BAB 42 - Tanpa Pamrih

1430 Kata
Hingga akhirnya tiba pada sasaran yang tepat, tangan si pemuda menggenggam jemari Wulan.  Mesra, diremasnya jemari lentik dan halus itu dengan penuh perasaan. Dan seolah mendapatkan jawaban, tangan mungil itu terasa beberapa kali bergerak untuk membalas dengan genggaman lembut. Mendapatkan respon yang sedemikian baik serta spontan, tak ayal lagi Bayu langsung bertindak. Dengan kelembutan yang sama, ia menarik tangan kanan Wulan kearah tubuh bagian bawahnya. Lalu … setelah melewati detik-detik yang sempat memacu denyut nadi dengan cepat, berakhirlah perjalanan tersebut  dengan sebuah pendaratan sempurna. Perlahan, dituntunnya jemari Wulan untuk melingkar pada bagian paling intimnya yang sudah sangat menegang. Telapak tangan Wulan yang masih dipegangi Bayu, dengan sempurna telah ia pandu untuk menggenggam miliknya … “Hhh … Wulan …” Diam, dan tanpa jawaban sepatah katapun. Namun, terdengar suara napas memburu dari si gadis yang kini terlihat sedang belajar untuk meremasi benda hangat milik Bayu. “Shhh … pelan, sayang … yang lembut …” rintih Bayu sambil mengalihkan lengannya untuk kembali memeluk kehangatan tubuh Wulan. Disana, ia membalas perlakuan si gadis dengan mengelus sesuatu yang ada dibagian dadanya. “Hhh … jangan … hhhh …” penolakan sebatas kata terdengar, tapi tak ada tindakan sebenarnya yang mencerminkan itu. Karena pada saat bersamaan, Wulan malah membusungkan dadanya sambil dengan gencar membalas dengan melakukan gerakan untuk mengelus serta meremasi milik Bayu. Malampun menjadi semakin panas. Karena belai serta remasan yang mereka lalukan, telah bertambah menjadi semakin liar seiring dengan berjalannya waktu. Dan bahkan Wulan yang semula nampak masih malu-malu, kini sudah terlihat tak lagi perduli dengan sikap pura-puranya. Hingga suatu saat, Bayu menggelinjang keras. Dengan spontan, pemuda itu menarik bahu si gadis agar ia terlentang. Lalu seperti belum cukup, tubuh Wulan ia hela lembut untuk berhadapan miring dengan dirinya. Dan … sebuah ciuman panas langsung ia daratkan dibibir tipis yang masih saja setengah terbuka menikmati belaian tangannya tadi. Ciuman itupun berbalas dengan tak kalah panas dan gemas. Terlebih, saat jemari tangan Bayu mulai menelusup kearah bawah tubuh si gadis. Yang dengan seketika, kini telah membuat gadis tersebut kembali mengeluarkan pekik tertahan. Tak mau kalah, Wulan mengulurkan satu tangan yang lain lagi untuk membantu membelai bagian yang semenjak tadi membuat Bayu jadi kelimpungan tak menentu ... Desah serta erang yang keluar dari bibir keduanya, adalah sebuah irama musik tak beraturan. Namun  anehnya, malah seperti memperdengarkan suara-suara suatu simponi yang indah. Karena didalamnya … dua jiwa yang tengah melupakan semua hal didunia, sepertinya telah begitu hanyut dalam pendakian menuju puncak Nirwana. “Bayu … sshhh” “Wulan … ouhhh ...” “Sayangku …” “Dewiku …” “A-aku mau sekarang …” “Aku juga … ki-kita ba-ba-bar-reng … uhhh …” “I-iya …” Dan, tuntaslah semua sensasi hasrat yang sekian lama tertahan. Bagaikan magma dari gunung api yang tengah tertidur, dengan seketika telah saja membucah dalam sebuah  ledakan dahsyat sebagai akhir pendakian dari kedua orang muda yang tengah mencoba untuk mengenal dunia dewasa itu. Pada belai tangan lembut Wulan, Bayu mendapatkan pengalaman pertamanya yang tak akan pernah ia lupakan. Demikian juga Wulan, ia menggenapi penemuan untuk yang kedua kalinya dalam cumbu mesra sang sahabat pada malam itu.   ---   “Bayu …” “Hmmm …?” “Kamu nakal.” “Kamu juga …” “Tanganku basah, lengket … ishh, kau tak bilang-bilang tadi.” “Mana sempat?” “Hhh … udah sering begitu?” “Beberapa kali saat tidur, setelah aku bermimpi.” “Dasar anak bandel.” “Mimpinya juga sama kamu …” “Ih, diam … jorok!” “Enggak …” “Dasar nakal.” “He he … tapI kamu suka, kan?” “Sekali ini saja … mmm … sama kamu.” “Aku juga …” “Aku mau ke bilik mandi …” “Ayo kuantar …” ***   Malam sudah merambat mendekati tua. Dua anak manusia yang tengah merayakan perpisahan, kini sudah terlihat letih serta mengantuk. Keduanya kembali berbaring untuk beristirahat demi menyambut datangnya hari esok yang baru. “Bay ... eh, ummm Dewa …” “Ya, Dewiku …” “Kita putus!” “Baik, kita putus!” “Terima kasih untuk malam ini.” “Terima kasih juga untukmu.” “Aku tidak akan pernah melupakan yang tadi.” “Akupun demikian.” “Suatu saat nanti, aku akan kembali untuk menjemput semua kenangan disini. Masa kanak-kanakku, remaja … hingga perkenalanku dengan dunia dewasa bersamamu.” “Aku juga berjanji. Entah kapan nanti, kita akan berjumpa kembali dalam keadaan yang berbeda.” “Hmmm … kamu sudah dewasa …” “Kamu pasti akan menjadi seorang wanita yang cantik dan anggun.” “Aku menebak, kamu juga akan jadi laki-laki jantan yang gagah …”  Keduanya berbicara bagai tengah mengigau. Diambang mimpi menjemput, Bayu memeluk Wulan yang berbaring membelakangi dirinya. Kedua tangan si lelaki muda, nampak mendekap dengan penuh sayang tubuh kecintaannya … sementara si gadis memeluk lengan-lengan yang melingkari perutnya. Dan mereka banyak berbicara tentang rencana- rencana  masa depan, disaat nanti keduanya bisa kembali berkumpul dalam indahnya alam  permai pegunungan yang sangat mereka cintai itu. Janji pun terucap, bila pada suatu ketika kelak … kampung halaman akan menjadi persinggahan terakhir bagi jiwa-jiwa mereka yang tak akan mungkin pernah bisa melupakan segala gurat kenangan indah di tempat tersebut. ***   Tiada niat sedikitpun dari Bayu untuk mengganggu pagar ayu. Terlebih, Wulan adalah merupakan  sahabat semenjak kanak-kanak dan satu-satunya teman yang sudah bagaikan saudara baginya. Bila malam itu mereka mencoba untuk melakukan suatu keintiman dalam batas-batas tertentu yang bisa sama-sama dimengerti, hal itu hanyalah sebuah bentuk dari ketidakrelaan hati keduanya untuk berpisah. Bayu paham serta mengerti, jika tertumpahnya hasrat malam itu bisa terjadi karena Wulan hanya mau sekedar berbaik sangka kepadanya. Sejujurnya saja ia juga tahu, jika gadis itu sudah menganggap dirinya sebagai orang terdekat dan satu-satunya orang yang tak pernah dapat  ia tolak apapun kemauannya.   Sebab itulah, si pemuda memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk mengajukan permohonan demi tercapainya obsesi selama ini. Yaitu … memiliki Wulan sebagai mahluk lawan jenis yang dapat ia sayangi sebagaimana layaknya seorang laki-laki mencintai wanitanya. Meski begitu, apa yang sudah mereka lewati bersama malam ini adalah sesuatu hal teristimewa yang lebih dari cukup berarti baginya. Karena Bayu memang menyayangi Wulan dengan seutuhnya tanpa pamrih. Jadi dengan demikian, segala permasalahan lain yang akan menyangkut pada hal ikhwal percintaan manusia dewasa …   biarlah saja waktu akan menentukan siapa yang mendapatkan kehormatan untuk memiliki itu. Tanpa perlu terucap, mereka sudahlah sangat paham jika apa yang dilakukan malam itu hanyalah sebatas demi tujuan untuk menunjukkan keikhlasan dari pengorbanan masing-masing. Tentunya semua itu memiliki maksud supaya bisa dua orang sahabat saling mengerti, bahwa hingga titik akhir perpisahan … mereka telah sama-sama menitipkan rasa percaya yang tulus pada  lainnya. Percaya, jika tak akan ada yg bisa merubah rasa persaudaraan dan persahabatan mereka. Dan juga  keyakinaan akan  rasa cinta pada desa mereka. Serta sekaligus, untuk menciptakan sebuah prasasti bersejarah sebagai semacam simbol yang akan membuat mereka selalu merindukan tanah tumpah darah mereka.  Dan juga … sebuah janji suci serta sumpah setia agar sampai saatnya nanti, mereka bersedia untuk pulang kembali ke tempat itu. ---   Sedangkan Wulan sendiri, kini sedang  mengenang sahabatnya yang ia kenal sebagai lelaki baik dan bertanggungjawab. Perpisahan esok, pastilah akan membawa sebuah kepedihan hati serta kehampaan didalamnya. Namun ia sendiri sudah bertekad, jika hal tersebut tak akan sedikitpun membuat beban bagi langkah kakinya yang sudah yakin pasti untuk menapaki masa depan nanti. Dalam berbaringnya di keremangan, Wulan tersenyum saat membayangkan betapa di kampus Bayu nanti akan banyak gadis yang mengejar lelaki muda tersebut. Tentu saja, karena semua itu adalah merupakan  berkat dari kebaikan hati serta ketulusannya sendiri. Tak heran, karena si pemuda pastilah akan selalu dengan ringan tangan menolong siapapun teman-temannya yang sedang berada dalam kesulitan. Terlebih lagi … pastilah ia tak akan pernah membiarkan seorang gadis pun yang ada didekatnya bersedih. Namun semuanya itu bukanlah satu hal berarti yang harus dirisaukan oleh seorang Wulan. Karena persahabatan mereka selama ini, adalah sesuatu yang sudah sekian lama terbangun dengan apa adanya dan tanpa disertai pamrih. Seperti yang terjadi malam ini … Baik Wulan maupun Bayu, masing-masing tak sedikitpun memikirkan untuk bertindak lebih jauh lagi hanya demi kepuasan sesaat. Karena apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, adalah sebuah momentum yang sengaja ingin mereka bangun. Yakni dengan tujuan  agar keduanya memiliki ikatan yang lebih kuat lagi untuk menunaikan janji yang sudah sering terucap semenjak kecil. Yaitu … sebuah janji untuk memajukan serta melestarikan tanah mereka dengan berupaya mencari ilmu serta pengalaman sebanyak-banyaknya di kota. Kemudian,  kembali pulang untuk membangun desa beserta seluruh penduduk yang selama ini sudah menjadi saudara-saudara mereka di sepanjang masa. ***       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN