“Wulan … wah, tambah cantik saja kamu … ha ha ha …” sambut seseorang bertubuh subur yang sudah duduk dengan santainya di dalam rumah Wulan, bak sang tuan rumah sendiri.
“Haii … Bayu. Hi hi hi … kamu kok enggak tambah ganteng?” jawab si gadis yang langsung tertawa ceria begitu melihat sang sahabat sudah menyambutnya.
“Ahhh, kau ini … nggak ada berubahnya sedikitpun. Hidup di kota bertahun-tahun, bertambah cantik tapi jadi tak punya hati.” Demikian gerutu Bayu yang langsung saja merangkul sang sahabat yang tampaknya sudah sangat ia rindukan.
“Lohh, kok ngomong gitu? Ini apaan, sih? Ihhh … begitu ketemu main rangkul saja seperti di film-film,” balas si gadis menggerutu dengan penuh komplain. Meski begitu, ia malah membalas rangkulan dari lelaki muda gendut yang sesungguhnya juga ia rindukan.
“Nah … gitu dongg … bales peluk aku kan enak. Hmmm … boleh sun?”
“Ih, sun itu bangku bambu!”
“Dikit, sebagai obat rindu!”
“Tuh, cium jaket aku kalau cuma pengin ngobatin kangen!”
“Ha ha ha … tetep aja nakal dan judes.”
“Hi hi hi … tetep aja modus! Dari dulu, penginnya ngelaba aku terus.”
“Habis, kamu cantik.”
“Lebih cantik juga si Ami, teman sekelasmu yang selalu ngikutin kamu kemanapun pergi tiap kali di sekolah.”
“Ihhh … ogah ngomongin dia. Males! Dia terlalu melow untukku. Masih sekolah, bucinnya nggak nguatin.”
“Tapi kamu suka, kaaannn??? Hi hi hi …”
“Udah … dibilangin udah, kok nekad. Kita ngomongin yang lain aja. Eh, kenapa kau pulang nggak kasih kabar aku?”
“Kasih kabar kamu? Lewat merpati pos? atau bikin tanda asap kayak orang indian itu?”
“He he … iya, lupa. Aku nggak pernah kasih kamu nomor ponselku.”
“Nggak apa … lagian, mana ada aku punya ponsel saat berangkat pergi dulu?”
“Iya, ya … tapi sekarang ada, kan?”
“Ada, doongg … yang terbaru dan paling canggih!”
“Wuiihhh … keren! Paman kamu ternyata orang kaya di kota sana.”
“Hushh … tak perlu jadi kaya lebih dahulu bagi pamanku untuk membelikanku ponsel yang bagus. Tapi … sekarang ia sudah meninggal dunia …” demikian jawab si gadis dengan nada suara yang mendadak jadi sedih.
“Oh, maafkan aku … turut berduka, Wulan. Pamanmu kenapa?”
“Iya … terima kasih untuk ucapanmu. Nanti aku ceritakan selengkapnya. Oh ya, punya waktu untukku malam ini?”
“Pasti punya sebanyak yang kau mau! Bahkan jika kau suruh aku menginap disini selama empatpuluh hari empatpuluh malam … akupun bersedia.” Demikan janji pramuka si pemuda subur baik hati sahabat Wulan.
“Ha ha ha … mukamu itu lohhh … ngeres banget! Kayak yang ngarep deket-deket aku terus!”
“Emang aku pengin deket-deket kamu, kok.”
“Hmmm … malam ini saja temenin aku!”
“Kemana?”
“Ke padepokan Ki Jalitheng.”
“Ohhh, siap.”
“Berarti, cerita terkait pamanku akan kujelaskan nanti saja. Daripada, aku capek harus mengulang lagi kalau haus cerita sama kamu sebelumnya.”
“Yaahhh, akhirnya cuma kaya gitu ... Ya sudah, baiklah kalau begitu.”
---
Akrab dan penuh rasa persaudaraan, dua insan beda jenis itu saling bercanda sambil mengulang cerita lama yang menyelingi banyaknya kisah baru dari pengalaman selama mereka berpisah. Wulan menceritakan tentang sekolahnya, juga kesempatan yang diberikan dari sekolah untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dengan tanpa tes.
Sementara, Bayu juga menceritakan masa-masa yang dilaluinya sepeninggalan Wulan pergi ke kota. Ia bersekolah seperti biasa, walau katanya semua menjadi lebih berat karena tak ada teman bermain yang asyik dan juga kawan sepembelajaran yang sangat telaten membimbing dalam memecahkan masalah sulit terkait pelajaran.
“Aku disuruh ayahku untuk kuliah di Jogjakarta. Sebenarnya aku malas untuk pergi kesana. Karena keinginku sebenarnya, adalah mengambil kuliah di kotamu agar bisa sering bertemu lagi.” Demikian curahan hati Bayu pada Wulan.
“Kenapa harus di Jogjakarta?”
“Karena ada pamanku disana. Ayah ibuku bilang, keberadaan paman akan membuat hati mereka lebih tenang karena ada yang membantu mengawasiku.”
“Hi hi … dasar anak bandel. Orangtua aja sampai perlu ngawasi seperti itu.”
“Ahhh … kamu ini …”
“Tapi jangan berkecil hati. Turutilah kemauan kedua orangtuamu. Jikalau kamu diijinkan kuliah di kota tempat tinggalku, besok-besok juga bakal tak bisa bertemu aku lagi.”
“Emang kenapa?”
“Karena aku akan pergi ke Jakarta …”
“Kuliah disana? Emang sudah diterima?”
“Kalaupun aku tidak diterima kuliah pada universitas yang ditawarkan, tetap saja akan pegi kesana. Karena, alam sudah membisikkan jika aku harus datang ke tempat itu untuk menjemput impianku.”
***
Sang kakek tua mendengarkan dengan tenang tanpa sedikitpun menyela cerita yang disampaikan oleh si gadis belia. Serius serta tanpa menghakimi, diikutinya semua penuturan yang mengalir tentang kisah sang anak gadis semenjak ia meninggalkan desanya.
Wulan mengisahkan bagaimana sang paman yang sangat menyayangi dan selalu memenuhi apapun kebutuhannya. Ia juga menceritakan dengan lengkap kegiatan sehari-harinya untuk bekerja sekedar menambah uang jajan sambil bertualang sepulang sekolah.
Lalu tak lupa, ia juga menjelaskan secara detil bagaimana konflik yang dialaminya hingga sampai pada ujung pertarungan dengan Edi Best. Dalam kesempatan itu juga, ia menyinggung dugaan tentang pamannya yang menurutnya pantas dikatakan sebagai murid Ki Jalitheng.
Dengan bijaknya, si orang tua hanya sedikit berkomentar tanpa kesan ingin tahu yang berlebih. Lalu terkadang, ia tampak mengangguk-angguk untuk terus memberikan dukungan agar Wulan bisa menyelesaikannya secara tuntas tanpa terlewat satupun hal.
“Begitulah yang sudah terjadi, Ki …” demikian pungkas sang gadis setelah ia menuntaskan semua pengalaman yang terjadi.
“Waaahh … Wulan hebat ya, Ki … bisa menang bertarung dengan tokoh preman disana.” Tanpa dapat ditahan, Bayu ikut nimbrung.
“Hmm mungkin bisa dikatakan begitu …” jawab Ki Jaliteng untuk Bayu. Namun ia langsung meneruskan kata-kata yang ditujukan pada Wulan. “Kepergianmu itu ternyata sudah membawa sebuah manfaat yang sangat besar bagi semua orang yang kau temui.”
“Apa maksud Ki Jalitheng?” tanya Wulan, sementara Bayu yang ada disebelahnya hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi.
“Kebaikan yang kau bawa dari sini, terutama untuk pamanmu ... Benar dugaanmu, Sujiwo itu dulunya adalah salah satu murid yang sangat aku sayangi.”
“Tapi mengapa saat pulang kemari, ia tak datang untuk menemuimu? Atau, katakanlah sekedar berpamitan ketika ia hendak pergi membawaku?”
“Hmmm … aku tak tahu harus berkata bagaimana kepadamu agar penuturanku tak jadi merusak kecintaanmu terhadap sang paman. Tapi begini saja … singkat kata, pamanmu itu pernah melakukan sebuah kesalahan padaku.”
“Dan Aki marah padanya?”
“Ha ha … pernahkah kau melihatku marah pada murid-muridku?”
“Belum pernah, Ki …”
“Seperti juga pada pamanmu. Aku tak pernah marah padanya.”
“Lalu mengapa ia seperti tak mengenalmu lagi?” desak Wulan untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan hati.
“Ahh … anggap saja, mungkin dia masih merasa malu dengan perbuatannya sendiri.”
“Maukah Aki memberitahuku tentang satu hal saja agar tak membuat penasaran?”
Ki Jalitheng terdiam. Nampaknya Ia tengah menimbang baik dan buruknya akibat yang akan ditimbulkan jika Wulan mengetahui apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh sang paman. Karena ia sendiri, sejujurnya tak akan pernah tega untuk merusak kenangan indah Wulan dalam kebersamaan mereka yang hanya singkat.
Namun karena merasa harus memberi sedikit pengertian agar tak terkjadi salah paham, iapun memutuskan untuk memberi sekedar penjelasan.
“Begini, Wulan … pamanmu itu adalah anak baik semasa hidupnya disini. Ia rajin membantu kakek dan nenekmu mengerjakan apapun untuk bisa bertahan hidup. Dan mungkin, kau juga masih mengingat betapa sayangnya ia pada dirimu semasa kecil.”
“Benar, Ki … ia sangat menyayangi aku.”
“Memang demikian adanya dia. Namun, kehidupannya setelah pergi dari desa ini … hmmm, katakanlah ia telah salah jalan akibat bergaul dengan orang-orang yang kurang baik.”
“Ohh … aku paham.” Demikian Wulan menjawab setelah ia mengingat pembicaraan sekilas dengan Opik terkait pamannya.
“Dan … termasuk dalam hubungannya dengan bambu yang kau bawa pulang ini. Benda tersebut memanglah milikku yang emmm … di-dipinjam oleh Sujiwo saat itu.”
“Atas persetujuan Ki Jalithjeng?” Wulan yang cerdas, tak menelan mentah apa kata gurunya.
“Katakan saja, dia meminjam saat aku tak berada dirumah.”
“Ah, mengapa paman begitu? Padahal, dia itu orang baik yang sangat dicintai oleh kawan-kawannya.”
“Siapa bilang dia tak baik? Tapi, baik atau buruknya seseorang itu tidaklah bisa diukur dari penilaian kawan-kawan yang menyukainya saja. Kamu paham?” dengan senyum tertahan, sang kakek membalikkan pernyataan tersebut dengan sepenuh makna tersirat.
“Iya, Ki … aku paham. Orang yang menyukai seorang lainnya, pastilah akan menganggap ia baik tak perduli dengan perbuatan apa yang sudah ia lakukan,” jawab kembali dengan sigap si gadis cerdas.
“Ya, memang demikian adanya. Dan tak perduli sebaik apapun seseorang, ia tak pernah akan terlihat baik dimata orang yang tak menyukai.” Demikian sambung Ki Jalitheng.
“Aku jadi mengerti, Ki …”
“Apa yang kau mengerti?”
“Bahwa kebenaran itu akan tetap menjadi benar walau tak ada seorangpun yang mengamininya. Sementara, kesalahan tak akan bisa berubah menjadi suatu kebenaran meskipun hal tersebut dilakukan oleh semua orang,” jawab Wulan dengan tegas.
“Gadis pintar … jadi kau sudah paham maksudku?”
“Sangat paham, Ki …”
“Kedatanganmu ke tempat Sujiwo untuk tinggal bersamanya, adalah salah satu hal terbaik bagi pamanmu. Karena kehadiranmu itu, dengan seketika sudah merubah dirinya menjadi orang baik yang hidup dijalan benar hingga akhir hayatnya. Kau harus bersyukur untuk itu, demikian juga Sujiwo …”
“Iya … aku sangat bersyukur karena kasih sayang sedemikian besar yang diberikan oleh pamanku.”
“Itu sudah seharusnya. Lalu, apa hal lain yang ingin kau tanyakan?”
“Sebuah penjelasan tentang keheranan yang aku ceritakan tadi, Ki …”
“Terkait Bambu kuning ini?”
“Benar. Dan sejujurnya, aku hanya merasa penasaran saja. Apakah benda ini termasuk sebuah pusaka yang sering diceritakan orang dalam dongeng?”
“Karena bisa melawan sebuah pedang hebat tanpa tergores sedikitpun?”
“Iya, ki … itulah maksudku.”
“Ha ha ha … kau dengarlah ceritaku. Seketika nanti, kau akan jadi tak bisa lagi mengagumi secara asal ataupun mengaitkannya dengan sebuah mitos.”
“Maksud Aki?”
---
Pemilik padepokan silat itu berdiri, lalu melangkah untuk memasuki kamarnya. Tak lama kemudian, ia sudah keluar dengan membawa dua buah benda panjang yang berupa sarung kulit pembungkus sesuatu. Setelah duduk kembali dihadapan Wulan dan Bayu, ia meletakkan benda-benda tersebut sambil memberi penjelasan.
“Ini sarung kulit kosong yang tadinya kugunakan sebagai wadah tongkat yang kau bawa pulang itu. Lalu ini … lihatlah,” demikian katanya sambil meraih sarung kulit kedua dan mengeluarkan isinya.
Kemudian lanjutnya lagi, “Inilah bambu kuning yang asli. Benda ini kudapatkan dari lereng gunung Sumbing. Tempat keberadaannya sangatlah sulit untuk didaki, hingga waktu itu tak ada seorangpun yang berani datang kesana.”
“Aki mengambilnya sendiri?”
“Ya, tentu saja dengan penuh perjuangan. Karena saat sudah dengan susah payah sampai ditempat tersebut, akupun masih kesulitan mencari-cari batang yang dimaksud. Sebab anehnya, bambu ini adalah satu-satunya batang yang berwarna kuning diantara ratusan rumpun pohon bambu ditempat tersebut.”
“Bagaimana Aki bisa tahu kalau disana ada bambu semacam itu?”
“Hmmm … katakan saja, aku diberi petunjuk oleh seseorang yang memiliki kemampuan lebih dalam penerawangan.”
“Sehebat itu?”
“Banyak orang seperti itu dimasa lalu. Ingat, negara ini masih belum juga merdeka saat aku mendapatkan benda tersebut di kala masih remaja.”
“Oh, iya … jaman masih berbeda dengan sekarang. Lalu, bagaimana kisah selanjutnya?”
“Setelah menemukan benda ini seusai berguru kanuragan pada seseorang, dimulailah kabar yang berhembus tentang mukjizat sebatang bambu ampuh yang tak terkalahkan.”
“Terus? …” desak Bayu yang tampak terhanyut dalam cerita yang baru sekali ini didengarnya.
“Nah … dari situlah awal mula muncul desakan tentang pembuktian betapa saktinya batang bambu yang bisa mengalahkan kerasnya senjata tajam.”
“Lalu, Ki Jalitheng memamerkan bambu yang Ki Jalitheng dapatkan dari lereng gunung Sumbing itu?”
“Ha ha ha … melakukan demonstrasi keampuhan, itu sudah seharusnya kulakukan. Tapi tentu saja, sebatang bambu bagaimanapun kuatnya, tak akan mungkin bisa melawan sebuah senjata pusaka yang terkenal keras dan tajam dikala itu.” Demikian jelas Ki Jalitheng.
Dua murid didepannya melongo, namun tampaknya masih belum bisa memahami arti dari kata-kata yang penuh dengan makna bercabang. Mengetahui kebingunan dua anak muda tersebut, sang kakek tua kembali berkata,
“Aku akan mengatakan sebuah rahasia kecil … pada masa muda, aku hanyalah merupakan seorang anak remaja nakal yang terlalu gatal untuk berbuat iseng dengan menipu orang banyak terkait kesaktian dari bambu kuning itu. Karena semua kabar kehebatan benda ini, memanglah sengaja kuhembuskan dengan kubesar-besarkan khasiat dan kesaktiannya agar orang-orang menjadi segan padaku.”
“Maksud Aki?”
“Pada jaman itu, orang masih percaya sekali akan keampuhan sebuah benda pusaka.”
“Pusaka bambu kuning?”
“Nah … karena banyak orang yang menginginkan pembuktian terkait kesaktian batang bambu yang kutemukan itu, maka aku jadi memiliki sebuah pemikiran yang sangat cerdas tapi nakal.”
“Apa itu, Ki?”
“Membuat sebuah duplikat pusaka bambu kuning ...”
***