Gemericik air yang membasuh wajahnya tidak menyurutkan niatnya sama sekali untuk beribadah kepada Rabb-nya. Tuhan semesta. Dinginnya air yang mampu membekukan tubuh tidak membuat niatnya mengecil barang sedikitpun. Tanpa ragu, kedua tangannya mulai mengambil air dingin dan membasuhnya di wajah, kedua tangan, kepala, telinga dan juga kakinya.
Tetes air yang membasahi lantai kamar mandi menjadi saksi saat setiap hamba yang menyingkap selimut menunaikan munajatnya di sepertiga malam. Meninggalkan nikmatnya tidur di balut selimut tebal dan memilih bertemu dengan yang Maha Melihat. Ini adalah salah satu waktu terbaik saat seseorang ingin berdoa. Ketika hati diliputi gundah dan saat jiwa begitu merindu untuk mengangungkan namaNya. Ketika sepi menjadi nyanyian yang menyentuh setiap hati yang bertasbih memuji kebesaranNya. Ketika para malaikat turun untuk mengaminkan setiap doa hamba yang terjaga untuk bersujud kepada Sang Pemilik Jiwa. Ini adalah salah satu waktu mustajabnya doa seorang hamba.
Dan pada sebagian malam hari, bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.
Keutamaan sholat malam telah dijelaskan dalam beberapa ayat Alqur’an dan juga dalam beberapa hadist. Rabiah selalu berusaha menjaga agar dia bisa mengerjakan sholat malam secara rutin. Kebiasaan yang sejak kecil di tanamkan oleh orang tuanya sebisa mungkin dia jalankan. Tidak mudah. Sungguh, terkadang saat kantuk begitu menyiksa, dia rasanya ingin menarik selimut menutupi seluruh tubuh untuk melanjutkan kembali tidurnya, bergelung dengan hangatnya selimut, namun Abi-nya akan mengeluarkan kalimat tentang keutamaan-keutamaan sholat malam, untuk memacu semangat mereka, dan ini selalu berhasil, hingga sholat yang paling utama setelah sholat fardhu ini rutin mereka kerjakan.
“Nak, Nabi kita, melaksanakan solat malam sehingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah, padahal Allah telah menjamin Rasulullah masuk Syurga dengan mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang. Kita tidak memiliki jaminan selain semakin mendekat kepadaNya. Jika melaksanakannya begitu sulit, paksakan sampai kita merasa sayang meninggalkannya. Ini adalah bukti dan tanda syukur kita sebagai hamba Allah.”
Nasehat yang akan selalu dia ingat, agar menjadi cambuk saat rasa malas mulai menguasainya. Manik cokelatnya sekilas memandang bintang-bintang yang menyelimuti langit malam perlahan mulai meredup cahayanya. Bibirnya menyunggingkan senyum, dan lirih dia mengucapkan tasbih memuji kebesaran Rabb-nya.
Subhanallah Walhamduillah Walaailaahaillallah Wallahuakbar
Rabiah memusatkan perhatian dan fokusnya sebelum memulai sholatnya. Dia mengangkat tangan dan hanyut dalam lantunan ayat-ayat yang selalu bisa menggetarkan setiap jiwa dan membuat hati siapapun yang takut kepada Allah menangis saat mendengarnya.
Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu, yang tidaklah seorang hamba Muslim memohon kepada Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat bertepatan dengannya, melainkan Allah pasti memberikan apa yang dimintanya itu kepadanya, dan itu terjadi setiap malam.
Tangannya menengadah, sementara matanya mengeluarkan bulir kristal. Ada pinta yang tersemat dalam setiap baris kata yang dia ucapkan. Ada harapan, yang lirih setiap malam selalu dia pohonkan. Hatinya yang gelisah perlahan menguap setelah melepaskan semua gundah pada Sang Pencipta. Dia-lah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan.
Rabiah menyelesaikan sholatnya, saat indra pendengarnya samar mendengar rintihan minta tolong. Jubah panjang masih membalut tubuhnya saat dia berdiri dan mengintip dari jendela kamarnya. Apartemen mereka merupakan bangunan berlantai tiga, dan mereka sekarang berada di lantai dua. Rabiah menyipit, mencoba memaksimalkan penglihatannya.
Nampak dari kejauhan seseorang tengah berjalan tertarih dengan langkah diseret. Siapapun yang melihatnya tahu kalau orang itu sedang kesakitan. Apa sebaiknya dia turun dan menolongnya? Rabiah menatap jam dinding yang jarumnya menunjuk angka tiga. Tidak ada pilihan, dia bergegas keluar apartemen saat melihat orang yang dia lihat terjatuh.
“Innalillah,” gumamnya lirih. Dia bergegas mempercepat langkah, untuk menemui orang yang dia lihat dalam kesulitan. Rabiah menyusuri tangga beton yang menghubungkan setiap lantai dengan hati dibalut kecemasan.
“Tunggu!” teriaknya, mencoba menghentikan langkah kaki yang mengeluarkan bunyi menyedihkan. Wanita, batinnya saat sadar dengan sosok yang ingin dia tolong. Penampilan wanita itu terlihat menyedihkan. Bajunya kusut dan terlihat kotor. Rambut panjang yang menghiasi kepalanya berantakan seperti sarang burung, dan sorot mata yang dia lihat tidak lagi memiliki sinar kehidupan.
Rabiah tercekat.
“Ibu mau kemana?” tanyanya lembut setelah berhasil menghampiri wanita yang menatapnya keheranan. Rabiah mengabaikan kalau dia baru saja keluar apartemen di pagi buta.
“Apa kau keluar hanya untuk menolongku?” wanita yang disapa Rabiah bertanya lirih. Dia terlihat heran sekaligus takjub.
“Apa Ibu baik-baik saja?” tanyanya cemas, dan entah kenapa tiba-tiba dia ingat dengan Sarah dan juga Ibunya. Penampilan ibu ini mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan keluarga kecil itu. Apa mereka baik-baik saja?
“Kau gadis yang baik, Nak.” Lanjut wanita itu menatap Rabiah dengan senyum lebar.
Rabiah terkesiap. Sedetik menemukan dirinya mematung.
“Ibu baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar.”
“Apa Ibu mau masuk kedalam?” tanyanya lagi setelah pulih dari rasa terkejutnya.
Wanita itu menggeleng, masih dengan senyum mengembang.
“Ibu baik-baik saja. Terima kasih atas tawarannya. Kau benar-benar gadis yang baik.”
Dan Rabiah hanya bisa menatap kepergian wanita itu dalam diam. Bibirnya seolah terkunci saat bertatapan dengan wanita yang anehnya selalu saja tersenyum saat melihatnya, berbanding terbalik dengan apa yang dia lihat saat di apartemennya. Rabiah terkejut saat menyadari wanita yang ingin dia tolong, telah jauh dari hadapannya.
Cepat sekali, batinnya keheranan. Dia melayangkan pandangan sekali lagi sebelum memutuskan masuk ke apartemen.
******
Aleesha sedang sibuk merapikan barang-barangnya ke dalam koper saat dia memasuki kamarnya. Sebentar lagi—hanya hitungan hari, sebelum hari pernikahannya tiba. Kedua orang tua Aleesha sudah lebih dulu datang dan menginap di rumah Kak Sofiya. Segala persiapan telah dilakukan. Hari bersejarah itu akan diabadikan di masjid kampus, masjid Husain dengan kubah biru itu. Itu permintaan Aleesha. Mereka sudah mengkoordinir dengan pihak kampus dan Alhamdulillah mereka mengijinkan, mengingat akad akan dilaksanakan sebelum sholat subuh.
Rabiah mengamati dalam diam kegiatan Aleesha dari pintu kamar yang dibiarkan terbuka. Bayangan saat merek pertama kali bertemu dan juga betapa mudahnya berteman dengan Aleesha berkelebat dalam memorinya. Mereka dekat, layaknya saudara, hingga Rabiah tidak akan sungkan mengatakan apapun masalah yang sedang dia hadapi, begitupun sebaliknya, meski Aleesha lebih sering menasehatinya, daripada dia sendiri. Meski mereka satu tingkat, tapi Aleesha lebih tua satu tahun.
“Sampai kapan kamu akan berdiri disana, Biah?”
Rabiah tersentak mendengar ucapan Aleesha. Dia melangkah memasuki kamar nuansa biru putih itu. Tidak banyak hiasan didalamnya, hanya ada kaligrafi dengan tulisan Allah dan Muhammad yang tergantung di dinding kamar. Selebihnya hanya ada jam dinding dan juga rak buku.
“Apa semua sudah selesai?” tanyanya kemudian.
“Sedikit lagi. Aku hanya perlu mengemasi buku-buku yang diperlukan untuk penelitian, sementara buku yang lainnya aku tinggal.”
Lipatan didahi Rabiah melebar. “Kenapa? Apa kau tidak membutuhkannya lagi?”
Aleesha yang sibuk memasukkan baju ke koper besarnya mendongak. “Aku lebih suka memberikannya pada kalian. Ini kenang-kenangan.”
Ucapan yang berhasil menghantam Rabiah. Dia merasakan gumpalan di tenggorokannya.
“Apa kalian tinggal disini atau di Amman setelah menikah?” tanyanya dan dia sadar suaranya bergetar.
“Rencananya kami akan tinggal disini sementara aku menyelesaikan ujian kelulusan. Mas Zayyan akan menyewa sebuah apartemen sebelum kami berangkat ke Amman. Dia sedang melakukan penelitian.” Jelasnya.
“Dan setelahnya?”
“Terserah Mas Zayyan, Biah. Sebagai istri aku akan setuju dengan rencananya selama itu untuk kemaslahatan bersama.” Aleesha menghentikan aktifitasnya, menatap Rabiah lekat.
“Kenapa?”
Rabiah menggeleng. “Bukan apa-apa. Rumah ini akan terasa berbeda setelah kepergianmu.”
Aleesha tersenyum. Dia berjalan menuju lemari pakaiannya, menarik sesuatu dari sana sebelum kembali berjalan kearah Rabiah.
“Ini untukmu.”
Rabiah menatap kotak persegi berwarna putih dihadapannya dengan ragu. Bukankah seharusnya dia yang memberikan sesuatu pada Aleesha?
“Ayo, Biah. Aku sudah menyiapkan ini sejak beberapa hari terakhir.” Aleesha dengan semangat mendorong kotak yang dia pegang pada Rabiah.
“Untukku?” tanyanya tidak yakin.
Aleesha mengangguk, membuat Rabiah semakin tidak enak hati.
“Bukankah seharusnya aku yang memberikan sesuatu untukmu?”
“Aku bisa menagihnya nanti.” Kekehnya. “Aku ingin memberikan ini pada sahabat yang tidak pernah lelah menasehati dan selalu ada untukku. Bukalah, saat aku tidak lagi di rumah ini. Semoga kamu menyukainya.”
Hatinya menghangat, dan air matanya berderai tanpa bisa dia tahan. “Seharusnya aku yang mengatakan itu,” bisiknya tercekat. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa begitu merindukan sahabatnya ini padahal orang-nya berdiri tepat dihadapannya. Rabiah menatap Aleesha dengan pandangan berkaca-kaca. Kecemasan apa ini? Apa ini karena dia takut tidak akan pernah melihat Aleesha lagi setelah pernikahannya? Mengingat pasangan ini akan pindah setelah kelulusan mereka.
Allah, lindungi sahabatku ini dan mudahkanlah segala urusannya.