Imam Untuknya

1813 Kata

Rabiah memilih-milin jarinya, berusaha menahan kegugupan yang sudah melanda sejak dia duduk di kursi yang rasanya tiba-tiba terasa panas. Bukan hanya dia yang ada di ruangan ini. Ada Abi, Umi, Zain, Paman, dan bibinya yang menjadi peserta diskusi panjang yang sudah berlalu sejak beberapa saat yang lalu. Semua wajah terlihat tegang atau mungkin ini hanya perasaannya saja. Rabiah memutuskan menjadi pendengar. Sungguh, dia merasa dilema di tempat ini. Hatinya terbelah antara ingin pergi atau tetap tinggal dengan resiko dia harus siap mendengar yang terburuk. “Apa aku boleh tahu kenapa abang tiba-tiba membuat keputusan mendadak seperti ini?” Rabiah menunggu pamannya menjawab pertanyaan Abinya. Namun sayang, wajah dingin itu terlihat sekali tidak ingin melakukan pembicaraan lama-lama. Merek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN