BAB 16 - Pantang Mundur Selangkahpun

2121 Kata
Setelah sejenak memikirkan keseriusan Wawang, Opik mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan pada seseorang. Beberapa saat kemudian, ia sudah terdengar berbicara. Pada intinya, pria itu dengan tegas memberi perintah agar semua orang mundur jika terjadi p*********n kapanpun. “Pergi atau bersembunyi. Urusan yang tadi adalah permasalahan antara Wawang dengan anak buah si Edi, dan kita tak ada sangkut-paut serta hubungan dengan itu.  ingat! sumber pendapatan kalian akan terancam kalau sampai salah satu dari kita ikut-ikutan membela seorang  anak kecil yang datang entah dari mana.” Demikian Opik memberi penjelasan pada salah satu orang kepercayaannya. Dari kejauhan mereka bersembunyi, Opik dan Wawang bisa melihat aktifitas beberapa pekerja yang nampak dengan sangat jelas. Termasuk juga, si penerima telepon yang mengangguk-angguk saat mendengarkan pimpinannya berbicara dan langsung memberitahukan pada teman yang lain secara berbisik-bisik. Merasa puas dengan rencana yang sudah mulai dijalankan, Wawang tersenyum sambil memegangi lengan Opik seraya menatap lelaki berwajah keras namun berhati lembut itu. Namun saat mendapati sebuah sinar mata khawatir yang balas memandangnya, sang gadis pun merasa harus memberikan sebuah penghiburan. Wawang berkata, “jangan khawatirkan aku, Om … lupakah Om Opik jika aku ini merupakan anak semesta? Percayalah, langit belum akan mau menerimaku saat ini. Karena, saat ajalku tidaklah ditetapkan selagi aku masih begini muda. Dan percayalah, bahwa aku masih akan diberi kesempatan untuk menjadi orang yang berguna bagi negara dan bangsa ini nantinya. Jadi, yakinlah selalu jika aku pasti akan baik-baik saja dalam menghadapi mereka.” Tenang, dan begitu mendamaikan tutur lembut sang dara yang sedemikian rendah hati dan penuh penyerahan diri total pada Sang Pencipta semesta. Karena kehilangan demi kehilangan yang ia temui selama ini, adalah layaknya kobaran api bagi seekor burung Hong. Dimana setelah makhluk indah tersebut bermandi bara api, ia malah akan bertambah kuat dan mampu mengalahkan segala ketakutan macam apapun di dunia ini.     ---   Selagi hendak berbicara untuk menyusun rencana selanjutnya, mendadak saja terdengar raungan suara beberapa sepeda motor dengan knalpot tanpa peredam. Tentu saja, kebisingan memekakkan telinga dengan penunggangnya yang berangasan itu telah langsung membuat orang-orang minggir ketakutan. Mengikuti naluri sebagai manusia jalanan yang keras hati,  Opik terlihat hendak melangkah untuk menghampiri para pengacau tersebut. Namun belum juga mengayunkan kaki, lengannya telah terpegang oleh Wawang yang ada disebelahnya. “Jangan, Om … mereka sengaja memancing ribut. Biar aku saja yang menemuinya.” “Terlalu bahaya untukmu, Wang …” “Jangan kuatir. Ingat apa yang aku katakan tadi.” “Tapi …” “Ssstt …” sergah Wawang sambil tangannya menunjuk ke satu arah. ---   Mereka pun segera melihat ke arah yang dimaksud oleh Wawang. Di tengah jajaran parkir angkutan umum yang sedang menunggu penumpang, nampak enam orang berpakaian serba ketat dengan jaket jins sedang memainkan gas sambil berteriak-teriak menantang. “Mana Opik?” “Mana bocah kurangajar yang berani memukuli anggota kami?” “Keluar, jangan bersembunyi!” Teriakan demi teriakan diikuti dengan turunnya para pembonceng yang langsung jelalatan mencari-cari orang yang sekiranya merupakan musuh mereka. Terlihat juga, satu dua orang mulai menanyakan sesuatu kepada sopir angkutan umum yang ketakutan melihat kegarangan rombongan tersebut. “Opiikkk … jangan sembunyi!” demikian teriak salah satu dari mereka dengan keras. Setelah merasa sia-sia tak menemukan orang yang dimaksud, seseorang yang sepertinya menjadi pemimpin rombongan nampak  mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dengan sigap, ia menekan nomor dan menempelkan benda tersebut ke telinganya. Tak lama, ia terlihat berbicara dengan raut wajah yang marah. Beberapa detik setelah mematikan sambungan telepon, keluarlah sesosok tubuh dari  dari balik sebuah bangunan di seberang sana. Lelaki yang datang belakangan, terlihat berjalan dengan tergesa sambil wajahnya beberapa kali menengok ke sekitar dengan cepat. Tiba di depan para pengendara motor, mantan anak buah Sujiwo yang kini membantu Opik itu terlihat menghampiri salah satu orang dan mulai saling bicara secara serius. Dua pasang mata yang mengawasi dari kejauhan, akhirnya paham tentang kebenaran siapa sebenarnya yang menjadi pengkhianat diantara mereka. “Hmmm … Mamat. Akan kuhajar dia! Pengkhianat! Pasti dia juga tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Mas Jiwo.” Demikian gumam Opik di samping Wawang. Seketika itu, si remaja jadi mengerti jika yang dimaksudkan sebagai pengkhianat telah terbuka kedoknya. Kelihatannya, laki-laki yang bernama Mamat itu telah sengaja menunggu kedatangan gerombolan penyerang tersebut, sementara teman-temannya yang lain pergi mencari aman. “Tenanglah, Om … pura-pura saja Om tidak tahu akan hal ini. Sabarlah … jangan menampakkan diri, biar aku saja yang menemui mereka untuk memberi penjelasan. Kalau Om Opik ikut keluar, kita malah akan kehilangan seorang saksi penting yang pastinya akan lari karena sudah dipergoki perbuatannya sebagai penghianat.” “Jangan kesana … kita pergi saja. Kau sembunyilah sementara menunggu keadaan aman kembali.” “Terlambat, Om … mereka tak mungkin akan melepaskan tempat ini untuk dikuasai bila belum menemukan aku. Percuma saja aku bersembunyi, karena hal itu malah akan menjadi alasan bagi mereka untuk menekanmu dan teman-teman yang lain.” Sangat masuk akal jawaban si bocah tersebut. Tentu saja, menghilangnya Wawang akan menjadi sebuah alasan kuat untuk menuduh Opik telah sengaja melindungi anak tersebut. Dengan demikian, keributan tak akan bisa dihindarkan lagi. Dan pada akhirnya, Opik dan kawan-kawannya jugalah yang akan dirugikan. ---   “Kau yakin mampu menghadapi mereka?” akhirnya, Opik bertanya dengan nada sedikit sedih. Belum sempat Wawang menjawab, terdengar kembali teriakan-teriakan keras dari beberapa orang anggota gerombolan yang nampaknya sudah mendapatkan informasi dari si penghianat terkait nama si pemuda yang bertikai dengan komplotan pencopet tadi. “Wawang, keluar! Jangan bersembunyi. Aku tahu kamu masih ada disini. Jangan jadi pengecut seperti Opik yang hanya pandai melarikan diri saja.” Teriakan itu terdengar lantang dan penuh arti penghinaan bagi seorang lelaki  yang terbiasa hidup dalam dunia kekerasan. Wajah Opik langsung memerah, dan kembali ia berniat hendak melangkahkan kaki untuk  mendatangi kawanan perusuh yang sedang mencari-cari masalah. Melihat gelagat yang tidak baik itu, segera saja Wawang mencegah dengan semakin erat memegangi lengan lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Om Opik … jaga emosi, jangan sampai terpancing. Biarkan aku yang keluar untuk menemui mereka. Pesanku hanya satu; bahwa apapun yang akan terjadi disana nanti, janganlah sekali-kali Om Opik menampakkan diri selama aku masih selamat dan baik-baik saja. Setuju?” demikian kata Wawang pada sahabat pamannya itu. “Kamu serius?” “Ya … aku berjanji untuk tetap akan baik-baik saja.” “Baiklah … selama kau masih baik-baik saja dan selamat tak kurang suatu apapun, aku akan mengawasi dari sini saja.” “Siap, Om … jangan lupa, kita sudah mengetahui siapa pengkhianatnya. Itu bisa saja berarti, jika Mamat mengetahui tentang sebab musabab meninggalnya Paman Jiwo.” “Hmm … iya. Nanti akan kubereskan si Mamat begitu kita sudah menyelesaikan masalah yang satu ini.” “Baik, itu urusan nanti. Aku keluar sekarang, Om …” “Berhati-hatilah …” ---   “Wawang, keluar! Jangan bersembunyi!” suara teriakan itu kembali terdengar dengan lantang. “Aku disini!” jawab sebuah suara cempreng yang sama sekali tak memperdengarkan wibawa sedikitpun. Sontak, keenam wajah menengok ke arah beradanya sebuah angkutan dimana suara tersebut berasal. Dan betapa tercengangnya beberapa orang diantara gerombolan tersebut setelah sesosok bertubuh ramping dan jangkung keluar dari baliknya. “Kamu yang bernama Wawang?” “Ya, aku Wawang,” jawa lelaki yang memiliki suara mirip dengan anak perempuan itu. “Benar, dia orangnya,” terdengar sebuah suara berat menimpali. Sosok terakhir yang ikut berbicara, ternyata merupakan salah satu pengeroyok si anak remaja. Orang itulah si pembawa senjata kapak gagang pendek yang sudah berhasil dirobohkan Wawang dengan satu bantingan keras pada bangku kayu.  “Apa? Kalian mengeroyok anak kecil seperti ini dan lari terbirit-b***t untuk mengadu padaku?” seolah tak percaya, pimpinan kelompok perusuh kembali mempertanyakan kebenaran sosok Wawang. “Tapi, ta-tapi … dia jago berkelahi, Bos …” jawab orang tersebut dengan rasa malu yang tak dapat ditutupi. “Halah, alasan saja! Aku mau tanya sekali lagi, benarkah kalian berlima kalah adu pukul saat mengeroyok satu anak yang bahkan hanya berupa tulang berbalut kulit ini saja?” “Eh, anu … anu … “ dengan wajah semakin memerah karena benar-benar akan menjadi bahan tertawaan lainnya, orang tersebut tergagap-gagap tanpa bisa menjawab. “Jawab pertanyaanku! Benarkah dia tidak dibantu orang lain?” “Aku, aku tak tahu, Bos … tiba-tiba saja, kami seperti mendapatkan pukulan-pukulan dan langsung dilemparkan begitu saja,” jawab si pecundang sambil bingung mencari alasan. “Hmm … berarti, pasti ada yang membokong kalian dengan membantu anak ini. Tak mungkin rasanya si kerempeng bisa mengalahkan keroyokan kalian berlima.” “Iya, Bos … tak mungkin. Pasti dia dibantu seseorang.” Merasa mendapatkan ide untuk menutupi malunya, langsung saja lelaki pembawa kapak itu menjawab. “Diam, kamu! Coba sekarang lawan lagi anak itu … aku mau lihat, dia yang dapat bantuan atau kamu yang nggak becus berkelahi dan hanya mengandalkan penampilan sangar saja.” Dengan kesal, si pemimpin membentak anak buahnya yang malah semakin terlihat konyol saat itu. “Ba-baiklah …” Dengan pasrah, si anak buah melangkah gontai mendekati Wawang yang berdiri sendirian. Nampak ia demikian patuh menuruti perintah pimpinannya, meskipun sebenarnya ia sangat paham betapa kerasnya pukulan si pemuda kerempeng yang sudah satu kali menghajarnya hingga lari tunggang langgang. ---  “Ha ha ha … kamu masih berani setelah pipis di celana saat aku hajar tadi?” mendadak, Wawang tertawa sambil mengejek si preman konyol yang tadi sempat dihajarnya. “Aku berani, jangan main-main denganku. Kamu pasti mendapat bantuan dari orang lain saat kita berkelahi tadi.” “Berkelahi? Apa tidak salah? Aku tak pernah merasa berkelahi dengan kalian. Yang ada, kalian berlima mengeroyokku tanpa alasan.” Lidah tajam si gadis penyamar langsung menyambar dan seketika memerahkan wajah si preman pecundang yang telah turun derajatnya sebanyak beberapa tingkat. “Kau yang mulai. Kenapa mengurusi kerja kami?” “Aku tidak mengurusi kalian … aku hanya ingin berusaha menjaga tempat ini agar tetap aman dari gangguan para pencopet.” Dengan tegas, Wawang menjawab tanpa ada takutnya sama sekali. “Hei, anak kurus! Jangan banyak lagak disini! Kau belum tahu siapa kami.” Terdengar sebuah bentakan yang menyela perdebatan kosong antara Wawang dan si pecundang. Mendengar kata-kata tersebut, sontak saja Wawang menengok ke arah sang pembicara. Lalu saat mengetahui jika pemimpin gerombolan itu yang melontarkan kata, si remaja langsung saja merubah nada bicaranya. “Ah, maafkan … perkenalkan, nama saya Wawang. Apakah Bos ini merupakan pimpinan dari mereka yang mengeroyokku? Jika benar, aku akan menjelaskan duduk permasalahannya.” Demikian kata Wawang pada lelaki gondrong bermuka gelap tersebut. “Benar, aku Husein … bos dari mereka. Dan kau tak perlu menjelaskan apapun, karena siapa saja yang telah berani kurangajar dengan melawan anak buahku … berarti dia sudah berani menyepelekan aku.” Dengan jumawa, pemimpin itu menjawab tanpa memandang sebelah mata pun pada si anak remaja yang tak ada wibawanya sama sekali. “Tapi … ah, aku mau minta maaf jika sudah terjadi kesalah pahaman disini.” “Tak perlu minta maaf. Karena tiada maaf bagi kalian semua yang ada disini. Mana bos kamu si Opik? Dia harus bertanggungjawab atas keberanianmu menganiaya anak buahku.” “Oh, maaf … aku bukan anak buah Om opik. Di sini aku hanya numpang makan dan bermain saja daripada  bosan dirumah.” “Jangan bohong! Kamu pasti anak buah Opik!” “Siapa yang bohong? Aku bukan siapa-siapa Om Opik. Hanya kenal saja, karena setiap hari bermain disini.” “Bohong! Kamu ini timer dan juga kernet angkot pengganti.” “Memang benar. Kadang-kadang aku membantu jadi calo biar dapat nasi bungkus. Sesekali, memang ada sopir angkutan yang kasihan padaku dan mengajak menjadi kernet biar aku bisa mendapatkan uang tambahan.” “Benarkah itu?” “Benar,” Jawab Wawang dengan tegas. “Tapi mau benar atau tidak … kau tetap harus dihajar agar tahu adatnya menghormati orang tua. Dan benar atau salah, Opik dan kawan-kawannya harus pergi dari tempat ini.” Sambil berkata demikian, orang tersebut berjalan mendekati Wawang dengan sikap yang mengancam. “Terserah apa katamu. Oh iya … apakah anak buahmu itu jadi akan kau adu denganku? He he … Bos Husen lupa? Atau mau main keroyokan?” dengan usil, Wawang mengalihkan pembicaraan yang menjurus pada perebutan tempat mencari rejeki tersebut. “Jaga bicaramu! Kau berani melawannya?” “Jangan tanyakan itu padaku. Tanyakan saja yang tadi sudah lari ketakutan saat aku banting ke atas bangku kayu … hi hi hi …” tak tertahankan, kenakalan asli si Nawang Wulan telah saja muncul akibat saking sebalnya ia dengan para preman yang hanya pintar berlagak dengan menjual omongan. “b*****h! Kau menghinaku. Hei … sini, lawan dia lagi, biar aku bisa melihatnya dengan jelas saat ini. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang lebih keras daging diantara kalian.” Geram, lelaki itu langsung mendorong si pemegang senjata kapak gagang pendek untuk menghadapi sang remaja cungkring yang usil mulutnya. “Ba-ba-baik, Bos …” meskipun menurut, pucat wajah si pecundang telah seketika menyembul pias. ***             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN