Hujan di Musim kemarau

1488 Kata
Langit mendung, tetes-tetes hujan mulai membasahi bumi. Ini musim panas, seharusnya tidak ada hujan, tapi kenyataannya berbeda. Kabut yang menyelimuti langit perlahan membentang hingga menyisakan kegelapan di lapisan awan yang tampak murung mengiringi kepergian salah satu hamba Tuhan yang begitu baik, hingga setiap hati yang mengetahui namanya hanya mengingat kebaikannya. Angin berhembus kencang, melayangkaan setiap helai daun dan menimbulkan suara gemerisik dari setiap pohon rindang yang tampak di tumbuh di sekeliling tanah luas yang dikhususkan untuk pekuburan ini. Alam seakan ikut bersedih. Rintik hujan tidak juga membuat mereka beranjak. Hati seolah enggan, langkah terasa berat. Kepergian seseorang seharusnya tidak membuat kita bersedih berlebihan, tapi saat berada disituasi ini, sungguh hati bisa menjadi begitu lemah. Isak tangis dan juga wajah-wajah yang murung masih menjadi pemandangan yang menghiasi tempat yang menjadi peristirahatan terakhir setiap manusia ini. Beberapa orang nampak menyentuh sudut matanya, berusaha menghalangi butiran kristal yang terus mendesak keluar. Sementara yang lain, tampak menengadah, seakan melihat cakrawala langit yang mungkin memberikan mereka sedikit ketenangan atas duka yang menyelimuti setiap jiwa yang hadir di tanah pekuburan luas ini. Rabiah berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang terus mendesak keluar dari pelupuk matanya, namun sia-sia. Semakin dia menahannya bongkahan kristal itu justru semakin menguat. Tatapannya nanar menatap gundukan tanah yang masih baru dengan hati berkecamuk. Kesedihan yang dia rasakan begitu meremukkan, membuatnya berkali-kali mengingatkan diri bahwa setiap yang bernyawa akan mati. Setiap yang bernyawa akan mati. Ini hanya masalah waktu, meski begitu bisakah dia bersedih atas kehilangan salah satu sahabat yang begitu baik dan dekat dengannya? Rabiah sekali lagi menyapu ujung matanya dengan jilbab hitamnya. Masih segar dalam ingatannya saat Aleesha tersenyum, memeluk, dan juga menasehatinya. Ingatan itu begitu segar mengisi memorinya. Ah, bukankah sejatinya dia juga akan mengalami hal yang sama. Hanya saja…ditinggalkan salah satu sahabat baik untuk selamanya adalah ujian baginya. Aleesha, sahabat yang tidak pernah lelah memberikan dukungan padanya kini telah pergi untuk selamanya. Dulu, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat ini, Aleesha mengulurkan bantuan padanya. Saat keuangannya tidak begitu baik, hingga hampir membuatnya menyerah, Aleesha datang menawarkan bantuan dengan tangan terbuka. Sekarang, setelah dia pergi, Rabiah marasa ada yang kurang. Apa seperti ini rasanya ditinggalkan? “Kematian adalah kepastian, bahkan para malaikatpun akan merasakannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda. “Perbanyaklah mengingat Si Pemutus kenikmatan (kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan emrasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia. Kita tentu boleh bersedih ketika orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Rasulullah bahkan berduka ketika dua orang yang paling dicintainya pergi untuk selamanya, sehingga hari itu disebut sebagai hari berduka, tapi kita tidak boleh meratapinya. Rasulullah melarangnya, yang bisa kita lakukan adalah mendoakannya.” Rabiah sesenggukan mendengar nasehat yang rasanya diucapkan untuk mengingatkannya. Aleesha…kini dia tidak akan pernah melihat wajah kemayu dan selalu melemparkan senyum penuh kasih itu lagi. “Bagaiman kejadiannya?” “Mereka mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil menuju jalan pulang.” Sofiya berusaha menjelaskan, meski suaranya terdengar lemah dan matanya terlihat sembab. Alzam yang berdiri di sampingnya memegang pundaknya, berusaha menguatkannya. “Zayyan hanya mengalami luka-luka kecil, sementara Aleesha yang duduk di kursi penumpang meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit.” Lanjut Sofiya menjelaskan. Rintik hujan kembali mengisi sela-sela kesunyian diantara orang-orang yang mengantar Aleesha ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Rabiah mendongak. Seulas senyum lemah tergambar di wajahnya yang pucat. Kelak, jika telah tiba waktu perhitungan, hari dimana setiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban, maukah kamu mencariku jika aku tidak berada diantara orang-orang yang beriman? Aleesha…sahabatku, aku mencintaimu karena Allah. Semoga malaikat yang menyambut kedatanganmu adalah malaikat yang mengucapkan salam dengan wajah tersenyum. ***** Ghibran memandang semua wajah-wajah menunduk yang terlihat sedih saat mengantarkan kepergian salah satu mahasiswa Mu’tah akibat kecelakaan. Ghibran tidak cukup mengenal mereka, meski dia menghadiri pernikahan keduanya. Dia datang karena Alzam. Melihat banyaknya yang menghadiri pemakaman ini, Ghibran yakin kalau dia orang baik. Diantara semua yang hadir, ratusan yang melayat lensa matanya hanya berpusat pada satu orang. Wanita yang memakai abaya hitam lengkap dengan jilbab senada yang sejak tadi berusaha keras menahan tangisnya. Ghibran tidak perlu peramal untuk mengetahui bagaimana Rabiah begitu kehilangan sosok yang baru saja mereka antarkan ke pemakaman. Sejak tadi, wanita itu memegang ujung jilbabnya untuk menghapus air yang membasahi kedua pipinya. Rabiah berdiri diantara Sofiya dan juga seorang gadis yang sepertinya seusia dengan Rabiah. Saat para pelayat akhirnya mulai membubarkan diri, Ghibran bisa melihat saat wanita itu mendongak. Seakan dia ingin menyampaikan sesuatu pada langit yang diselimuti lapisan awan yang menghitam. “Apa kau belum pulang?” Ghibran menoleh pada Alzam. “Aku akan pulang. Bagaimana denganmu?” Alzam menunjuk istrinya lewat gerakan mulutnya. Sofiya berjalan beriringan dengan Rabiah. Kedua wanita itu tersenyum, meski bukan jenis senyum kebahagiaan. “Kita bisa pulang bersama. Aku bawa mobil.” tawar Ghbran pada Alzam. “Apa tidak merepotkan?” “Jangan mulai Alzam. Aku senang bisa melakukan sesuatu.” “Kau sudah sangat membantu disini Ghibran. Prosesnya menjadi lebih mudah saat kau turun tangan.” Alzam menoleh pada istrinya dan Rabiah. “Kita pulang sekarang? Ghibran menawarkan tumpangan." Sofiya mengangguk. Mereka akhirnya berjalan menyusuri jalan yang ditumbuhi rumput hijau. Tidak ada yang membuka percakapan. Ghibran yang cukup sadar kalau mungkin mereka semua masih berduka memilih berjalan didepan, menuntun mereka semua ke tempat dimana mobilnya di parkir. Tidak banyak yang tinggal, bahkan beberapa mahasisswa kampus Mu’tah sudah menghilang saat pemakaman selesai di lakukan, menyisakan mereka berempat dan juga beberapa orang yang dia yakini kerabat dari keluarga Sofiya dan juga Aleesha sendiri. Ghibran duduk di kursi kemudi diikuti Alzam disampingnya, sementara Rabiah dan Sofiya duduk di belakang. Matanya tanpa sadar menatap Rabiah yang menundukkan pandangan dengan bibir bergetar. Wanita itu seperti berdoa terlihat dari gerakan mulutnya. “Bagaimana kondisi Zayyan?” Alzam membuka pembicaraan. “Dia hanya butuh istrihata total. Dia mengalami syok dan benturan di kepalanya cukup untuk membuatnya berbaring beberapa hari di ranjang rumah sakit.” Terang Ghibran. Sebagai dokter umum yang belum mengambil spesialis Ghibran masih bisa memantau perkembangan Zayyan—suami Aleesha yang selamat dari kecelakaan yang keduanya alami. “Mereka baru saja menikah….” Isak Sofiya yang memilih menatap jalanan. “Sayang, kematian itu ketetapan Allah. Tidak bisa diperlambat dan tidak bisa dipercepat barang sedetik. Itu sudah tertulis jauh sebelum kita lahir kedunia ini.” Alzam memutar badannya agar bisa melihat wajah istrinya. Ingin sekali rasanya dia memeluk wanita yang sudah menemani hari-harinya ini, agar bisa menenangkannya, namun dia mencoba menahannya. Sebagai gantinya, dia mengulurkan tangan dan mengusap ujung kepala istrinya. “Sekarang tugas kita adalah mendoakannya dan menghibur Zayyan, agar dia bisa menerima semua ini dengan lapang.” Sofiya mengangguk lemah. Pandangannya yang kabur menatap Rabiah yang sejak tadi hanya diam. Tangannya terulur, menggenggam erat tangan yang mengepal itu. Rabiah sedang berusaha menahan air matanya. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. Sadar kalau Rabiah juga pasti kehilangan, mengingat kedekatan mereka berdua yang sudah seperti saudara. Rabiah dan Aleesha dua sahabat yang saling mendukung. Sahabat yang tidak segan untuk mengingatkan ketika salah satunya melakuakn kesalahan. Rabiah memeluk Sofiya mendengar pertanyannya. Tangisnya pecah saat Sofiya mengelus punggungnya lembut. “Aleesha selalu suka menasehati Rabiah, Kak. Dia selalu menjadi orang pertama yang mengulurkan bantuan ketika Rabiah mengalami kesulitan. Dia saudara, kakak, dan juga teman Rabiah.” Isaknya pilu membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan betapa wanita itu merasa kehilangan. Ghibran yang melihat kesedihan Rabiah lewat spion mobilnya, merasa cubitan menyengat dalam dadanya saat melihat wanita itu sesenggukan. Sungguh, dia ingin menghapus air mata itu, mengulurkan tangan dan merengkuhnya dalam pelukan yang menenangkan. Dia ingin membisikkan kata-kata menenangkan hanya untuk menghapus kesedihan di wajah kemerahan itu. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Dia pernah merasakannya. Sakit. Seperti seseorang menarik paksa nafas kehidupan dari tubuhmu, membuat d**a sesak dan meninggalkan lubang menganga jauh didalam sana. Ghibran pernah merasakannya, dan dia masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya. Tapi…bukankah setiap orang pasti akan merasakannya? Ini hanya soal waktu. “Kita semua merasa kehilangan Biah, tapi seperti yang mas Alzam bilang ini hanya masalah waktu. Satu-satunya ayng bisa kita lakukana dalah mendoakannya.” Nasehat Sofiya mengelus pelan punggung Rabiah. Suasana dalam mobil terasa menyesakkan, bahkan bagi Ghibran sendiri. Dia mencoba mencuri-pandang pada Rabiah yang sekarang duduk menatap jalanan. Kehilangan…kata itu akan selalu menemani setiap manusia pada akhirnya. Yang membuatnya berbeda hanya bagaimana setiap manusia menyikapinya. Berusaha mengikhlaskannya atau justru terus meratapinya? Mengikhlaskannya berarti berdamai dengan keadaan, melapangkan jiwa dan menenangkan hati. Sementara meratapinya hanya akan menimbun rasa sedih dan terus membuat kita merasa menyesal. “Mereka berdua benar-benar dekat,” komentar Alzam. Ghibran menoleh sebentar. “Maksudmu?” “Rabiah dan Aleesha sudah seperti saudara. Dia pasti merasa sangat kehilangan.” Tatapannya ayng terus mencuri pandang pada Rabiah pastilah disadari Alzam hingga dia berkomentar seperti itu. “Kau benar. Dia pasti kehilangan.” Balasnya lirih dan kembali memusatkan fokus pada jalanan, berusaha mengabaikan suara sesenggukan dibelakang punggungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN