Kesibukan nampak menghiasi rumah beton dengan ornament putih dan juga cokelat muda itu. Beberapa orang nampak sibuk menyiapkan beberapa bingkisan berisi makanan dan juga buah-buahan kedalam keranjang yang sudah dihias dengan indah. Sebagian sibuk mempersiapkan diri dengan abaya dan juga pakaian terbaik mereka. Rabiah yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Harinya telah tiba. Hari bersejarah bagi sahabatnya Aleesha. Hari ini mereka akan melangsungkan akad sebelum adzan subuh berkumandang. Setelahnya, mereka semua yang hadir akan sholat berjamaah dan makan bersama.
Malam zafaf diputuskan akan dilakukan di Le Royal Amman, salah satu hotel yang khas dengan kota tersebut. Mereka berangkat siang, setelah sholat dzuhur. Sementara acara walimah, baik Aleesha maupun Zayyan memutuskan akan dilaksanakan setelah mereka pulang dari Amman. Tidak banyak yang hadir dalam acara hari ini. Hanya ada beberapa kerabat dari kedua belah pihak dan teman dekat yang bisa dihitung jumlahnya. Berita bahagia ini baru akan disebarkan saat acara walimah di gelar.
Rabiah memasuki kamar sahabatnya, dimana Aleesha sedang dihias dengan abaya putih dan juga jilbab lebarnya.
“MasyaAllah, tabarakallah,” gumamnya kagum saat melihat penampilan Aleesha yang terlihat berbeda dari biasanya.
Aleesha mengerling dengan senyum lebar. “Bagaimana penampilanku?” selorohnya bercanda membuat kedua sahabat itu tertawa.
“Cantik sekali. Aku yakin Mas Zayyan akan pangling lihat kamu Sha.”
Wajah Aleesha memerah, dan untuk menyembunyikannya dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aliyah dimana?”
“Ada di luar. Dia sibuk memastikan penampilannya sempurna. Dia lebih heboh dari calon pengantinnya.” Ucapnya geli saat mengingat bagaimana antusiasnya Aliyah dalam mempersiapkan diri untuk menghadiri akad kakak tingkatnya. Rabiah sendiri memakai abaya soft pink dengan jilbab warna senada. Penampilannya sederhana. Wajahnya hanya di poles bedak tipis dan juga lip gloss peach di bibir tipisnya.
“Waaaaa, Kak Aleesha cantik sekali.”
Suara heboh itu berhasil merubah suasana kamar tempat Aleesha sedang di rias. Penata rias yang merupakan teman Kak Sofiya sekarang sedang memakaikan headpeace berwarna putih diatas kepala Aleesha yang tertutup jilbab.
“Eittsss, saat kita melihat sesuatu yang indah kita harusnya bilang apa?” telunjuk Rabiah terangkat kearah Aliyah dengan matanya menyipit.
Aliyah cengengesan. “Maaf, lupa. MashaAllah, Kak Aleesha cantik sekali.” Ulangnya sembari menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal.
“Kakak masih kalah cantik dari kamu Aliyah.”
“Pastinya tidak Kak. Apa kakak lupa, kalau pengantin adalah wanita tercantik di semesta ini. Apalagi nanti pas akad, beuuh, bidadari saja bisa cemburu lihat kakak.” Pujinya mendongakkan kepala seolah dia sedang melihat sesuatu yang indah. Tingkahnya terkadang masih suka kekanakan, membuat Aleesha dan Rabiah merasa kalau mereka memiliki adik dengan hormon yang masih suka meletup-letup.
“Apa kalian sudah selesai? Lima menit lagi kita berangkat.”
Seorang wanita bergumam di depan pintu kamar Aleesha membuat ketiganya menoleh dan mengangguk. Saat hanya mereka bertiga yang ada di ruangan, Rabiah menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Dia menghela nafas, mencoba menekan rasa sedih yang tiba-tiba saja menyergapnya. Dia akan kehilangan salah satu sahabat terbaiknya. Orang yang selalu dengan sabar menasehati dan juga mendukungnya.
“Barakallah sahabatku, Aleesha Khumairah. Semoga jarak tidak membuat silaturrahmi kita terputus. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Dengan lembut Aleesha menghapus air mata yang jatuh dari kedua sudut mata Rabiah.
“Tetaplah berbuat baik Rabiah. Tugas kita sebagai umat adalah meneruskan dakwah Rasulullah. Aku harap jarak yang membentang tidak menyurutkan semangat yang tertanam dalam jiwa. Aku, kamu, dan Aliyah mengemban amanah yang sama. Kita akan terus belajar dan belajar, dan meski fisik berjauhan semoga doa selalu membentang di langitNya agar kita tetap saling mengingat dan mendoakan.”
Rabiah memeluk sahabatnya dengan erat. Empat tahun perjalanan bukan waktu yang singkat, dan sekarang mereka akan menempuh jalan masing-masing. Dia akan kehilangan. Sungguh.
*****
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan, ala manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah!”
Spontan semua yang hadir menggemakan takbir, dan melapazkan doa yang diajarkan Rasulullah :
“Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakuma fi khair” *
Rabiah menyaksikan dengan penuh haru saat Aleesha mencium laki-laki yang sekarang telah resmi menjadi suaminya. Laki-laki yang akan menggantikan posisi ayah baginya dan mengemban tanggung jawab atasnya. Dadanya sesak karena bahagia, dan air mata yang tak bisa di bendung membasahi kedua pipinya. Rabiah menunduk untuk menyembunyikan tangisnya. Suasana yang melingkupi mereka semua begitu sakral dan khidmat. Dia bisa menyaksikan saat Aleesha menangis mencium tangan orang yang sekarang menyandang status sebagai suaminya.
Allah …
******
Dia menangis.
Ghibran terus mengamati wanita dengan abaya soft pink itu lekat saat sadar tidak ada yang memperhatikan. Matanya sembab dengan pipi kemerahan, membuat wajahnya yang putih terlihat menyedihkan. Ghibran terus mengamati dalam diam, saat melihat Rabiah menunduk. Gadis itu berusaha menyembunyikan air matanya. Apa dia sedih karena sahabatnya akhirnya menikah? Pembatas yang sebelumnya menghalangi pandangan mereka telah disingkap saat mempelai wanita berdiri untuk mencium tangan suaminya, detik ketika akad bergema. Saat itulah dia melihat Rabiah yang menangis, namun tetap memaksakan senyum di wajahnya yang putih bersih.
Semua yang ada di ruangan ini nampak bahagia. Senyum-senyum mengembang, pun sesekali canda tawa menghiasi meski setelahnya semua orang buru-buru berdiri. Ghibran tahu, saat seperti sekarang, mereka akan melaksanakan sholat.
“Aku tunggu di luar.” Gumamnya pada Alzam yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Dia bergegas berdiri tanpa menunggu jawaban Alzam.
Hawa dingin segera menyambutnya saat dia melangkah keluar. Dia memasukkan tangannya ke dalam kantong jasnya. Udara sejuk yang mengisi setiap sel-sel tubuhnya, mengirimkan rasa tenang dan damai yang beberapa waktu lamanya telah hilang dalam hidupnya. Dia berjalan dengan perlahan, mengabaikan orang-orang yang mulai berdatangan untuk beribadah menghadap Tuhan-nya.
Hidupnya begitu rumit hingga dia bahkan lelah menghadapinya. Kenapa masalah selalu saja datang padanya. Kehidupan yang dia miliki sempurna di mata orang-orang. Dia memiliki segalanya. Segala yang dinginkan manusia untuk menikmati hidup. Tapi ternyata itu tidak pernah cukup membantunya dalam menemukan tujuan hidup. Dia tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang seharusnya membuat siapapun iri. Kegelisahan dan rasa gundah membuat hidupnya tidak pernah tenang. Ayahnya, rela datang ke tempat ini hanya untuk menemuinya, dan dia benci kenyataan itu.
Lantunan ayat yang samar ditangkap telinganya seketika menghentikan langkahnya. Lirih, merdu, dan begitu menyentuh jiwanya. Dia merasa tenang. Seakan setiap baris ayat yang di bacakan tertuju padanya. Ghibran memejamkan mata, membiarkan damai ini mengisi setiap aliran darahnya. Sudah sejak lama dia tidak pernah merasa seperti ini. Begitu damai dan menenangkan. Tanpa sadar, bulir sebening kristal mendesak keluar dari kedua sudut matanya.
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
“Apa kau baru saja menangis?”
Ghibran terkesiap. Dia memalingkan pandangan agar Alzam tidak melihat wajahnya.
“Tidak usah disembunyikan. Menangis bukan aib yang memalukan.” Tepukan lembut di pundaknya akhirnya membuatnya berani menoleh.
“Apa kalian sudah selesai?”
Alzam mengangguk. “Sekarang acara makan, itu sebabnya aku menemuimu. Ayo.” Ajaknya mulai berjalan yang langsung diikuti Ghibran.
“Untuk apa bingkisan berisi buah-buahan itu?” tanyanya penasaran membuat Alzam tertawa.
“Oh itu, di Indonesia ada sebuah tradisi bernama ‘seserahan’ dimana biasanya pihak laki-laki memberikannya diacara lamaran atau akad pada pihak perempuan. Kami melakukannya, karena kedua mempelainya orang Indonesia.”
“Apa itu harus?”
“’Tidak juga. Itu hanya semacam tradisi, seperti yang kukatakan. Bagi yang sanggup dan ingin melakukannya boleh melakukannya, bagi yang tidak, tidak ada paksaan.”
“Menarik.” Seru Ghibran mendegar penjelasan Alzam.
“Kau harus mengunjungi Indonesia kapan-kapan Ghibran, aku pastikan kau akan terkejut dengan budaya dan juga tradisi disana.”
“Apa kau pernah kesana?”
Alzam mengangguk. Perjalanan menuju aula tempat acara makan dilakukan sudah terlihat didepan mata.
“Sekali, dan aku terkejut karena orang-orang disana sangat ramah. Mereka bahkan tersenyum saat berpapasan dengan orang asing.”
“Kau membuatku semakin ingin mengunjungi tempat itu Alzam.”
Alzam menyeringai. “Kau harus datang. Siapa yang tahu disana kau akan menemukan lebih dari yang kau inginkan. Sekarang, ayo, kamu harus mencicipi makanan berkuah bernama Lontong, Ghibran. Itu makanan yang lezat, khas Indonesia.” Matanya berbinar saat mengucapkannya membuat Ghibran mengangkat alis.
“Kau yakin?”
Alzam mengangkat bahu. “Kau harus coba sendiri. Bergegaslah Ghibran, sebelum makananya habis, kita masih harus mengantar kepergian kedua mempelai.” Serunya mulai tidak sabaran.
Ghibran menggeleng, saat melihat Alzam bergegas nyaris berlari meninggalkannya.
Lontong? Nama yang aneh sekali, batinnya geli sebelum ikut mempercepat langkah menyusul Alzam.