BAB 17 - Pertarungan Kedua

1838 Kata
Wawang tersenyum mengejek. Walaupun baru pertama kali tadi benar-benar merasakan bagaimana berkelahi secara langsung, namun ia menjadi lebih percaya diri lagi ketika melihat kenyataan bahwa lelaki menyeramkan di depannya sudah bisa ia jatuhkan dengan mudah dalam pertarungan sebelumnya. Apalagi saat ia melihat sorot mata si pemegang kapak gagang pendek yang kini terlihat gentar, tentu saja rasa takutnya telah seketika menjadi sepenuhnya hilang. Bahkan, kini malah sudah digantikan dengan perasaan geli yang menggelitik hatinya. Bagaimana tidak … lelaki bertampang menyeramkan dan bertubuh besar seperti itu, dengan jelasnya terlihat sangat ketakutan saat harus menghadapi seorang bocah kurus jangkung yang tiada berdaging. Dan seperti mendapatkan sebuah petuah berharga yang baru disadarinya, Wawang jadi ingat akan petuah berharga Ki Jalitheng saat menggemblengnya. Kala itu sang guru mengatakan, “jangan pernah sekalipun kamu merasa takut saat berhadapan dengan lawan. Karena jika kamu merasa berkecil hati dan tak percaya diri; disaat itulah kau sudah kalah terlebih dahulu, bahkan sebelum pertarungan tersebut dimulai.” Mencerna kembali akan kata-kata tersebut, sontak saja Wawang mendapatkan sebuah ide untuk menjatuhkan mental para perusuh tersebut. Tak hanya sebatas menjatuhkan keberanian si gondrong dan begundalnya yang ada disitu, tapi sekaligus untuk memberi pesan pada orang-orang yang berada diatas level para preman rendahan yang di depannya itu. “Hai … siapa namamu?” demikian tanya Wawang dengan santainya pada lelaki yang tadi dibantingnya ke atas bangku kayu. “Buat apa kau menanyakan namaku?” dengan sengit, orang itu menjawab. “Lah … tentu saja biar aku terkenal dengan menyebutkan namamu pada orang-orang dan mengatakan bahwa aku pernah menghajarmu selama dua kali tanpa perlawanan sedikitpun. Yang pertama, tentunya sudah kau rasakan tadi. Dan sebentar lagi, kau juga akan kembali aku gebug dengan tanpa ampun.” “Kurang ajar!” geram, lelaki itu memuntahkan emosinya dengan membentak keras. Namun kebalikannya, kedua kakinya malah terlihat gemetar tanpa ia sadari. “Hush … santai saja, jangan emosi begitu. Hmm … kita mulai sekarang? Bener masih berani? Hi hi … kalau nggak berani bilang saja, biar si wajah gosong yang jadi bos-mu itu mewakilimu untuk aku gebuk.” “Banyak bacot! Haaiittt … ” teriak sebuah suara keras. Ternyata bukanlah lelaki bersenjata kapak penyerangnya, saat itu malah orang bernama Husen-lah yang tak kuat menahan emosi dan langsung melancarkan sebuah tendangan ke wajah Wawang. Mendapatkan sebuah serbuan mendadak yang tak tanggung-tanggung, Wawang segera berkelit dengan cantiknya. Lalu sementara kaki kanan Husen masih melayang di udara untuk melancarkan sebuah serangan telak, dengan gesitnya remaja tersebut membungkukkan badan sambil melakukan sebuah sapuan kaki ke arah kuda-kuda si penyerang yang sangat lemah. “Aduh … b*****h … b*****t!” sambil memaki kalang kabut, tubuh gempal terlalu banyak makan enak itu langsung berdebum keras dengan pinggul yang terlebih dahulu mencium kerasnya aspal. “Ha ha ha … segitu saja kemampuan bos kamu?” demikian ledek Wawang pada si lelaki berkapak yang kini malah jadi tambah ketakutan. Namun tiba-tiba saja … “Serbuuu …” “Hajar!” “Patahkan kakinya.” “Bocah sok jago!” “Ciaaatttt …” Berderap, empat pasang kaki manusia anggota kelompok langsung saja menyerang setelah melihat pimpinannya dijatuhkan dalam sekali gebrak dengan tidak hormat. Terlihat seorang yang membawa pentungan, lalu ada lagi yang mengayunkan benda semacam parang, sementara dua yang lain nampak menenteng rantai yang dipasangi bandulan gir sepeda motor pada ujungnya. Dan, dengan serentak serta tanpa malu, keempat preman jalanan langsung mengerubuti si bocah remaja. Dengan senyum khas yang menunjukkan keberanian serta percaya dirinya, Wawang berlompatan kesana kemari untuk menghindari berbagai benda serta tangan dan kaki yang melayang mengarah pada tubuhnya. Tanpa disadari oleh para penyerangnya, gerakan mereka yang dirasa cukup cepat itu ternyata hanya bagaikan sebuah slow motions saja bagi si bocah kecil. Mereka dan bahkan sang remaja belia juga tak mengerti jika hasil gemblengan Ki Jalitheng pada muridnya telah berhasil dengan baiknya. Karena tenaga murni yang sudah terbentuk dalam nadi si bocah, dengan otomatis telah menjadikan sebuah pandangan mata sedemikian tajam dan gerakan reflek yang sangat baik. Memang demikianlah adanya. Melatih pernapasan dengan benar dan berloncatan diantara bebatuan selama berbulan-bulan, kini telah memperlihatkan hasil yang sedemikian baik. Sebab bagi Wulan yang tengah menyamar, serangan para musuhnya hanyalah serupa suatu gerakan main-main yang begitu lambat dan terlihat dengan sangat jelas. Dengan demikian, apapun yang dilakukan oleh orang lain saat hendak menyerangnya adalah satu hal yang sangat mudah untuk ia antisipasi. Sebab itulah, gerakan berkelit dan menangkis dari bocah kurus tersebut adalah merupakan satu hal yang terasa begitu sederhana untuk dilakukan. Dan ternyata, Wawang sendiri tak terlihat repot walau kini kedua orang yang jatuh tadi sudah bergabung kembali untuk melakukan pengeroyokan. --- Dari kejauhan, Opik memandang dengan cemas apa yang kini sedang terjadi pada Wawang. Sebenarnya, ia ingin sekali memunculkan diri untuk menolong si anak remaja. Namun karena mengingat kata-kata si bocah yang sangat serius, iapun mengurungkan niat tersebut. Apalagi, dengan mata kepala sendiri ia melihat demonstrasi saat si belia kerempeng menjatuhkan Husen dengan sekali tendang. Opik menduga, hal itu memang disengaja oleh Wawang dengan maksud untuk memberi pesan bahwa anak tersebut masih bisa mengatasi gangguan. Lalu saat semakin cermat mengamati, ia malah melihat keganjilan yang terjadi ditengah kerumunan ketujuh orang yang sedang terlibat dalam baku hantam tersebut. Tapi dengan cepat ia meralat sendiri pemikirannya ... Karena sebenarnya, yang terjadi bukanlah baku hantam seperti pada umumnya. Karena dari posisi Opik yang agak jauh, enam orang yang sedang melakukan pengeroyokan itu sebenarnya malah terlihat menjadi sangat lucu dan konyol. Bisa dikatakan demikian, karena dengan jelasnya ia langsung mengetahui bila yang terjadi saat itu adalah sebuah pemandangan janggal dari enam orang dewasa yang tengah dipermainkan oleh seorang bocah bertubuh kurus. Tanpa terasa, Opik tersenyum saat melihat betapa nakal dan usilnya Wawang yang dengan lincah menghindari serangan sembari menepis beberapa senjata lawan untuk diarahkan pada teman mereka sendiri. Seketika, pengeroyokan tersebut langsung menjadi kacau balau. Betapa tidak menjadi demikian? Tentu saja para pengeroyok telah menjadi kalang kabut dengan sendirinya saat senjata teman malah saling serang dengan kawan lainnya begitu arahnya melenceng akibat ditepiskan oleh tangan mungil musuhnya. “Hei … jaga matamu! Kau malah menyerang aku.” “Aduh, b*****t! Musuhmu bukan aku. Senjatamu malah menyasar kesini.” “Hei … awas!!!” Berbagai teriakan tumpang tindih terdengar dengan serunya saat senjata demi senjata yang digunakan mereka malah keliru mengarah pada teman sendiri. Lalu selagi mereka masih bingung dengan kekacauan tersebut, mendadak saja beberapa orang kembali terdengar mengaduh. “Ahhh …” “Aduh, matamu buta, yaa …” “Buk” “Krakk …” “Bruukk …” Berturut-turut, semua penyerang langsung mendapatkan ganjaran pukulan demi pukulan dan sasaran senjata yang memakan teman sendiri. Kemudian dengan cepatnya, tubuh-tubuh gempal dan menggiriskan itu berjatuhan satu persatu ke atas aspal jalanan yang panas dengan senjata-senjata mereka yang terserak. Sementara enam lelaki dewasa roboh sambil merintih, seorang bocah remaja malah berdiri ditengah-tengahnya sambil tersenyum dengan gembira. *** Beberapa menit setelah enam orang perusuh pergi dengan membawa rasa malu, Opik sudah kembali bertemu dengan Wawang yang menyusulnya ke lorong pasar diantara sederet kios tutup. “Wang, tak percuma Mas Jiwo memiliki keponakan seperti kamu,” demikian kata si lelaki gempal dengan wajah heran pada si remaja yang cengar-cengir mendatanginya. “He he … Sepertinya, Pamanku sendiri malah tidak tahu kalau aku bisa berkelahi.” “Kenapa bisa begitu?” “Om Opik kan tahu, kami baru berkumpul kembali selama beberapa bulan setelah bertahun tak bertemu.” “Oh, iya … Mas Jiwo mengatakan itu padaku. Dia sangat menyesal tak bisa datang dan menemani saat Ibumu meninggal. Dan itulah yang telah merubah gaya hidup Mas Jiwo. Dia berubah karena kehilangan ibu kamu, iapun menjadi bertambah baik ketika memiliki seorang keponakan cantik untuk dibesarkan.” “Iya … paman sangat menyesal tak bisa pulang saat ini karena terhalang sesuatu. Tapi ia sendiri tak mau menceritakannya padaku.” “Hmm … itu dilakukannya agar kau tidak penasaran dan menganggap dirinya sebagai orang yang tak perduli denganmu saat ditinggalkan sendiri. Aku akan memberitahu satu hal ... Mas Jiwo masih berada di dalam penjara ketika ibumu meninggal dan berbulan-bulan setelah itu.” “Ohhh … pantas saja dia tidak pulang. Kenapa paman dipenjara? Karena berbuat jahat?” tanya Wawang dengan penuh rasa ingin tahu. “Membunuh orang. Tapi jangan berprasangka dulu. Pamanmu terpaksa melakukannya, karena si korban adalah seorang laki-laki jahat yang mengganggu calon istri Mas Jiwo. Karena laki-laki yang dibunuh pamanmu itu adalah seorang p*******a yang telah mempermalukan calon istri pamanmu, hingga ia memilih untuk bunuh diri.” “Paman membalas dendam?” “Secara tak langsung. Sebenarnya, Mas Jiwo tidak berniat untuk main hakim sendiri andai saja p*******a itu tak mendahului menyerangnya.” “Ohh …” “Pamanmu dikeroyok dengan dibokong. Ia melawan hingga menyebabkan musuhnya meninggal. Karena itulah, hukuman pamanmu tak berlangsung begitu lama.” “Karena dianggap membela diri?” “Ya … pamanmu memang hanya sebatas membela diri.” “Ah … betapa malang nasib Paman.” “Ya … ia orang baik yang tak pernah mengganggu makhluk lain.” “Dan akhirnya, ia malah meninggal di jalanan secara mengenaskan.” “Untuk kejadian itupun, kami semua mencurigai tentang adanya kesengajaan.” “Seseorang yang membalas dendam kembali?” “Mungkin saja. Karena yang dulu meninggal di tangan pamanmu, adalah merupakan adik dari Edi Best.” “Ahhh …” tanpa sadar, Wawang menjerit tertahan karena terkejut. “Dan semua orang tahu, Edi Best takkan pernah berani berhadapan satu-satu secara jantan dengan pamanmu.” “Hmmm … tapi aku tak berani menuduh.” “Demikian juga teman-teman Mas Jiwo. Mereka hanya bisa berdoa, semoga penabrak pamanmu bisa segera diketahui orangnya.” --- Baru saja menyudahi bicaranya, mendadak ponsel Opik berdering. Dengan segera, ia menerima telepon dari salah seorang rekan kerja pangkalan angkutan umum. Beberapa saat, terdengar ia berbicara dengan serius. Kemudian, Opik memberi beberapa perintah sebelum menutup pembicaraan tersebut. “Mamat tertangkap oleh orang kita. Ternyata, teman-teman tidak pergi dari sini seperti perintahku. Mereka semua menyaksikan perkelahianmu dan juga jadi tahu siapa pengkhianat diantara kita. Karena itulah, dengan cepat Mamat sudah bisa ditangkap sebelum ia lari.” “Oh, dimana mereka?” “Dia ada di dalam salah satu kendaraan yang terparkir di pojokan sana.” “Terus, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Wawang kepada lelaki sahabat sang paman. “Sebaiknya kau pulang, karena hari sudah mulai gelap. Biar Mamat aku bereskan bersama rekan yang lain, tentu saja aku aakan memerlukan beberapa informasi yang bisa dikorek darinya. Nanti aku beri kabar kelanjutannya setelah dia berbicara tentang semuanya, dan juga mengenai rencana kita hari besok yang pasti akan bertambah ramai dengan kedatangan teman-teman orang yang kau hajar tadi.” “Hmm … pasti mereka akan balas dendam.” “Sekarang aku tak lagi khawatir saat melihat dengan mataku sendiri dan tahu bila kau mampu menghadapi mereka.” “Iya Om … dengan bersama serta bersatu, kita pasti akan bisa menghadapi mereka.” “Hmm … iya, kecuali kalau si Ali Badri turun gunung. Rasanya itu akan menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dilawan.” “Percayalah, pasti akan ada jalan keluar,” dengan enteng, si remaja belia menghibur hati Opik yang masih terlihat masygul. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN