Senyum Ghibran

1487 Kata
“Ya ampun, Kak Biah,” pekik Aliyah buru-buru menghampiri Rabiah yang baru memasuki apartemen mereka. Langkah kakinya yang tergopoh-gopoh membuatnya terlihat seperti ibu-ibu yang sedang berburu barang diskonan. Rabiah tanpa sadar tersenyum, namun segera meringis saat merasakan tusukan di sudut bibirnya yang pasti robek. Rabiah dengan pelan menyentuh ujung bibirnya, dan ia bisa merasakan darah yang menggumpal disana. “Apa yang terjadi? Apa kakak dirampok? Atau ada yang berniat jahat pada kakak, atau…,” cerocos Aliyah menatap wajah Rabiah seksama sementara yang ditatap hanya bisa meringis. Maksud hati ingin tersenyum, apalah daya bibirnya yang terluka membuatnya kesulitan. “Bukan seperti itu,” potong Rabiah cepat. Dia berjalan menuju dapur, mengambil air dan juga handuk kecil untuk mengompres wajahnya yang pasti merah. “Lalu apa yang terjadi?” tanya Aliyah tidak sabaran, mengekor di belakang Rabiah yang sekarang berjalan ke ruang tamu mereka dan mendaratkan tubuhnya di kursi mereka yang tidak terlalu empuk tapi cukup nyaman. “Kecelakaan.” Jawabnya singkat. “Kecelakaan?” Aliyah menyipit, tidak puas dengan jawaban Rabiah. “Kecelakaan seperti apa yang membuat pipi kakak memiliki stempel berbentuk telapak tangan dan bibir terluka seperti itu?” dia tidak bermaksud mengejek, hanya saja jawaban Kak Rabiah jelas tidak memuaskannya. Rabiah meletakkan handuk yang sudah dibasahinya diatas pipinya yang merah. Dia menoleh pada Aliyah. “Ceritanya panjang Al, kakak akan menceritakan itu nanti. Sekarang ada yang harus kita bicarakan.” Wajahnya berubah serius. “Apa, kak?” “Mengenai apartemen ini.” balasnya menatap Aliyah lekat. Gadis dengan potongan rambut sebahu itu terlihat kebingungan. “Maksud kakak?” “Kita harus mencari pengganti Aleesha, Aliyah. Kta tidak mungkin sanggup membayar biaya sewa jika penghuninya hanya kita berdua. Bagaimana menurutmu?” “Tapi…mencari orang disaat seperti ini rasanya sulit, Kak. Kakak tahu kan, kalau sekarang bukan penerimaan mahasiswa baru?” Masuk akal, batinnya kemudian. Tapi mereka akan kesulitan jika hanya tinggal berdua di apartemen ini. Apartemen yang mereka tempati memang bukan tempat yang mewah. Beton tiga lantai ini, memiliki ukiran sederhana yang bahkan bisa di bilang cukup tua. Satu-satunya alasan yang membuat apartemen ini tetap hidup dan diminati adalah karena lokasinya yang dekat dengan kampus, dan ini berarti juga dekat dengan lokasi lainnya. Mereka tidak harus berjalan jauh untuk mencari kafe ataupun restoran, karena tempat seperti itu banyak di dekat tempat tinggal mereka. Rabiah tampak berfikir. Satu dua bulan mungkin mereka bisa mengatasinya, tapi setelah itu? Fakta kalau dia mahasiswi semester akhir berarti biaya yang dibutuhkan juga jauh lebih besar. “Begini saja kak…” Aliyah membuka suara setelah melihat Rabiah kebingungan. “Aliyah akan mecnari teman, barang kali ada yang mau pindah atau mencari tempat baru. sementara itu, terpaksa kita harus berhemat lagi kak.” “Itu pasti. Apa Aleesha sudah memeberi kabar, kapan dia akan kesini menjemput barang-barangnya?” Aliyah menggeleng. “Mungkin Kak Aleesha akan memberi kabar setelah selesai honey moon.”gumamnya tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat terakhir. “Kenapa senyum?” Aliyah terlihat malu saat menjawabnya. “Sepertinya pacaran setelah menikah itu menyenangkan ya kak?” Rabiah yang akhirnya paham maksud pertanyaan Aliyah, mengulum senyum. “Bukan hanya menyenangkan, tapi juga menenangkan. Laki-laki terjaga, begitupun sebaliknya. Islam tidak sekaku itu. Kita boleh pacaran selama dengan pasangan halal kita. Ketika akad sudah berikrar maka setiap tindakan yang menyenangkan pasangan kita inshaAllah akan mendatangkan pahala. Sebaliknya, ketika kita pacaran sebelum akad terucap, setiap tindakan yang kita lakukan untuk menyenangkan pasangan justru membawa kita semakin dekat pada murka Allah.” “Tapi sulit sekali menahan perasaan kalau kita tertarik pada seseorang, kak.” “Jaga pandangan. Kau tahu Aliyah, menjaga pandangan berarti menjaga hati kita pada seseorang yang Allah takdirkan pada pendamping hidup kita kelak. Tertarik pada seseorang itu hal yang wajar, tapi ingat kita selalu punya pilihan. Memilih menepisnya sampai Allah buka kan pintu gerbang pernikahan bersama pasangan yang Allah takdirkan atau membiarkannya mekar, dan memberikan jalan bagi syetan untuk memanjangkan angan-angan kita.” “Pasti sulit.” Rabiah mencubit hidung mancung Aliyah. Gemas melihat wajahnya yang cemberut. “Tentu tidak mudah, tapi selama ada Allah didalamnya, tidak ada kesulitan yang tidak mampu kita lewati. Ujian perasaan itu tantangan, dan semua berasal dari pandangan, maka kuncinya adalah….” Aliyah menjentik jarinya. “Menjaga pandangan.” “Nah itu tahu.” jawabnya, saat tangannya aktif mengompres wajahnya yang memerah seperti yang dipesan mas Ghibran. “Kenapa?” tanyanya saat melihat kebingungan di wajah Aliyah. Aliyah menggeleng. “Tidak ada kak, hanya saja…Kak Aleesha benar-benar beruntung deh. Bayangin aja, saat sedang sibuk-sibuknya mengurusi tugas akhir, Kak Aleesha malah menemukan jodohnya disini. Punya suami yang bisa membantu dan mensupport dalam perjalanan kita sepertinya akan menyenangkan ya Kak?” Rabiah tersenyum, namun segera berhenti saat ingat bibirnya yang terluka. Tangannya menyentuh ujung hidung Aliyah dengan gemas. “Tentu saja menyenangkan. Memiliki seseorang yang bisa memberikan dukungan dan bertanggung jawab atas kita membuat langkah menjadi lebih mudah, tapi mengatakan Aleesha beruntung rasanya tidak fair. Dia menikah duluan, karena Allah yang tahu kapan waktu terbaik bagi seorang hamba untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Ini bukan soal beruntung atau tidak, tapi kapan waktu yang tepat.” Nasihat Rabiah. “Bagaimana kita tahu jika dia orang yang tepat untuk kita, Kak?” “Kemudahan dalam proses, keyakinan dalam hati, dan juga jangan lupa selalu….” Rabiah sengaja menggantung kalimatnya, menunggu Aliyah menyelesaikannya. “Selalu libatkan Allah dalam setiap prosesnya.” Kekeh Aliyah yang dibalas anggukan setuju dari Rabiah. “Ya sudah, kakak ke kamar dulu. Nanti setelah selesai masak, bangunin kakak yah, biar kita makan bersama.” Aliyah mengangkat tangannya kekening, terlihat seperti dia sedang menghormat. “Siap, bos.” Rabiah membuka pintu kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan baju rumahan, sesaat pandangannya terpaku pada resep obat yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Hari ini dia mengalami kejadian yang cukup menguras emosi dan fisiknya. Selama ini, dia selalu bisa menjaga perasaannya, berusaha menjauh saat hatinya mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Dia menundukkan pandangan untuk menjaga hatinya, agar hanya jatuh pada seseorang yang Allah takdirkan sebagai suaminya kelak. Namun hari ini, entah kenapa, tanpa bisa dicegah, hatinya mengahangat saat mengingat perlakuan Ghibran padanya. Rabiah menggeelng, berusaha menepis bayangan Ghibran dan juga perlakuan lembut laki-laki yang dengan begitu mudahnya mengulurkan bantuan pada orang lain. Astaghfirullahaladzim   ******  “Apa kau tidak mau datang lagi?” Rabiah tersenyum, dan menempelkan handphone ke teatas bahunya. Dia sengaja memiringkan kepala agar Hp-nya tidak ajtuh. “InsyaAllah, besok Rabiah datang, Kak.” “Almeera dan Ahil terus saja menanyakanmu. Katanya ‘Anutie Indoensia kapan datang’ dan blab bla bla. Kau harus datang dan mendengarkan sendiri keluhan mereka, Biah.” Membayangkan dua wajah si kembar berhasil membuat sudut mulutnya terangkat. Rabiah yang sedang menyiapkan paper tugas kuliahnya menghentikan sejenak kegiatannya. “Apa mereka masih ingat Biah, Kak?” tanyanya takjub, mengingat mereka baru satu kali bertemu. “Oh, kamu tidak akan percaya Biah. Ghibran yang harus turun tangan setiap kali pertanyaan kapan kamu datang mulai bergema di rumah ini.” suara tawa Aira terdengar dari ujung telepn. Mendengar nama Ghibran disebutkan, membuat Rabiah seketika ingat bagaimana laki-laki itu begitu baik padanya dan juga Ibu Aminah. Tidak, tidak, astagfirullahalazdim, batinnya begitu sadar sudah melamun. Dia tidak boleh terbuai atau setan akan memanjangkan angan-angannya dan membuatnya lalai. “Semoga besok perjalanan kesana lancar, biar Rabiah bisa datang tepat waktu.” Balasnya kemudian. Dia masih memiliki setumpuk kegiatan untuk dilakukan. “Aamiin. Oh iya, kakak mau tanya, kamu suka makan apa?” Eh? Rabiah menatap telepon genggamnya sesaat, memastikan kalau dia tidak salah dengar. Kenapa kak Aira menanyakan makanan kesukaannya? “Rabiah bisa makan apapun selama tidak ada rasa pahit didalamnya Kak.” “Apa kamu kesulitan jika minum obat?” Rabiah menggigit bibir. Kak Aira mungkin akan berfikir dia kekanakan jika mendengar jawabannya. “Ng…iya kak.” Balasnya malu. Suara tawa yang cukup keras kembali di tangkap telinganya. “Kamu harus bertanya pada Ghibran, dia selalu punya metode untuk orang yang kesulitan menelan obat. Dia dokter yang baik.” Semoga tidak, karena dia tidak akan pernah punya keberanian menanyakan hal itu. “Mas Ghibran memang dokter yang baik.” “Apa? apa kau baru mengatakan kalau Ghibran dokter yang baik Biah? Kau dengar itu Ghibran? Ini pertama kalinya aku mendegar seseorang memujimu.” Mendengar kalimat itu, kontan membuat Rabiah membelalak tidak percaya. Apa Mas Gghibran di rumah kak Aira atau yang lebih parah apa laki-laki itu mendengar semua ucapannya? Rabiah bisa merasakan wajahnya memanas sekarang, dan dia rasa-rasanya ingin menyembunyikan diri. “Biah, Ghibran tersenyum mendengar pujianmu. Kau harus tahu, dia dokter yang cerewet dan suka mengatur.” Rabiah ingin membantah, tapi takut kak Aira mungkin akan berfikir yang aneh tentangnya. Dia akhirnya memutuskan menjadi pendengar. “Baiklah, sepertinya aku sudah mengganggu waktumu. Sampai jumpa besok, insyaAllah. Senang Ghibran membawamu ke rumah ini, Biah.” Rabiah menutup telepon setelah mengucapkan salam. Jangan tanya bagaimana keadaan hatinya sekarang. Rabbi… Aku hanya ingin jatuh cinta pada orang yang kau takdirkan menjadi suamiku kelak. Dia yang akan menjadi imam dan ayah bagi anak-anak kami kelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN