BAB 37 - Cinta Satu Malam?

1995 Kata
“Ishh … ngapain pegang-pegang? Katanya disuruh tidur …” terdengar ngambek, Wulan langsung mengomentari perbuatan Bayu sambil menggeliatkan tubuhnya untuk melepaskan diri. Namun apa yang dilakukan oleh si gadis, sepertinya hanyalah sebuah usaha yang setengah hati. Karena setelah sekian lama, apa yang seolah tengah diupayakan itu sepertinya sia-sia saja. Bukannya dapat keluar dari pagutan tangan yang tak seberapa erat, perbuatan tersebut malah menghasilkan suatu kebalikan.  Sebab entah bagaimana; yang terjadi dari akibat pemberontakan tubuh tanpa niat itu,  malah berakhir dengan dua tubuh yang saling berpelukan secara berhadapan. Kedua tangan masing-masing saling menginisiasi tanpa sadar. Bayu dengan sepasang lengan yang merangkul erat dibagian pinggang, sedangkan Wulan nempak meletakkan kedua telapak tangan diatas bahu sang pemuda. Lalu terjadilah apa yang disebutkan sebagai sebuah perbuatan spontan sebagai akibat suatu keadaan tertentu. Karena seketika saja, gesekan dua tubuh hangat itu langsung saja menimbulkan suatu reaksi yang lazim terjadi pada dua orang muda dalam gejolak masa pubernya. Mereka yang sebenarnya sudah saling memendam sesuatu sepanjang malam itu, dengan cepat telah langsung saja hanyut terbakar percikan bara api cinta semu. Lalu terdorong oleh hasrat yang membucah, Bayu malah  sudah tidak mampu untuk lebih lama lagi menahan diri … Tanpa sepatah kata terucap, tangan kanannya terulur untuk memegang dagu Wulan yang sedang menunduk. Sedangkan sang gadis, kini hanya terlihat mandah saat tarikan yang tak seberapa kuat itu memandu wajahnya agar menegadah menghadap pada wajah si pemuda. Beberapa detik, mata mereka saling menatap. Lalu sesaat kemudian, mata Wulan terpejam saat wajah sahabatnya menunduk untuk menjemput bibirnya ... Satu, dua, tiga detik … sang gadis menunggu. Namun apa yang dinantikannya tak juga kunjung tiba. Hingga akhirnya, gadis itu membuka mata kembali untuk mengetahui apa yang terjadi. ---   Beberapa centi dari wajahnya, Wulan melihat sebuah ekspresi yang sedemikian mengharu birukan perasaan. Karena wajah Bayu yang masih tertunduk dihadapannya, nampak begitu mesra menatap dirinya dengan sorot mata yang sarat akan berjuta makna. Tatap mata pemuda itu seperti gelisah, namun didalamnya tersirat sebuah pemujaan yang melukiskan betapa ia sangat mengagungkan sosok ramping dalam pelukannya. Apalagi dengan  kedua tangan yang kini berpegangan pada pundak Bayu, seolah melukiskan jika sang gadis  telah memasrahkan dirinya pada apapun yang diinginkan oleh sang pemuda. Tapi, nampaknya justru hal itulah yang membuat Bayu menjadi tertegun dan berpikir untuk mengurungkan niatnya. Karena entah mengapa, segenap rasa hormat serta sayangnya pada si gadis telah seketika menciutkan nyali si pemuda baru gede. “Wulan …” hanya bisik tertahan yang keluar dari mulut Bayu. Sementara, jemari tangan kanannya masih tak juga ia lepaskan dari dagu si gadis. Dengan lembut, ibu jarinya juga tetap  mengusap perlahan belahan bibir bawah Wulan yang sedemikian menggoda hasratnya. “Bayu … kenapa?” balas si gadis dengan bisik yang tak kalah lirih. Wulan seperti bingung dan juga merasa frustrasi untuk melawan hasratnya sendiri yang sudah tidak mau lagi diajak untuk kompromi. “A-aku ingin menciummu …” jawab kemudian si lelaki muda dengan sedikit gugup. “Lakukanlah … bukankah aku sudah berjanji padamu?” “Tapi aku ingin melakukannya dengan cara yang benar,” bisik kembali sang pria yang belum juga matang sepenuhnya dalam kedewasaan. “Bagaimanakah cara yang benar itu? Kau belum bisa men-mencium?” “A-aku belum pernah melakukannya … lalu kini, aku ingin melakukannya. Te-tapi … kamu sahabatku.” Dengan bisik yang semakin lirih seperti tengah putus asa, Bayu mencurahkan isi hatinya. “Terus kenapa?” “Karena, aku ingin mempersembahkan ciuman pertamaku untuk sang cinta pertama.” “Aku juga ingin seperti itu …” “Lalu?” “Entahlah …” jawab Wulan yang kini sudah benar-benar menjadi frustasi dengan akhir dari penantian malam itu. ---   Hening membisu .. lalu terdengar gemerisik suara bagian tubuh mereka yang secara perlahan melepaskan diri dari pegangan pada tubuh masing-masing sahabatnya. Tangan Wulan mendadak lemas, lalu pegangan pada bahu Bayu seperti terlepas dengan sendirinya. Lunglai, kedua telapak tangan mungil itu meluncur menyusur lengan-lengan Bayu untuk semakin turun menuju pergelangan tangan si lelaki yang sudah menjuntai kebawah. Namun ketika telapak tangan Wulan hendak terangkat dari sana, mendadak saja … “Wulan …” panggil Bayu sambil menangkap pergelangan tangan si gadis, lalu menggenggam jemarinya dengan erat. “Ya …?” “Maukah kamu menjadi kekasihku?” tanya si lelaki dengan nada yang tak pasti. “Kekasihmu? Aku nggak mau!” “Kenapa?” “Karena aku juga kamu hendak pergi saling jauh. Dan, aku tak akan pernah sudi untuk memiliki seorang kekasih yang akan terpisah jauh dariku untuk waktu yang sangat lama …” “Kenapa?” “Karena aku tak mau makan hati! Memiliki kekasih untuk satu malam, tapi berpisah selama bertahun-tahun … rasanya nggak lucu!” jawab Wulan dengan tegas. Kemudian ia melanjutkan ucapannya untuk sekaligus menanyakan sikap Bayu yang secara tiba-tiba hendak menjadikan dirinya sebagai kekasih dari pemuda itu. “Bayu, kenapa tiba-tiba saja kau ingin menjadi kekasihku?” “Karena itulah cara yang paling benar.” “Bagimu? Apa alasannya?” “Bagi kita! Karena bila sudah menjadi pasangan kekasih, kita akan bisa saling mencium cinta pertama masing-masing …” Jawaban yang dilemparkan oleh Bayu, terdengar simpel dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sepertinya si anak tunggal manja yang selalu mendapatkan apapun kemauannya, kini hendak membuat sebuah tingkah baru. Yang tentu saja, semua itu dilakukan  demi pembenaran bagi kepentingannya sendiri. ---   Tapi yang namanya seorang gadis sedang dimabukkan oleh khayalannya sendiri, alasan tersebut malah segera dipertimbangkannya sebagai usulan yang sangat masuk akal. “Lalu setelah itu?” tanya kembali si gadis yang mendadak saja mulai terpengaruh dengan ide aneh dari si anak bandel. “Emmm … ya terserah kamu.” “Huh … kamu itu aneh. Bagaimana kalau aku ingin putus besok pagi?” sahut kembali Wulan. “Kenapa?” “Sebab, aku tidak mau terbelenggu dari jauh dan juga merasa terbebani karena memiliki seorang kekasih yang tak bisa aku temui setiap saat.” “Terus, bagaimana enaknya? Malam ini saja pacarannya?” tanya Bayu sambil tetap tak mau melepaskan pelukannya. “Ishhh … Cinta satu malam?” “Bukan cintanya yang hanya satu malam …” “Tapi …?” “Cintaku, adalah perasaan yang sepenuhnya menjadi milikku. Demikian juga engkau, terserah saja akan memaknai cinta yang kau rasakan.” “Jelaskan maksudmu …” ---   Masih saja sambil menggenggam erat si gadis yang kini tak lagi mempermasalahkan pakaian tidur tanpa lengannya, Bayu mulai menjelaskan tentang apa yang ia inginkan dari Wulan. Dengan jujur, ia mengatakan bahwa selama ini hanya gadis itulah satu-satunya yang bisa membuat hatinya merasa dicintai dan diterima apa adanya. Kebersamaan tanpa batas dengan saling membantu dan mengasihi, pada akhirnya telah memberikan sebuah makna mendalam bagi si lelaki. Yakni, kedekatan tanpa pamrih yang membuat ia bahagia dan bisa selalu nyaman menjadi dirinya  sendiri. Kemudian, tibalah saat yang mengharuskan mereka berpisah karena mendadak saja Wulan dijemput oleh sang paman. Waktu itu, Bayu masih belum memikirkan tentang betapa seriusnya dampak yang akan ditimbulkan karena kepergian gadis sahabatnya itu. Pikirnya; ia hanya akan merasakan kesedihan selama beberapa waktu, lalu bisa segera melupakan seiring berlalu waktu dan juga bertumbuhnya kedewasaan. Namun ternyata, yang terjadi malah sebaliknya. Karena ia merasakan betapa hampanya hari-hari yang dilewati tanpa Wulan, yang selalu bisa mengerti dirinya dan mau melakukan apapun demi kebahagiaan Bayu. Hal tersebut memang tidaklah mengherankan bagi siapapun, termasuk juga kedua orangtua Bayu. Karena selama Wulan masih tinggal di desa tersebut, bisa dikatakan jika waktu berpisah keduanya hanyalah disaat tidur malam. Pergi ke Sekolah, bermain, mengerjakan tugas dari guru, belajar, bahkan hingga memancing ikan serta berlatih silat pun itu semua mereka lalukan bersama di keseharian. Jadi, kehilangan gadis itu adalah suatu hal terberat dalam masa remaja Bayu yang harus ia lewati. Hingga akhirnya, perjumpaan kembali selama beberapa ini bagaikan sebuah oase yang ditemukan oleh Bayu dikala ia tengah mengembara di padang gurun yang gersang. Karena dalam sekejab, semua kebahagiaan yang pernah ia miliki telah kembali bersama kepulangan si gadis yang sudah sedemikian penuh mengisi hidupnya. Karena semua alasan-alasan tersebut, akhirnya si pemuda mengatakan dengan jujur bahwa keinginan dirinya itu adalah satu hal yang memang benar-benar muncul dari dalam hatinya sendiri. ---   “Maafkan Aku, Wul … perpisahan kita esok, mungkin akan kurasakan dengan lebih berat lagi dibandingkan dengan dulu. Sejujurnya, aku hanya menginginkan sebuah kenangan yang indah bersamamu. Mungkin, itu adalah ada satu hal yang bisa sedikit meringankan perasaanku.” Demikianlah ia menyimpulkan semua yang telah dikemukakan tadi. Mendengar kata-kata yang terucap dalam nada sedih itu, Wulan pun masih tetap diam. Hal pertama yang membuatnya sedikit terkejut, adalah karena ia sama sekali tidak menyangka jika Bayu bisa mengeluarkan isi hatinya dengan runtut dan dalam bahasa indah. Tak seperti dulu yang terkenal sebagai bocah bandel asal bicara, kini ia terlihat lebih serius dan memiliki analisa tepat untuk melukiskan isi hatinya sendiri. Dan disaat itulah Wulan menyadari jika sang sahabat memang sudah menjadi sedikit berubah. Dan perubahan yang ia rasakan, adalah lebih sebagai satu hal yang positif bagi perkembangan pribadi Bayu sendiri. Sebab tak seperti dulu, kini ia jadi dapat melihat bila Bayu sedang beranjak dewasa. Karena ia yang selama ini dikenalnya sebagai anak manja dan lebih berperan sebagai pengikut setia Wulan, sekarang sudah mampu mengungkapkan apapun perasaannya tanpa harus mengamini apapun perkataan si gadis. Dan lebih daripada itu, sang pemuda pun jadi terlihat sedang membentuk kepribadiannya sendiri yang seiring jalan nanti akan menjadikannya figur mandiri dan tak mudah terpengaruh oleh orang lain. Mengetahui hal demikian, si gadis mulai menanggapi setelah mencoba berpikir dengan logika dari sudut pandang sang pemuda. “Apa yang kau kira bisa meringankan perasaanmu nanti?” “Mengetahui bila kita pernah merasakan sebuah kemesraan bersama. Saling memiliki dan mencintai, walaupun hanya satu malam saja. Tentunya, kesibukan kuliah di kota yang sama sekali baru bagiku. Disana, semoga saja semua waktu serta energiku yang keluar akan bisa melipur semua kehampaan saat jauh darimu.” “Melupakanku?” tanya sang gadis dengan pertanyaan yang tajam. “Melipur sebuah kesedihan akibat perpisahan, sangatlah berbeda dengan melupakan.” “Ohh … aku pun akan begitu. Semua waktu akan kuhabiskan untuk belajar serta bekerja, sehingga tak ada tempat luang bagi sebuah ratap sedih perpisahan ini.” “Kau akan sedih?” “Pasti aku akan merasa sedih karena sudah kembali terpisah dari akar dan juga sahabat terbaikku.” “Hanya sahabat?” “Sahabat yang aku sayang.” “Tak ingin menggantikannya dengan kata Kekasih?” “Aku tak ingin jauh dari kekasihku …” “Kenapa harus mengenangku sebagi sahabat, sementara kita masih memiliki kesempatan untuk mengenang sebagai kekasih?” “Jika malam ini kita bersama sebagai pasangan kekasih dan aku pergi lagi dengan predikat sebagai mantan kekasihmu … tentu tak akan semanis bila mengenangmu sebagai sahabat. Karena, tak ada sebutan mantan bagi seorang sahabat terbaik.” “Hmmm … bagaimana kalau malam ini, kau jadi kekasihku dan esok kita tetap kembali menjadi sahabat?”  mendadak, Bayu melemparkan sebuah gagasan nyeleneh. “Bagaimana bisa?” “Bisa … jadilah orang lain. Katakan saja, kita adalah dua orang asing yang mendadak jatuh cinta pada pandang pertama. Lupakan sejenak tentang dua sahabat. Malam ini, Nawang Wulan dan Bayu Santoso sudah terbuai mimpi.” “Lalu?” “Lalu aku menyatakan cinta kepadamu.” “Terus?” “Kamu menerimanya … dan kita jadi kekasih. Tapi, esok hari kita harus berpisah karena kepergianmu demi sebuah tugas …” “Lalu, harus menjadi siapakah aku dan kamu?” “Sebagai pasangan kekasih … kamu adalah Dewi, dan panggil saja aku dengan nama Dewa.” “Hmmm … apakah bisa berhasil?” “Kita coba …” “Bagaimana caranya?” ---   Tanpa melepaskan genggamannya pada jemari kedua tangan Wulan, Bayu selangkah menarik tubuhnya kebelakang. Lalu dengan pandang mata menghujam tanpa teralihkan sedikitpun, lelaki itu bertanya sambil terus menatap wajah Wulan. “Dewi, sudikah kau menjadi kekasihku malam ini?” “Dewa … ah, iya … ya, aku bersedia.” Spontan, si gadis menjawab tak kalah serius. Mendengar jawaban itu, sang lelaki muda segera melangkah kembali ke depan, lalu memeluk tubuh ramping dihadapannya. Setelah sebuah dekap hangat penuh kasih ia pagutkan, ditariknya sedikit wajah … lalu, Dewa mendaratkan sebuah kecup mesra di kening Dewi … ***           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN