Tanah Sejuta Pesona

1373 Kata
“’Dia adalah laki-laki yang kunikahi ketika aku masih muda sekali. Begitu sembrono, terbuai hanya karena kata-kata yang membuat hati melayang.” Kenang Ibu Aminah tersenyum kecut. Rabiah duduk di lantai beralaskan karpet lusuh dengan Sarah yang tertidur di pangkuannya, sementara Ghibran duduk tidak jauh dari depannya. “Pernikahan kami baik-baik saja. meski hidup sederhana, dia tidak pernah mengeluh begitupun denganku. Dia punya kebiasaan buruk yang baru kuketahui setelah kami menikah. Berjudi.” Lanjut Bu Aminah lirih. Pandangannya tertuju pada putrinya yang terlelap. “Tahun berlalu, meski kebiasaan berjudinya tidak pernah hilang setidaknya keadaan kami baik-baik saja. Itu yang kufikirkan waktu itu, dan aku mengabaikannya. Empat tahun pernikahan, akhirnya kami memiliki Sarah. Saat itu, aku fikir dia akan berubah. Kehadiran Sarah mungkin bisa membuat kebiasaan berjudinya menghilang. Itu harapanku, harapan seorang istri dan juga seorang ibu. Sayangnya aku lupa, kebiasaan terkadang bisa mendarah daging saat kita begitu terbuai dan menyukainya. Dia tidak berubah, justru semakin buruk. Dia mulai marah-marah, hingga yang terburuk mulai main tangan.” Ibu Aminah mengusap air matanya. Nafasnya yang berat, nyata sekali menyimpan beban berat selama ini. Rabiah membuang muka karena tidak tega melihat kepedihan yang selama ini dialami Ibu Aminah. Ruangan seketika senyap, hanya diisi nafas berat yang menguar dari mulut mereka. “Apa ini penyebab luka lebam di tubuh Ibu?” tanya Ghibran memecah kesunyian. Wanita itu tersenyum lemah. “Aku mencoba bertahan, dengan harapan kalau dia akan berubah. Aku hanya harus bersabar sedikit lebih lama. Aku diam dan tetap bertahan saat dia memukulku, tidak apa-apa selama bukan Sarah yang jadi sasarannya. Lagi-lagi aku salah. Malam itu dia ingin membawa Sarah untuk menjualnya, sebagai taruhan dalam berjudi. Dadaku sesak, amarah seketika menguasaiku. Tanpa fikir panjang, aku memukul kepalanya hingga dia tidak sadarkan diri. Aku tidak memeriksa apa dia masih hidup atau sudah mati. Satu-satunya keinginanku adalah menyelamatkan Sarah apapun yang terjadi. Aku membawa Sarah tengah malam, dan kami melarikan diri saat itu juga.” Ibu Aminah mengakhiri ceritanya yang menyedihkan setelah jeda beberapa saat. Penampilannya yang berantakan terlihat lebih rapi setelah dia menutup kepalanya dengan kain panjang. Rabiah menghela nafas. Kehidupan yang dijalani wanita ini sungguh berat. Melarikan diri dari seseorang yang seharusnya bertugas melindungimu adalah ujian berat. Kemana lagi mengadu ketika tempat berteduh justru adalah petaka yang menghancurkanmu? Pandangannya menunduk, dan dengan lembut mengusap kepala Sarah yang masih betah tidur di pangkuannya. “Ghibran, apa kau tidak punya sesuatu untuk meringankan sakit Rabiah?” Ibu Aminah menatap bibir Rabiah yang sekarang mulai membiru. “Rabiah baik-baik saja, Bu. Seharusnya yang kita cemaskan sekarang adalah Ibu dan Sarah.” Rabiah menatap Ghibran. “Apa Mas yakin kalau dia tidak akan datang lagi mencari Ibu dan Sarah?” tanyanya. “Kita akan lihat besok, jika dia datang menjemput uangnya aku akan memastikan dia tidak akan bisa mendekati Ibu dan Sarah lagi.” Terang Ghibran meyakinkan. “Itu uang yang banyak sekali. Bagaimana kami akan membalasnya, Ghibran?” “Ibu tidak perlu mencemaskan hal itu. Selama Ghibran bisa membantu, akan Ghibran lakukan.” Mata wanita itu berkaca-kaca, terlihat sekali kalau dia terharu dan juga seperti tidak percaya dengan apa yang dia alami. “Terima kasih, hanya Allah yang bisa membalas kebaikanmu, Nak.” Bisik wanita itu tercekat, dengan air mata meleleh. Ghibran tersenyum, dia menatap Rabiah. “’Sebentar lagi gelap. Apa kau mau pulang?” Rabiah tersentak, baru sadar kalau dia ke tempat ini saat langit mulai menggelap. “Iya, Mas. Hari sudah mulai gelap, sepertinya Rabiah harus pulang.” Dengan lembut dan amat pelan Rabiah mengangkat kepala Sarah yang terlelap sebelum meletakkan kepalanya diatas bantal. “Ayo, aku antar.” “Tapi….” Sahutnya ragu. “Kita akan naik Bus, Biah. Kebetulan hari ini aku tidak bawa mobil.” Rabiah memberanikan diri memandang Ghibran, meski hanya sekilas. “Apa tidak merepotkan?” Ghibran tersenyum. “Sama sekali tidak.” Rabiah berdiri setelah tidak punya alasan untuk menolak Ghibran. Mereka akhirnya berjalan keluar setelah lebih dahulu pamitan pada Ibu Aminah. ***** “Tunggu sebentar.” Seru Ghibran saat mereka berhenti didepan sebuah apotek. Rabiah menunggu saat laki-laki itu memasuki apotek dan keluar tidak lama kemudian. “Ini.” seru Ghibran mengangsurkan plastik obat yang dia pegang pada Rabiah. Rabiah ragu. “Ini untukku?” Ghibran mengangguk. “Jangan lupa, bersihkan bibirmu dengan air bersih setelah itu oleskan antiseptik agar tidak inpeksi. Aku juga sudah memberikan obat pereda nyeri, dan obat radang. Dosisnya tertulis didalam. Makan dan oleskan rutin agar tidak bengkak dan menimbulkan rasa sakit.” Jelas Ghibran panjang lebar setelah Rabiah menerima obat yang dia berikan. Rabiah hampir lupa kalau Ghibran seorang dokter. Dia menatap resep obat yang diberikan Ghibran, dan tanpa sadar tersenyum. “Kita menunggu busnya disini.” Ghibran duduk di kursi panjang yang disediakan bagi para penumpang. Beberapa orang terlihat melakukan hal yang sama dengan mereka. Dia tidak pernah ingat kapan terakhir kali naik bus. Dia selalu membawa kendaraan pribadi kemanapun dia pergi. Bukan apa-apa, dia hanya suka segala sesuatu yang praktis. Sebenarnya, hari ini dia juga membawa mobil, namun saat tahu Rabiah tidak akan mau diantar dengan mobilnya, dia memilih berbohong. Pandangannya mendongak, dan dia sadar langit sempurna berwarna gelap sekarang. “Boleh Rabiah bertanya sesuatu?” Ghibran berpaling menatap Rabiah sebelum kemudian dia mengangguk. “Kenapa Mas Ghibran, mau membantu keluarga Ibu Aminah?” Pertanyaan yang membuatnya bingung. Apa ada yang salah dengan tindakannya? Tapi mungkin Rabiah hanya penasaran karena tindakan yang baru saja dia lakukan. “Tidak ada alasan Khusus. Aku mau menolong mereka karena aku bisa, sesederhana itu. Bagaimana jika pertanyaannya aku kembalikan padamu?” tanya Ghibran balik, dan dia sadar Rabiah yang duduk beberapa langkah darinya terlihat cukup terkejut. Gadis itu baru membuka mulut saat bus yang mereka tunggu akhirnya datang. “Ayo,” serunya enggan. Dia masih ingin berbincang dengan Rabiah, mendengarkan suara lembut Rabiah, dan wajah malu-malunya. Kesempatan seperti ini tidak akan sering dia dapatkan. Mereka berdua menaiki bus, dan beruntung ada beberapa kursi yang masih kosong. Rabiah mengambil tempat duduk di belakang supir bus, sementara Ghibran duduk di bangku belakangnya. Bus yang mereka tumpangi akhirnya melaju menembus padatnya lalu lintas. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Ghibran memecah kesunyian diantara mereka, meski deru mesin bus cukup membuat telinga mereka penuh. Kebisingan yang berasal dari suara bus membuat Ghibran menaikkan volume suaranya agar Rabiah bisa mendengarnya. “Silahkan.” “Kapan terakhir kali kamu pulang ke Indonesia?” Jeda, membuat Ghibran ragu, apa Rabiah tidak mendengar pertanyaannya? “Sekitar empat tahun yang lalu, Mas.” “Apa kamu tidak merindukannya? Kampung halamanmu?” bahkan tanpa melihatnya—karena Rabiah tetap memutuskan untuk tidak berbalik, dia yakin gadis itu tersenyum. “Tentu saja Rabiah rindu, tapi disini ada amanah yang harus di jalankan. Perjalanan ke tempat ini perlu perjuangan mas. Ada harap dan juga doa yang terselip disetiap langkah Rabiah. Seberapa pun rindunya Rabiah untuk pulang, Rabiah harus bisa tahan sebelum menyelesaikan studi disini.” Ghibran mengulum senyum mendengar kekuatan tekad dibalik kata-kata Rabiah. Dia gadis yang berprinsip, dan memiliki keinginan yang teguh. “Seperti apa Negara kalian? Indonesia?” Rabiah kali ini berbalik. Kedua alisnya yang tipis bertemu. “Apa Mas Ghibran menyukai seseorang yang tinggal di Indonesia?” Deg Ghibran menelan ludah yang rasanya amat sulit dilakukan. Apa yang membuat gadis ini menarik kesimpulan seperti itu? Pandangannya nanar, sementara kerongkongannya tercekat. Apa yang harus dia katakan sekarang? Dia menatap Rabiah yang balik menatapnya penasaran. Ghibran berdehem sebelum memutuskan untuk menjawab. “Aku penasaran, karena Alzam mengatakan kalau Indonesia tempat yang menarik, dan saat aku mencicipi makanan berkuah santan berwarna kuning…” “Maksud Mas Ghibran lontong?” Ghibran mengangguk. “Ia, Lontong. Sejak dia menceritakan kalau Indonesia negara yang menarik dengan budaya dan juga keramah tamahannya, aku penasaran ingin melihatnya.” Jelasnya berharap ini membuat Rabiah puas. Dia berbohong. Satu-satunya alasan kenapa dia tertarik dengan Indonesia adalah karena gadis yang duduk tepat didepannya ini, yang lebih memilih melindungi orang lain tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. “Berarti Mas Ghibran harus berkunjung kesana dan menyaksikannya sendiri.” Rabiah bergumam sambil lalu saat tubuhnya menghadap ke depan. “Menurutmu seperti itu?” “Mas Ghibran akan jatuh cinta. Indonesia adalah Negara yang menakjubkan dengan sejuta pesonanya.” Senyum mengembang diwajahnya mendengar penuturan Rabiah. Ya, Indonesia dengan sejuta pesonanya, dan salah satunya tepat didepannya. Sosok yang membuatnya penasaran dengan budaya Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN