Setelah makan malam yang terasa sedikit canggung namun juga cukup memberi kesan, keduanya duduk di teras rumah dimana terdapat sebuah bale-bale bambu. Wulan masih tetap dengan pakaian tidur berbalut jaket Bayu, sementara si pemuda sudah mulai membalutkan sarung yang ia bawa untuk menahan hawa dingin pegunungan.
Tampaknya, mendung sore tadi akan menjadi hujan. Karena tak lama kemudian, rintik kecil mulai menitik ke atas genting dan segera memainkan musik bergemericik setelah tetesnya jatuh ke tanah usai mengalir diatas atap teritisan depan. Lampu badai yang tergantung, sesekali nampak bergoyang perlahan yang menandakan jika tak lama kemudian hembusan angin akan segera membawa rintik air yang lebih besar lagi.
“Aku benar-benar akan merindukan tempat ini setelah jauh.” Sambil menerawang, Wulan meresapi bagian dari dunianya yang hening dan penuh kedamaian.
“Hmm … sepi, sunyi dan demikian tenangnya. Hhh … bahkan tetangga kiri kanan juga sudah mulai beranjak ke peraduan.”
“Hampir semua rumah terisi oleh para orangtua. Tanpa cahaya benderang lampu-lampu yang menerangi malam, tubuh-tubuh lelah karena seharian bekerja akan segera terlelap untuk menemukan kebugarannya kembali di esok pagi.”
“Iya … gaya hidup yang sangat sehat.” Demikian komentar Bayu dengan serius. Tumben, malam ini ia tak terlalu bersemangat untuk menggoda dengan membelokkan topik agar bisa mengerjai si gadis.
“Kamu juga, Bay … kalau sudah berada di Jogja besok, janganlah kau ikut-ikutan dengan gaya hidup anak muda yang suka begadang. Itu tidak sehat.”
“Hu um, akan aku usahakan tetap menjaga gaya hidupku yang baik. Di kota kemarin, apakah kau bisa seperti itu?” balas di pemuda bertanya.
“Tentu saja bisa. Aku sekolah hingga siang atau sore. Sepulangnya, kuisi waktu dengan sedikit bantu-bantu paman di tempat kerjanya. Seperti disini, kau tahu bila aku tak bisa tinggal diam dirumah seusai sekolah.”
“Hmmm … iya. Lalu malamnya? Bukankah banyak hiburan seperti acara televisi yang bagus, bioskop ataupun Mal?”
“Ha ha … mana sempat aku menikmati semua itu? Malam selalu kugunakan untuk belajar atau mengerjakan tugas. Ya, paling sesekali aku jalan-jalan bersama teman. Itupun sangat jarang dan hanya beberapa kali kulakukan selama tinggal disana.”
“Bareng pacar?” entah ingin tahu, atau memancing-mancing saja. Tapi yang jelas, pertanyaan itu meluncur dengan halus namun dalam nada yang mendesak untuk dijawab.
“Hi hi hi … aku kan masih kecil. Emangnya kamu? Ishhh … masih SMA udah diintilin terus sama si Ami.”
“Eh, dia yang suka aku.” Sahut Bayu dengan sengit untuk menolak tuduhan.
“Tapi kalian pacaran, kan?”
“Ah, enak aja … orang dibilangin aku nggak suka.”
“Hmmm … pasti kamu udah pernah …”
Mendadak, Wulan menelan kembali kata-kata yang hendak ia lontarkan. Karena rasanya, ia seperti menggali lobang sendiri jika membahas masalah cium-mencium di kala saat-saat yang begitu krusial seperti sekarang ini.
“Belum …”
“Loh, belum apa?” Wulan terbengong saat mendengarkan jawaban si pemuda yang dengan terang-terangan langsung menatap dirinya secara terbuka demi menunjukkan kesungguhan.
“Belum pernah cium Ami. Jelas? Dan sampai saat ini, aku belum pernah sekalipun mencium satupun wanita kecuali ibuku.” Seolah mengingatkan janji Wulan yang sudah mengabulkan permintaannya, Bayu langsung saja berbicara ke inti permasalahan.
Seketika, wajah si gadis langsung saja memerah panas. Untung saja, teras hanya tersinari oleh lampu badai yang berkerlip remang. Kalau saja ditempat itu benderang, sudah dapat dipastikan bila wajah yang tersipu malu itu akan terlihat merona akibat desir dadanya yang mendadak jadi tak menentu.
“Ishhh … lagi-lagi kamu ngomongin itu …” jawab si gadis dengan perlahan dan terdengar lembut.
Mengetahui bila jawaban Wulan tak mengandung sebuah kemarahan ataupun penolakan, Bayu tampaknya cukup bijak untuk mengerti bahwa harapannya malam ini sudah akan terwujud. Hanya saja, mereka memang harus sedikit menunggu hingga waktunya tepat.
---
Seolah saling mengerti, kedua sahabat semenjak kanak-kanak itu akhirnya bisa menepis semua rasa canggung yang ada diantara mereka. Sebab apapun yang akan terjadi nanti, sepertinya memang harus terjadi. Namun karena dua hati juga sudah merasa sedikit lega ketika telah mengetahui posisi masing-masing, akhirnya mereka sudah tidak lagi menganggap semuanya menjadi sebuah beban yang dirasa berat.
Pembicaraan jadi mengalir seperti biasa, namun kali itu dilakukan layaknya dua orang yang sudah siap untuk menjadi dewasa. Rencana masa depan dan keinginan-keinginan yang ingin mereka raih, adalah topik selanjutnya yang mengisi diskusi keduanya.
“Apa cita-cita kamu sebenarnya? Dan mengapa harus pergi jauh ke Ibu kota? Bukankah di kota tempat tinggalmu sekarang ini juga terdapat Universitas Negeri?”
“Kalau aku diterima melalui jalur khusus sepeti yang sudah kuajukan, tentu saja akan menjadi seorang Psikolog. Dan itu karena aku mendapatkan sebuah tawaran yang begitu baik dari sebuah Universitas Negeri terkemuka disana.”
“Wah … kamu hebat. Aku sendiri belum tahu akan jadi apa nanti. Yang pasti, tentu saja akan kalah hebat denganmu.” Seperti rendah diri, Bayu mengatakan hal tersebut pada Wulan.
“Bagiku, menjadi apapun itu hebat. Karena yg lebih penting, adalah menjadi yang terbaik di bidangnya. Tak masalah jika ia dokter, Psikolog, Wartawan, Pengacara atau profesi lainnya. Bahkan bila harus bekerja pada orang lain, hal itupun tak akan menjadi masalah. Sebab, ukuran kehebatan seseorang itu ditentukan oleh dedikasinya sendiri, bukan karena jabatan atau gelar yang ia dapatkan.”
“Misalnya?”
“Jadilah yang terbaik dengan bisa melakukan semua tugasmu sepenuh tanggungjawab. Menjadi dokter, tak mungkin akan bisa jadi hebat jika tak disertai dengan belas kasih dan rasa pengabdian pada masyarakat. Demikian juga dengan pengacara … akan percuma jika menjalani profesi itu namun hanya untuk sekedar mencari uang tanpa mengedapankan rasa keadilan bagi semua orang. Akan lebih baik misalnya dengan hanya jadi karyawan biasa; tapi penuh dedikasi, loyalitas, serta kejujuran dalam mengabdi.”
“Ahh … Semenjak dulu aku tak pernah kekurangan rasa kagum padamu. Kamu memang memiliki pandangan yang lebih luas dan bijak. Rasanya … bahkan aku jadi seperti minder dengan kedewasaanmu yang semenjak dulu melebihi usia biologismu.”
“Semua karena pengalaman hidup, Bay …”
“Maksudmu? Bukankah kita tumbuh di suatu tempat dengan latar belakang alam serta budaya yang sama?” tanya kembali si bocah lelaki.
“Untuk itu, kamu tidak salah. Namun tentu saja akan sangat berbeda pengalaman hidup antara dua orang yang berkecukupan kasih sayang serta kebutuhan sehari-hari jika dibandingkan dengan anak lain yang harus bertahan hidup sendiri tanpa dapat menggantungkan pada orangtuanya. Kamu paham?”
“Ahhh … iya. Bahkan, kamu malah harus menjadi tulang punggung.”
“He-mm … dan apapun itu, semua selalu aku syukuri sebagai sebuah karunia. Karena hidup ini akan selalu memberikan rasa pahit dan juga manis. Dan yakinlah … tak ada manusiapun mahluk di bumi ini yang hanya pernah merasakan senang tanpa tahu bersedih atau sebaliknya. Karena, dunia dimana kita hidup, pasti akan selalu mengupayakan sebuah keseimbangan bagi semua mahluk didalamnya.”
Bayu terdiam, seperti meresapkan semua kata yang terucap dari bibir tipis menggemaskan itu. tentu saja, ia berfokus pada kalimat bijak tanpa tergoda oleh bibir Wulan yang sedemikian menarik rasa sayang. Yang sejujurnya saja, pastilah akan selalu mengundang kecupan dari pria manapun.
Dan baru beberapa saat kemudian, si lelaki muda mampu memberikan komentarnya,
“tidak salah … kamu memang berbakat untuk menjadi seorang Psikolog …”
---
Tak meleset jauh dari yang sudah diduga sebelumnya, hujan memang datang mengguyur daerah perbukitan itu dengan derasnya. Dan malam itu, dengan sendirinya telah terselimuti kesunyian yang benar-benar seperti layaknya hidup di tengah hutan belantara. Karena disana-sini sudah tak nampak lagi geliat kehidupan dari para penduduk. Bahkan lampu penerangan pun, hanya terlihat beberapa yang berkelip dari sela-sela dinding rumah tetangga.
Keduanya memutuskan menyingkir kedalam, dan menutup semua pintu serta jendela yang semenjak tadi memang dibiarkan terbuka. Tak berapa lama, udara menjadi hangat karena ruang depan yang diterangi lampu minyak itu sudah berhasil mendapatkan energi panas dari apinya.
Lalu seolah tak mau kalah dalam memberikan kehangatan, tanahpun mulai melepaskan kandungan gas didalamnya. Karena selayaknya bila air meresap ke dalam bumi, dengan seketika akan membuat tanah melepaskan seluruh energi panas yang tersimpan didalamnya. Sehingga suhu alam perbukitan dimana mereka berada, kini pun sudah tak lagi dingin.
Sambil menikmati kopi dan sisa jajanan yang dibawa Wulan dari kota, mereka meneruskan perbincangan. Hingga malam menjadi semakin larut, dua sahabat itu tak terlihat bosan dan terus saja asyik membicarakan apa yang akan mereka lakukan setelah sama-sama meninggalkan desa untuk menuntut ilmu.
Sampai suatu saat, Wulan tampak menguap. Dan hal itu langsung saja ditanggapi dengan sebuah pertanyaan dari Bayu.
“Kamu sudah ngantuk?”
“Emm … sedikit. Tapi, rasanya masih banyak yang ingin aku obrolkan denganmu.”
“Jangan paksakan diri bila memang sudah lelah dan ingin istirahat. Tidurlah … seperti biasa, aku akan tidur disini.” Demikian jawab Bayu dengan begitu santai.
Wulan yang mendengar kata-kata sahabatnya, dengan tanpa sadar agak mengerutkan keningnya. Tentu saja ia jadi heran; sebab dalam nada bicara Bayu itu, tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan jika dirinya adalah seorang yang sudah mengacaukan pikiran Wulan selama sore hingga malam ini.
Dan setelah sekian lama menunggu dengan disertai desir aneh yang kadang menggodanya, Bayu malah menyuruh dirinya untuk tidur dengan tanpa disertai rasa bersalah sedikitpun. Padahal, bukankah permintaan untuk sebuah ciuman itu merupakan ide dan gagasan si anak baru gede yang begitu sembrono itu?
Lalu setelah ia melewati senja hingga malam menjelang dalam serangan beberapa kali ‘dag-dig-dug’ tak beraturan, kenapa ia dengan tanpa dosanya malah menyuruh Wulan pergi beristirahat tanpa terlebih dahulu menunaikan janji mereka tadi?
Apakah itu berarti bahwa ia sudah melupakan semua keinginannya yang tadi begitu menggebu? Sementara, dengan sebaliknya Wulan malah masih belum juga bisa move on dari bayangan akan mendapatkan sebuah ciuman pertama?
---
Tentu saja si gadis merasa dipermainkan dengan keisengan bocah kurangajar itu. Sontak dan mendadak, ia bangkit dengan kesal. Kemudian, ia melepaskan jaket dan mengembalikan benda yang semenjak tadi ia kenakan itu kepada Bayu.
Lalu tanpa perlu berbasa-basi, ia langsung melempar kata sambil menghentakkan kaki dengan sebal untuk melangkah menuju kamar.
“Ya sudah, aku tidur. Dasar pembohong … siapa yang nyuruh berjanji, siapa pula yang lupa …”demikian ucapnya dengan nada yang sulit diartikan.
“Eh, Wulan … sebentar,” sahut Bayu dengan cepat. Sigap, ia langsung berdiri dan melangkah lebar untuk mengejar si gadis yang sudah sampai di depan pintu kamarnya.
Tanpa perlu banyak bicara, Bayu menangkap pinggang ramping dari sosok yang membelakanginya. Dan dalam sekali tangkupan tangan, Wulanpun sudah berada dalam pelukan Bayu yang sudah langsung menyadari kesalahan ucapannya tadi.
***