Sang gadis kembali mendesakkan kepala si pemuda untuk semakin merapat pada dadanya, walau hal itu langsung saja mengakibatkan ia jadi sibuk menghindari kecupan karena rasa geli yang seolah tak lagi dapat lagi ditahan. Tapi meski begitu; tak urung tetap saja ia menggeliat sambil menyodorkan yang sebelah, ketika puncak yang satunya lagi menginginkan untuk berganti menerima kecupan.
Lalu sesaat berikutnya … suara-suara rintihan sang gadis terhenti, hingga tempat itu terdengar sedikit sunyi saat hanya terisi oleh suara desah panjang dalam tarikan napas yang terasa berat dan semakin teratur. Sementara di bagian bawah tubuh Wulan … gelinjang pinggulnya nampak semakin bergerak cepat dan liar, saat dengan spontan ia mengikuti irama belaian pada satu titik yang menerima sentuhan intim.
Hingga tak lama kemudian … terlihat beberapa kali pinggang si gadis tersentak, lalu kembali bergerak dalam ritme konstan yang bertambah cepat. Wulan terdengar mendengus untuk mengambil napas panjang, lalu melanjutkan gerakannya dalam geliat yang semakin liar.
Sampai akhirnya, tubuh itu berhenti bergerak. Dan tak menunggu lama, ia nampak bergetar hebat dan seketika menjerit panjang dalam semampu suara yang dapat ditahannya,
“Ohhh … iyahh … ya, ssshhh sekarang … aku, aku mau … ooouuuhhhh …”
Bagai histeris, kedua tangan Wulan memeluk erat tubuh yang ada didepannya. Pinggul gadis itu terlihat bergeletar hebat beberapa kali, dibarengi dengan remasan jemarinya yang seolah ingin merobek kulit pundak si lelaki. Pada bagian bawah tubuh si gadis, jari nakal si lelaki muda terlihat masih terjepit diantara dua pahanya ….
Sunyi, sepi dan kosong … Sang gadis nampak mematung dengan kedua tangan yang terkalung dibelakang leher Bayu. Lalu detik berikutnya, ia bergerak perlahan untuk menarik dirinya agar bisa sedikit merenggang. Dan ketika wajahnya tepat berada di depan bayu, dikecupnya bibir si lelaki dengan cepat sambil berkata singkat,
“Kamu nakal!”
Bibir itu menempel tak sampai satu detik. Karena sang pemilik segera memberontakkan tubuh untuk dilemparkannya menuju sisi kosong di sebelah si anak lelaki.
“Wulan …” panggil Bayu dengan suara lembut.
“Ohhh, diam. Tidur sajalah … aku malu …” demikian jerit Wulan sambil terus menelungkupkan tubuhnya ke atas pembaringan.
Bayu terbengong sampai tak dapat menentukan sikapnya untuk merespon reaksi si gadis. Peraduan itu menjadi sunyi sepi kembali, karena hanya terisi suara desah napas Wulan beserta gerakan cepat dadanya yang naik turun.
Sepertinya, ia tengah meredakan rasa yang beberapa saat lalu sangat mengguncang jiwanya. Seluruh tubuhnya lemas, dan kini telah sepenuhnya jatuh dalam pelukan peraduan hangat yang berada di bawahnya.
---
Perlahan, Bayu mengambil selimut yang masih terlipat rapi di pojokan tempat tidur. Dengan rasa bercampur aduk, dibukanya lembaran kain tersebut. Lalu, ia menghamparkannya pada tubuh telungkup yang hanya tertutupi oleh secarik kain kecil di bagian bawah.
“Sssst … istirahatlah. Terima kasih, Wulan …” bisik si pemuda sambil terus memeluk tubuh ramping yang terbaring dibalik selimut.
”Kamu jahat!” terdengar sebuah suara yang teredam kurang jelas. Wulan berucap, namun setengah wajahnya ia sembunyikan pada bantal dimana kepalanya diletakkan.
“Ah … maafkan aku. A-aku keterusan hing-hingga berbuat terlalu jauh …” penuh penyesalan, sang sahabat memohon sebuah pengampunan.
“Kamu jeleeeekk …”
“Iya … aku jahat, aku hmmm … jelekk … ampuni aku!”
“Huh, egois!” rengek si gadis yang terus saja menyerang dengan kata-kata saat merasa tidak mendapatkan perlawanan dari lelaki sahabatnya itu.
“Iya … aku terlalu mementingkan keinginanku saja.”
“Hmmm ngaku! … emang, yaa … kamu itu bener-bener egois dan nggak ada pengertian sedikitpun …” terdengar kembali suara si gadis yang terus saja ngedumel tanpa mau memalingkan sedikitpun wajahnya.
“Yaa … mau bagaimana lagi. Semua udah terlanjur. Dan aku … sekali lagi aku minta maaf,” bisik Bayu membujuk sambil tetap mendekap tubuh dibalik selimut yang sepertinya belum mau berhenti mengomel.
“Dasar … Bayu curang! Ih, kamu itu kalau adu permainan apapun denganku, selalu saja curang!” meningkat, kini tuduhan tentang keegoisan sudah berkembang menjadi tuduhan akan sebuah permainan yang kurang fair.
“Curang? Curang seperti apa? Bukankah …”
Belum juga Bayu menyelesaikan kalimatnya, sudah mendadak terdengar suara isakan dari balik selimut.
Wulan menangis!
Dan tentu saja, hal itu telah menjadikan si anak lelaki bertambah bingung. karena merasa perlu untuk memperjelas masalah, iapun mendekap dengan lebih kuat tubuh yang kini terasa bergundang perlahan akibat isak tangis sang gadis.
“Sssstt … Wulan, diamlah … jelaskan padaku dimana kecurangannya …”
Diam … karena sepertinya, Wulan belum mau menjawab pertanyaan itu.
Hingga beberapa saat lamanya, si lelaki muda masih mendengar isak lirih dalam dekapannya. Namun dengan berlalunya waktu, tangis itu hilang dan berganti menjadi suara sesunggukan kecil.
---
Bayu jadi paham setelah untuk sejenak ia merenungkan semua kata-kata si gadis. Karena menurut apa yang ia ucapkan padanya tadi, sepertinya Wulan jadi merasa malu kepada Bayu sesaat setelah hasrat gadis itu terlampiaskan. Sebab alasan itulah, pemuda tersebut hanya berani diam tak bergerak tanpa mau mencoba lagi untuk bertanya atau mengucap sesuatu.
Sekian lama menunggu, akhirnya bibir mungil yang masih saja disesakkan keatas bantal itu mulai berucap kembali,
“Bayu …”
“Hmmm …”
“Kamu nakal.” Wulan langsung saja menyerang dengan kata yang tadi.
“Iya, aku nakal.” Pasrah, si lelaki mengakui perbuatannya.
“Dan kamu curang …” sebutnya lagi dengan kata yang tadi juga sudah ia tuduhkan.
“Boleh aku tahu dibagian mana aku curang.”
“Uhhh … mungkir nggak mau ngaku.”
“Aku mau mengakui jika kau tunjukkan, dan ternyata memang melakukan sebuah kecurangan.”
“Hmmm … pinter bohong. Kamu itu curang … buktinya …”
“Buktinya apa?”
“ishhh … nggak tahu malu. Curang tapi tak mengaku! Buktinya, kamu lihat tubuhku … kamu pegang-pegang aku. Tapi kamu sendiri … ishhh!”
“Aku kenapa?” tanya kembali si lelaki yang benat-benar tak paham inti permasalahannya dan mendadak jadi bodoh tentang pembahasan tersebut.
“Huhhh! Dasar laki-laki … ngomong bohongnya enak, pura-pura nggak tahu salahnya apa. Udah pegang-pegang … lihat, aku sampai kedinginan karena baju kau lepas. Tapi kamu sendiri? Ishhh … masih pakai baju lengkap begitu! Huh, dasar Bayu!” suara Wulan terdengar sebal, namun didalamnya terdapat nada manja yang melukiskan betapa sebenarnya ia gemas pada sang sahabat.
“Ohhh …” tersentak, Bayu langsung saja melihat sebuah pencerahan.
Hampir saja ia tertawa, namun tentu saja harus ditahannya dengan sekuat tenaga. Sebab bisa-bisa, keadaan akan menjadi runyam jika tingkat ngambek si gadis menjadi bertambah besar. Berpikir cepat, akhirnya ia menemukan sebuah solusi yang dirasa bakal membuat gadis itu berhenti merajuk.
Dengan tergesa, si lelaki muda bangkit dari berbaringnya. Kemudian dalam gerakan super cepat yang menggunakan semua energi serta kelincahan tubuhnya, Bayu langsung melolosi semua kain yang melekat pada tubuhnya.
Setelah tak ada sisa selembar benangpun dipermukaan tubuhnya, lelaki muda itu lanjut berbaring dan menarik selimut yang digunakan oleh Wulan. Tanpa menimbulkan suara, Bayu menelusup kesana untuk menempatkan diri agar berbaring sejajar dengan si gadis.
Kemudian … sebuah dekapan hangat telah kembali memagut kehalusan kulit Wulan yang hanya tertutup pada satu bagian paling intim saja. Seperti tak ingin mengusik kembali kekesalan hati si gadis, dihelanya lembut lengan Wulan supaya ia merubah posisi berbaringnya.
---
“Ishh … apa-apaan, sih …” demikian gerutu si gadis saat tangan sahabatnya menarik lembut lengannya agar ia terlentang.
“Ssst … katanya mau lihat ...” bisik si pemuda dengan malu-malu.
“Ihhh … kamu ngeres! Siapa juga yang mau melihatmu begitu?” pekik Wulan sambil otomatis merubah posisi berbaringnya.
Kali ini, Wulan nampak sengaja memperlihatkan sebuah penolakan keras. Sebab berbeda dengan kemauan Bayu, gadis tersebut malah terlihat memunggungi si pemuda dengan berbaring miring searah dengan Bayu yang berada dibelakangnya.
Si pemuda meringis tanpa suara. Namun karena sangat hapal dengan tabiat si gadis yang memang seperti itu, iapun tak berkecil hati. Lagipula ucapan Wulan tadi juga merupakan sebuah pernyataan tersirat, jika sebenarnya gadis tersebut sudah mengerti bagaimana keberadaan tubuh si pemuda yang telah polos tanpa pakaian.
Dengan demikian, kesimpulannya hanyalah satu. yaitu, Wulan sedang bermain ‘kura-kura dalam perahu’ dan juga sekaligus ‘malu-malu kucing’. Alias, berpura-pura bodoh untuk mengabaikan kenyataan bila apa yang dilakukan oleh Bayu adalah karena permintaannya yang terasa aneh dan sangat memalukan.
Lalu meskipun ia masih sangat penasaran untuk mengenali organ intim Bayu sebagai pembalasan atas perbuatan pemuda itu … tetap saja Wulan harus menunjukkan bahwa dirinya tidak butuh untuk itu.
Dan karena Wulan tak mau kehilangan muka, iapun harus membuat satu peran dimana dirinya harus tampak sebagai korban. Tentu saja … jurus paling tepat bagi terciptanya sebuah alibi, adalah membalikkan fakta dengan mengatakan jika pemuda itulah yang kini berniat untuk memaksanya berbuat sesuatu.
“Wulan … eh, maafkan kalau ini mengganggu perasaanmu …” mengalah, Bayu berpura-pura menerima tuduhan si gadis demi mengobati kekesalan hati sahabatnya itu.
“Hmm … udah tahu aku nggak suka, kamunya nekad.”
“Ya gimana … aku juga pengin,” jawab si pemuda untuk memancing reaksi
“Pengin apa?”
“Emmm … pengin kamu jadi yang pertama melihatku dan menyentuhku …” untuk mengangkat ego Wulan yang terlanjur turun karena momen sebelumnya, kini Bayu menggunakan siasat dengan berbuat seolah-olah dirinya sendiri yang menginginkan itu.
“Ih, nggak tahu malu …”
“Tapi aku pengin …”
“Enggak! Issh, dasar Bayu! Tukang rayu …” masih mempertahankan gengsi, gadis itu menolak dengan keras.
Kembali meringis kehilangan akal, Bayu terdiam sambil menatap belakang kepala si gadis yang merupakan satu-satunya area tak tertutup selimut. Sementara didalamnya, lengan Bayu sudah sedemikian nyaman memeluk tubuh telanjang hangat dengan tanpa penolakan sedikitpun.
Sadar jika ia harus melakukan sesuatu yang cukup frontal namun sekaligus juga bisa mempermalukan dirinya sendiri, pemuda itu menggeser lengan kanannya yang menindih tangan Wulan. Dengan perlahan, jemarinya membelai sepanjang lengan si gadis untuk merayap mendekati pergelangannya.
***