Rabiah mondar-mandir di kamarnya sejak tadi. Murattal yang sengaja dia putar dari ponsel tidak cukup bisa menenangkan kegelisahannya. Retinanya menatap jam di dinding yang jarum pendeknya menunjuk berada di angka dua. Rabiah berkali-kali istighfar, berharap jantungnya yang berdetak tidak normal akan sedikit mereda. Dia memejamkan mata dengan tangan yang memeluk ponselnya. “Hasbunallah wanikmalwakiil.” Ucapnya lirih. Rabiah kembali menggigit bibirnya. Kegiatan yang sudah beberapa kali terakhr dia lakukan. Apa benar dia akan datang hari ini? batinnya cemas. Perasaannya campur aduk. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana jika mas Ghibran kecewa melihat keadaan keluaganya? Mereka keluarga yang amat sederhana. “Astaghfirullahalazim, Biah. Apa yang terjadi nak? Dari tadi Umi lihat kamu gelisah

