Dengan tergesa, Wulan keluar dari kamar untuk menyambut sang tamu. Sedikit diluar kebiasaan … sebab sebelum kali itu, ia bahkan tak pernah merasa perlu tergopoh menemui setiap kali kedatangan orang bersangkutan. Karena sesuai adat semenjak dahulu, rumah tersebut akan selalu bebas untuk dimasuki atau bahkan ditinggali oleh Bayu kapanpun ia mau.
Dalam remang yang hampir menjadi gelap, si gadis menyapa bayangan yang sudah berada di ruang tamu rumahnya,
“Masuk, Bay … eh, malah udah masuk.”
“He he, iya. Kok masih gelap?”
“Mmm … aku belum sempat memasang lampu.”
“Biar aku yang memasang lenteranya.”
“Hh, iya … ambil aja. Korek apinya ada disitu.”
“Hu um, aku tahu tempatnya,” sahut si lelaki muda sambil menghampiri sekumpulan lampu minyak yang diletakkan pada sebuah sudut.
Rumah itu memang belum terpasangi aliran listrik. Bahkan di seluruh desa, satu-satunya tempat yang memiliki daya listrik hanyalah rumah Bayu. Itupun karena mereka memiliki generator pembangkit yang dinyalakan dengan bahan bakar minyak.
Penerangan di rumah Wulan, hanyalah beberapa lampu teplok besar dan kecil serta dua buah lampu badai untuk penerangan teras rumah dan juga di belakang dimana disana terdapat keberadaan sebuah bilik mandi tanpa atap. Dan semua ‘barang mewah’ itu, tentu saja merupakan barang bekas pakai dari rumah keluarga sang kepala desa.
“Pemberian ayah dan ibumu masih begitu awet dan bisa dipakai dengan baik.” Komentar Wulan sambil memperhatikan Bayu yang sedang sibuk menyalakan beberapa lampu.
“Itu karena kamu bisa merawatnya dengan baik dan benar. Seperti juga dengan kita ini … persahabatan serta rasa persaudaraan tak pernah rusak karena selalu bisa terawat dengan baik. Walaupun kamu sempat pergi jauh, namun tetap pulang dengan perasaan yang tak berubah pada kami,” jawab Bayu tanpa menengok sedikitpun pada sang gadis.
“Karena memang tak perlu ada yang berubah, Bay … kalian tetap baik, maka akupun harus membalasnya dengan kebaikan yang sama atau bahkan harus lebih.”
“Itu karena kamu anak yang baik …”
“Dan kalian sekeluarga, juga merupakan orang-orang terbaik dalam hidup kami.”
“Benarkah?”
“Tak perlu kau tanyakan hal itu lagi …” tanpa sadar, wajah Wulan mengukir senyum yang menyelingi rasa harunya. Karena apa yang ia ucapkan, adalah merupakan sebuah kebenaran yang tak mungkin dapat disangkal.
---
“Selesai … pasang di tempat biasa?” tanya si pemuda sambil mengangkat sebuah lampu yang paling besar.
“Iya …”
“Baiklah … ehhh …” mendadak saja si pemuda menghentikan bicaranya.
Seketika Bayu terlihat terkejut saat lampu minyak yang tengah ia pegangi sudah terangkat sampai depan tubuh dengan agak menjauh ke sisi kanan. Apa yang bisa sampai membuatnya terpana, adalah karena dihadapannya saat itu terlihat sesosok ramping dalam tangkapan temaramnya sinar lampu minyak. Sebab Wulan yang sedang berdiri, dengan seketika telah langsung saja dapat terlihat dengan jelas setelah kegelapan tempat tersebut menjadi sirna.
Pemandangan itulah yang dengan mendadak telah memaku pandang si pemuda yang tak pernah sekalipun melihat penampilan Wulan dalam keadaan yang seperti itu. Karena dihadapannya saat itu, terpampang seraut wajah rupawan yang seolah berpendar akibat cahaya lampu. Dan hal tersebut, tanpa bisa disangkal lagi telah benar-benar memanjakan mata mudanya.
Tubuh lencir padat yang hanya sesekali ia lihat diwaktu bermain air, nampak bagai seorang dewi malam dalam balutan sepotong daster tanpa lengan berwarna kuning. Dan tak hanya itu saja yang membuat pandang mata tertegun. Karena ketipisan serta karekteristik kain yang jatuh menempel, adalah sesuatu yang seperti sengaja dikenakan agar semua lekuk indah tubuh diambang dewasa itu terlihat dengan indah dipandang mata.
“Ada apa?” tanya Wulan dengan heran saat melihat sang sahabat terdiam mematung sambil menatapnya.
“Ka-kamu cantik dan benar-benar indah …” hanya bisik kata-kata itulah yang mampu terucap dari bibir si pemuda.
“Ihhh … Bayuuu … kamu ngeres!” dengan cepat, Wulan mendekapkan kedua tangan ke depan dadanya. Seketika ia tersadar jika telah salah mengambil pakaian akibat tadi terburu-buru mengambil sesuatu dari gantungan baju saat mendengar kedatangan Bayu.
---
Malu karena berdandan terlalu rapi seolah sedang menyambut kekasih hatinya, Wulan telah melepaskan dandanan bajunya kembali saat masih berada di dalam kamar. Namun tak berapa lama, didengarnya sapa sang sahabat yang menandakan kedatangannya. Dan apa mau dikata, sikap terburu-burunya malah mengakibatkan ia asal mengambil gantinya dengan sebuah baju tidur tipis yang hampir transparan di belakang pintu kamarnya.
“Eh, eh … mau kemana?” teriak Bayu ketika melihat Wulan bergegas pergi untuk memasuki kamarnya.
Kaget, si gadis menghentikan langkah. Namun beberapa detik kemudian, ia menjawab pertanyaan itu sambil hendak kembali melangkah.
“Aku ganti baju dulu,” katanya dengan sedikit judes untuk menutupi malu hatinya.
“Nggak usah,” jawab si pemuda yang tanpa disadari Wulan sudah sangat dekat berdiri di belakangnya.
Namun belum juga ia menengok untuk memperlihatkan keterkejutannya yang kedua, mendadak saja sepasang tangan telah menyentuh pundaknya. Bagaikan terserang kejang, Wulan merasakan kaku alami pada bagian otot yang tersentuh. Namun, rasa itu juga disertai oleh sekaligus rasa lemas pada kedua sambungan lututnya.
Dan saat ia baru saja akan memprotes, sebuah sensasi hangat telah saja spontan melingkupi sekujur tubuh bagian belakangnya. Gemerisik suara yang terdengar akrab, dengan seketika telah membuat si gadis paham. Ternyata, Bayu sudah melepaskan jaket yang ia kenakan untuk disampirkan agar menyelimuti tubuh bagian atasnya.
“Pakai ini saja … biar menghangatkanmu dan … hmmm … menutupi tubuh indahmu.”
“Ishhh … awas, kamu sempat lihat tadi, kan?”
“Dikit aja, kok …”
“Tuhhh … baru sampai disini, kamu sudah nakal.”
“Ihh … bukannya aku juga biasa lihat kamu seperti itu di sungai sana?”
“Tapi, itu kan dulu … aku masih kecil.”
“Kelas satu SMA itu udah besar, Wul …”
“Tapi kan belum segede sekarang.”
“Ahh .., udah, ah … yuk, kita makan saja.” Demikian tutup Bayu untuk menghindari lagi perdebatan dengan si gadis yang sesorean ini selalu bertingkah aneh dan tidak biasa kepadanya.
“Hmm … makan pake apa? Aku belum juga masak.”
“Tuh, dibawain Ibu nasi sama lauk dan sayur. Ikan goreng hasil tangkapan kita tadi, ternyata cukup banyak untuk di makan kita berempat dengan puas.”
“Ya udah, aku ambil peralatan makannya dulu,” jawab si gadis setelah itu, ia langsung mengambil sebuah lampu tempel dan terus saja ngeloyor pergi ke dapur yang masih gelap gulita.
---
Semua hal aneh yang terjadi senja itu, bukannya tidak disadari oleh Wulan sendiri. Bahkan iapun malah menjadi semakin heran dengan perasaan yang baru pertama kali ini ia rasakan saat bersama dengan Bayu.
Karena sangat jelas dan gamblang … kata-kata cinta atau bahkan bayangan romantis sekecil apapun pada si lelaki yang sudah menjadi sahabatnya semenjak kanak-kanak, adalah satu hal yang terlalu jauh untuk mendefinisikan perasaannya pada Bayu.
Tapi … hanya karena gara-gara sebuah permintaan konyol di sungai sore tadi dari si anak lelaki yang kurang sopan, mendadak saja ia telah jadi demikian salah tingkah. Dan bahkan untuk memikirkan dengan akal sehat terkait sebab musababnya saja, ia sebenarnya masih bingung dan belum menemukan jawaban yang pasti.
Saat sedirian tadi, ia memang sempat menganalisa kembali terkait pantas tidaknya ataupun malah hingga kemauan atau kerelaan dirinya dengan permintaan aneh namun sedikit lucu baginya itu.
Jadi aneh, karena mereka berdua adalah merupakan sepasang sahabat yang tak pernah sekalipun berpikiran hingga sampai kesitu. Walaupun, kebersamaan mereka hingga pasca masa akil baliq juga tak pernah membatasi kedekatan sehubung dengan sentuhan ataupun hingga pelukan seperti yang biasa mereka lalukan secara alami.
Lalu yang menjadikan hal itu lucu; adalah mengapa saat hendak berpisah, tiba-tiba saja Bayu memiliki sebuah ide liar untuk meminta sebuah ciuman padanya? Karena jujur saja, Wulan belum pernah sekalipun memikirkan hal seperti itu dengan siapapun laki-laki yang ia kenal. Dan bahkan membayangkan bagaimana cara melakukannya saja, sampai saat itu ia juga masih bingung.
Hal itulah yang menjadikan semua tingkah Wulan terasa janggal dan tak pernah merasa benar. Sebab setelah menyanggupi untuk meluluskan permintaan sang sahabat yang sepertinya tengah mencoba-coba untuk berbuat nakal, jantung si gadis sendiri malah menjadi berdebaran tak karuan ketika waktunya sudah semakin mendekati bagi sebuah pelunasan janji.
Tentu saja, yang ia pikirkan adalah; bagaimana ia harus melakukannya? Apakah ia akan bisa? Atau … apakah Bayu malah sudah pintar melakukannya hingga membuat ia bukan sebagai gadis pertama yang pernah ia cium?
Karena dari dalam lubuk hati yang terdalam … sebuah suara yang entah bersumber dari mana telah berbisik,
“Bayu akan menjadi orang pertama yang menciumku, meskipun dia bukanlah merupakan seorang kekasih. Dan … aku memang sudah mengijinkannya dengan sepenuh keikhlasan. Tapi … apakah aku juga gadis pertama yang akan ia cium?”
Karena bagi Wulan … mereka adalah dua orang sahabat yang telah berikrar untuk saling setia. Dan jauh dalam hati kecilnya, ia juga berharap jika dirinyalah wanita pertama yang akan dicium oleh Bayu.
Pertimbangannya pun hanya sederhana. Sebab, sebagai dua orang sahabat yang saling menyayang, akan lebih baik jika mereka benar-benar saling menyerahkan hak ciuman pertama masing-masing pada ataupun dari satu sama lainnya. Dengan begitu, maka tak ada istilah curang yang akan muncul diantara keduanya hingga berpotensi menjadi perselisihan di kemudian hari.
***
“Ikannya enak … rasanya manis dan kenyal gitu …” Bayu memancing obrolan untuk mengisi acara makan yang mendadak saja jadi canggung.
“Ikan yang hidup di aliran deras sungai, adalah yang terbaik. Lezat, gurih dan bergizi tinggi.”
“He he … iya. Untuk itu, aku percaya padamu. Karena kamulah pakar perikanan yang setiap hari tak pernah telat menyantap ikan.”
“Hhh … karena, itulah anugerah yang diberikan alam padaku dengan gratis. Kalau alam tak sayang padaku, bisa-bisa aku kelaparan atau jadi kurang gizi di negeri yang makmur ini.”
“Hmmm … alam memang sangat menyayangimu.”
“Sang Pencipta juga …”
“Ya, termasuk kami … penduduk desa yang selama ini selalu saja menyayangimu. Tahukah kamu, mengapa bisa begitu?”
“Kenapa?”
“Karena kamu baik dan tak pernah keberatan sedikitpun untuk menolong siapapun yang membutuhkan.”
“Ohhh … ah, itu karena kebetulan saja aku ada waktu dan bisa melakukannya.”
---
Obrolan terhenti. Entah memang benar atau hanya berpura-pura, kedua sahabat itu kembali fokus menatap isi piring untuk menyantap karunia yang sudah diberikan oleh alam pada mereka. Namun yang tak diketahui oleh Bayu, adalah mata Wulan yang sesekali melirik dan kemudian menahan senyum saat kembali melihat penampilan si bocah sahabatnya itu.
Bayu datang dengan pakaian rapi dan perlente, itulah yang dilihat oleh Wulan disaat lampu-lampu dirumahnya sudah menyala dengan benderang. Meskipun yang ia maksud dengan perlente adalah sepotong kaus lengan pendek yang dipadu dengan celana jins, namun tentu saja itu menjadi agak terasa khusus.
Karena tak seperti biasanya yang hanya cukup memakai celana pendek serta sarung, malam ini ia memang terlihat berusaha untuk tampil dengan lebih baik. Dan melihat penampilan yang seperti itu, tentu saja Wulan jadi teringat saat dirinya secara tak sadar juga telah berusaha sedikit berdandan agar bisa tampil dengan lebih cantik.
***