BAB 32 - Menyingkap Rahasia

1896 Kata
“Duplikat?” “Maksud Aki, tiruan?” Tanya keduanya dengan heran dan sedikit terkejut. “Benar sekali. Sebuah tiruan tongkat bambu kuning yang akan mampu mematahkan logam keras dari senjata apapun,” jawab sang kakek berambut putih sambil menyungging senyum dikulum. “Bagaimana caranya?” tanya Wulan penasaran. “Aku memiliki  kenalan seorang Empu. Kau tahu apa arti nama itu?” “Pembuat keris?” jawab si gadis yang otaknya memang lebih cerdas dari sang karib. “Nah, itulah dia. Ceritanya begini …” Ia pun mengisahkan; dulunya, ia adalah merupakan seseorang yang hidupnya bertualang untuk mengembara dalam dunia kekerasan pada jaman itu. Agar dapat menjadi orang yang disegani dikalangan tersebut,  tentu saja Jalitheng muda merasa harus bisa menunjukkan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang istimewa sebagai tanda kedigdayaannya. Karena itulah, ia selalu membesar-besarkan keampuhan dari sebuah tongkat bambu kuning yang konon ia dapatkan dengan cara bertapa di puncak sebuah gunung. Namun  mulut besarnya yang selalu saja berkoar membanggakan jika benda keramatnya adalah merupakan sebuah pusaka dengan kekuatan gaib, tentu saja sudah mengundang beberapa kalangan untuk merasa tertantang. Merasa harus menunjukkan suatu pembuktian, lantas iapun mencari akal agar segala  bualannya bisa dibuktikan. Tentu saja, hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan mukanya. Sebab, kala itu ia memang tengah melakukan usaha untuk menancapkan pengaruh di dunia para berandal dan perampok. Singkat cerita, ditemuinya sang kenalan untuk membuatkan baginya sebuah tiruan yang persis dengan bambu kuning tersebut. Hingga akhirnya, sang seniman pembuat senjata telah berhasil menciptakan duplikat yang sama persis. Hanya bedanya, benda palsu itu malah terbuat dari bahan logam campuran yang berkualitas baik. “Orang tak akan mengira bila ini adalah sebuah karya seni yang sangat indah pada jaman itu. Bahkan untuk masa kekinian, malah tak akan bisa mengenali jika tongkat yang aku pegang adalah sebuah tiruan yang terbuat dari bahan kuningan bercampur tembaga kualitas terbaik.” Demikian Ki Jalitheng mengatakan sambil memandang kagum pada barang bersejarah miliknya.    “Ohhh … semua kena tipu.” Bayu mengucap komentarnya. “Ya … semua orang jadi takjub dan langsung memberikan penghormatannya padaku sebagai orang yang memiliki pusaka bambu penakluk senjata macam apapun.” “Dan Paman Sujiwo tidak mengetahui itu …” “Benar … pamanmu juga merasa bahwa ia memiliki sebuah kemampuan lebih akibat memiliki sebuah benda pusaka sakti.” “Sebentar, Ki … aku jadi tidak paham dengan ceritamu ini,” demikian sela Wulan karena merasa ada sesuatu yang menggelitik nalarnya. “Apa yang mengganggu pikiranmu?” “Tentang pertanyaan yang timbul dengan sendirinya. Terkait, bagaimana bisa sebuah benda tiruan dapat membuatku seolah memiliki tenaga yang sangat kuat, hingga mampu menahan serangan pedang katana yang memiliki bobot beberapa kali lipat itu? belum lagi, Edi Best jelas-jelas memiliki tenaga yang lebih besar dibandingkan aku.” “Hmm … lalu kesimpulanmu?” “Bukankah seharusnya bambu kuning asli akan memiliki kekuatan yang lebih dahsyat?” "Akan kucoba menjawabnya. Kalian pernah melihat aksi saat seorang ahli kanuragan memukul batu bata hingga pecah dengan menggunakan telapak tangannya?" tanya Ki Jalitheng membalikkan kesangsian Wulan. "Ah, iya ... batang besi juga, Ki..." sahut Bayu dengan cepat. "Benda itu bisa pecah atau patah saat dipukul dengan tangan kosong, bukan?" kejar sang Aki-aki lagi. "Benar ..." dengan agak bingung, Wulan menjawab. "Kenapa bisa begitu?" "Karena mereka memiliki tenaga dalam." Lugu, giliran Bayu yang melempar jawaban. "Apa itu tenaga dalam?" tanya sang guru untuk menguji. "Tenaga yang keluar dari dalam tubuh dengan kekuatan luar biasa yang tidak tampak ..." giliran kini Wulan yang menjawab. "Kalian tidak sepenuhnya salah ..." "Apa sejatinya yang benar, Ki?" "Tenaga dalam yang kau sebutkan tadi, adalah merupakan keyakinan. Yakin, itulah inti dari seseorang yang bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya." "Maksud Ki Jalitheng?" tanya si bocah laki-laki kurang paham. "Coba kalian ingat kembali. Pernahkah kalian mendengar cerita dari teman ataupun orang lain yang mengatakan jika mereka pernah melakukan hal-hal yang tak masuk akal?" "Contohnya apa, Ki?" "Misalkan saja, seseorang yang karena ketakutan dikejar anjing liar, tiba-tiba memiliki kemampuan luar biasa untuk melompati pagar tinggi atau mendadak bisa memanjat pohon kelapa hingga ujung padahal sebelumnya tidak bisa?" "Oh, iya ... pernah pernah ... seperti si Mayang yang mendadak bisa berenang menyeberang sungai saat melihat seekor ular mencegatnya di jalan setapak," jawab Bayu dengan sedikit geli. "Ha ha ha ... atau Joko yang bisa lari sangat cepat dan meloncati lima orang yang sedang mengelilingi api unggun saat dikejar hantu pocong palsu itu. Hi hi hi ..." Wulan pun menambahkan. "Iya ... ha ha ha ... padahal aslinya, dia itu klemar-klemer kalau berjalan biasa. Dan ternyata kamu yang jadi pocongnya! Dasar si Wulan, anak gadis tapi bandel." Mendengar sahut menyahut suara dua bocah yang begitu ceria dan akrab, tanpa sadar Ki Jalitheng tersenyum haru.  ---   Setelah sejenak melupakan masalah tongkat bambu dengan menyelinginya dalam gurau kenangan lama, Ki Jalitheng kembali melanjutkan pesan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan. “Dengarkanlah … semua manusia, memiliki apa yang dinamakan sebagai tenaga dalam itu. Dan untuk membangkitkannya, seseorang hanya perlu percaya dan fokus pada satu hal tanpa memperdulikan apapun pengganggu disekitarmu. Itulah kunci untuk mendapatkan apapun segala keinginan dan cita-cita.” Dua anak muda mengangguk-angguk, walaupun sebenarnya mereka juga belum bisa mengerti inti dari apa yang akan disampaikan. Nampaknya, mereka tengah menunggu sebuah nasehat yang seperti biasa diberikan oleh sang guru. “Ketakutan dikejar hantu atau dipatuk ular, lalu … seperti Wulan yang juga aku pastikan telah bertekad dengan penuh untuk mempertahankan nyawanya menggunakan sebatang tongkat bambu yang ia yakini sebagai sebuah benda penyelamat …  itu adalah wujud dari sebuah tekad serta  fokusnya suatu tujuan dalam penggalan kisah hidupnya. Karena pada saat itu, semua hal menjadi tak penting. Sebab satu-satunya yang ia pikirkan adalah untuk megupayakan bagaimana cara agar ia bisa selamat dari situasi tersebut.” “Memang benar seperti itu, Ki …” “Nah … dari situ bisa kita ambil kesimpulan. Bahwa bambu yang kau pegang itu hanyalah merupakan sebuah perantara dari besarnya tekad yang telah kau genggam dalam tanganmu. Dengan demikian, sebuah energi tak nampak telah seketika keluar dari tubuh dan jiwamu untuk meledak menjadi satu kekuatan dahsyat tak terbendung lagi. Ingat … bahkan satu tangan kosong bisa menghancurkan setumpuk batu bata atau mematahkan sebatang besi. Camkan itu!” “Iya, Ki … aku benar-benar paham, sekarang. Akan tetapi, kau belum menjawab pertanyaanku yang satu itu.” “Tentang apa?” “Tentang perbandingan antara yang asli dan tiruannya. Manakah yang lebih hebat? Katamu tadi, bambu kuning yang kau dapat dari lereng gunung Sumbing itu memiliki sebuah daya linuwih yang tiada tampak.” Ki Jalitheng terdiam, lalu menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang perlahan dan terdengar begitu takzim, “Bambu kuning asli, adalah sebuah anugerah yang tiada bandingnya selama hidupku didunia ini. Ia memiliki sebuah kekuatan yang bahkan aku sendiri tak mampu menggambarkan. Itu saja yang bisa kukatakan.” “Lalu, kenapa Aki harus membuat tiruan dengan bahan-bahan keras agar mampu menandingi ketajaman senjata?” “Karena, waktu itu aku masih demikian muda dan belum memiliki apapun untuk memenuhi persyaratan layak sebagai pengguna bambu kuning yang ini.” “Belum memiliki tenaga dalam dan keahlian silat yang tinggi?” tanya Bayu dengan lugu. “Cucu-cucuku … keampuhan dari benda ini, akan bisa dilihat bila sang pemegang sudah cukup memiliki kebersihan jiwa, batin maupun pikiran. Karena tanpa semua itu, bambu hanya akan sekedar menjadi bambu.” “Ohhh … dan Ki Jalitheng muda tentunya belum memiliki itu dimasa mudanya.” “Begitulah yang sebenarnya.” “Seperti paman Sujiwo … meskipun salah mengambil, itu malah menjadi satu hal yang sangat kebetulan. Karena jika ia memiliki yang asli, justru tidak akan ada gunanya.” Demikian imbuh Wulan dengan mengambil kesimpulan sendiri. “Hal itulah yang terjadi. Karena yakin jika benda tersebut adalah merupakan pusaka asli, Sujiwo mampu menggunakannya dengan segenap keyakinan. Alhasil, benda yang ada padanya malah dianggap sangat ampuh.” “Apa yang akan terjadi jika pamanku membawa yang asli, dan memiliki keyakinan akan keampuhan benda tersebut?” “Tentu saja akan berbeda cerita. Karena, Bambu kuning anugerah dari sang alam telah memiliki persyaratannya sendiri. Yakni, kebersihan batin dari yang menjadi tuannya.” “Ahh … terima kasih untuk pencerahannya, Ki. Aku jadi paham, tentunya benda itu tak akan berguna sama sekali bagi siapapun yang belum memenuhi syarat untuk itu.” ***   Seharian, sepasang sahabat yang lama tak berjumpa itu menghabiskan waktunya dengan mengenang kembali semua yang pernah mereka alami di masa lalu. Wulan dan Bayu memang tengah sengaja bertualang masuk hutan untuk mencari hal apapun yang telah sangat dirindukan oleh sang gadis. Tak puasnya, gadis cantik yang semakin menawan hati diambang kedewasaannya itu menghabiskan waktunya ditempat yang lebih serupa dengan halaman belakangnya sendiri. Memang begitulah; karena bukit beserta pepohonan dan sungai jernih yang masih menghampar bak sebuah lukisan indah, adalah tempat bermain serta sumber penghidupan bagi Wulan semenjak ia kana-kanak hingga remaja. “Betapa indah dan hijaunya alamku, subur makmur negeriku. Namun sayang …” dengan sedih, Wulan menatap pemandangan didepannya dari sebuah tebing batu diatas air terjun. “Apa yang kau sayangkan?” “Seandainya tak ada manusia serakah dibelahan manapun bumi ini, seharusnya alam akan lebih dari cukup untuk menghidupi semua mahluk didalamnya.” “Ah, iya … benar katamu. Korupsi, manipulasi serta ketamakan atas kuasa dan harta benda … itulah yang menyebabkan orang-orang jujur dan apa adanya menjadi tersingkirkan.” “Hmm … tahukah kamu, Bay? Bahkan aku sering menangis saat melihat orang-orang yang tak beruntung di kota sana. Karena bagiku, aku dan juga bahkan orangtuaku masih cukup beruntung karena hidup disini. Di desa terpencil seperti ini, alam memberikan semuanya secara gratis asal kita memiliki kemauan untuk menjaganya.” “Benar katamu. Dan tahukah kamu? Ayahku adalah seorang kepala desa paling miskin dan satu-satunya pejabat desa tanpa memiliki harta benda mewah dibandingkan dengan mereka yang berada di desa lainnya.” “Lalu apa hubungannya dengan alam? Bukankah keluargamu juga sudah cukup diberi anugerah dari alam?” “Itulah intinya. Ayahku tak pernah mengijinkan hutan ini dijarah oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Meskipun kata ayahku, cukong-cukong pencuri kayu sudah bersedia memberikan uang yang sangat banyak bila mereka diijinkan untuk mengambil pohon dihutan kita ini.”     “Seperti itukah? Pantas saja aku banyak melihat hutan gundul saat dalam perjalanan kemarin.” “Itu semua adalah perbuatan mereka.” “Mereka tak berani mengambil kayu disini?” “Kata ayahku, mereka mencoba memaksa dan nekad mencuri walau sudah dengan keras mendapat penolakan dari ayah.” “Terus?” “Hhhh … untung saja ada Ki Jalitheng …” “Apa hubungannya dengan Ki Jalitheng?” “Ayah dan para sesepuh kampung menduga, jika banyaknya gangguan yang didapatkan oleh para pencuri kayu adalah karena perbuatan Ki Jalitheng yang sedang melindungi desa kita dari penjarahan kayu hutan.” “Menduga? Apa dasarnya?” “Siapa lagi yang bisa menjadi sebangsa jin dan dedemit penunggu hutan pengusir para penebang kayu kalau bukan beliau?” “Hi hi hi … guru kita? Iseng banget …” “Persis seperti kamu. Iseng! Tapi, semua itu dilakukan oleh Ki Jalitheng demi kebaikan masyarakat setempat. Semua penebang tunggang langgang ketakutan dan tak berani lagi datang kemari.” “Ahh … itu memang Ki Jalitheng. Aku tak akan heran bila itu perbuatan Aki tua yang amat kita sayangi itu. Karena walaupun memiliki ilmu yang tinggi, tak sekalipuin dia mau menonjolkan diri.” “Ha ha ha … dan desa kita akan tetap menghijau karena memiliki seorang pelindung yang tak pernah mau menunjukkan bahwa dirinya adalah sang pengayom bagi masyarakat kita.” ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN