Gedung fakultas Syariah masih sama seperti biasanya. Ramai dan menyenangkan. Hawa yang ditawarkan membuat siapapun betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini. Beberapa orang terlihat duduk berkelompok dan sibuk dengan kertas dan buku yang berserakan diatas meja. Beberapa sibuk mengobrol, entah membicarakan apa, atau yang paling menarik, melihat orang-orang duduk di taman kampus yang dikelilingi pohon kurma disekitarnya. Suhu disiang hari ini berkisar 24.7°celcius. Cukup panas, meski tidak sepanas biasanya.
Rabiah susah payah menenteng buku tebal ditangannya, sementara di punggungnya bertengger ransel berwarna hitam. Hari ini dia ada jadwal konsultasi sebelum melakukan ujian kelulusan. Kampus ini menuntut persentasi kehadiran 80%. Itu berarti kehadiran adalah factor utama dalam menjalani kegiatan perkuliahan di kampus yang menjadi salah satu favorit orang Indonesia di Jordan. Meski perkuliahan bisa diselesaikan dalam jangka tiga tahun, tapi Rabiah baru bisa menyelesaikannya di tahun keempatnya di Mu’tah. Ada banyak alasan kenapa dia tidak bisa menyelesaikan kuliah secepatnya di tempat ini. Salah satunya, kemampuan bahasa arabnya. Dia membutuhkan waktu satu tahun sebelum benar-benar memulai kuliah di tempat ini. Sebelum memulai perkuliahan, biasanya setiap mahasiswa baru akan diuji sampai sejauh mana kemampuan bahasa arabnya. Kampus ini mengajar menggunakan bahasa Inggris dan juga Arab dan Rabiah yang kala itu kemampuan bahasa Arabnya masih kurang, memutuskan untuk belajar bahasa sebelum mulai kuliah.
“Hai Rabiah.”
Lamunan tentang awal masuk kuliah terputus saat mendengar suara yang memanggilnya. Rabiah menoleh ke sumber suara. “Hai, Syafa.” Balasnya balik pada wanita yang memakai baju terusan berwarna navy.
“Mau kemana?” Syafa menunjuk tumpukan buku yang di bawa Rabiah.
“Perpus. Aku harus mengembalikan buku ini. Bagaimana denganmu?” tanyanya balik. Keduanya berjalan menyusuri lorong kampus. Sesekali berhenti memberikan jalan pada orang lain, karena mereka berjalan berhimpitan.
Desah nafas berat yang menguar dari teman satu kelasnya membuat Rabiah mengernyit. “Kenapa?”
“Nilaiku kurang. Aku harus mengulang mata kuliah untuk mendapatkan nilai standar yang diinginkan kampus.” Keluhnya terlihat menderita. Mulutnya menggerutu, mengucapkan sesuatu yang tidak di mengerti Rabiah.
“Mengumpat lagi? hmm.?”
Syafa yang baru sadar kalau dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa negaranya meringis.”Maaf, kau tahu? lebih mudah menggerutu dalam bahasa negaramu, tidak banyak yang mengerti apa yang kau katakan.” Bisiknya geli terlihat senang dengan dirinya sendiri.
“Tapi Allah dengar dan tahu Syafa, dan kau harus ingat mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, malah semakin membuat semuanya semakin rumit.”
“Hanya saja, membayangkan kalau aku akan mengulang mata kuliah yang sama….”
“Anggap saja pembelajaran menuju proses yang lebih baik. Apa kau lupa? Aku pernah mengalaminya?” satu alisnya terangkat.
Syafa tertawa. “Itu karena kau terlalu sibuk dengan organisasimu hingga lupa dengan tugas kuliahmu.”
“Sama saja. Aku tetap harus mengulang mata kuliahnya juga, yang membuatnya berbeda hanya musababnya.”
“Kau benar. Aku mungkin berlebihan dalam menyikapinya.”
Rabiah menunjukkan bukunya. “Apa kau mau ikut ke perpus?”
“Tidak. Aku masih ada urusan. Sampai jumpa Rabiah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Balasnya menatap kepergian Syafa sampai benar-benar menghilang sebelum dia kembali mengayunkan langkah.
Ingatannya tanpa diminta melayang pada sahabatnya Aleesha. Dia merindukannya.
“Kalau kau disini, kau pasti akan menguliahiku dengan nasehatmu yang selalu bisa menenangkan, Al.” gumamnya sendiri.
“Hai Rabiah.”
Rabiah mendongak dan seketika mematung. Dia menelan ludah susah payah dan segera memalingkan pandangan. bibirnya lirih mengumamkan istighfar.
“Apa kau mau ke perpus?”
“Iya, Mas. Apa Mas Ghibran baru selesai mengajar?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengganggu Alzam. Apa kau mau dibantu? Buku-buku itu sepertinya cukup berat?”
“Terima kasih, Rabiah masih bisa mengatasinya.”
“Keberatan jika aku ikut ke perpus?”
Dia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Jika menurutkan kata hati, tentu dia senang jika mas Ghibran ikut dengannya ke perpus, tapi dia takut, takut pada hatinya. Sejak peristiwa mas Ghibran menyelamatkannya, ada yang berubah dengan perasaannya, dan dia takut dengan apa yang dia rasakan.
“Apa Mas tidak sibuk?” tanyanya, berharap mas Ghibran mengerti dengan keengganannya.
“Tidak. Aku baru selesai memberikan materi kuliah, setelah itu menemui Alzam, dan sekarang aku tidak punya kegiatan apapun.”
Dia tidak punya celah untuk menolaknya lagi sekarang. Rabiah mengangguk tidak kentara. Dia berjalan didepan, dengan Ghibran mengekor di belakang. Keheningan menyelimuti mereka, meski suasana perkampusan masih sibuk dan ramai. Rabiah tidak berani dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dia sadar, kalau kegugupan menghinggapinya sekarang. Dia hanya bisa memeluk erat buku-bukunya, berharap ini bisa mengalihkannya dari suasana aneh yang dia rasakan.
“Apa kau sedang mempersiapkan ujian kelulusan?” Ghiban membuka pembicaraan, meski posisinya masih dibelakang Rabiah.
“Iya Mas. Rabiah sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian.”
“Apa yang akan kau lakukan setelah lulus?”
“Pulang.”
Satu kata, dan Rabiah tidak menyadari kalau Ghibran sempat menghentikan langkahnya. Jawaban Rabiah membuat perasaannya terganggu.
“Pulang?” tanyanya lirih.
“Iya Mas. Umi minta Rabiah pulang dan mengajar di pondok.”
“Maksudmu pesantren?”
“Iya, Mas. Pesantren keluarga, tepatnya punya saudara Abi.”
“Tidak ada rencana melanjutkan kuliah disini?”
“Umi belum ngasih izin, selain karena Umi ingin Rabiah mengajar. Umi cemas karena tidak ada yang menjaga disini.”
Ghibran menghentikan langkahnya. Menatap punggung Rabiah yang hari ini mengenakan abaya peach dengan jilbab senada. Gadis itu terus melangkah tanpa menoleh kebelakang.
“Apa itu berarti jika ada yang menjagamu kamu mau tetap disini?” bisiknya penuh harap. Suaranya tidak cukup keras untuk bisa didengar Rabiah. Dia tahu perasaannya ini hanya akan melukainya, tapi dia tidak bisa menahan diri. Sungguh, pesona Rabiah mampu membuat hatinya menghangat hanya dengan menyebut namanya. Apa ini wajar? Dia tidak ingin perasaan yang pasti akan melukainya ini berkembang, tapi kehadiran gadis ini telah memporak porandakan banteng yang selama ini dia bangun. Gadis ini begitu mudahnya menerobos sudut hatinya, tanpa sadar membuatnya tersenyum hanya dengan membayangkan wajahnya.
Ghibran mendecak kesal. Perasaan ini, dia tidak pernah mengerti kerumitan ini. Dia dulu selalu dengan bangga mengatakan pada teman-temannya tidak ingin terikat dengan siapapun—pengalaman membuatnya meyakini hal itu, tapi bertemu dengan Rabiah…dia sadar ada yang berubah dengan prinsip hidupnya pun dengan hatinya.
Apa yang kau fikirkan Ghibran, bukan hanya kau yang sakit hati dengan perasaan ini. jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan yang kau rasakan, hanya soal waktu sebelum kalian sama-sama terluka, bisik suara hati Ghibran mengingatkan.
“Apa Mas Ghibran melamun?” suara lembut Rabiah membuyarkan angan-angannya.
“Tidak. Hanya sedang memikirkan sesuatu.” Balasnya saat melihat Rabiah berhenti untuk menunggunya.
“Jangan biasakan melamun, Mas. Itu bagian dari tipu daya setan. Muslihat untuk membuat manusia terlena.”
Ghibran mengambil posisi di samping Rabiah, membuat mereka sekarang berjalan beriringan.
“Boleh aku menanyakan sesuatu?”
Mimik mukanya yang serius pastilah terlihat jelas, karena Rabiah terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.
“Apa yang membuatmu memeluk Islam? karena kedua orang tuamu yang juga muslim atau karena hal lain?”
Rabiah terhenyak mendengar pertanyaan Ghibran. Apa laki-laki ini sedang mengujinya? Dia baru akan menjawab saat dering telepon membuyarkan lamunannya. Rabiah mengangkatnya begitu melihat dial si penelepon.
“Iya, Kak Sofiya?” tanyanya setelah menjawab salam. Rabiah mendengar dengan seksama. Ghibran yang melihatnya mengernyit melihat raut wajah Rabiah yang perlahan berubah pias. Apa sesuatu yang buruk baru saja terjadi? Dugaannya makin menguat saat air mata berderai dari kedua sudut mata Rabiah, dan tanpa diminta kecemasan menyusup dalam dadanya.
“Aleesha...Ya Allah….” Rintih Rabiah seolah tidak percaya. Air matanya jatuh mengaburkan pandangan membuat Ghibran dilanda ketakutan. Apa ayng terjadi?