Kejutan

1718 Kata

Sekali lagi dia mengabaikannya. Dia belum sanggup menceritakannya. Pada kenyataannya, semua tidak semudah yang dia bayangkan. Mengatakan pada keluarganya hanya akan membuatnya semakin terluka. Tangannya cekatan membalik benda pipih yang terus mengeluarkan bunyi getar dan memasukkanya kecelana panjangnya. Dia memilih jalan-jalan sekedar untuk meringankan sesak didadanya. Ghibran mengambil kaos putih beserta sweter dari dalam lemari kayunya. Bergegas dia mengenakannya. Masih terlalu pagi untuk jalan-jalan. Udara dingin masih begitu menusuk kulit, tapi dia mengabaikannya. Berdiam diri di kamar hanya akan membuat fikirannya bekerja. Setelah memastikan pakaiannya rapi, kakinya melangkah keluar. Aroma kopi seketika menyambut indra penciumannya. “Apa kau mau pergi Ghibran?” Pak Syukur yang sed

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN