Orang Asing

1405 Kata
Kawanan titik hitam yang menghiasi cakrawala yang warnanya serupa darah tampak bergerak menuju barat, dimana sang surya bergerak menyembunyikan diri. Kepakan sayap yang semakin mengecil tampak tenggelam di telan cahaya keemasan yang seakan menelan setiap titik hitam yang mendekat kearahnya. Lirih bibirnya menggumamkan tasbih saat melihat kawanan burung terbang semakin mendekati sang surya. Pemandangan ini selalu dia sukai, saat dimana langit berubah warnanya, dan pergantian hari mulai menyapa. Rabiah memperhatikan saat satu dua orang mulai menutup dagangan mereka, sementara yang lain masih setia menunggu barang kali satu dua orang akan datang membeli dagangan mereka. Dia meneruskan langkah. Tujuannya ke tempat ini bukan untuk berbelanja. Langkahnya semakin bergegas saat sadar gelap akan menyelimuti Mu’tah. Sebentar lagi malam, dan dia tidak ingin terjebak lama di tempat ini. Rabiah berjalan menyusuri gang demi gang sempit perumahan yang dia datangi. Beberapa orang tersenyum, saat bertemu pandang dengannya, yang dibalasnya dengan senyum yang sama. Mereka mungkin pernah melihatnya di tempat ini, batinnya saat sadar beberapa orang terang-terangan menatapnya sekarang. “Sarah!” pekiknya terkejut saat melihat anak kecil tengak duduk memeluk dirinya sendiri di depan rumah yang akan dia kunjungi. Rabiah bergegas mendekat. “Sarah.” Bisiknya tercekat, dan sadar tubuh gadis kecil itu gemetar. Dia menariknya dalam pelukannya. Air matanya tanpa sadar tumpah melihat bagaimana gadis kecil yang dulu dia tolong terlihat begitu menyedihkan. “Apa yang terjadi? Ibu dimana?” dia datang ke tempat ini untuk memastikan kalau keluarga ini sudah kembali dan mereka baik-baik saja. Namun yang menyambutnya begitu membuatnya terkejut. Sarah, gemetar dengan wajah ketakutan. Tangannya merengkuh gadis kecil itu dalam dekapannya dan mengusap punggungnya, berharap tindakan kecil ini bisa menenangkannya. Kejadiannya cepat sekali saat sebuah tangan besar, kasar, dan kuat menjambak rambut Sarah. “Dasar anak Se**n!” “Apa yang kau lakukan?” teriak Rabiah terkejut. Sadar beberapa orang memperhatikan mereka, namun tidak ada satu pun yang berniat menolong. Dengan keberanian yang dia kumpulkan, Rabiah berjalan mendekat, berusaha melepaskan Sarah yang meronta-ronta dari cengkraman laki-laki yang menjambak rambutnya. “Jangan ikut campur!” laki-laki itu berteriak sengit. Menatap Rabiah seperti orang kesetanan. “Anak ini harus di beri pelajaran, karena berani melawanku. Aku akan membunuhmu!” “Jangan berani-berani kau menyakiti putriku ber*****k!” Ibu Aminah yang wajahnya kusut masai dengan rambut berantakan muncul dengan tongkat kayu di tangannya. Pandangannya seperti singa yang marah. Dia menatap putrinya sebelum kembali melayangkan tatapan kebencian pada laki-laki yang masih mencengkram rambut Sarah tanpa perasaan. “Dasar J*****! Aku membebaskanmu dari tempat kumuh itu dan kau berani melawanku?!” “Aku lebih suka tinggal di tempat sampah daripada hidup di tempat hina yang kau katakan itu.” “Dasar bodoh! apa yang kau dapatkan dengan melawanku Ha! Apa kau fikir aku tidak akan menemukan kalian?” seringai laki-laki itu muncul. Dia tersenyum remeh sebelum menunduk menatap Sarah yang gemetar. “Anak ini seharusnya bernilai tinggi. Aku akan menjualnya.” “Apa maksud anda?” Rabiah yang sejak tadi memutuskan diam berbicara setelah mendengar kalimat yang dia dengar. Tatapannya menusuk, dan dengan berani berjalan mendekat. “Siapa kau?” laki-laki itu bertanya, sedikit heran dengan Rabiah. “Lepaskan mereka.” “Melepaskan mereka? Apa kau fikir aku bodoh? Aku akan menjual anak ini, dia mungkin bernilai tinggi.” Senyum buas seperti binatang tampak tergambar di wajahnya membuat Rabiah yang melihatnya menahan diri agar tidak muntah saat itu juga. “Aku tidak akan membiarkan kau membawa Sarah.” Gumamnya penuh tekad. “Jangan mencoba peruntunganmu anak gadis atau kau akan menyesal karena telah membantu keluarga tidak tahu terima kasih ini.” Rabiah mengabaikannya. Dia mendekat, dan mencoba menarik Sarah. “Apa peringatanku seperti angin lalu untukmu?” “Ayo sayang.” Seru Rabiah lembut mengulurkan tangannya pada Sarah. Namun, gadis kecil itu hanya menangis sesenggukan tanpa berani menatap Rabiah. “Ayo, kakak akan membantumu. Apa kau tidak percaya pada kak Rabiah?” kembali Rabiah mengeluarkan kata-kata membujuknya. Dia tersenyum, berusaha meyakinkan Sarah. PLAK Sebuah tamparan tak pelak menyentuh wajahnya, membuat Rabiah seketika tersungkur ke tanah. “Aku sudah memperingatkanmu Gadis kecil.” “Kak, Rabiah!” teriak Sarah serak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki yang menyeretnya. Rabiah meringis saat merasakan perih di sudut mulutnya. “Aku bisa melakukan yang lebih buruk dari ini jika kau masih ingin ikut campur.” Ancaman laki-laki itu sedikitpun tidak menyurutkan keberaniannya. Rabiah berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya karena menghantam tanah. “Apa hakmu membawa mereka?” Senyum kemenangan menghiasi wajah laki-laki yang sekarang berdiri dengan angkuhnya.”Aku suaminya,” dia menunjuk dengan mulutnya kearah Ibu Aminah. “Dan ini anakku. Apa sekarang kau puas?” Bibir Rabiah kelu. Dia tidak pernah berifkir kalau laki-laki ini adalah keluarga Ibu Aminah, semula dia fikir orang ini hanya laki-laki yang meminjamkan uang untuk menipu keluarga-keluarga sederhana seperti Ibu Aminah. Ayah macam apa yang tega menjual anaknya sendiri? “Kenyataan itu tidak lantas membuat anda berhak melakukan tindakan tidak mnusiawi ini.” “Jangan munafik. Siapapun bisa melakukan apa yang kulakukan ini Gadis muda, bahkan kau sendiri. Apa kau tahu berapa banyak anak-anak yang di perjual belikan setiap harinya? Apa kau tahu bagaimana anak-anak ini dimanfaatkan? Dimana kalian saat terjadi tindakan yang kalian sebut tidak manusiawi itu terjadi? Kalian masih bisa tidur nyenyak bahkan makan dengan lahap saat ratusan anak-anak sedang menjerit minta keadilan. Dimana kalian saat hal itu terjadi? Aku melakukannya secara terang-terangan, dan kalian menyebutku tidak manusiawi. Ya, aku setan jika itu membuat kalian puas. Apa sekarang kau sudah selesai? Karena aku masih punya urusan dibanding mengurusi orang munafik dan sok baik seperti kalian!” Rabiah berdiri menghadang laki-laki yang menyeret Sarah. “Anda tidak bisa melakukan ini pada Sarah!” Sebelah alis laki-laki itu terangkat. Matanya dengan tidak sopan menyusuri tubuh Rabiah dari atas sampai bawah. “Kau menantangku? Aku punya ta…” “Aku akan membayarmu. Lepaskan anak itu!” Suara tegas, nyaring, dan tak terbantahkan itu berhasil membekukan suasana tegang yang melingkupi sekitar mereka. Rabiah menarik lehernya untuk melihat siapa laki-laki berani yang telah menolongnya. Mas Ghibran? “Berapa yang kau inginkan?” “Jangan, Nak, Ibu…” Ghibran menoleh pada Ibu Aminah. “Ibu tenang saja. Semua ini harus diakhiri.” Dia kembali menatap laki-laki berperawakan tinggi besar dengan penampilan seperti preman jalanan itu. “Berapa yang kau inginkan?” ulangnya lagi dengan wajah datar meski saat ini dia tengah mendidih. Satu tangannya terangkat ke dagu. Dia menatap Rabiah dan Ghibran bergantian. “Ini menarik. Apa yang istimewa dari dua wanita tidak tahu untung itu, hingga kalian repot-repot mau membantu mereka? Atau kalian bermaksud menju…,” “Hentikan omong kosongmu! Katakan berapa yang kau inginkan sebelum aku berubah fikiran. Dalam sepuluh menit polisi dan pengacara akan datang ke tempat ini jika anda masih bersikeras!” Ancaman ini rupanya berhasil membuat laki-laki itu ketakutan. Dia mengumpat, melepaskan Sarah, yang langsung di tarik Rabiah dalam dekapannya. “$100.000.” gumamnya tanpa perasaan menatap Ghibran menantang. Wajah dinginnya menyeringai yang lebih mirip seringai binatang. Rabiah membelalak tidak percaya. Itu uang yang banyak sekali. Amat sangat banyak. Darimana mereka mendapatkan uang sebanyak itu? Rabiah memeluk Sarah yang sesenggukan untuk menenangkannya. “Baik. Aku akan menyerahkannya setelah anda membuat pernyataan tidak akan mendekati Ibu Aminah dan putrinya lagi, dan jika anda melanggarnya, aku akan memastikan penjara adalah hal terakhir yang bisa anda lihat.” Balas Ghibran tenang. Di sudah berdiri sejak tadi, menunggu sampai sejauh mana laki-laki ini bertindak, dan saat dia melihat laki-laki ini melayangkan tamparan pada Rabiah, dia sadar darahnya mendidih. Dia mungkin akan membunuh laki-laki ini jika saja tidak ingat kalau Rabiah mungkin akan membencinya. Laki-laki itu terlihat terperangah mendengar jawaban Ghibran. “Terserah kau saja anak muda. Aku hanya butuh uangnya.” Tukasnya acuh. Ghibran menyerahkan kartu namanya. “Besok, di tempatku, bersama pengacara. Sekarang sebaiknya anda pergi.” Tawa yang lebih mirip gonggongan kembali bergema sebelum benar-benar lenyap saat laki-laki itu menghilang. Rabiah mendesah lega, dan memejamkan mata. “Apa kau baik-baik saja?” Ghibran tanpa sadar menyentuh wajah Rabiah yang terluka membuat wanita itu mundur karena terkejut. “Ma…maaf. Aku...aku tidak bermaksud…,” “Aku bak-baik saja, Mas.” Potong Rabiah tanpa berani memandang Ghibran. Ghibran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia menoleh pada Ibu Aminah untuk mencairkan suasana. “Apa Ibu baik-baik saja?” “Ibu dan Sarah baik-baik saja. Kalian datang tepat waktu, Rabiah yang harus kau cemaskan Ghibran.” Ghibran menatap darah yang mengering di sudut mulut Rabiah, dan tanpa sadar tangannya mengepal. Dia ingin menghajar laki-laki itu karena sudah berani menyentuh wajah Rabiah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN