Ujian kesabaran

2683 Kata
Sepi. Desah nafas berat yang menguar dari mulutnya menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di apartemen yang sudah dia tempati selama hampir empat tahun. Tidak banyak perabot yang mereka pajang, hanya ada beberapa kaligrafi yang di letakkan di dinding dekat ruang tamu yang diisi kursi berbentuk U. Kesan luas terlihat dari penataan ruang tamu yang mereka susun. Di dekat pintu masuk ada rak kecil yang sengaja diletakkan sebagai tempat sepatu. Hanya itu. Dia, Aleesha, dan Aliyah sepakat untuk tidak meletakkan apapun yang bisa memberikan kesan penuh dalam apartemen mereka. Senyum tipis kembali menghiasi wajah putihnya saat menatap tumpukan kardus berisi buku-buku yang akan di bawa oleh sahabatnya. Sekarang…dia tidak tahu bagaimana nasib buku-buku itu. “Apa kakak sedang melamun?” Aliyah mendekat dengan penampilan rapinya. Dia mengikuti arah pandang Rabiah. “Apa Kak Sofiyah atau suaminya sudah mengkonfirmasi mengenai buku-buku kak Aleesha?” Rabiah mendesah, pandangannya kembali mengabur saat mengigat kenangan tentang sahabatnya. Sungguh, dia merindukan sahabatnya itu. “Belum, Al. kita biarkan saja, sampai keluarganya membuat keputusan.” Aliyah mengangguk. Dia melayangkan pandangan, menyusuri apartemen tua yang mereka huni. “Pasti banyak kenangan tentang kak Aleesha di rumah ini. Aliyah yang bahkan baru mengenalnya, merasa sangat kehilangan. Bagaimana dengan kak Rabiah yang sudah melalui suka duka bersama kak Aleesha sejak datang ke tempat ini?” desahnya berat. Rabiah menarik nafas, matanya panas, namun dia segera menepisnya. Maniknya menatap Aliyah. “Apa kau mau pergi?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Membahas Aleesha berarti membuka kembali kenangan tentang wanita baik itu. dia belum siap, setidaknya untuk sekarang. “Iya, Kak. Hari ini Aliyah ada kuliah. Bagaimana dengan kakak?” “Kakak sebentar lagi juga berangkat. Apa belum ada temanmu yang berniat tinggal di tempat ini?” Aliyah refleks memukul kepalanya. “Astagfirullahaladzim, Apa Aliyah belum memberitahu kakak, tentang teman Aliyah yang ingin tinggal disini? Aliyah pasti lupa memberitahu kakak, karena kejadian beberapa hari terakhir.” “Teman satu kelas?” Aliyah menggeleng. “Bukan, dia temannya teman satu kelas Al, kak. Dia butuh tempat tinggal baru, karena tempat tinggalnya yang lama tidak membuatnya nyaman.” “Apa kau sudah melihat seperti apa orangnya?” selidiknya. Dia perlu memastikan seperti apa penghuni rumah ini. Biasanya, ini tugas Aleesha, dia lebih tahu bagaimana membaca karakter seseorang. Namun sekarang, setelah sosoknya tidak lagi ada disini, menjadi tugasnya memastikan setiap penghuni yang ingin tinggal disini bisa mengikuti peraturan yang mereka buat. “Belum Kak. Mungkin nanti Aliyah akan bertemu dengannya.” Rabiah mengangguk. “Kamu tahukan peraturan apartemen kita? Tidak ada jam malam kecuali keadaan mendesak. Tidak boleh membawa tamu laki-laki, jadwal memasak tidak boleh dilempar dan yang terpenting, kewajiban sebagai muslimah mutlak menjadi peraturan yang harus ditaati. Kita semua yang ada di rumah ini saudara, dan sebagai saudara kita harus saling mengingatkan dan menjaga.” “Baik Kak. Nanti Aliyah akan terangkan pada orangnya.” “Mudah-mudahan dia bisa menerimanya dengan lapang.” Aliyah mengaminkan ucapan Rabiah. “Kalau begitu Aliyah berangkat dulu, Kak.” Rabiah mengangguk dan menjawab salam adik tingkatnya. Dia kembali melanjutkan aktifitas hariannya. Sekarang dia memiliki jadwal bertemu si kembar Almeera dan Aahil. Kedua bocah itu mungkin bisa mengalihkan fikirannya. ***** “Rabiah?” Rabiah memaksakan senyumnya, meski kebingungan melandanya. Aira yang menyambutnya hari ini terlihat berbeda. Ada ketegangan, kecemasan dan juga ketakutan dari sorot matanya. Apa sesuatu sedang terjadi? “Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?” bisiknya memastikan. Dia tidak ingin kedatangannya membuat siapapun merasa tidak nyaman, meski dia mungkin akan bersedih karena gagal bertemu si kembar yang selalu bisa membuat suasana hatinya membaik. Aira tersenyum, namun Rabiah tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu. “Tidak. Tidak apa-apa. Masuklah.” Aira membuka pintu rumahnya lebar-lebar. “Kakak yakin?” Lama tidak terdengar jawaban. Saat Aira baru akan membuka mulut seruan dari dalam rumah membuat mulutnya kembali menutup. “Siapa Aira?” Rabiah bisa mengatakan kalau Aira sekarang benar-benar gemetar. Apa yang membuatnya ketakutan seperti tiu? Apa karena suara laki-laki dari dalam rumah ini? “Mungkin sebaiknya aku pergi?” Aira membuang nafas, sebelum menarik tangan Rabiah. “Apa kau sudah makan?” Ini pertanyaan untuk menghilangkan kegugupan? Atau kecanggungan? “Sudah, kak.” Jawabnya jujur. Jadwal makan siang sudah lama berlalu. Mereka terus berjalan dengan Aira yang menggenggam tangannya, seolah memastikan kalau dia tidak akan lari, dan dia tidak tahu penyebabnya. Namun, jawabannya datang detik itu juga. Berdiri di ruang tamu, seorang lelaki jangkung, berambut putih, memakai kaca mata dengan setelan formalnya, menatap Aira penuh penekanan. Tatapannya tidak menyiratkan apapun. Namun Rabiah menyadari kalau aura yang dikeluarkan laki-laki ini begitu mengintimidasi. Dia bisa membuat lawan bicaranya ketakutan hanya dengan menatap wajahnya yang datar. Siapa laki-laki ini? “Siapa wanita ini Aira?” ucap laki-laki itu terdengar tidak suka. “Dia guru Almeera dan Aahil ayah.” Ayah? Sekarang Rabiah menemukan kemiripan Aira dengan laki-laki ini. Keduanya memiliki mata yang sama kecilnya, dan kulit mereka putih, cenderung pucat, dan ini mengingatkannya pada Ghibran yang juga memiliki ciri yang sama. Apa laki-laki itu disini? “Orang Indonesia?” tanyanya ketus. Mereka berbicara dalam bahasa inggris, membuat Rabiah memahami ucapan keduanya. Aira menelan ludahnya. “Iya Ayah.” Sekarang kemarahan benar-benar tergambar dalam sinar mata laki-laki lebih dari separuh baya itu. Saat pandangannya beralih padanya, Rabiah segera memalingkan wajah. Dia ketakutan. Kemarahan laki-laki itu begitu tergambar jelas. “Sejak kapan dia mengajar disini?” “Baru satu bulan. Ayah, dia tidak…,” “Diam Aira!” bentak Ayah Aira tajam membuat Aira menundukkan pandangan karena takut. “Maaf, tidak seharusnya anda membentak Kak Aira seperti itu, dan juga disini ada anak kecil Pak, mereka….” Mulutnya seketika terkunci saat melihat tatapan penuh kebencian yang diarahkan laki-laki itu padanya. “Siapa kau. Apa kau punya hak bicara di rumah ini?” “Ayah, dia hanya mengajar anak-anakku. Tidak lebih.” Tawa tak percaya lolos dari mulut laki-laki itu. “Jangan bodoh. Apa kau masih begitu naif hingga bisa dibodohi dengan muka sok polos itu?” “Cukup Ayah!” Rabiah berjengit kaget mendengar suara keras yang tiba-tiba menginterupsi ucapan laki-laki tua didepannya. Tanpa sadar, dia membuang nafas lega. Rabiah menoleh saat melihat Ghibran mendekat. Dia berdiri diantara Aira dan dirinya, menatap laki-laki yang meski tua namun masih terlihat tegap itu dengan pandangan marah. “Sejak kapan kau berbicara dengan suara keras pada Ayah, Ghibran?” sebelah alis laki-laki itu terangkat. “Lihat! Satu bulan mengenalnya, kau sudah berani membentak Ayah, jika lebih lama lagi, kau mungkin tidak segan-segan melenyapkan ayah.” “Ayah!” Aira memandang Ayahnya tidak percaya. “Dan sekarang, kau ikut membentak Ayah Aira?” senyum yang tidak menyentuh matanya mengembang. Rabiah berusaha menekan kuat ketakutan yang tiba-tiba menyelimutinya. “Bukan seperti itu ayah, maaf….” “Bukan seperti ini yang kubayangkan saat mengunjungimu Nak. Kau membuat ayah kecewa.” Ghibran tersenyum. “Apa yang ayah bayangkan? Pelukan hangat seorang anak atau pujian selangit karena berhasil menjadi orang hebat dengan mengorbankan keluarganya?” Aira menyentuh lengan Ghibran, berusaha menghentikannya. “Tujuan Ayah kesini hanya satu,” “Jawabannya, tidak Ayah.” Balas Ghibran tegas. “Ghibran, dia anak yang baik. Setidaknya kau bisa bertemu dengannya dulu.” “Omong kosong. Jawaban Ghibran tidak akan pernah berubah.” Rabiah membeku saat tatapan laki-laki itu mengarah padanya. “Apa yang membuat kalian menyukai wanita lusuh ini? Apa karena tatapannya yang menyedihkan?” “Apa yang ayah tahu tentang kesedihan? Setidaknya, dia wanita yang baik. Dia jauh lebih baik daripada seratus wanita yang pernah ayah kenal.” Ayah Ghibran sekarang menatap putranya tepat di matanya. Dia tidak mengatakan apapun dalam beberapa saat, seolah ingin membaca putranya. “Jangan membuat Ayah kecewa Ghibran, karena jika itu sampai terjadi, kali ini ayah benar-benar akan memastikan kalau wanita ini akan menerima akibatnya. Ayah memaafkan Aira, karena laki-laki itu bukan orang Indonesia, tapi ini…” tatapan merendahkan kembali dia layangkan pada Rabiah. “Jangan membuat Ayah kecewa.” ulangnya sebelum melenggang pergi, meninggalkan hawa dingin diantara mereka bertiga. “Apa kau baik-baik saja?” Aira mendekat dan menggenggam erat tangan Rabiah. Kedatangan ayahnya hari ini di luar perkiraannya. Jika dia tahu ayahnya akan datang, dia sudah pasti akan meminta Rabiah tidak datang dengan alasan apapun. Rabiah pasti ketakutan. Bertemu ayahnya yang keras untuk pertama kalinya bisa mengintimidasi siapapun. Sejujurnya, dia juga ketakutan. “Aku baik-baik saja.” Aira menatap Rabiah lekat, mencari kebohongan dalam matanya, meski dia ragu Rabiah bisa melakukannya. Tidak ada ketakutan, tapi Rabiah terluka, dia bisa melihatnya. Kata-kata ayahnya bisa membuat siapapun sakit hati. “Kau yakin?” tanyanya lebih memastikan. “Rabiah baik-baik saja kak. Apa si kembar ada di atas?” Aira mengangguk. “Apa tidak sebaiknya kau minum atau…,” “Maaf….” Baik Rabiah maupun Aira sama-sama menoleh. Ghibran menatap Rabiah sepenuhnya sekarang. Sinar matanya menunjukkan penyesalan yang amat sangat, membuat Aira tercenung. Ghibran bukan orang yang peduli tentang apapun yang berkaitan dengan ayah mereka. Siapapun yang berkaitan dengan ayahnya, Ghibran hanya akan melakukan satu hal. Menjauh. Apa ini karena Rabiah? Dia sadar, saudara kembarnya ini berubah sejak mengenal Rabiah. “Rabiah baik-baik saja Mas, sungguh.” Balasnya kali ini lebih meyakinkan. “Apapun yang ayahku katakan, tolong abaikan saja. Baginya tidak ada yang lebih penting selain harta dan kehormatan. Menyakiti orang dengan kalimat menyakitkan sudah menjadi hal biasa yang dia lakukan. Kau pasti terkejut dan marah bukan?” “Mas, aku hanya terkejut, itu saja.” “Kau yakin? Aku bahkan tidak akan terkejut jika kau membencinya, Biah.” Lipatan di kening Rabiah melebar. “Aku tidak punya alasan untuk membencinya Mas, dan harusnya Mas Ghibran juga melakukan hal yang sama. Bukankah membenci seseorang itu melelahkan? Tidak ada kebaikan dalam membenci, Mas.” Ghibran ingin membantah. Dia ingin mengatakan kalau ayahnya pantas dibenci atas apa yang dia lakukan pada keluarganya, tapi kemudian urung dia lakukan. Rabiah, memiliki hati yang lembut. Dia yakin, kebencian tidak pernah bersarang dalam d**a wanita ini. Apa kebencian dalam wajahnya begitu tergambar jelas? Hingga Rabiah bisa melihatnya dengan begitu mudah? “Bagaimana jika dia menjadi alasan atas kehancuran keluargamu?” tanyanya tanpa bisa menahan diri. “Kita tidak bisa menyalahkan keadaan atau pun orang lain atas apa yang menimpa kita Mas. Allah memberikan ujian karena tahu kita sanggup melaluinya. Jika ada yang bertanya, kenapa ujian hidup ini begitu sulit? bukankah Allah sudah mengatakan “Bersama kesulitan ada kemudahan” Allah mengatakannya sampai dua kali. Tidak mudah dimengerti karena hanya bisa dirasakan oleh mereka yang diuji, tapi yang diuji itu sudah Allah pilih sesuai dengan kesanggupannya. Dan yakinlah mas, ketika Allah memberikan ujian pasti disertai jalan keluarnya. Bersabarlah.” “Apa aku sanggup?” “Allah memberi karena Allah lebih mengetahui kesanggupan kita. Ujian adalah kasih sayangNya dan hanya bisa dirasakan oleh orang yang dipilihNya. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Bukankah hakikatnya hidup berpasangan? Kebahagiaan hanya akan terasa saat kesedihan berlalu. Renungi, resapi, dan pahami, Mas. Bukankah seharusnya jiwa ini merasa bahagia jika ia tahu bahwa Allah memilih diriNya? Beruntunglah mereka yang menangis karena bersabar dengan ujian yang diberikan kepadanya dan mengharapkan ketenangan jiwanya bersama Allah.” Rabiah terpekik kaget saat tiba-tiba Aira memeluk dirinya. “’Allah saksi bahwa aku bahagia dan bersyukur karena pernah bertemu denganmu Biah.” Isak Aira penuh haru. “Kalimatmu menenangkan dan juga menguatkanku. Terima kasih.” Gumamnya tercekat, masih dengan memeluk Rabiah. Rabiah tersenyum dan balas memeluk Aira. “Kita saudara, sudah seharusnya saling mengingatkan, dan aku juga bersyukur Allah mempertemukan kita, Kak.” Aira tersenyum lebar setelah melepaskan pelukannya. “Aku senang mendengarnya. Aahil dan Almeera beruntung memiliki guru seperti dirimu.” Ini mengingatkan Rabiah dengan tujuannya datang ke tempat ini. “Rabiah keatas dulu kalau begitu?” ujarnya meminta izin. “Ya. Mereka pasti sudah menunggumu. Maaf, tadi aku hampir menghalangimu masuk, Biah.” Rabiah tersenyum tipis. “Aku tahu niat kakak baik.” Balasnya sebelum melanjutkan langkah ke lantai dua. Ghibran menatap punggung Rabiah dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Kesedihan dalam mata Rabiah mengusik ketenangannya. “Dia gadis yang baik, Ghibran.” “Aku tahu.” bisik Ghibran lemah. Aira mendekat, agar bisa melihat wajah Ghibran lebih jelas. “Kau tahu kan? Gadis sepertinya hanya akan menikahi laki-laki yang dekat dengan Islam. Sosok yang bisa menjadi imam dalam keluarga.” dia mengatakan ini bukan untuk menakuti Ghibran ataupun menyakitinya. Dia ingin melindungi keduanya. Sebagai seorang psikolog, dia tahu Rabiah memiliki perasaan pada Ghibran. Dia tidak tahu sedalam apa perasaan itu, atau apa Rabiah bahkan menyadarinya. Hanya saja mencegahnya jauh lebih baik, karena dia tahu Rabiah belum tahu kenyataan tentang saudara kembarnya. Sementara di sisi lain, dia tahu kalau Ghibran benar-benar jatuh cinta dengan wanita berwajah teduh itu. Sebelum perasaan ini menyakiti keduanya, dia harus mengingatkan sebelum ada yang terluka. “Apa yang menahanmu dari mengatakan kebenaran tentangmu Ghibran? Dia berhak tahu sebelum semuanya terlambat.” Ghibran mengusap wajahnya frustasi. “Aku takut….” “Takut?” “Aku mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi jika dia tahu kenyataan tentangku Aira. Dia wanita yang baik,” Aira mengelus lengan Ghibran. “Kau jatuh cinta.” Ini bukan pertanyaan. Ghibran menatap saudara kembarnya. Ada banyak kata tak terucap dalam sorot matanya. Dia mengambil nafas panjang sebelum menjawab. “Ya.” ****** “Cari tahu tentang gadis itu. Latar belakangnya, dan juga kehidupannya selama tinggal di negara ini. Semuanya. Aku butuh informasi ini secepatnya. Apa kau bisa melakukannya?” dia berbicara dengan nada dingin. Sorot matanya yang tajam bisa saja membuat siapapun yang melihatnya berlari ketakutan. “Aku memberimu waktu tiga hari. Lakukan dengan cepat!” perintahnya sebelum memutuskan sambungan telepon. Dia mendaratkan tubuhnya di kursi besar mewahnya. Pandangannya menerawang meski maniknya menatap langit-langit ruang kerjanya yang dihiasi lampu gantung kristal. “Aku tidak akan membiarkan wanita itu mempengaruhimu Ghibran. Cukup wanita itu yang mempermainkanku. Kali ini aku pasti tidak akan membiarkannya hidup tenang jika ternyata dia berhasil mendekatimu.” Bisiknya sendiri. Satu tangannya menyentuh dagunya saat menatap selembar foto seorang gadis berwajah asia memakai pakaian terusan berwarna hitam dengan jilbab senada. Pandangannya seakan bisa menembus foto berukuran 10x15 yang tergeletak diatas mejanya. Dia memandanginya seakan bisa menemukan semua jawaban dari pertanyaan yang bersarang di kepalanya. “Apa yang begitu istimewa dari gadis ini?” tanyanya heran sendiri. Apa wajah polos yang bisa menipu siapapun ini yang membuat putranya tergila-gila pada gadis Indonesia ini? bukankah kau dulu juga seperti itu? Suara hatinya berbisik mengingatkannya. Berhasil membuatnya mendengus. “Pastinya mereka sama, dan aku akan memberi perhitungan dengan wanita ini jika dia berani membuat putraku menjauh dariku.” Gumamnya penuh tekad pada dirinya sendiri. Dia mengambil foto diatas mejanya, merobeknya sampai tak berbentuk sebelum membuangnya ke tempat sampah. “Tuan Yuriko?” Yuriko mendongak saat melihat Alberto-sekretarisnya mendekat ke arahnya. “Ada apa?” “Aku menemukan ini saat mengikuti tuan muda.” Ucapnya sembari menyerahkan map hijau pada tuannya. Ini kabar buruk. Yuriko membuka map hijau yang diserahkan padanya, menatap lembaran album yang tertata rapi didalamnya. Foto yang diambil orang kepercayaannya ini berhasil menyulut emosinya. “Jadi…apa dia sudah mempelajari agama wanita itu?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri namun Alberto mengangguk. “Tuan Ghibran sepertinya tertarik dengan gadis Asia itu Tuan. Dia mulai mencaritahu seluk beluk gadis itu dan juga mempelajari agama-nya.” “Apa kau percaya Tuhan Alberto?” tanyanya tiba-tiba. Senyum yang lebih mirip seringai menghiasi wajahnya. “Maaf Tuan?” “Bukankah jika aku tidak bekerja keras, semua pencapaian ini tidak akan pernah kudapatkan? Lantas, dimana peran Tuhan yang sellau mereka agung-agungkan itu Alberto?” Yuriko mendongak, menatap sekretarisnya. “Bukankah usahamu yang menentukan pencapaianmu? Kau beribadah, tapi jika tidak bekerja apa yang akan kau dapatkan? Aku lebih percaya jika orang-orang memiliki agama hanya untuk melindungi identitas mereka sendiri.“ terangnya panjang lebar meski tidak ada balasan dari kalimatnya. “Untuk sekarang, hentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan Ghibran. Aku ingin lihat, sejauh mana dia mampu bertindak.” Lanjut Yuriko, menyerahkan kembali map hijau pada Alberto. “Baik, tuan.” Alberto undur diri setelah mengangguk lebih dulu pada Tuannya. Yuriko yang sekarang sendirian di ruang kerjanya kembali melanjutkan kegiatan rutinnya saat kepalanya sedang berkecamuk, memandangi langit-langit tempat kerjanya. “Kenapa harus wanita itu Ghibran? Dari semua wanita di dunia ini, kau memilih orang Indonesia itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN