BAB 33 - Permintaan Aneh

1846 Kata
Wulan mengucapkan banyak-banyak rasa terimakasihnya kepada ayah Bayu yang sudah membantu pengurusan surat-surat yang ia butuhkan dalam rencana melanjutkan studi. Tak lupa juga untuk rumah yang selama ini ia tinggalkan. Karena tempat tersebut nampak tetap terawat dan selalu bersih berkat campur tangan sang Kepala Desa dan warga sekitar. “Kami berjanji, rumah itu akan selalu terawat. Sehingga kapanpun pulang, kau akan selalu tetap dapat langsung meninggalinya.” “Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak. Tapi mungkin saja, kepergian kali ini akan memakan waktu yang cukup lama hingga saya dapat kembali pulang.” “Baik-baiklah di tempat orang, apalagi  kota besar seperti Jakarta. Pandai-pandailah selalu membawa diri dan jangan membuat satu apapun permasalahan dengan orang lain.” “Saya akan selalu mengingat itu, Pak.”  “Carilah ilmu setinggi langit. Dan saat waktunya tiba nanti, aku akan sangat senang bila ada putera daerah yang bersedia mengabdikan diri di desa yang begitu terpencil ini demi kemajuan saudara-saudaranya sendiri.” “Akan saya upayakan, Pak.” Demikian jawab Wulan dengan takzim. “Kami semua hanya bisa membantu dengan doa. Tentu saja dengan kebanggaan yang sangat besar. Sebab selama ini, baru kamu dan Bayu saja penduduk asli yang akan  bisa melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah.” “Terima kasih, Pak … sebuah doa, adalah bantuan terbesar yang dapat diterima oleh seorang muda dari para pendahulunya.”  “Semua surat-suratmu sudah kami siapkan lengkap, berikut beberapa blanko kosong yang sudah dibubuhi tanda tangan serta stempel untuk berjaga-jaga bila diperlukan agar kau tak perlu bersusah payah menempuh perjalanan ke gunung sini.” “Iya, Pak … beribu terima kasih untuk semua dukungan dan doa.” ***   Setelah diajak makan siang bersama dan bercengkerama dengan kedua orangtua Bayu yang semenjak dulu memang baik hati, Wulan berpamitan pulang ke rumahnya dengan alasan untuk mulai berkemas guna keperluan hari esok. Tapi sebelumnya, ia berniat untuk mengunjungi Ki Jalitheng guna melakukan hal yang sama. Yaitu untuk bermohon diri dan meminta doa serta restu bagi keberangkatannya kembali ke kota. Yang tentu saja, tak ketinggalan ada sang sahabat yang setia menemaninya. Sebab hari itu, rasanya ia tak pernah dibiarkan pergi dan melakukan apapun secara sendirian. Karena Bayu Santoso, seolah tak mau beringsut sedikitpun dari sisinya. Entah sebab apa, terlihat si anak tunggal sang Kepala Desa merasa sangat berat untuk melepas kepergian Wulan kali ini. Meskipun kepergiannya dahulu juga meninggalkan kesedihan serta rasa sepi dalam hatinya, namun kali ini agaknya ia benar-benar mengerti bahwa perpisahan yang akan terjadi pastilah akan mengakibatkan kehilangan yang terasa lebih lagi. ---   “Hanya doa serta restu dan segala pengharapan baik bagi masa depan indahmu yang bisa aku berikan sebagai bekal kepergianmu. Berhati-hatilah selalu, cucuku … dan janganlah pernah lupa satu pesan yang tak akan pernah lelah untuk ku sampaikan padamu; tetaplah menjadi baik … Karena hanya orang baiklah yang dapat menemukan semua hal baik dalam hidupnya nanti.” “Terima kasih atas doa restumu, Aki … tak terhingga terima kasih juga untuk semua yang pernah kau berikan padaku hingga bisa menjadi seperti ini.” “Sama-sama, cucuku … pergilah dan terbang setinggi mungkin. Tapi janganlah ragu, pulanglah jika kau sudah menjadi lelah atau merasa bila dunia luar sana sudah tidak lagi mau bersahabat denganmu. Karena disini, semua akan tetap menunggumu dengan tangan terbuka untuk selalu memberikan kehangatan sebagai persinggahan terakhirmu yang damai dan tenang.” “Baik, Aki … aku akan selalu mengingat itu.” “Dan, bawalah kembali ini. Karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi,” lanjut Ki Jalitheng sambil mengulurkan sebuah benda berbalut sarung kulit yang indah. “Replika bambu kuning logam?” “Benar … boleh kau simpan sendiri, atau berikanlah pada orang lain yang membutuhkannya.” “Aki … Om Opik adalah orang baik. Aku rasa, ia lebih membutuhkan benda itu sebagai penyemangat serta penambah rasa percaya dirinya. Karena, saat ini ia tengah memikul sebuah tanggungjawab besar yang membutuhkan suatu dukungan terbaik.” ”Berikan padanya jika kau ikhlas dan menurutmu baik bagi kemanfaatan semua orang. Namun bila nantinya menjadi tidak baik, kau juga akan kuwajibkan untuk mengambilnya.” “Baik, Ki … terima kasih. Akan selalu kuingat hal itu.” ***   Sore harinya, Wulan mengadakan perpisahannya sendiri dengan secara khusus menghabiskan waktu di lubuk sungai yang dulu selalu memberi penghidupan padanya. Air terjun rendah yang dikelilingi batuan gunung, adalah rumah kedua dimana ia selalu berada disana untuk menerima anugerah dari kekayaan alam yang tak pernah lupa menghidupi dan berperan membesarkannya. “Aku akan selalu merindukan kejernihan air dan ketenangan disini,” demikian kata si gadis setelah ia puas bermain air bersama sahabatnya. Seperti biasa, mereka berdua mengeringkan basah di tubuh dengan duduk dan berbaring diatas hangatnya bebatuan raksasa yang ada disana. “Aku juga akan begitu. Tapi yang teramat sangat kurindukan hanyalah satu hal, dimana aku sangsi akan dapat menahannya setiap kali mengingat,” jawab Bayu serius, karena memang pada hari itu mendadak saja jadi kurang murah senyum. “Apakah itu?” “Kawan bermain di tempat ini. Karena aku tahu pasti, dialah satu-satunya yang akan menjadikan diriku akan sangat sulit untuk menahan rindu.” “Hmm … berusahalah seperti diriku dengan menanamkan selalu dalam ingatanmu keindahan serta keteduhan hati kita saat disini. Cobalah untuk merekam dalam hatimu suara gemericik air dan juga musik dari riak kecil di bebatuan sana. Niscaya, semua itu akan menyembuhkan segala sakit rindumu.” “Aku tak yakin. Karena kamu, Wulan … adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki semenjak kecil. Kamulah satu-satunya kenangan yang mengisi hati serta pikiranku jika teringat pada tempat dimana kita dibesarkan ini. Dan tentu saja bila aku mengingat rumah, itu akan berarti sebuah kerinduan yang tak terobati sebelum bisa berjumpa lagi dengan dirimu.” “Hhh … tegarlah kau anak laki-laki. Karena meskipun kesedihanku berpuluh kali lipat denganmu, aku sendiri tak akan pernah cengeng untuk menangisi semua kenangan indah di tempat ini.” “Aku bisa tegar, kuat dan bahkan menaklukkan apapun diluar sana. Yang aku masalahkan … mengapa kau memilih untuk pergi begitu jauh dari kami?” dengan wajah yang sangat berduka, Bayu mengeluarkan unek-uneknya. “Karena, disanalah semua impianku menunggu. Aku harus menjemputnya sesegera mungkin.” “Meskipun harus tercerabut jauh dari akarmu?” “Aku akan pergi jauh, tapi pasti akan tetap kembali lagi kesini. Karena satu-satunya surga yang kutahu, adalah dimana aku dilahirkan serta dibesarkan oleh ayah bundaku.” “Kamu mau berjanji untuk itu?” “Tak perlu janji. Karena Wulan adalah si anak semesta yang dibesarkan oleh alam pegunungan ini. Bak seekor rajawali, ia akan kembali ke sarangnya meski setinggi apapun dirinya terbang.” “Tapi aku akan merindukanmu …” bisik Bayu sambil beringsut mendekati Wulan yang berbaring telungkup diatas batu besar. “Aku juga … tapi tak usahlah risau, karena sebuah perjuangan pastilah akan membutuhkan suatu pengorbanan.” “Kapan kita akan bisa berjumpa lagi?” “Bila waktunya tiba, kita pasti akan bertemu.” “Janji?” “Aku berjanji.” ---   Entah mengapa, tiada angin tak ada hujan, sepasang sahabat itu mendadak saja telah berubah jadi begitu melankolis. Karena biasanya, tak ada satupun hal yang terlewatkan untuk dijadikan sebagai bahan canda agar bisa saling mengerjai satu sama lain. Mungkin saja, mereka sudah merasa jika perpisahan itu akan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menjadikan keduanya tak dapat bertemu kembali. Atau bisa jadi, keduanya yang sudah mulai memasuki usia dewasa itu telah sedikit mengerti akan arti kedekatan mereka yang bagaikan Mimi dan Mintuno semenjak keduanya masih kanak-kanak. Suka dan duka yang dijalani bersama, adalah suatu kenangan yang tak mungkin bakal mudah disingkirkan begitu saja saat berjauhan nanti. Terlebih bagi si gadis yang semasa dulu telah mendapatkan semua kasih sayang dan apapun yang ia butuhkan dari orang lain melalui kebaikan hati keluarga Bayu. Sudah barang tentu, hal itu dirasakannya kini sebagai layaknya semacam satu hutang budi yang akan mengikat dirinya hingga akhir hayat nanti. Karena berkat kedua orangtua Bayu maupun si bocah itu sendiri,   Wulan dan keluarganya telah mendapatkan rasa aman serta tak mengkhawatirkan apapun terkait urusan perut dan dukungan pengobatan sang ibu  selama mereka tinggal  di desa itu. Dan semua kebaikan yang diterimanya dari seluruh penduduk desa, tentunya juga tak lepas dari semua campur tangan mereka itu. Termasuk juga, terkait rumahnya yang tetap bisa layak huni dan bisa ditinggali dengan nyaman walau berapapun lamanya kosong ditinggalkan seluruh penghuninya. Dan … jika dirunut kembali dari awal, kesemuanya itu merupakan buah manis yang bisa Wulan dapatkan karena telah menjadi sahabat dekat dari Bayu Santoso semenjak kecil. Sebab itulah; si lelaki belia baik budi yang tak pernah sekalipun pernah mengecewakan hatinya itu, adalah satu-satunya kawan yang tak akan pernah mungkin akan ia kecewakan hatinya. ---  “Wulan …” “Hmmm …” jawab si gadis yang masih saja malas untuk bangkit dari berbaringnya diatas batu hangat itu, atau bahkan hanya sekedar untuk membuka matanya yang tengah terpejam menikmati kenyamanannya. “Sebelum kamu pergi … aku, eh … a-aku punya satu permintaan padamu.” “Apa?” tanya si gadis sambil tetap memejamkan matanya. Melihat Wulan yang seolah masih larut dalam dunianya sendiri hingga tak sempat memperhatikan wajahnya yang kini menjadi panas dengan sendiri, Bayu pun menjadi nekad dan memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ia inginkan dari si gadis. “Emmm … kau tahu, selama ini kita sudah demikian dekat seperti layaknya dua orang kembar tak terpisahkan. Berapa lama kamu mengenalku?” “Hu um … aku tahu. Memangnya kau lupa semenjak kapan kita saling kenal dan terus bersama? Hi hi … aku bahkan sudah lupa kapan dimulainya kita jadi akrab seperti ini. Rasanya, aku seperti sudah mengenalmu diseumur hidupku,” tanya Wulan membalikkan pertanyaan Bayu yang dirasanya lucu dan juga sekaligus memberikan jawabannya. “Iya … aku juga merasa begitu. Karena itulah, aku … uh … me-memiliki sebuah permintaan sebelum kita berpisah e-esok. Ma-maukah kau mengabulkannya?” “Apapun untukmu, aku akan memberikannya bila mampu,” demikian jawab Wulan tanpa menengok sedikitpun pada lelaki sahabatnya itu. “Benarkah?” “Katakan saja, dan aku akan mengabulkannya kalau memiliki hal apa yang akan kau minta itu.” “Oh, eh … tapi ini rumit.” “Serumit apa?” “Aku, eh eh … ah, kamu bisa dan memilikinya. Tapi aku sangsi apakah kamu bersedia mengabulkan permintaan itu.” “Katakan saja … kau mengenalku. Bagi si Wulan, janji adalah janji … satu hutang yang harus aku lunasi bila sudah terucap. Dan semenjak awal, aku sudah bersedia mengabulkannya jika memiliki apa yang kau inginkan.” “Baiklah, Wulan. Tapi maafkan aku jika ini akan membuatmu marah. Dan aku juga  berjanji … kau boleh menolaknya tanpa membuatku tersinggung atau merasa kecewa padamu.” “Emangnya kau mau meminta apa dariku?” karena sedikit curiga dengan gelagat Bayu yang tak biasanya, akhirnya Wulan segera membuka matanya dan  memalingkan wajah sambil mengangkat sedikit tubuhnya dengan menyangganya menggunakan kedua tangan. Mendapatkan reaksi yang seperti itu, terlebih dibarengi tatapan mata Wulan yang sedemikian tajam mengancamnya seperti saat ia berbuat nakal dimasa kecil dulu, mendadak saja nyali Bayu menjadi ciut. Namun merasa terlanjur basah dan hanya memiliki waktu yang sangat singkat sebelum mereka berpisah esok. Diberanikanlah dirinya untuk mengatakan hal yang sama sekali diluar dugaan Wulan, “Aku i-ingin … hmm … bolehkah aku menciummu?” ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN