Gadis Bermata Teduh

1288 Kata
Kalian tahu apa yang paling menyebalkan tentang membenci? Amarah yang mendekam dalam diri semakin menggerogoti tubuh kalian. Secara perlahan, begitu halus, hingga tanpa sadar mengisi setiap selongsong tubuh kalian. Membakar habis sisa kebaikan orang yang kalian benci. Tidak ada lagi kebaikan yang tersisa, seolah dia adalah penjahat terburuk dengan kesalahan tak termaafkan. Dia sungguh ingin melepaskan kebencian ini, mengabaikannya dan memilih menjauh. Pergi tanpa menoleh ke belakang. Masa lalu dan masa depan membentang didepannya seperti dua bilah mata pisau. Dia hanya ingin pergi, tapi ternyata pergi tidak pernah semudah saat mengucapkannya. Netra cokelatnya menatap sosok dengan tatapan tajam dihadapannya dengan hati berkecamuk. Ada alasan lain, kenapa dia memilih tempat ini sebagai tempat penelitiannya. Nyatanya, ini adalah tempat yang tidak mungkin diinjak oleh laki-laki yang sekarang berdiri menjulang tidak jauh dari tempatnya datang. Tempat ini memiliki kenangan buruk sekaligus kenangan paling manis yang pernah dia miliki. Dia salah. Lagi-lagi, saat dia berfikir semua akan baik-baik saja dengan kedatangannya ke tempat ini, nyatanya laki-laki ini datang ke tempat ini. “Apa yang Ayah lakukan disini?” tanyanya, menjaga suaranya agar terdengar sopan. “Apa ayah tidak boleh kesini Ghibran?” Ghibran mendengus, kebencian dalam matanya mulai terlihat. “Apa yang begitu penting sampai ayah mau jauh-jauh datang kesini?” Beberapa orang yang melintas menatap mereka penuh minat. Ghibran yang menyadarinya segera berbalik arah. Dia tahu, ayahnya pasti akan mengikutinya. “Ayah ingin memastikan sesuatu Ghibran.” “Jawabannya tidak, ayah.” Suaranya teredam, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba menguasainya. Lihat! Amarah begitu mudah menguasainya saat berhadapan langsung dengan laki-laki ini. Laki-laki yang menghancurkan masa kecilnya dan sekarang ingin merusak masa depannya. “Kau tahu, ayah tidak suka penolakan bukan?” suaranya datar, tapi dia tahu ada ancaman dibaliknya. Ghibran berbalik, menampilkan wajah bosannya. “Ayah bisa melakukan apapun padaku, bahkan termasuk melenyapkanku, seperti yang pernah ayah lakukan pada Ibu.” Laki-laki bertubuh tinggi besar, dengan rambut yang mulai memutih tampak terkejut dengan ucapan Ghibran, namun dia segera menepisnya. “Itukah yang selama ini kau fikirkan?” “Itu yang kulihat Ayah. Aku melihat bagaimana Ibu terpuruk dan Ayah dengan mudahnya pergi tanpa menoleh kebelakang.” “Ayah harus pergi untuk…,” “Untuk pekerjaan. Ya, Ghibran tahu itu, Yah. Bukankah memiliki kerajaan bisnis itu menyenangkan?” sahutnya sinis dan kembali melanjutkan langkah. “Bapak Yuriko Satomo?” Salah seorang pengunjung kafe tempat Ghibran tengah menghabiskan waktu senjanya bertanya pada Ayah Ghibran. Laki-laki paruh baya itu tersenyum. “Ya.” Sahutnya sopan. “Yuriko Satomo, satu-satunya pengusaha muda yang masuk forbes karena berhasil memiliki kerajaan bisnis diusia yang masih begitu muda waktu itu?” Ayah Ghibran terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan. Ghibran membuang muka saat Ayahnya melirik lewat ekor matanya. Ayahnya adalah pengusaha sukses dan orang memandangnya sebagai sosok yang sempurna karena berhasil mengumpulkan kerajaan bisnis dan juga membangun keluarga harmonis dalam waktu bersamaan. Andai mereka tahu kenyataan pahit yang ada dibaliknya, batin Ghibran tersenyum miris. “Ya.” “Luar biasa. Saya sungguh pengagum anda. Menikah diusia muda dan membangun kerajaan bisnis diwaktu yang sama, sungguh, tidak banyak orang yang sanggup melakukannya.” Ghibran berusaha keras menahan dengusannya, sebagai gantinya dia mengeluarkan batuk yang terdengar jelas sebagai batuk buatan, membuat si penanya mengerling tidak suka pada Ghibran. Ghibran tersenyum minta maaf, sebelum memutuskan pergi. Ini kesempatannya untuk menghilang. ***** “Apa kau sibuk?” Ghibran masuk tanpa perlu repot-repot mengetuk pintu. Alzam mengangkat kepalanya. “Jangan biasakan seperti itu. Bagaimana jika tiba-tiba aku sedang bersama istriku? dan ngomong-omong, apa kau tidak punya kegiatan lain selain menggangguku?” sebelah alisnya terangkat. Ghibran berjalan mendekat dan menghempaskan tubuhnya di kursi tepat didepan Alzam. “Aku tahu kalian sangat menjaga yang namanya ‘bermesraan didepan umum’ dan tempat kerja ini masuk dalam kategori itu. Apa menurutmu aku akan masuk begitu saja, jika tahu ini adalah tempat privasi?” balasnya tidak mau kalah. “Dan ya, aku punya kesenangan baru, yaitu menganggu ketenangan hidupmu.” Alzam tersenyum, mengabaikan kertas berserakan dimejanya. Dia memusatkan perhatian pada sahabatnya. “Ada apa? sepertinya ada yang mengganggumu?” “Apa sejelas itu?” Alzam mengangguk. “Wajahmu kusut dan sorot matamu menunjukkan kemarahan. Itu cukup untuk menjelaskan kalau ada yang tidak beres.” “Kau pengamat.” Gerutu Ghibran, meksi dia tidak terdengar marah. “Lebih tepatnya, aku orang yang jeli, khususnya pada orang-orang yang dekat denganku. Apa kau mau minum?” “Ya. Aku haus sekali.” Alzam membuka laci disamping kursinya dan menyerahkan air mineral botol pada Ghibran yang langsung diterima Ghibran. Dia meminumnya perlahan sebelum kembali menoleh pada Alzam. “Terima kasih. Apa kau masih kerja? Ini sudah sore.” Ghibran menunjuk kertas berserakan di meja Alzam. “Ini hanya rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam jangka dua bulan ke depan.” “Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya heran. Dia juga melakukan peta kehidupan, atau pemetaan mengenai target yang ingin dia capai, tapi dalam jangka satu tahun bukan bulan. “Agar aku bisa konsisten dan terarah.” Ghibran mengangguk-ngangguk. Dia kembali menyeruput minumannya, kali ini sampai tandas tak bersisa. “Kau benar-benar haus ternyata.” Sahut Alzam saat melihat isi botol minum Ghibran kosong. “Aku sendiri heran kenapa.” Kekehnya usil. “Bagaimana dengan persiapan pernikahan sepupu istrimu? “ “Kenapa? Apa kau mulai tertarik untuk menikah? Aku bisa mengenalkan mu pada seseorang.” Mata Ghibran membesar. “Apa aku sejelek itu, hingga kau harus turun tangan untuk mencarikan ku pasangan?” “Jelek tidak, tapi tua iya.” Balasnya santai, membuat Ghibran memutar mata. “Tidak, terima aksih. Aku bisa melakukannya sendiri.” Dan bayangan gadis bermata teduh itu kembali mengisi fikirannya. “Boleh aku menanyakan sesuatu?” “Apa?” tanya Alzam menyelidik melihat ekspresi Ghibran yang tiba-tiba terlihat serius. “Kenapa agama kalian tidak mengijinkan pernikahan beda agama?” Butuh beberapa detik bagi Alzam untuk menyerap pertanyaan Ghibran. Dia tidak pernah berfikir kalau laki-laki pendiam ini akan menanyakan pertanyaan ini padanya. “Ghibran,” sahutnya pelan, sekarang menumpu kedua tangannya diatas meja, menatap sahabatnya lekat. “Iman itu kepercayaan dalam hati. Pernikahan bagi kami adalah sunah, anjuran, untuk menyempurnakan separuh agama. Dalam kitab kami, pernikahan harus bisa membuat kami semakin dekat dengan Allah. Prinsip dasar dalam pernikahan adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam beribadah. Bagaiman kami menjalankan pernikahan jika kepercayaan yang kami yakini misalnya sudah berbeda?” “Bukankah kalian tetap bisa menjalankan ibadah masing-masing tanpa harus bersinggungan jalan. Kau beribadah menurut kepercayaanmu dan dia beribadah menurut kepercayaannya?” tanyanya tidak paham. “Janganlah kamu menikahi wanita–wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, wanita b***k yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah, kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, b***k yang mukmin lebih baik dari orang musyrik. Walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Ucap Alzam mengutip terjemahan Q.s. Al-Baqarah ayat 221. “Ghibran, menikahi orang yang berbeda agamanya dengan kami itu hukumnya haram. “Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan para wanita, karena kalian telah mengambil mereka (sebagai istri) dengan perjanjian Allah, dan menghalalkan hubungan suami istri dengan kalimat Allah. Dalam menikah ada yang namanya akad, mengambil kesepakatan. Apa kami bisa melakukannya jika keyakinan yang kami percayai saja sudah berbeda? Tentu tidak. Suatu saat, aku harap kamu mengerti Ghibran, bahwa cinta terbaik adalah yang mendekatkanmu pada Allah.” Ghibran yang mendengarkannya hanya bisa menekur, tanpa berani mengucap satu patah katapun. Pupus sudah harapan yang sempat begitu halus menyusup dalam dadanya. Gambaran gadis bermata teduh itu perlahan mengabur, dan semakin jauh. Jurang yang membentang diantara mereka begitu dalam dan luas, hingga nyaris melumpuhkannya. “Apa ini tentang Rabiah?” Ghibran merasa jantungnya berhenti mendengar ucapan Alzam. Bagaimana sahabatnya ini tahu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN