Lembut dan syahdu … kecupan itu mendarat lembut layaknya sebuah pemujaan pada sesuatu yang sangat ia kagumi. Beberapa saat, kehangatan itu begitu teresapi oleh keduanya. Lalu, seakan Wulan dan Bayu telah benar-benar terhanyut dalam alunan lagu merdu yang mereka sendiri tak mengetahui artinya. Dan rintik hujan serta tetes air yang turun dari teritis rumah pun, menjadi melodi yang mengisi nada-nada hati dalam pelukan.
Si lelaki muda mengangkat kepalanya, lalu kembali menatap dalam sorot lembut. Tanpa ucap, diraihnya dagu lancip dan mungil si gadis, lalu ditengadahkannya sembari ia menundukkan wajah untuk dirapatkannya kesana.
Wulan yang masih terpaku dalam buai mesra, nampak membalas tatapan tersebut dalam sorot kemesraan yang entah muncul dari mana. Ia menunggu dengan rasa ingin tahu, karena apa yang dinantikan semenjak tadi akan segera ia dapatkan.
Namun kurang beberapa senti dari bibirnya, mendadak saja Bayu menghentikan gerakan. Dan dengan mata yang masih melekat pada kejernihan tatapan si gadis, ia kembali berkata,
“Aku akan menciummu …”
“Ya … aku tahu.”
“Boleh?”
“Hu um … kau pernah melakukannya?”
“Belum. Kamu?”
“Aku juga belum. Hanya pernah melihat saja di film-film. Hhh … Kau bisa?”
“Hmmm … aku tak tahu,” jawab kembali Bayu sambil menggeleng perlahan.
“Terus …?”
“Kita coba saja?”
“Yah … kita coba saja. Ajarilah aku …”
“Kita sama-sama belajar …”
“Hu um …”
“Dewiku …”
“Iya, Dewaku …”
“Aku sayang kamu …”
“Aku juga menyayangimu …”
“Terimalah tanda cintaku …”
“Iyah, aku menunggu …”
Begitu selesai mengucap kata, Wulan melihat wajah lelaki didepannya semakin merapat. Lalu, matanya terbelalak ketika ia merasakan sebuah kehangatan dari bibir yang bergetar itu telah saja menyentuh miliknya yang bagai menggigil tanpa bisa dihentikannya.
Seperti pada saat keningnya dikecup, bibir Bayu menempel lembut disana untuk beberapa waktu. Layaknya seekor kupu-kupu hinggap diatas kuntum bunga yang tengah mekar, bibir si lelaki mengecup lembut dan terdiam untuk beberapa saat menikmati kehangatan yang menggetarkan jiwa.
Waktu bagai terhenti dengan tertahannya napas kehidupan, dikala keduanya terdera oleh sebuah rasa asing yang begitu menggetarkan jiwa. Degub jantung berpacu dengan lebih cepat, lalu segera menyesakkan ddada yang membuat napas mereka menjadi semakin berat untuk dihirup.
Hingga suatu ketika … secara hampir bersamaan keduanya saling menarik wajah untuk kemudian langsung menghirup udara sepuasnya, demi mengisi kembali paru-paru yang terasa panas. Setelah rasa sesak itu hilang, keduanya kembali saling menatap … lalu sama-sama tersipu malu begitu dua pasang mata bersipandang.
Bagai kilat, tatap mata mereka mengalirkan sebuah sengatan kecil yang langsung menuju hati. Dan seketika saja, sepasang merpati muda itu menjadi jengah serta tak tahu harus melakukan atau mengatakan apapun pada yang lain.
Sampai akhirnya, suara Bayu memecahkan keheningan malam,
“Terima kasih, Dewiku … malam ini telah kudapatkan ciuman pertamaku.”
“Te-terima kasih kembali, De-dewa … hhh. Mmmm …”
“Apa? …” tanya Bayu setelah mendengar keraguan Wulan disaat ia ingin mengucapkan sesuatu.
“Ahh … enggak,” jawab si gadis dengan tetap tertunduk malu.
“Katakan, agar tak menjadi penyesalan setelah kita tidak lagi bersama.”
“Eh, mmm … hanya seperti itukah, eh … ra-rasa sebuah ci-ciuman?” jengah, si gadis langsung menyurukkan wajahnya di bahu sang pemuda setelah mengucapkan sebuah kalimat sedemikian berani dan terus terang.
“Ah … mmm ma-af … aku memang belum bisa melakukannya dengan benar. Kenapa?”
“Ka-karena, itu tak seperti yang aku lihat di film atau baca dari buku … hhh …”
“Hmmm … mungkin kita memang belum bisa melakukannya dengan baik …”
“Ah, iya …”
“Kamu ingin kita mengulangnya lagi?” tanya si lelaki muda dengan jantung yang kembali berdetak kencang.
“Oh … boleh kah? Hhh …”
“Mmm … mungkin sebaiknya harus kita lakukan lagi, agar bisa menjadi sebuah kenangan yang lebih indah …”
“Ah, iya … aku pikir juga begitu.”
“Kamu mau?”
“I-iya … a-aku mau …” jawab Wulan dengan rasa malu yang ia tahan.
Karena sejujurnya saja, sang gadis memang menginginkannya lagi. Dengan harapan agar ia dapat memuaskan semua rasa penasaran dan sebuah pembuktian, tentang betapa indahnya sebuah ciuman pertama seperti yang terlukiskan dalam narasi cerita buku-buku percintaan.
Bagi Wulan; ciuman pertama yang ia dapatkan dari desa tercintanya, adalah suatu hal teramat penting dalam imajinasinya kini. Sebab hal itu memang hendak dijadikannya sebagai satu-satunya kenangan indah yang bisa dimiliki, setelah ia meninggalkan tempat tersebut untuk waktu yang lama nanti.
Terlebih lagi, ia malah jadi merasa tanpa beban. Karena peristiwa bersejarah yang ia inginkan, kini justru bisa dlakukannya dengan melibatkan sosok lelaki muda itu. Dimana ia sangat mengerti, bahwa Bayu adalah merupakan satu-satunya lelaki yang begitu berarti dalam kehidupan masa lalunya. Karena bersama sahabat semenjak kecilnya itulah, semua cerita bahagia telah tertulis layaknya buku dongeng kanak-kanak.
Karena itulah … saat menyadari bahwa dirinya harus menorehkan sesuatu dalam masa lalu yang akan segera ia tinggalkan, Wulan pun jadi tergerak untuk mengukir sebuah goresan dalam hati yang akan tetap abadi. Supaya, ia tak akan pernah kehilangan kenangan pada akar kehidupannya di tempat itu.
Dan karena meyakini jika hanya pada Bayu seorang saja, ia bisa menitipkan semua kisah hidup sebagai gadis muda miskin papa pinggiran hutan layaknya saat ini. Sebuah tekad akhirnya telah jadi membulat.
Karena bersama sang bocah yang sudah menjadi sahabat bahkan saudara baginya itu, ia menjadi percaya pasti. Bahwa, dialah figur yang paling tepat untuk dijadikannya sebuah perlambang. Dimana pada Bayu ia akan menyerahkan semua kata kerinduan untuk kampung halaman, sebelum bisa datang kembali pada tanah tumpah darah tercintanya.
---
“Pejamkan matamu …” bisik Bayu saat ia hendak kembali melabuhkan kecup bibirnya yang kedua.
Sejenak, Wulan menatap tak mengerti. Namun beberapa detik setelah kesadarannya terbuka, iapun menuruti permintaan si lelaki. Perlahan matanya terpejam … dalam wajah yang tetap tertengadah dan bibir setengah terbuka, yang seolah sudah tak sabar untuk menunggu datangnya sebuah kenangan indah di saat paling penting di awal kedewasaan.
Sementara dengan berusaha sekuat mungkin untuk meredam gemuruh dalam dadanya, Bayu mencoba keras untuk mengingat suatu adegan romantis dalam sebuah film yang pernah ia lihat. Menetapkan hati, ditundukkannya wajah untuk menjemput bibir merekah yang kini sedang berada dalam penantian.
Dan, bibir si lelaki memagut mesra kelopak bibir Wulan bagian bawah. Semesra kasih dikecupnya kelembutan basah disana, lalu iapun jadi tak ragu lagi untuk mulai mengulum bagian yang tergetar itu. Hangat, Bayu menyesap kekenyalan lembut yang dengan seketika telah membuat hasratnya melambung jauh.
Sedangkan di pihak Wulan sendiri … perlakuan Bayu saat itu, adalah merupakan suatu hal paling mendebarkan yang pernah ia alami semenjak dirinya menjadi seorang gadis. Karena bahkan saat ia harus bertarung, tubuhnya malah tidak semenggigil seperti saat ciuman itu datang dengan begitu berani.
Sebab jauh berbeda dari yang tadi, pagutan yang ia rasakan kini seolah telah membetot sukmanya untuk terbang tinggi dalam pelukan sang mega putih di angkasa. Lalu tatkala gemetar bibirnya sudah tak dapat diredam lagi, Wulan membalas pagutan Bayu dengan sebuah kulum lembut pada bibir atas si pemuda.
Lunglai dan begitu lemas seolah segenap tulangnya dilolosi, Wulan menggapai. Dengan sedaya yang ia mampu, diraihnya kembali pundak Bayu … disana, kedua lengannya langsung saja ia kalungkan ke belakang leher si pemuda yang lalu mendekap tubuhnya dengan erat.
“Kekasih …”
“Kesayanganku …”
Mereka saling memanggil, saat keduanya bertukar pagut dengan bibir pasangan masing-masing. Hingga ketika sesuatu yang menyesakkan dadanya memohon untuk terlampiaskan, dengan beraninya sang gadis mengeratkan rangkulan lengannya untuk semakin mendesakkan tubuh depannya pada si lelaki muda.
“Hhhhh …”
“Yahh hhh …”
Hanya desah dan kecipak suara dua bibir beradu yang terdengar. Dan dalam kurun waktu itu, keduanya pun mulai belajar untuk saling mengecap serta mengecup demi melampiaskan rasa ingin tahu serta untuk menemukan kesukaan masing-masing.
Sampai suatu ketika, bibir mereka terpisah ... lalu dua wajah memerah yang saling menjauh, nampak mengambil napas dengan terengah tanpa mau melepaskan pelukan mereka masing-masing. Dua pasang mata saling memandang, dan langsung kembali terpejam setelah saling mengerti arti yang tersirat dalam sorot keduanya.
Seakan tak mau menunggu lagi … dua bibir kembali saling menyatu untuk melebur semua mesra yang ingin mereka ukir dimalam terakhir sebelum terpisah.
Mereka belajar dengan cepat. Karena tanpa membutuhkan waktu lama, masing-masing telah bisa menyatukan ritme yang bisa melebur semua rasa. Hanyut terbawa syahdu, dua insan terlelap dalam imajinasi yang semakin membuat terlena dalam buai api membara.
Namun dalam asyik masyuk yang terlalu enggan untuk diabaikan itu, mendadak saja …
… Krrrtttt … terdengar suara pintu berderit.
“Ehh …”
“Hati-hati …”
Keduanya terkejut saat daun pintu kamar tidur Wulan terbuka akibat terdorong oleh tubuh gadis itu sendiri. Wulan yang terlalu menghayati cumbuan itu, nampaknya dengan tak sengaja telah menyandar disana. Hingga akhirnya, tubuh keduanya harus berpeluk lebih erat agar tidak terjatuh ke dalam.
“Hhh … maaf,” bisik Wulan dengan malu.
“Nggak papa, aku memegangimu.”
“Kakiku lemas …”
“Kita duduk saja?”
“Hu um …”
“Dimana?” tanya kembali Bayu sambil matanya menengok keseberang pintu kamar.
“Eh, terserah …”
“Di dalam?”
“Bo-boleh … nggak papa?”
“Nggak papa …”
***