BAB 18 - Menyusun Startegi

2107 Kata
Setiba Wulan di rumah, Opik mengirimkan kabar perkembangan interograsi Mamat terkait pengkhianatannya. Melalui telepon yang dilakukan secara sembunyi dari depan rekan-rekannya, lelaki itu juga mengatakan bahwa si pengkhianat mengetahui perbuatan Edi Best saat mencelakakan Sujiwo pada pagi itu. Mamat sendiri mengaku, jika ia terpaksa melakukan hal itu karena keluarganya mendapatkan ancaman dari kelompok Edi Best. Apa yang dilakukannya, ternyata terkait erat dengan masalah utang piutang istri Mamat yang melibatkan jaringan lintah darat dari kelompok anak buah Ali Badri. Dengan iming-iming pelunasan hutang yang kian menggunung atau pilihan ancaman keselamatan sang istri, akhirnya Mamat bersedia membantu Edi Best untuk melakukan sebuah pembalasan dendam bagi kematian sang adik di tangan Sujiwo. Selain untuk melampiaskan dendamnya, tentu saja kelompok preman itu juga menginginkan jatuhnya pengelolaan pangkalan angkutan serta pertokoan yang selama ini ditangani oleh Sujiwo dan kawan-kawannya. Dengan meninggalnya sang pimpinan, mereka berpikir jika dengan mudahnya akan melakukan pengambil-alihan tanpa perlawanan berarti. ---   Setelah mencerna cerita yang tak lagi mengejutkannya itu, si lelaki remaja mulai melepaskan atribut serta dandanan penyamaran. Dan dalam beberapa menit, si pemuda kurus jangkung telah berubah menjadi seorang dara bertubuh ramping dengan wajah manis berkulit kuning langsat. Segar setelah mandi sore dan sedikit melakukan perawatan tubuh secara sederhana, Wulan menyantap makan  malamnya seorang diri di rumah petak yang sudah ditinggalkan oleh sang tuan itu. Disaat sepi dan tanpa teman itulah, kadang si gadis jadi teringat kebersamaan bersama orang-orang yang sangat ia kasihi. Ibu yang hidup berdua dan setia menemani sampai akhir hayat, adalah sosok yang selalu saja tak pernah bisa terlupa walau hanya sedetik saja. Karena meskipun tak pernah terlihat sehat, sang ibu adalah sumber kebahagiaan bagi seorang gadis kecil yang sedemikian tegarnya telah sukarela berganti peran menjadi tulang punggung. Kemudian ada Bayu yang juga disusul Ki Jalitheng sebagai pengisi kesendirian dalam keadaan papa sebagai anak yatim piatu. Berkat  mereka berdua dan semua penduduk desa yang sangat menyayanginya, hidup Wulan dalam kesendirian waktu itu tidaklah jadi terasa begitu menyedihkan. Dan terakhir adalah Sujiwo, seorang paman yang juga bagian dari darah daging tubuhnya. Beberapa bulan, gadis belia itu sudah diperkenankan untuk mengecap hidup bersama figur seorang laki-laki yang mampu mengayomi serta memberikan apapun keinginan serta kebutuhannya. Katakan saja terkait pembayaran uang sekolah, seragam dan buku-buku … baru kali inilah si gadis merasakan tak perlu lagi mengkhawatirkan uang sebagai pembayarannya. Lalu bahkan yang tak pernah diimpikan sebelumnya … Ponsel canggih serta laptop, adalah barang-barang mewah yang serta merta bisa ia miliki karena kemurahan hati sang paman.  Namun sayangnya  … semua itu dapat dikecap oleh Wulan hanya dalam hitungan bulan saja. Karena setelah masa-masa manis penuh penawar kepahitan masa kecil, sang gadis muda harus kembali hidup sendiri dan menaklukkan dunia tanpa adanya seseorang yang menjadi pendamping di kala dirinya masih semuda itu. ---   Tengah membereskan sisa-sisa makan malamnya, mendadak ponsel Wulan berdering. Dengan sigap, ia melangkah menuju meja tempat dimana benda itu terletak. Semula ia mengira jika telepon tersebut berasal dari Opik yang akan memberi kabar lanjutan terkait Mamat. Namun ternyata, ia sedang dihubungi oleh sebuah nomor tak dikenal. “Hallo …” gadis itu menjawab telepon dengan suara yang sengaja dibuat tak jelas. “Wawang … ini Yayan, anak Pak Hadi.” Demikian sahut sang penelpon. Wulan kenal siapa yang kini menghubunginya. Si penelpon tersebut adalah anak dari orang yang bernama Hadi, salah satu sopir angkot. Dan bocah tersebut, memang sering mengikuti ayahnya ke terminal bayangan tempat mereka mencari uang. Wulan  : “Ah, iya Yan … ada sesuatu yang penting?” Gadis yang seketika merubah suaranya agar menjadi mirip Wawang, langsung saja menanyakan alasan Yayan yang belum pernah sekalipun meneleponnya meskipun bocah itu pernah meminta nomor kontaknya. Yayan  : “Aku dimintai tolong oleh Mas Sobir. Mau memberi kabar kalau Mas Opik di bawa paksa oleh Edi Best. Ini … biar yang bersangkutan saja ngomong sendiri sama kamu.” Dalam nada gugup penuh kekhawatiran, anak lelaki yang sebaya dengan Wulan itu menjelaskan tanpa basa-basi. Lalu, ia langsung saja memberikan ponselnya pada orang yang bernama Sobir  Wulan  : “Diambil paksa? Diculik, maksudmu?” Terkejut, gadis itu  bertanya yang langsung mendapatkan jawaban dari orang lainnya lagi. Sobir    : “I-iya … diculik.” Wulan  : “Bagaimana bisa terjadi? Bukanlah kalian sedang berkumpul bersama di stadion untuk menginterograsi Mamat?” Sobir    : “Be-benar … sudah selesai, lalu kami bubar. Tiba-tiba saja Edi Best datang dalam rombongan besar. Semantara yang tersisa disana hanya ada aku dan seorang lain yang menemani Mas Opik serta Mamat. A-a-aku diuruh pergi oleh Mas Opik dan berhasil lari. Oh, iya … Mas Opik menyuruhku menghubungimu sebelum aku pergi. Da-dari jauh, aku melihat dia dikeroyok dan dimasukkan dalam mobil.” Dengan tak karuan susunan ceritanya, Sobir kembali menceritakan kronologis penculikan tersebut. Sementara, ia malah tidak tahu kemana perginya gerombolan tersebut bersama  serta pengkhianat yang ikut dibawa oleh gerombolan tersebut. Karena merasa cemas dan juga penasaran dengan cerita yang tak begitu jelas, si gadis langsung saja menanyakan keberadaan Sobir. Ia memutuskan bila malam ini juga harus segera melakukan sesuatu agar semuanya tidak terlambat hingga menjadi sebuah permasalahan yang lebih besar lagi. ---   Setelah mendapatkan lokasi titik kumpul Sobri dan beberapa kawannya, Wulan segera bersiap untuk kembali menjadi Wawang si anak jalanan. Namun kali ini, nampaknya ia sudah memutuskan untuk melakukan suatu tindakan yang akan diambil nanti demi menyelamatkan Opik.      Bergegas, ia mengenakan pakaian ringkas yang memudahkan ia untuk bergerak. Tanpa mengenakan penutup kepala seperti biasa, Wulan mennyamarkan rambut di kepalanya dengan selembar ikat wulung yang kemarin ia temukan di lemari sang paman. Tak lupa, ia juga mengambil sebuah bungkusan kain panjang yang berisi bambu kuning warisan Sujiwo. Setelah selesai mempersiapkan diri, gadis itu menyempatkan sejenak untuk melihat penampilannya di depan cermin kamarnya. Dan seolah takjub, Wulan terkesima karena bagai tak percaya jika yang berada di balik cermin itu adalah dirinya sendiri. Pakaian serba gelap yang dikenakannya sangat serasi dengan sepotong ikat wulung di kepala dan sepatu kanvas di kakinya. Lalu yang semakin menambah keangkeran, adalah kenyataan bahwa seakan dirinya kini bisa memancarkan satu aura wibawa hanya dengan menambah sepotong bambu menyilang dipunggung yang dicangklongnya pada pundak. Kemudian … seketika itulah betapa sang gadis merasakan sebuah kekuatan tersembunyi yang mendadak telah mengangkat rasa percaya dirinya. Dan bisikan hati pun mengatakan, bahwa ia sudah sangat siap untuk bertindak demi membela rekan-rekannya dari kehilangan tempat mereka dalam mencari nafkah. Terlebih lagi, ia juga memiliki niat … tak bisa tidak; sang paman juga harus mendapatkan sebuah keadilan dunia, dimana sang pembunuh akan bisa segera ia hukum dengan kekuatannya sendiri disamping hukum negara yang mestinya juga berlaku pada orang tersebut. ***   Suara skuter Sujiwo mengejutkan Sobir dan rekan-rekannya yang tengah menunggu. Awalnya mereka benar-benar bingung dengan penampakan kendaraan yang memang tak pernah sekalipun dikendarai oleh Wulan saat ia bekerja. Terlebih lagi, penunggangnya juga tak seketika dapat mereka kenali karena pakaian dan gaya yang benar-benar berbeda dengan Wawang yang bisasa mereka jumpai di pangkalan. “Mas Sobir, ini aku.” Demikian sapa Wawang sesaat setelah ia mematikan mesin. “Ah, aku kira siapa. Mengapa kau bawa skuter Mas Jiwo?” tanya seseorang pada sosok yang masih duduk di sadel skuter. “Iya … benda ini memang kebetulan diberikan padaku sebelum beliau meninggal. Hanya saja, aku memang terlalu sayang untuk memakainya bila tak terpaksa.” Demikian jawab Wawang dengan asal, tanpa mau menjelaskan lebih lanjut. “Hai, Wang … Aku yang menelponmu tadi,” kata seorang anak laki-laki yang bernama Yayan. Tempat pertemuan saat itu, adalah juga di rumah orangtua pemuda yang merupakan bengkel  serta garasi angkot miliknya. “Ah, iya … terima kasih, Yan.” “Apa yang bisa kami bantu?” demikian tanya si anak dengan tulus. “Sebentar, akan kubicarakan terlebih dahulu dengan rekan-rekan Om Opik.” “Iya … kami menunggumu untuk membuat keputusan,” kata seorang lain lagi yang ada disitu. ---   Wawang berhitung dan mendapati ada delapan orang selain dirinya yang berkumpul di tempat tersebut dengan gelisah dan bingung. Mengetahui kekalutan yang terjadi pada semua sahabat Opik di pangkalan, remaja itu paham jika dialah yang harus bisa berpikir jernih agar dapat mengambil alih kendali. Setelah berembuk beberapa saat, mereka mendapat sebuah kesepakatan. Semua setuju bila Opik harus ditemukan malam ini juga. Tapi usut punya usut, ternyata tak ada satupun yang tahu dimana keberadaan pimpinan mereka saat itu. Akhirnya, Wawang jugalah yang harus menentukan langkah mereka selanjutnya, “Baiklah, jika kalian tak ada yang bisa memastikan keberadaan Om Opik, bagaimana kalau aku saja yang memutuskan rencana kita malam ini?” “Apa rencanamu?” tanya salah satu dari rekan kerjanya. “Antar aku ke rumah orang yang bernama Ali Badri,” jawab Wawang dengan tenang. “Kau sudah gila? Jangan nekad, Wang … aku memang melihat aksimu sore tadi, tapi bukan berarti keahlianmu yang seperti itu sudah cukup dipakai untuk mendatangi sarang harimau,” sahut Sobri dengan cepat. “Kenapa? kalian takut?” tanya balik Wawang. “Kau berani, Wang? Di rumahnya pasti akan banyak sekali tukang pukul yang sudang berkumpul. Tak tahukah dirimu bila rumah orang itu juga digunakan sebagai arena judi gelap?” “Wah, malah kebetulan kalau begitu.” “Kenapa bisa kau katakan kebetulan? Konyol, Wang … kau pasti akan konyol jika mendatangi sarang preman itu,” demikian Yayan menyambung setelah pemberitahuannya tadi dijawab dengan entengnya. “Menurutku malah tidak akan seperti itu. Dengarkanlah kata-kataku … rumah Ali Badri dipergunakan sebagai tempat bermain judi gelap. Benar demikian?” “Ya, itu aku tahu persis.” “Kalau disana berkumpul banyak orang, bukankah akan sangat beresiko bila mereka melakukan kekerasan padaku?” “Maksudmu?” “Banyak saksi. Itu intinya … mereka akan takut berbuat jahat dengan begitu banyaknya saksi. Ingat … Ali Badri bukanlah preman receh seperti yang berkelahi denganku sore tadi. Dia akan mempertaruhkan beberapa hal besar jika melakukan kejahatan dengan terang-terangan.” “Bukankah maksudmu akan menantangnya berkelahi?” seorang rekan yang lain lagi bertanya untuk mendapatkan ketegasan dari penjelasan Wawang yang dirasa bertele-tele. “Aku tidak akan menantangnya berkelahi. Kita kesana dengan maksud damai untuk menanyakan keberadaan Edi Best yang telah membawa pergi dua orang anggota pangkalan kita.” “Ali Badri tak akan mau menunjukkan keberadaan anak buahnya itu,” sanggah Sobri meragukan rencana tersebut. “Belum tentu seperti itu. Bagaimana jika tindakan Edi Best tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan majikannya? Bisa saja, bukan? Dan orang paling tepat yang bisa menghubungi Edi Best, hanyalah Ali Badri itu sendiri. Karena sebagai bawahan, tentunya dia akan menurut.” Mendengar omongan remaja tanggung itu, semua orang terdiam untuk mencerna kebenaran kata-kata Wawang. Karena rasanya, semua itu cukup masuk diakal bagi mereka. Lagipula, bukankah memang sudah tidak ada lagi cara lain yang dapat dilakukan dengan cepat selain dengan menggunakan siasat itu? “Wawang, lalu siapa yang akan menanyakannya langsung pada orang itu?” tanya rekannya lagi dengan sedikit gentar. Bahkan untuk menyebut nama pentolan preman kota mereka saja, ia nampak sedikit minder. “Serahkan saja padaku. Karena aku sudah tahu bagaimana cara untuk memaksa gembong itu agar bersedia menyeret Edi Best kehadapan kita.” “Bagaimana akan kau lakukan?” tanya Yayan dengan heran. Karena, remaja sepantarannya itu terlihat sangat tenang dan cerdik. “Hmm … aku hanya akan memberi dua pilihan bagi Ali Badri. Oh, ya … ingatkan aku untuk meminjamkan ponselku padamu agar bisa merekam kejadian di sana nanti.” Demikian jawab Wawang pada Yayan. “Baiklah … aku akan merekam sepak terjangmu nanti. Lanjutkan apa yang akan kau katakan tadi,” sahut sang anak sopir angkot tersebut. “Akan kuminta Ali Badri menghubungi Edi Best. Jika dia tak mau memanggilnya untuk datang, akan kutuduh orang itu terlibat penculikan Om Opik. Sementara aku bicara, rekamlah dengan ponsel agar bisa kita pegang sebuah bukti.” “Begitu saja?” “Ya, begitu saja … untuk lainnya, biar saja kita ikuti apa yang akan terjadi.” “Kalau Edi Best datang dan menantangmu karena telah menghajar anak buahnya sore tadi?” “Mau tak mau, dia akan kuhadapi. Karena disana banyak orang sealiran dunia kekerasan, tentunya mereka akan malu bila melakukan pengeroyokan pada anak kecil.” “Kamu berani?” “Tak ada pilihan lain. Karena Om Opik harus kembali dengan selamat pada kita. Dan hal itulah yang masih terpikir olehku.” “Keselamatan Mas Opik?” tanya Sobir. “Ya … semoga Om Opik baik-baik saja hingga bertemu dengan kita.” “Kurasa Edi Best tak berani berbuat terlalu jauh pada Mas Opik.” Demikian tegas Sobir kembali. “Mengapa kau terdengar begitu pasti menduga hal seperti itu?” “Karena Edi Best bukanlah orang bodoh. Ia membawa Mas Opik dengan disaksikan oleh beberapa dari kami. Jika terjadi hal buruk padanya, bukankah Edi Best akan jadi tersangka utamanya?” Sobir mengatakan argumentasinya. “Ah, benar juga kata Mas Sobir. Baiklah kalau begitu. Sekarang, apakah semua sudah setuju dengan rencanaku?” ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN