BAB 39 - Mencoba Mengukir Kenangan

1629 Kata
Usia mereka memang masih sangat muda jika diukur dari kacamata umum. Akan tetapi, pada kenyatannya malah sudah banyak  teman sepermainan mereka di desa itu yang telah berumah tangga bahkan juga memiliki momongan. Sedangkan keduanya, malah bisa dikatakan masih sama sekali  hijau atau belum sedikitpun mengenal apa yang dinamakan dengan adegan romantisme manusia dewasa. Namun meski begitu, perkembangan biologis manusia saat menginjak umur 18 tahun, adalah waktu yang sudah cukup siap untuk mengenali  serta merespon tindakan apapun yang berkaitan dengan hasrat kemesraan dari lawan jenis. Apalagi pada usia tersebut, hormon seorang manusia muda sehat justru tengah berada dalam puncaknya. Seperti yang terjadi pada dua anak manusia tersebut pada saat itu. Mereka terhanyut dan dengan cepat melupakan semua gagasan tentang norma susila, sebagai akibat dari suatu pengalaman yang memabukkan jiwa serta membakar raga dalam getar hasrat menggebu. Dengan terhuyung akibat lemas pada semua bagian syaraf, dua anak muda itu memasuki kamar untuk terburu-buru menemukan sebuah tempat meneruskan kemesraan yang lebih nyaman. Bayu lebih dulu naik keatas dipan, lalu mengulurkan tangannya untuk memandu Wulan yang terlihat setengah sadar mengikutinya. Si lelaki menempatkan dirinya untuk duduk diatas kasur, kemudian memposisikan gadisnya dengan sedemikian rupa di hadapannya. Lutut kiri Bayu yang sengaja diangkat dengan telapak kaki menapak kasur, akhirnya bisa menjadi tempat bersandar nyaman bagi Wulan yang langsung meletakkan kembali sebelah lengannya pada bahu sang kekasih. Sementara, yang satunya lagi ia pergunakan untuk menggenggam telapak tangan si lelaki yang mulai membelai pipinya. Remang peraduan yang hanya diterangi sebuah lentera kecil, serasa menambah aura kemesraan mereka. Karena dua pasang mata yang sudah sama-sama sayu, nampaknya telah semakin terbuai dalam mimpi indah diantara kenyataan yang ada. Syahdu dalam keinginan mencumbu, si lelaki menatap dengan penuh hasrat sambil membelai wajah kesayangannya dalam binar mata lembut penuh cinta. Malam itu, sang gadis memang nampak begitu cantik serta lugu dalam balutan daster tanpa lengan berwarna kuning. Kain yang digunakan untuk membuat pakaian itu terasa cukup tipis,  hingga ia bisa merasakan pelapis didalamnya saat tadi memeluk. “Kamu cantik …” bisik si pemuda dengan perlahan. Mendengar lelaki itu memuji dirinya, sang gadis tertunduk dengan tersipu malu. Wajahnya memerah dadu, namun di bibirnya tersungging sebuah senyum manis. Melihat  tersebut, Bayu tersenyum dan kembali memeluk Wulan dengan lebih erat. Tangan kiri ia pergunakan untuk merangkul bahu, sementara yang kanan ia telusupkan ke depan perut gadis itu. “Kapankah kita akan dapat berjumpa kembali?” “Entahlah … bisa saja cepat, tapi dapat juga akan menjadi sangat lama hingga kita bisa berkumpul lagi disini,” dengan gamang, si gadis menjawab sedih. “Aku rasa, inilah waktu yang sudah digariskan untuk kita berpisah dalam jangka waktu lama. Hhh … semoga saja kita bisa cepat berjumpa kembali.” “Tak ada yang terlalu cepat atau lambat dalam sebuah pertemuan. Terima kasih, karena perpisahan malam ini akan bisa kujadikan sebuah kenangan abadi saat jauh nanti ...” bisik Wulan lirih dengan tanpa disadari sepenuhnya. “Aku yang harus mengucap terima kasih karena telah menerima kerelaanmu yang dengan tulus mengabulkan semua keinginanku.” Wulan hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata apapun, lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang pemuda. Setelah beberapa saat terdiam, si pemuda melonggarkan pelukannya. Ia mengusap lembut rambut dan pipi gadisnya, lalu mengecup lagi bibirnya dengan lembut untuk beberapa saat. Kembali mereka saling berpandangan, dan dua pasang mata saling menatap seolah tengah menjenguk isi hati masing-masing. Namun akhirnya, Wulan menjadi yang pertama mengalihkan pandangan mata karena tak kuat menatap sinar mata Bayu yang begitu membuat hatinya merasa sedih. “Aku akan merindukanmu,” demikian bisik Bayu dengan suara yang terdengar pilu. “Aku juga … merindukan kamu dan semua penduduk desa yang selalu baik denganku. Aku juga akan selalu merindukan hutan, sungai dan keindahan alam ini …” demikian balas si gadis. “Maksudku … aku a-aku mencint …” Belum juga selesai mengatakan maksudnya, mendadak saja sang gadis menutupi bibir Bayu menggunakan jemarinya sembari menyahut, “Ssstt jangan katakan itu!” “Kenapa?” “Karena saat ini tak ada ruang bagi kita untuk membicarakan itu. Yang kuinginkan, hanyalah membuat sebuah kenangan agar aku tak akan pernah melupakan tempat ini. Mengukir sesuatu yang indah, agar aku selalu menginginkan untuk kembali kesini.” “Hanya itu saja? Tanpa aku diperbolehkan  menyatakan isi hati?” “Tidak untuk sekarang. Karena apapun yang akan kau ungkap, hanyalah akan memberatkan langkah kita dalam mencapai cita-cita …” “Lalu kapankah aku bisa mengatakannya?” “Setelah kita sama-sama bisa membuktikan, sesudah kamu bisa menunjukkan … bahwa si anak lereng gunung terpencil telah mampu menaklukkan dunia untuk dibawanya kemari, demi kemajuan saudara-saudaranya …” “Hmmm … bisakah kita?” “Kenapa tidak?” Keduanya kembali terdiam. Dan saat sang gadis menatap betapa sedihnya ekspresi dari  pemuda itu, langsung saja ia mengetatkan pagutan pada pundak yang serta merta meluncur naik untuk meraih tengkuk dan menariknya perlahan untuk mendekatkan wajah Bayu pada dirinya. Kata-kata menjadi tak berarti lagi buat mereka. Dengan penuh luapan perasaan, mereka kembali saling merapatkan pelukan seolah tak ingin untuk berpisah lagi. Peluk cium akhirnya menjadi ekspresi rasa campur aduk diantara mereka. Dan … hanya dengus napas dan desah lirih yang menemani dan mengantarkan keduanya ke alam penuh mesra malam itu. Tak menunggu lama, hasrat keduanya kembali terbangkitkan. Keduanya paham bahwa apa yang tengah mereka lakukan adalah suatu perwujudan dari rasa  tak ingin kehilangan satu sama lain. Dan juga keinginan mengukir sebuah peristiwa bersejarah disaat hendak berpisah, selagi mereka masih berada di tempat yang mereka cintai bersama. ---     Kembali hanyut,  bibir pun saling berpagutan erat dengan lebih syahdu karena kini mereka lebih merasakan berat untuk berpisah. Lalu tangan yang saling membelai dengan lembut tanpa sadar, dengan seketika telah langsung membuat seluruh bulu roma  meremang. Bibir Bayu yang semula mencium lembut kelopak bibir si gadis, kini  mencoba untuk melakukan sebuah eksperimen. Seiring rasa ingin tahunya, iapun mulai menelusurkan wajah untuk mendesak semakin turun menuju area jenjang dibawah dagu. “Hhhh … geli …” bisik Wulan sambil menggelinjangkan tubuhnya saat kecupan panas itu mendarat di leher. “Aku sayang kamu …” hanya itu jawab si lelaki sambil terus mengecupi seluruh bagian leher hingga pangkalnya. “Pe-laannn …” bisik si gadis sambil mencengkeram dengan erat lengan si pemuda karena geli yang sedang ia coba tahan. Sampai sesaat kemudian, pengembaraan Bayu tiba pada bahu si gadis yang hanya tertutup sebuah tali. Dalam cahaya redup, ia melihat betapa halus dan bercahaya kulit disana. Lalu saat tak mampu lagi menahan getar hati, digesernya sedikit  tali penahan  daster yang masih terpasang di pundak agar kain yang  menutup tubuh  gadis itu menjadi terbuka. “Hhh … jangan …” tolak Wulan sambil sedikit menghindarkan pundak dari sasaran bibir. “Plisss … dikit saja. A-aku ingin …” “Hhh … nakal …” demikian jawab si gadis, yang lalu membiarkan tindakan nekad tersebut. Dalam sekali tarikan pelan ke bawah, kain itu tersingkap. Lalu dari baliknya sepasang lembah indah tertutup sebentuk kain lembut langsung saja tertangkap oleh pandangannya.  “Dewiku …” “Ya …?” “Bolehkah aku …”?” “Jangan …” “Aku ingin menjadi yang pertama melihat dan menyentuhnya …” bisik si lelaki membujuk. “Jangan … aku malu.” Kembali sang gadis menolak. “Nggak papa … disini gelap.” Bayu tetap bersikukuh. “Ta-tapi …” “Pliss … kabulkan permintaanku ini, agar bisa kujadikan kenangan selama jauh darimu.” Dengan sedikit meratap, lelaki muda itu memohon. Dan satu hal yang kembali membuat Wulan meluluskan permintaan tersebut, adalah sinar mata dari sahabatnya yang benar-benar penuh harap dalam keluguannya. Paham jika dirinya akan merasa bersalah jika menolak, akhirnya iapun kembali mengalah.  ---   Si gadis menatap wajah tak berdosa didepannya, yang terlihat tersenyum dengan gugup karena harapan untuk segera dipenuhi keinginannya. Seperti kebiasaannya semenjak dahulu, sifat sang lelaki muda memang begitu. Karena meskipun Bayu selalu menuruti kata Wulan dan setia setiap saat untuk menjadi pengekornya, namun dalam satu dua hal ia justru memiliki sebuah senjata ampuh untuk memaksa sang sahabat demi memenuhi permintaannya. Anak tunggal yang merupakan satu-satunya teman terbaik dalam suka dan duka sang gadis, adalah juga seorang anak yang sedemikian manja tak hanya pada orangtuanya. Sebab dengan gadis sahabatnya itu, Bayu juga sangat pandai merayu serta merengek agar dituruti segala keinginan. Seperti saat ia meminta sebuah ciuman, dan juga sekarang ini … dimana ciuman coba-coba yang mereka lakukan dengan mengatasnamakan sebuah kenangan, akhirnya telah semakin merambat dan mengakibatkan membesarnya minat dan rasa ingin tahu terhadap bagian tubuh lawan jenis yang bersifat pribadi. Lalu karena memang tak pernah tega untuk menolak permintaan apapun dari si anak manja namun baik hati tersebut … Wulan dengan tulus serta ikhlas merelakan dirinya untuk dijadikan sebagai sebuah pelampiasan rasa ingin tahu. Lagipula, bukankah gadis itu juga menginginkan sebuah kenangan yang indah meskipun hal tersebut terasa sedikit berlebihan? ---   Karena sebab sebab itulah … sekulum senyum malu-malu jadi mengiringi gerakan Wulan yang dengan perlahan menarik tangannya dari rangkulan pada leher Bayu. Si gadis sedikit mundur, lalu menyingkirkan sisa kain daster yang masih menggulung perutnya. Setelah itu, kedua tangannya meraih kebelakang punggung sambil matanya melirik kearah wajah Bayu yang terlihat tegang. Kedua bola mata sang lelaki, nampak tak berkedip menyaksikan apa yang hendak dilakukan oleh si gadis. Terlebih senyum malu-malu yang tersungging di bibir tipis beserta lirik mata sedikit nakal itu, nampaknya dengan sengaja dilakukan untuk menggoda dirinya yang memang selalu manja pada gadis tersebut. Selanjutnya, dengan berani Wulan melepaskan pengait penutup dadanya. Tak hanya sampai disitu saja. Karena  secara spontan ia malah berdiri diatas kasur dengan menggunakan lututnya. Kemudian dengan penuh percaya diri meskipun masih menyiratkan tersipu, ia menghadap langsung pada si lelaki muda tersebut dan menarik pembungkus dadanya untuk lepas dari menutupi bagian yang sangat ia banggakan. Wulan melakukan semua gerakan itu dengan perlahan; sembari tak sedikitpun melepaskan pandangan nakalnya pada sang sahabat, yang hampir setiap kesempatan di masa lalu selalu saja ia goda … ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN