Sesuai janji, Rabiah berencana naik Bus saat perjalanan menuju rumah si kembar Aahil dan Almeera. Cuaca yang tidak cukup membakar membuat perjalanannya lebih mudah. Rabiah keluar dari apartemennya sebelum berjalan menuju halte bus.
“Apa kau mau pergi?”
Rabiah berbalik mendengar sapaan lembut dari belakangnya. Kedua alis tebalnya bertemu, merasa asing dengan wanita yang memakai selendang panjang untuk menutupi kepalanya dan anehnya tersenyum ramah menatapnya. Meski penduduk Jordan 80% lebih pemeluk islam, tapi masyarakat disini punya kebiasaan memakai pakaian sopan, jadi meski memakai penutup kepala tidak ada jaminan kalau dia seorang muslim. Rabiah punya kesimpulan kalau wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri ini orang Eropa. Postur tubuh tinggi, memiliki kulit putih, dan meski samar sekilas Rabiah melihat warna rambutnya pirang, dan diatas segalanya, matanya berwarna biru.
“Oh, maaf. Aku lupa mengenalkan diri. Aku Sarah, tetangga barumu. Aku tinggal di lantai atas.” Wanita yang Rabiah perkirakan usianya sekitar tiga puluhan mengulurkan tangan padanya dengan riang.
Rabiah menyambutnya. Dia baru tahu jika ada anggota baru di lantai atas. Setahunya, penghuni apartemen diatas sepasang keluarga yang sudah sepuh, meski usia mereka sudah senja tapi mereka orang tua yang gesit.
“Rabiah,” ujarnya menyebutkan namanya sebelum menarik tangannya kembali.
“Apa kau mahasiswa disini?”
Rabiah mengangguk. “Mu’tah, kak.”
“Oh bagus sekali. Aku juga kuliah disana, hanya saja sebelumnya aku kuliah di Prancis, sayang sekali aku harus out.”
Keningnya mengerut. Out?
Sarah tersenyum melihat kebingungan Rabiah.
“Mahasiswi transfer. Kau tahu? dua orang tua penghuni dilantai tiga adalah orang tuaku. Ini keinginan mereka. Setelah diskusi panjang aku akhirnya setuju pindah kesini.” Wajahnya terlihat kecewa, meski kemudian dia menepisnya dengan senyum tipis.
“Madame Delia dan Monsieur Craige adalah orang baik.”
“Kau pernah bertemu mereka?” Sarah terlihat terkejut.
“Beberapa kali.”
“Waw, ini kejutan, mengingat mereka sangat tidak suka berbicara dengan orang asing. Seperti yang kau tahu, kami orang Prancis yang memutuskan tinggal disini. Berinteraksi dengan orang lain sangat tabu bagi orang tua ku. Kau pasti orang baik, jika mereka mau berbicara denganmu.”
Rabiah tersenyum. “Bukan seperti itu, sebagai tetangga sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga silaturrahmi.”
“Kau muslim yang baik.”
Rabiah tertegun sejenak saat mendengarnya. Namun dia segera memperbaiki ekspresinya.
“Hidup adalah proses belajar menjadi lebih baik. Aku dan Mbak sama saja. Kita manusia yang pasti tidak luput dari salah dan dosa.” Terangnya, menatap langit yang mulai menggelap. Padahal ini masih musim panas.
“Apa kau mau pergi?”
“Ya. Aku ada janji dengan seseorang.”
“Pacar?” tebak Sarah terlihat senang dengan dirinya sendiri.
“Bukan.” balasnya singkat tidak ingin memperpanjang obrolan. Dia tidak ingin terlambat dan membuat keluarga Aira menunggunya. “Aku permisi dulu. Assalamu’alaikum.” Pamitnya melangkah menuruni tangga, meninggalkan Sarah berdiri mematung.
“Wa’alaikumussalam. Apa aku boleh berkunjung ke tempatmu?” teriak Sarah saat Rabiah berada di tangga paling bawah.
Rabiah mendongak dengan senyum terkulum.
“Tentu. Kami akan senang jika memiliki teman baru.” sahutnya ramah sebelum benar-benar berlalu. Sarah, nama itu mengingatkannya pada si kecil Sarah. Bagimana keadaan gadis kecil itu sekarang? Dia belum pernah mengunjungi keluarga itu sejak peristiwa yang terjadi di depan rumah Ibu Aminah. Semoga dia bisa berkunjung secepatnya ke rumah itu. Dia rindu keluarga kecil itu, yang selalu menyambutnya dengan tangan terbuka.
******
“Akhirnyaa,” Aira memeluk Rabiah erat begitu menginjakkan kaki didepan pintu berwarna Ivory dengan ukiran unik yang membuatnya terlihat indah di pandang mata. Rabiah sedikit kaget dengan sambutan yang dia terima.
“Ayo, masuk. Aku sudah masak makanan. Aku harap kamu belum makan, dan jika sudah makan, semoga kamu tidak keberatan makan bersama.” Aira berseru semangat sembari menarik tangan Rabiah menuju ruang tamu rumahnya. Rumah ini benar-benar elegan. Tidak banyak perabot yang menghiasinya, membuat rumah ini memberikan kesan luas yang nyaman. Kursi berbentuk L ditata rapi di tengah-tengah ruangan, tidak lupa Peace Lily diletakkan didekat TV LED 32 inci, menambah kesan sejuk di ruangan yaang didominais warna putih ini.
“Aahil dan Almeera dimana Kak?”
“Ada, mereka sedang ribut dengan paman mereka.”
“Mas Ghibran ada disini?” dan entah kenapa dia merasa wajahnya memanas. Rabiah berusaha menekan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tidak karuan.
“Dia baru saja tiba. Akhir-akhir ini dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah ini daripada apartemennya. Ini aneh, mengingat jarak yang dia tempuh dari sini ke Mu’tah dua kali lipat dibanding dari apartemennya.”
“Mas, Ghibran kuliah di Mu’tah?” tanyanya seperti orang bodoh. Seingatnya Mas Ghibran alumni Mu’tah. Apa mungkin dia melanjutkan pascasarjana di tempat ini?
“Dia jadi dosen tamu disana, sekitar satu atau dua bulan? Aku tidak tahu pasti, kamu harus bertanya sendiri padanya. Apa kamu sudah makan?”
Rabiah tersenyum minta maaf. “Rabiah baru saja makan sebelum berangkat kesini Kak.”
“Kalau begitu kita makan setelah kamu selesai mengajar si kembar?” kedua alis Aira melengkung keatas.
“Apa tidak sebaiknya kakak makan duluan. Rabiah tidak ingin membuat keluarga ini kelaparan karena menunggu Rabiah.”
Aira mengibas tangannya. “Tidak usah cemas, kami baru saja makan salad sebelum kamu datang Biah.”
“Kalau begitu, Rabiah langsung ke lantai atas Kak?” tanyanya minta izin.
“Silahkan,”
Rabiah melanjutkan langkahnya, menuju kamar si kembar. Hari ini mereka mulai belajar Iqra, tapi sebelum itu dia ingin menunaikan janji yang sejak kemarin belum dia tunaikan. Pintu dengan stiker mickey mouse yang dilihatnya sedikit terbuka. Suara tawa dan ribut-ribut samar tertangkap telinganya.
“Jangann, ini punya Almeera,”
“Weee, ini punya kita berdua. Bunda membelikannya untuk kita.”
“Tapi Almeera yang menyentuhnya duluan!”
“Tapi aku yang melihatnya duluan!”
“Pokoknya Almeera mau duluan.”
“Gak mau! Aahil melihatnya lebih dulu.”
Senyumnya melebar demi emndengar pertengkaran yang ditangkap telinganya. Inilah kenapa dia menyukai anak kecil. Suara mereka seperti nyanyian ayng emnenangkan jiwa. “Assalamu’alaikum,” ucapnya saat memegang kenop pintu.
Ribut-ribut dari kamar itu seketika berhenti. Dua bocah itu mendongak.
“Auntie from Indonesia!” teria keduanya menghambur dan memeluk Rabiah yang hanya sanggup menyentuh pinggangnya.
Rabiah tertawa. Dia menunduk agar tingginya sama dengan dua bocah yang sekarang berebut ingin memeluknya lebih dulu.
“Apa kabar Aahil, Almeera?” tanyanya menatap bocah kembar didepannya bergantian.
“Kenapa Auntie tidak pernah ke rumah ini lagi? uncle Ghibran bilang Auntie akan datang secepatnya.” Sungtu Aahil cemberut.
“Maaf, Auntie baru bisa datang sekarang. Ngomong-ngomong kenapa pertanyaan Auntie tidak di jawab?” kedua alisnya terangkat, dengan senyum merekah, dia memandang Aahil dan Almeera.
Aahil menepuk-nepuk dadanya dengan kecang, terlihat bangga dengan dirinya sendiri.
“Aahil baik, Auntie.”
Almeera mendorong kakaknya, membuat bocah laki-laki itu terjungkal dan hampir terjatuh jika saja Rabiah tidak cepat menangkapnya.
“Weee,” ejeknya menjulurkan lidah, dan setelahnya menatap Rabiah. “Almeera baik Auntie.”
“Jangan seperti itu sayang. Allah tidak suka jika kita menyakiti saudara kita Loh.”
“Tapi Aahil suka mengganggu Almeera auntie!” adunya.
Rabiah menarik Almeera mendekat hingga berada tepat didepannya.
“Sayang, jika ada yang berbuat buruk pada kita, bukan berarti harus kita balas dengan perlakuan yang sama. Jika dibalas dengan hal yang sama, maka besok-besok keburukan yang lain akan muncul. Kalau seperti itu apa akan ada yang berhenti?”
Almeera terlihat berfikir, berusaha mencerna kalimat Rabiah.
“Begini, jika ada yang memberikan apel busuk pada Almeera, dan Almeera membalas dengan memberikan Apel yang sama busuknya. Apa dia tidak akan membalasnya?”
“Tentu saja dia membalasnya Auntie, dan Almeera juga pasti akan balas.” Sahutnya yakin dengan mata bulat cokelatnya.
“Bagaimana jika saat dia memberikan Apel busuk, dan Almeera menawarkan Apel yang bagus sebagai gantinya?”
“Hmmm…orang yang memberikan Apel akan berhenti memberikan Apel busuk pada Almeera?” jawabnya tidak yakin.
Rabiah menangkup wajah Almeera dengan kedua tangannya. “Benar. Kebencian dan kemarahan hanya bisa dipadamkan dengan kebaikan. Saat ada yang menyakiti kita, kita bisa mendoakannya atau membalas dengan kebaikan yang lain. Hanya dengan itu kebencian akan hilang.”
“Bagaimana jika dia tetap memberikan Apel busuk setelah Almeera memberikan Apel yang bagus Auntie?”
“Tetap berikan Apel yang baik, jika tidak bisa balas dengan mendoakan kebaikan untuknya. Apa Almeera tahu? Do’a bisa menggetarkan langit Allah jika kita bersungguh-sungguh melakukannya.”
“Benarkah?”
Rabiah mengangguk. “Tentu saja.”
Almeera tersenyum lebar, menunjukkan barisan gigi putihnya. “Apa Almeera boleh minta apa saja?”
“Almeera boleh bisa minta apa saja, dengan catatan minta yang baik-baik.”
Almeera terkikik geli. “Almeera sayang Auntie Rabiah.” Serunya tiba-tiba memeluk erat leher Rabiah, membuatnya hampir saja terjungkal.
Rabiah merasa matanya berkaca-kaca. Ketulusan dalam kalimat anak kecil ini berhasil menyentuh sudut hatinya. Dia balas mengalungkan tangan pada tubuh kecil Almeera, tidak sadar Ghibran yang tidur sejak tadi bangun dan mendengarkan percakapan dua wanita beda usia di hadapannya. Pandangannya menatap lekat wajah putih bersih Rabiah saat sadar wanita itu tidak melihatnya. Dan perasaan itu kembali menghantamnya. Kuat dan tak terhentikan, seperti air yang lepas dari bendungan. Membuncah dan membuatnya kesulitan bernafas.
Hibran mengintip lewat bulu matanya saat Rabiah sibuk menenangkan si kembar. Senyum itu, batinnya tercekat. Ada saat dimana dia benar-bena rberharap perbedaan sungguh tidak pernah membentang diantara mereka berdua. Sekarang, apa ayng ahrus dia lakukan jika gadis ini tahu kebenaran tentang dirinya? Atau mungkin ini hanya perasaannya saja? gadis seperti Rabiah tidka mungkin menyukainya.
Kenapa harus ada perbedaan jika pada akhirnya kekecewaan adalah jawabannya?