Gadis itu menundukkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Ia meringkuk ketakutan. Memar-memar di kaki dan tangannya yang terluka bahkan belum sembuh total. Apalagi dengan rasa sakit di area punggungnya yang membuat gadis itu ingin meneteskan air matanya. Ditambah lagi, rasa haus dan lapar menggerogotinya.
Pakaiannya yang lusuh menambah kesan seperti ia seorang gelandangan. Belum lagi wajah cantiknya yang kini pucat dan tak bertenaga. Badannya terasa sangat sakit saat ini.
Benar-benar mengenaskan.
Entah kesalahan apa yang ia perbuat, hingga kemarin panglima kerajaan menyiksanya saat menginterogasinya. Ia dituduh sebagai penyihir siluman yang menyusup ke wilayah kerajaan Caleviem.
Gadis yang tak lain adalah Clauva, menghembuskan napasnya dalam mengingat kejadian kemarin.
"Bangun! Bangun!" Suara terdengar samar-samar di telinga Clauva. Kepalanya sangat pusing, dengan terpaksa ia membuka kedua kelopak matanya.
"Akhirnya kau bangun juga." Clauva mengerjapkan matanya pelan. Ia melihat kaki dan tangannya terikat pada tiang.
Ia menatap pria yang telah menolongnya kini tengah menatapnya tajam. Wajah pria di depannya sangat pucat, kulitnya pun sangat putih dan pucat. Samar-samar Clauva melihat taring yang tajam dari balik bibir pria itu yang sedikit terbuka.
Melihat pria ini mengingatkannya pada vampire yang sering ia baca di buku dongeng.
"Aku panglima kerajaan Caleviem yang akan menginterogasimu. Kau cukup menjawab pertanyaanku dengan jujur." Ucap pria itu tegas.
"Tolong lepaskan aku dulu." Pinta Clauva, karena saat ini tangan dan kakinya terasa sudah mati rasa akibat ikatannya terlalu kencang.
Pria itu menggelengkan kepalanya, "tidak bisa."
"Pertanyaan pertama, mengapa kau bisa masuk ke dalam Curse Forest? Sihir apa yang kau gunakan?
"Aku tidak menggunakan sihir apapun." Clauva menggelengkan kepalanya. Panglima di depannya ini menatapnya tajam.
"Cambuk dia!" Seorang prajurit yang membawa cambuk datang ke arahnya dan mencambuk keras punggungnya.
Crashhh!
"Arrgh! S-sakit.."
"Pertanyaan kedua, apakah kau salah satu seorang Stealth Witch?"
"A-aku bukan Stealth Witch.. aku bahkan tidak tau a-apa maksudmu..." Lirih Clauva.
"Cambuk dia!" Lagi-lagi panglima itu memerintahkan prajurit untuk mencambuknya.
Crashh!
"Arrgh! K-kumohon hen-tikan.." Clauva sekuat tenaga menahan rasa sakit di punggungnya. Ia yakin saar ini pasti punggungnya sudah berdarah dan kulitnya mengelupas.
"Pertanyaan terakhir, apa tujuanmu menyusup ke kerajaan ini?"
"A-aku tidak tau apa-apa.. Aku hanya tersesat saat itu.. k-kumohon lepaskan aku.." Air mata Clauva sudah tak terbendung lagi. Sedangkan pria di depannya hanya menatapnya datar.
"Cambuk dia!"
Crassh!
Setelah memerintahkan hal keji itu, pria itu membalikkan badannya dan mulai meninggalkan Clauva yang mulai kehilangan kesadarannya.
"Kita akan mengeksekusinya besok." Itulah kalimat terakhir yang Clauva dengar sebelum ia menutup kedua matanya.
Bunyi pintu sel di hadapannya membuyarkan lamunannya tentang kejadian kemarin. Gadis itu menatap dua orang berpakaian prajurit yang sedang membuka pintu sel di hadapannya.
"Mari Nona, ikuti kami." Gadis itu hanya menurut saat ia digiring keluar dari sel penjara dengan kedua tangan yang dirantai.
Lorong demi lorong ia lewati, kini ia berada di hadapan sebuah pintu besar dengan kedua prajurit menjaga di sisi kanan dan kirinya.
Kedua prajurit itu membukakan pintu untuk mereka lewati. Sebuah lapangan besar menyambut matanya, dengan beberapa orang-orang di sana.
Semua yang berada di lapangan tampak menatap kearahnya. Sedangkan gadis itu menundukkan kepalanya dalam diam.
Ia digiring ke tengah lapangan. Di hadapannya kini terdapat sebuah tali yang diikat di kayu yang berada di sisi kanan dan kirinya. Tali yang di hadapannya terlihat seperti tali untuk gantung diri.
"Hari ini, sudah diputuskan bahwa Stealth Witch ini ditetapkan sebagai penyusup di wilayah hutan selatan kerajaan Caleviem. Sesuai dengan peraturan kerajaan, seorang penyusup yang terbukti bersalah dan membahayakan kerajaan akan dikenakan hukuman mati." Tegas panglima kerajaan Caleviem dengan suara lantang.
Panglima kerajaan atau yang dikenal dengan nama Panglima Zeron itu mulai melangkah mendekati gadis yang nampak pucat itu. Panglima memerintahkannya untuk berdiri tepat di depan tali dan memasangkan kepalanya dalam ikatan tali itu.
Gadis itu hanya mengikuti perintah. Ia sudah pasrah saat ini. Karena memang tak ada yang bisa ia lakukan. Walaupun ia sebenarnya tidak bersalah, namun ia tak bisa membuktikan hal itu.
Clauva menatap Panglima Zeron yang juga tengah menatapnya, "terima kasih telah menyelamatkanku kemarin." Clauva tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu.
Bagaimana pun juga Panglima Zeron telah menyelamatkan nyawanya kemarin, dan ia berterima kasih atas hal itu. Walau kini sekarang tak ada bedanya, ia akan tetap mati juga.
Sekarang hidupnya benar-benar sempurna. Ia tidak pernah bertemu dengan orang tua kandungnya, ia dibuang begitu saja, setiap hari mendapat siksaan dan hinaan dari ibu dan kakak-kakak tirinya, dan kini ia akan berakhir dengan digantung mati.
Takdir benar-benar tak memihaknya.
Kursi yang dinaikinya didorong ke depan hingga membuatnya menggantung dengan leher yang terikat tali.
Tuhan, rasanya sangat menyakitkan.
Tenggorokan gadis itu tercekat, ia tak bisa bernapas. Lilitan tali di tenggorokannya membuat pasokan udara pada paru-parunya terhenti. Tubuh gadis itu kejang-kejang dan perlahan ia mulai menutup kedua matanya.
Mungkin ini akhir dari kisah hidupnya. Berakhir mengenaskan seperti ini bukanlah pilihannya. Rasanya amat sangat menyakitkan. Namun gadis itu tidak bisa memilih takdirnya.
Di sisa-sisa kesadarannya, kilas balik kehidupannya mulai bermunculan memenuhi isi kepalanya. Potongan-potongan singkat kehidupan yang telah ia lalui bertebaran secara acak. Clauva baru menyadari, dari sekian banyaknya kilas hidupnya, yang paling banyak terjadi adalah hidupnya yang menyedihkan.
Rasanya Clauva ingin tersenyum saat kilas balik pertama kehidupannya menampilkan dirinya dan ayah tirinya yang sedang tersenyum sembari memetik apel bersama di kebun. Lalu suasana menjadi berubah, menampilkan hari dimana ayahnya menghembuskan napas terakhir, hari yang paling benci untuk Clauva ingat. Hari dimana semua penderitaannya dimulai.
Berganti lagi, menampilkan dirinya yang selalu diperlakukan seperti pembantu oleh ibu dan kedua kakak tirinya. Arson, kakak laki-lakinya yang mulai bersikap semena-mena dan tidak senonoh. Lelaki itu mulai lancang dengan mencoba menyentuh tubuhnya. Salah satu ingatan yang membuat Clauva trauma, mendapat pelecehan dari kakak tirinya.
Clauva menyesal karena seharusnya sedari dulu ia memberontak lebih keras, menentang Arson yang selalu mencoba melecehkannya. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena tak bisa menjaga diri. Hingga terakhir kali memberontak pun, membuatnya berujung mati di tempat asing seperti ini. Mendapat tuduhan yang bahkan tak ia mengerti sama sekali lalu mendapat hukuman mati atas kesalahan yang Clauva sendiri tak tau apa.
Potongan terakhir memperlihatkan gambaran aneh. Seorang gadis yang memiliki paras persis seperti dirinya dengan sepasang sayap putih di punggung terlihat tertawa bersama seorang pria yang juga memiliki sepasang sayap, namun bedanya sayap itu berwarna hitam.
Clauva ingin melihat wajah pria itu lebih jelas, namun anehnya wajah pria itu buram, Clauva tak bisa melihat jelas wajahnya.
Tak mempedulikan pria berwajah buram itu lagi, tubuhnya semakin melemas, perlahan kesadarannya mulai terenggut. Suara yang terakhir ia dengar adalah suara asing seseorang yang sedang berteriak lantang. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, Clauva memanjatkan doa terakhirnya..
Tuhan, kuharap setelah ini aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibuku. Terima kasih untuk semuanya, Tuhan..
Dan selamat tinggal kehidupanku yang menyedihkan..