BAB 34 - Sebuah Kompromi

1811 Kata
“Disini? Sekarang? … Bayuuuuuu … kamu nakal! Aku akan mengadukan hal ini pada Ayah dan Ibumu!” Dengan galak, si gadis belia langsung saja berteriak. Tak hanya itu, karena sekarang  ia sudah sepenuhnya bangkit dari rebahan untuk menjaga segala kemungkinan bila sang sahabat menjadi gelap mata dan nekad.   “Huhh … ya sudah! Aku kan sudah bilang kalau kamu boleh menolaknya. Nggak perlu berteriak begitu, apalagi sampai mengancam untuk mengadu pada Ayah dan Ibuku.” Tak mau menanggapi sikap Wulan yang mendadak saja keluar dari jalur sifat tenangnya, si lelaki muda malah bersikap adem dengan reaksi  sedemikian menggebu yang tengah diperlihatkan oleh sahabatnya. “Lagian … kamu ini aneh. Nggak ada angin, nggak ada hujan … tiba-tiba ngomong begitu. Ishh …” ngotot, Wulan masih saja menggerutu karena merasa malu dengan nekadnya permintaan sang sahabat yang dirasanya tak patut. “Yah … namanya juga meminta. Nggak apa juga kalau tidak diberi.” “Yang jadi masalah … kamu sudah bikin aku berjanji. Itulah yang membuatku marah!” “Kenapa harus marah? bukannya aku juga sudah bilang, kalau tak akan kecewa meskipun mendapat penolakanmu?” “Tapi tetep saja aku jadi serba salah! Kalau aku menolak, pasti akan menjadi semacam hutang yang tak terbayarkan dalam seumur hidupku.” “Kalau kamu mau?” “Tentu saja akunya yang rugi!” jawab si gadis dengan nada sengit yang masih saja galak. “Ya udah …” “Ya udah apanya?” “Semau kamu saja … apapun yang  membuatmu lebih nyaman, tinggal dipilih saja!” “Enggak bisa!” “Loh … kenapa kamu yang jadi ngotot? Aku ulangi lagi … itu hanyalah sebuah permintaan. Dan kalaupun kamu nggak mau, aku juga sudah berjanji untuk ikhlas menerimanya.” “Ishhh … diulang terussss … tapi aku yang jadi serba salah,” jawab kembali si gadis dengan uring-uringan. “Huh … aku nggak mau ngomong lagi. Percuma, muter-muter kesitu-situ aja.” Enteng, Bayu mengomentari dalih yang dikemukakan oleh sang gadis. “Ya udah …” putus asa, Wulan mengakhiri perdebatan sambil menghentakkan kaki keatas batu. Mendengarkan kata terakhir yang penuh dengan kepasrahan, mendadak saja Bayu menjadi geli. Lalu dengan cepat, ia membalikkan badan agar tak tertangkap basah dengan senyum yang seketika saja tak mampu ditahan untuk terukir iseng dengan sendirinya dibibir. Tentu saja, ia sangat paham bagaimana sifat Wulan yang ceplas-ceplos tapi  jujur dengan pribadi yang selalu menjunjung tinggi janji. ‘Jadi, bila aku beruntung ... Hmmm …,” Demikian Bayu membatin dengan angan melambung tak terkendali, saat memikirkan betapa kesedihan akan perpisahan itu bisa ia manfaatkan untuk menciptakan sebuah momentum yang tak akan pernah bisa mereka lupakan. Dan benar saja … ---   “Bayu …” panggil Wulan dalam sebuah suara yang sama sekali berbeda dengan tadi. Si bocah lelaki yang sedang memulai debutnya untuk berbuat nakal, nampaknya telah secara sengaja berpura-pura tak mendengar. Ia diam dan tetap dengan gayanya yang seperti tengah menekuri derasnya aliran air. “Bayu!” panggilan kedua, adalah sebuah bentakan yang cukup nyaring, sehingga bahkan Bayu pun telah seketika terkejut tanpa dibuat-buat. “Apalagi, Wulan? … sudah, ah … aku mau pulang saja. Hari sudah mendekati senja. Lagipula, sepertinya Mimi dan Mituno yang kita tunggu juga belum mau memperlihatkan diri lagi.” “Aku mau …” bisik si gadis yang terdengar tak begitu jelas akibat suara gemericik sungai. “Apa kau bilang?” “Aku mau …” kini, suaranya diperkeras sedikit. Namun tetap saja, terkandung nada sedikit judes disana. “Mau apa?” “Ishhh … ya udah, fix batal!” “Eh ehhh … jangan!” teriak Bayu dengan panik.    “Kenapa?” penuh kemenangan, si gadis balik bertanya dengan angkuhnya. “Karena aku menginginkan itu.” “Itu apa?” “Men-menciummu …” dengan wajah memerah yang terasa panas karena tertangkap basah isi benaknya, si bocah yang baru gede itu akhirnya menjawab sambil malu-malu. “Hemmm … kapan?” “Boleh sekarang?” “Sekarang? Disini?” “Iya …” Namun tanpa diduga, Wulan mengulang pertanyaan yang pernah dilemparkan oleh Bayu beberapa saat tadi, “Berapa lama kita sudah saling kenal?” “Sejak kecil. Kan kamu sudah menjawab itu tadi. Kenapa memang?” “Nah … ternyata kamu masih ingat! karena itu, jangan aneh-aneh dengan mencoba berbuat macam-macam disini. Selama ini, semua penduduk desa tak pernah sedikitpun berpikiran buruk tentang kita  walaupun tahu kau sering menginap di rumahku. Tapi … apa kata orang nanti jika salah satu dari mereka melihat kita berciuman disini?” “Lalu? …” “Aku nggak mau jika itu dilakukan di tempat sembarangan. Di sini bisa saja ada mata melihat, apa yang sedang lakukan saat tengah seperti itu. Dan tentu saja, hal tersebut akan menjadikan sebuah kesalahpahaman besar.” “Terus, dimana aku boleh melakukannya?” “Pikir saja sendiri! Yuk, ah … udah mulai gelap. Aku mau pulang. Lihat, mendung juga akan segera datang …” demikian jawab si gadis sambil menunjuk ke arah suara gemuruh yang mengiringi datangnya awan gelap. ***    Sementara Bayu terburu-buru pulang ke rumahnya untuk meminta ijin menemani Wulan malam itu, si gadis malah terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa. Sebab tanpa diketahui penyebabnya, ia jadi selalu saja salah tingkah saat hendak melakukan suatu apapun sore itu.  Karena, keisengan Bayu yang begitu kebangetan malah mendadak saja membangkitkan sebuah debaran yang memaksa dadanya berdegub dengan lebih kencang. Lalu … desir-desir halus yang hadir disana, dengan seketika membuat perutnya jadi terasa mulas dan sedikit kaku. Malu … demikianlah rasa yang tiba-tiba saja hinggap dalam hatinya. Hal itu, tentu saja menjadi suatu yang janggal bila mengingat bagaimana akrabnya dia dengan si pemuda yang kini jadi kurang sopan dengan permintaan yang bukan-bukan kepadanya. Tentu saja aneh, karena selama ini mereka tak pernah merasa malu jika misal saja harus mandi bersama dan saling bisa memandang bagian tubuh yang menerawang tanpa dapat disembunyikan sepenuhnya dari kain tipis basah masing-masing. Bahkan saling berangkulan dan melekatkan tubuh tanpa jarak sama sekali, pun selalu saja mereka lakukan dalam setiap kesempatan bersama.     Namun kini … entah mengapa permintaan Bayu yang begitu berani dan terus terang itu, terasa seperti satu hal resmi seakan layaknya seorang pemuda sedang meminang sesuatu darinya. Padahal … bukankah itu hanya semata sebuah ciuman antar dua orang sahabat yang telah begitu dekat dan tak pernah saling menutupi apapun? Tapi … ada satu hal yang membuatnya jengah sendiri saat menyadari sebuah kesimpulan tentang apa yang akan dialaminya beberapa saat lagi. Bayu pamit untuk pulang sebentar ke rumahnya, dengan janji akan datang sebentar lagi untuk menemaninya selama semalaman nanti. Namun justru itulah yang kini jadi penyebab kerisauan hatinya hingga membuat gugup serta kehilangan semua akal. Karena entah mengapa … ia merasakan betapa waktu berjalan begitu lambannya. Dan penantian akan kedatangan Bayu,  seolah menjadi sebuah momen menunggu terlama dari bagian hidup yang pernah ia rasakan. ---   Di depan sepotong cermin buram yang biasa ia gunakan untuk berkaca; Wulan memandangi wajah serta sekujur tubuhnya yang terlihat tampil begitu modern, dalam balutan busana casual yang biasa ia kenakan di kota. Cantik .. gadis itu sebenarnya cukup cantik dengan segala penampilan aslinya yang tak pernah tersebtuh make-up sedikitpun. Lalu untuk sesaat, ia terus menatap pantulan dirinya dalam cermin di keremangan kamar yang hanya tersinari sebuah lentera minyak. Namun tiba-tiba, wajahnya terasa panas karena suatu pikiran yang datang sebagai akibat dari penafsiran kata hatinya sendiri. Dihinggapi oleh sebuah rasa canngung, dengan cepat ia melolosi kembali pakaian yang tadi sudah ia pilih. Blus cantik dan juga rok panjang yang tadi telah berhasil membuatnya tampil feminim, semuanya dilepaskan untuk kemudian ia simpan kembali dalam tas pakaian. Karena menuruti kata hatinya sendiri, mendadak saja ia menjadi malu karena terkesan sangat menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan oleh Bayu malam ini. Tentu saja begitu! Bayu sudah meminta ijin untuk entahlah  diberi atau memberi sebuah ciuman. Dan karena semua perdebatan di tengah sungai tadi, akhirnya semua dikompromikan agar tak terjadi di sebuah tempat yang demikian terbuka hingga dapat terlihat orang lain. Lalu setelah adu argumentasi  yang tanpa bisa menemukan ujung pangkalnya, mereka pun sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun bukanlah Wulan jika ia tak mengetahui jika Bayu pun sudah memahami kesimpulan yang sudah mereka dapatkan tadi. Sebab tanpa perlu diucapkan dalam kata; dua orang yang sudah sangat mengenal baik itu, tentulah dengan jelas sudah mengerti apa yang akan terjadi malam itu di rumah Wulan.   Hal itu terbukti dari sikap Bayu yang langsung saja pergi tanpa melontarkan sepatah kata apapun terkait dengan negosiasi mereka tadi. Bahkan, lelaki muda itu malah nampak melempar sebuah senyum yang begitu mesra pada dirinya. Seolah, sebuah janji dari Wulan telah ia genggam dalam satu angan yang sedemikian akan melambungkannya malam itu. Dan sejujurnya, disitulah awal dari penyebab debaran jantung yang sangat sulit untuk dibuat mereda. Karena saat membayangkan bagaimana itu akan terjadi saja, kedua lutut Wulan telah langsung terasa gemetaran. Bukannya takut, namun lebih akibat merasa lemas seperti tulangnya sudah diloloskan dari sepasang kakinya. Bukannya si gadis terlalu berpikir jauh atau terlanjur berangan dengan segala fantasi nakal yang bisa ia pikirkan. Akan tetapi … hatinya malah lebih merasakan hal itu sebagai sebuah momen bersejarah, yang hingga masa depan nanti tak akan pernah bisa lekang dari ingatannya. Sebuah ciuman pertama … kata-kata tersebut begitu menggetarkan sanubari si gadis, yang bahkan hingga sampai saat itu belum pernah sekalipun mengenal bagaimana sentuhan seorang lelaki layaknya kekasih. Karena satu-satunya lawan jenis yang ia kenal dengan dekat, adalah Bayu seorang saja. Kemudian setekah itu … perasaannya yang semula masih biasa-biasa saja, dengan seketika telah sontak berbalik seratus delapan puluh derajat kepada si lelaki iseng sahabatnya. Bukan cinta … ia paham akan hal itu. Karena selama ini, tak ada sedikitpun getaran yang mengirimkan sinyal kerinduan atau apapun yang mengarah pada hati. Tapi … sebuah ciuman pertama? Tentu saja akan tetap sama menggetarkannya dengan kata-kata sakti yang hampir serupa dengan itu. Yakni, cinta pertama … Dan malam ini … mau tak mau ia harus meluluskan permohonan dari satu-satunya orang terdekat dalam hidup semenjak ia kanak-kanak. Bayu meminta sebuah ciuman perpisahan! Dan dengan sukarela … ia akan memberikannya sebagai tanda rasa sayangnya pada pemuda yang sudah demikian baik menjaga dirinya selama ini. Tanpa penyesalan, dan tak juga harapan apapun yang akan ia inginkan. Karena yang akan ia berikan nanti, adalah merupakan sebuah apresiasi untuk si pemuda yang tak pernah sekalipun mengecewakan dirinya. Dan dari lubuk hatinya yang terdalam, ia telah bertekad untuk membalas semua kebaikan atas uluran tangan persahabatan dari keluarga Bayu dimasa sulitnya dahulu. Dimana, semua kebaikan itu tak akan mungkin dapat ia tebus bahkan dengan nyawanya sendiri. ---   Tok! Tok! Tok! “Wulaann … kamu dimana, kok masih gelap disini?” teriak seseorang yang sepertinya langsung membuka pintu sendiri setelah mengetuk. “Sebentarr … aku sedang ganti baju …” jawab Wulan berteriak dari kamarnya dengan nada sedikit panik. Setelah meneriakkan jawaban, dengan sigap ia meraih baju yang ada di gantungan untuk membalut tubuhnya yang masih saja hanya mengenakan dua potong pakaian dalam semenjak tadi. ***             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN