Bagi Bayu sendiri, pemandangan seperti itu sebenarnya bukanlah suatu hal yang asing. Bahkan setiap harinya, ia bisa melihat bagian tubuh seperti itu pada saat penduduk desa sedang mandi di sungai atau bilik-bilik kamar mandi darurat tanpa atap.
Namun, yang satu ini sangatlah berbeda dengan apa yang biasa ia saksikan secara sambil lalu. Karena apa yang tengah dipertunjukkan padanya, adalah milik paling berharga dari seorang yang ia sayangi.
Kemudian … suasana malam dalam momentum perpisahan yang sejujurnya saja telah mempengaruhi hati serta pikiran, adalah merupakan satu hal selanjutnya menjadi penyebab mengapa pemandangan itu menjadi sedemikian istimewa.
Terlebih lagi dengan adanya dalih tentang kemungkinan untuk tak dapat berjumpa dalam kurun waktu yang lama, tentunya juga menjadi faktor pendukung bagi kedua orang muda tersebut untuk melakukan hal-hal yang dirasa akan dapat mengabadikan kisah tersebut di hati masing-masing.
Namun yang tak kalah menakjubkan hati Bayu, sebenarnya adalah wujud riil dari apa yang terpampang kini dengan begitu jelas dihadapannya. Karena menurut mata serta hatinya, apa yang dimiliki oleh Wulan itu adalah sesuatu yang sangat indah baginya.
---
Terpana, Bayu menatap kelembutan kuncup yang hendak menjelang mekar itu. Pandang mata si lelaki muda terlihat begitu mesra, dan serasa tak ingin berkedip sedetikpun karena kekagaguman akan betapa eloknya bagian paling pribadi dari gadis yang teramat ia sayangi.
Namun tak sebatas hanya pada itu saja yang menyebabkan si lelaki jadi semakin demikian mengagumi Wulan. Karena ia tahu bila apa yang sedang dilakukan oleh si gadis, adalah sebuah bentuk dari pembuktian tertinggi untuk menunjukan perasaan kasihnya kepada Bayu. Juga dalam keikhlasan serta kepasrahan Wulan itu, ia menemukan suatu pengorbanan besar yang dilakukan oleh si gadis untuk dirinya.
Sang pemuda tahu bagaimana sifat serta kejujuran hati sahabat kecilnya. Sebab itulah, ia mulai mencoba menggali kembali untuk mengerti tujuan sebenarnya. Karena seorang gadis yang bernama Nawang Wulan, tidaklah mungkin akan sudi melakukan suatu perbuatan yang memalukan seperti itu jika tanpa memiliki sebuah alasan kuat.
Menyadari hal tersebut, sedikit demi sedikit si lelaki muda menjadi paham. Bahwa kesediaan Wulan untuk memperlihatkan seutuhnya diri dihadapan Bayu tanpa sedikitpun merasa ragu ataupun malu, adalah satu wujud rasa percaya yang sedemikian besar dari gadis tersebut kepada sang sahabat.
Dan bila jujur menyusun dengan lebih tegas ke depan, hal itu bisa juga akan berarti merupakan sebuah pesan bagi si pemuda. Bahwa saat itu, si gadis tengah menitipkan sebuah janji suci kepadanya … yang di suatu saat nanti, akan ia penuhi utuh bila sudah tiba waktunya kelak. Dimana, Wulan juga akan menuntut si pemuda untuk bersedia pulang kembali pada tempat yang sudah membesarkan mereka dahulu.
---
Setelah beberapa saat membisu dengan lidah kelu yang tak kuasa diajaknya berkata-kata, akhirnya Bayu berucap dengan penuh permohonan.
“Bolehkah aku …?” tanya si lelaki muda penuh mesra sambil mencoba mengangkat kedua tangannya ke arah tubuh si gadis.
“Hhh … iya. Sentuhlah … tapi .. lembutlah padaku …” masih dengan malu-malu, Wulan menjawab. Lalu, ia menyambut jemari lelaki dihadapannya untuk digenggamnya erat menuju bagian tubuh yang diminta.
Perlahan, Wulan membimbing kedua telapak tangan Bayu untuk dibawa menuju dadanya. Wajah sang gadis menunduk, seolah ingin menyaksikan sendiri ketika telapak tangan-tangan gemetar itu mulai menempel pada permukaan kulit halusnya.
“Shhh … kekasih …” seketika saja, sang gadis mendesah sambil menengadahkan wajahnya keatas. Sementara, kedua tangannya masih tetap menggenggam jemari si lelaki yang menangkup diatas dadanya.
“Dewiku …” Bayu menyahut, lalu mulai membelai bagian tersebut untuk menuruti naluri purba yang mendadak saja menyembul dalam hasratnya.
“Hu ummm … shhh …” Wulan kembali mendesah, saat sensasi yang belum pernah ia rasakan itu menerpa kalbunya dengan sedemikian hebatnya.
Setengah sadar karena angan yang melambung sedemikian tinggi, si gadis meliukkan tubuhnya dalam gelinjang yang tak mampu lagi ditahannya. Dan ketika belai lembut itu berubah menjadi sebuah remasan gemas, pekik kecil tertahan telah menjadi sebuah keniscayaan akan arti nikmat yang ia rasakan disaat pertama dalam hidupnya.
---
Bayu pun belum pernah merasakan sensasi yang begitu menggetarkan jiwa seperti saat ini. Bagai ingin meledak, dadanya begitu sesak karena menahan diri untuk menekan semua perasaan yang mendorong untuk bertindak cepat.
Namun Ia paham, jika semuanya harus dilakukan dengan perlahan dan penuh kelembutan. Karena itulah, telapak tangan yang menemukan sebuah bagian kenyal dan begitu lembut itu tak henti membelai serta meremas dengan penuh mesra.
Saat menemukan betapa begitu terlenanya si gadis cantik itu dalam menikmati sentuhan, sang lelaki pun semakin percaya diri. Tanpa tergesa, kedua tangannya terus melembuti bagian indah dan halus bagai pualam yang sedemikian menggetarkan hati.
Seturut naluri untuk menyayang, Bayu bangkit dari duduknya untuk ikut berlutut. Tanpa tergesa, wajahnya bergerak mendekati wajah Wulan dan kembali mengecup bibir setengah terbuka yang sedemikian menggoda hasratnya.
Bak gayung bersambut, bibirnya langsung saja mendapatkan respon dalam sambaran hangat basah yang diberikan oleh si gadis. Dan kembali … sepasang merpati berpagut mesra dalam kecipak bibir yang terdengar bak nyanyian lagu rindu di malam syahdu.
Beberapa kali kedua wajah sedikit menjauh untuk mengambil jeda bernapas, lalu kembali merapat lagi untuk mengejar kenikmatan yang baru mereka kenal malam ini. Hingga akhirnya, bibir sang pemuda menggeser ke arah dagu dan mulai menjelajah menuju bawah.
Dan seiring pengembaraan dalam area barunya, Bayu mendengar sebuah rintihan lirih diantara desah napas Wulan yang semakin memburu disaat telapak tangannya meremas dengan lebih mesra lagi.
Dan … terbuailah sudah keduanya, karena semua kenyataan telah hilang dan berganti menjadi sebuah mimpi indah diantara hembusan napas yang menyatu diantara kehangatan bara api asmara.
Beberapa kali Wulan menggelinjangkan tubuh, karena semakin tak dapat menahan diri lagi dari amuk dahsyat nikmat yang mendera. Kelembutan dan kemesraan yang ia rasakan, kini benar-benar sudah membuang semua akal sehatnya.
Lalu seiring hasrat yang semakin meninggi, ia menegakkan tubuhnya yang masih bertumpu pada kedua lutut. Kemudian, diraihnya belakang kepala si pemuda untuk terus menunduk agar semakin merapat mendekati dadanya.
Hingga akhirnya,
“Ahh … shhh, kekasih ...” bibir gadis itu mendesis setelah memekik kecil dan memanggil sang kekasih yang malam itu tak memiliki nama nyata di hatinya.
Wulan meremas kuat rambut di kepala si lelaki yang kini semakin menunduk ke bawah lehernya. Dan tanpa mampu menahan lagi, pekik lirih kembali terdengar mengiring geliat serta gelinjang tubuh sang gadis yang sedang mencoba untuk meresapi semua nikmat di tubuhnya. Karena, pada saat itu … dengan beraninya, bibir si pemuda telah mengecupi puncak-puncak bukit yang semenjak tadi telah begitu menegang menunggu sentuhan.
Dengan gemas digenggamnya sejumput rambut Bayu, lalu kembali didesakkan agar semakin merapat pada dadanya. Dan saat kenikmatan itu datang dalam gelombang yang semakin dahsyat melanda jiwa ... desahpun telah menjadi rintih panjang yang melukiskan betapa ia telah sedemikian lupa diri dari semua yang ada disekitar.
---
Laki-laki muda yang masih ingusan dalam melakukan urusan biologis itu, memang belum pernah mengenal sedikitpun bagaimana mestinya ia bertindak untuk memperlakukan seorang wanita. Namun, hal itu tidak serta merta menjadikan dirinya buta sama sekali tentang sebuah proses alam yang telah ada sejak jaman dahulu kala itu.
Naluri purba sebagai seorang pejantan, telah kembali menuntun dirinya dengan natural untuk memperlakukan badan lawan jenisnya agar siap untuk melakukan langkah biologis selanjutnya. Mengikuti panggilan insting; kedua tangan yang tadi menangkup kelembutan hangat sang gadis, kini ia turunkan dengan menggesernya ke sepanjang sisi luar lekuk tubuh yang tengah berdiri tepat didepannya.
Si lelaki tetap mengecupi bagian hangat yang semenjak tadi seolah enggan untuk ia lepaskan dari pandang dan sentuhan. Sementara, tangannya terus membelai semakin ke bawah, menuju kehangatan diantara kedua kaki yang setengah terbuka.
Telapak Bayu menelusup lembut memasuki sejumput kain tipis, dan menemukan sebuah area basah serta hangat yang seketika telah membangkitkan minat dari dalam jiwa lelakinya.
“Ahhh … hhh Pelan … sayangi aku … Perlakukan itu dengan penuh kelembutan,” Bagai tersengat, Wulan menjerit. Lalu rintihannya menyusul bersama tubuhnya yang menjadi bergetar sedemikian hebat ketika tangan nakal itu memasuki kain penutup dan membelai pusat sensitifnya dengan mesra.
Sepenuh hasrat yang menggelegak, namun tetap dikendalikan oleh rasa kasihnya kepada sang gadis; lelaki muda itu membelai. Lembut, perlahan, dan sepenuh mesra … jemari tangan si pemuda terus menelusur sepanjang garis lembut hangat yang spontan mebuat gadis tersebut mengerang tanpa sadar.
Wulan terus mendesah, lalu sesekali merintih dengan diselingi jerit kecil ketika bagian dirinya yang begitu berharga semakin dicumbu rayu oleh tangan lembut memabukkan.
“Mmmhhff … iyah, ya ya … disitu,” bisiknya seperti tengah meracau, Namun sebenarnya, ia mengatakan itu untuk menunjukkan bahwa jemari si pemuda lugu telah menemukan sebuah titik paling sensitif pada bagian tersebut.
Jari-jari nakal yang bergerak menuruti naluri itu, sepertinya telah menemukan satu spot pada sudut atas area milik Wulan yang telah demikian membengkak. Bahkan tanpa disadari, seolah ia juga menjawab belaian itu dengan sebuah kedutan lembut disana.
“Hu um … disitu. Kekasih … kekasihku yang tersayang … iyahhh …” lalu suara-suara yang memberi komando pada jemari, terdengar telah menjadi sebuah rintihan panjang.
---
Dengan cepat, pemuda itu telah belajar bagaimana menyiapkan lawan jenisnya untuk menuju proses selanjutnya. Masih dalam kelembutan yang sama, jemarinya terus membelai area yang kini semakin basah dengan kehangatan dalam aroma feminim khas penggoda kaum maskulin untuk segera melakukan proses pembuahan.
Ia menggesek jarinya dengan konstan, lembut dan kadang menekan perlahan ... lalu menggoda dengan hanya melalukan gosokan ringan kembali. Cairan yang menempel pada jari-jarinya, secara naluriah dioleskan kembali pada bagian itu, sehingga menjadi licin dan terasa lebih menggoda raga.
Sampai suatu ketika ... gelinjang tubuh Wulan semakin menghebat. Kedua tangannya tetap erat memeluk belakang kepala yang tanpa bosan mengecupi dadanya yang semakin terasa bengkak dan mengeras itu.
Lalu dalam gelinjang yang kuat, sang gadis menengadahkan wajah dengan mata membeliak yang kadang terpejam kembali dengan lebih rapat lagi. Terlihat, ia begitu menikmati sensasi dahsyat yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Napas gadis itu semakin tersendat … erangan dan rintihan bertambah sering keluar dari bibirnya yang tak dapat menutup dengan rapat. Bibir itu terlihat basah, dan juga agak bengkak akibat pagutan-pagutan yang telah mereka lakukan tadi.
Dan tak lama kemudian, Wulan mencengkeramkan tangannya dengan lebih erat saat merasakan sebuah dorongan dahsyat adrenalin mengalir bagai gelombang pasang yang hendak menghempas tubuhnya.
***