Wanita Kuat

1494 Kata

“Alhamdulillah. Bagaimana keadaanmu nak?” wanita paruh baya itu mencium putrinya dengan lembut. Rabiah hanya bisa tersenyum lemah. “Biah baik Umi.” “Jangan dipaksakan. Kamu perlu istirahat.” Rabiah mengangguk. Dia menatap semua yang hadir di kamar inapnya. Tidak ada mas Ghibran. Kemana laki-laki itu pergi? Apa itu hanya mimpi? Atau halusinasi? Dia melihat mas Ghibran ketika pertama kali membuka mata seolah kejadiannya begitu nyata. Dia tersenyum lemah, berusaha mengabaikan rasa kecewa yang perlahan mengisi dadanya. “Kalau begitu Umi dan Abi bisa pulang, karena Kak Biah sudah siuman. Biar Zain yang menjaga kak Biah.” “Sendirian?” sela Umi menatap putranya tidak setuju. “Tentu saja tidak Umi. Bang Zayyan kan ada disini.” “Sepertinya Zayyan tidak bisa untuk malam ini. Dia aharus mengur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN