat.
Taman yang sedang ia kunjungi saat ini adalah taman di istana Vasilisa. Berbagai bunga-bunga menghiasi taman ini. Tak luput juga dilengkapi dengan kolam ikan, jembatan kecil, ayunan dan tempat bersantai. Kupu-kupu yang terlihat beterbangan turut menghiasi taman yang luas ini.
"Di sini sangat nyaman.." gumam Clauva pelan. Ia sedang duduk di salah bangku taman yang dihiasi tanaman merambat.
Clauva sedang sendirian, Axero sedang menjamu tamu yang datang dari Kerajaan Nõid, kerajaan kaum penyihir, atau yang biasa disebut Witch. Sedangkan Hera, Eria, dan Aeli sedang mengerjakan tugas mereka yang lain.
Sebenarnya mereka bertiga ingin menemani Clauva, namun gadis itu menolaknya dengan alasan tidak mau menghambat pekerjaan mereka. Padahal mereka bertiga adalah pelayan pribadi Clauva.
Dari kejauhan, tepatnya di lorong yang menghubungkan lantai dansa dengan taman ini, Clauva dapat melihat seorang lelaki berambut cokelat yang tak asing dimatanya sedang ditemani seorang gadis yang nampak cantik dengan gaun mewahnya sedang menuju ke taman yang sedang ia tempati.
Perempuan itu tampak asing dimatanya, mereka berdua terlihat ingin menuju ke arahnya berada. Seketika itu juga kegugupan melanda Clauva.
Bagaimana jika gadis itu orang penting di kerajaan ini? Atau bahkan tunangan Axero?
Clauva hanya diam memperhatikan mereka berdua yang sedang menuju ke arahnya. Tepat beberapa meter di depannya, mereka membungkukkan badan dengan penuh hormat.
"Hormat kami kepada Putri Clauva, semoga Putri diberkahi kebahagiaan yang tak terkira." Ucap mereka berdua.
Clauva berusaha menetralkan kegugupannya. Lalu ia tersenyum dan membalas mereka berdua, tanpa menolak hormat dari mereka yang biasanya ia lakukan. Axero berkata ia harus menerima segala kehormatan di sini, tanpa menolaknya. Namun anehnya, ia tak perlu memberi hormat pada yang lainnya, dan itu atas perintah Axero.
"Salam juga untuk Panglima Herlan, dan.."
"Perkenalkan, dia adalah Putri Sienna dari Kerajaan Nõid, Putri Clauva." Jelas Panglima Herlan.
"Salam untukmu Putri Sienna." Ucap Clauva dengan senyuman yang dibalas dengan senyuman juga oleh Putri Sienna.
"Kalau begitu, Saya mohon undur diri, Putri Clauva. Ada urusan yang harus Saya kerjakan." Ucap Panglima Herlan, lalu ia membungkukkan badannya sebelum pergi dari taman itu.
Namun setelah itu..
Sriingg!!
"Putri Clauva!"