BAB 30 - Pulang

1892 Kata
Ternyata, rasa penasaran pada keajaiban bambu kuning itu tak hanya dipendam dalam pikiran Wulan saja. Karena Opik yang pada suatu sore berkunjung ke rumahnya, mendadak menanyakan hal tersebut pada si gadis kecil. “Aku benar-benar kagum dengan keampuhan bambu peninggalan pamanmu itu,” demikian komentar si pria gempal ditengah obrolan. “Jangankan Om Opik. Bahkan aku yang menggunakannya langsung juga seperti masih tidak percaya.” Demikian jawabnya. “Dan benda itu jugalah yang membuat Tetua Ali Badri menjadi segan pada pamanmu.” “Iya, aku tahu. Dan yang membuat salut, beliau masih saja menjaga respeknya yang sedemikian tinggi pada paman Sujiwo.” “Itu karena Pamanmu juga bersikap menghormati dia.” “Iya … mereka tetap saling menghormati walaupun tak menjadi kawan segolongan.” “Pamanmu memang orang baik.” Opik berkata dengan nada sedih. “Paman sudah enak di atas sana, Om … kita hanya perlu berkirim doa agar beliau mendapatkan tempat yang terbaik disisi Tuhan.” “Benar …” jawab kembali Opik dengan mata menerawang. “Oh ya, Om … mumpung kita sedang membahas beliau, aku akan membicarakannya saja sekalian.” “Tentang?” “Bambu itu … emmm … aku minta maaf jika saat ini belum bisa memutuskan untuk memberikannya pada Om Opik. Karena …” “Ah, tidak … jangan! Itu pusaka milik Mas Jiwo. Kamulah yang lebih tepat mewarisinya. Karena selain merupakan hak, ternyata kau juga bisa menggunakannya dengan sama hebatnya seperti  Mas Jiwo kala itu.” Dengan cepat, Opik menyanggah agar tak dikira berharap memiliki bambu kuning tersebut. “Bukan itu intinya, Om … jangan salah paham dulu. Begini, aku jelaskan …” ---   Karena kebetulan tengah membahas hal itu, langsung saja Wulan menceritakan rencananya untuk menghadap pada Ki Jalitheng. Dalam kata-katanya, ia juga menyebut kecurigaannya terkait dugaan jika bambu kuning tersebut adalah merupakan milik sang guru. Untuk sementara, si gadis  memang baru bisa menduga tentang itu. Karena, ia juga belum paham kebenaran terkait apakah Sujiwo memang pernah menjadi murid Ki Jalitheng ataukah bukan. Hal itu menjadi sangkaannya, karena ia pribadi pernah melihat sebuah benda yang sedemikian persis dengan itu di rumah sang guru. “Apakah maksudmu, kalian berdua memiliki guru yang sama?” tanya Opik dengan heran. “Bukan begitu … sebenarnya, Ki Jalitheng hanyalah sekedar mengajari aku untuk menghimpun hawa murni melalui pernapasan. Selain dari itu, beliau juga mengasah kemampuanku setiap harinya dengan mengajak melakukan apapun yang bisa membuat gerakanku menjadi lincah serta lentur.” “Termasuk cara memukul dan membuat serangan pada lawan?” “Hanya menunjukkan bagaimana caranya dan titik mana saja dari tubuh manusia yang bisa menjadi fatal jika kita berhasil memukulnya.” “Bukan jurus-jurus silat seperti yang Mas Jiwo miliki?” “Bukan seperti itu. Ahhh … aku malah tidak tahu kalau Paman bisa melakukan gerakan silat.” “Pamanmu itu piawai dan sangat ahli dalam ilmu beladiri. Namun semenjak kedatanganmu, ia memang menjadi agak tenang dan terlihat lebih santai. Dalam arti, tak pernah keluyuran dan cepat emosi jika mendapatkan tantangan.” “Ohhh … begitu …” hanya demikian tanggapan si gadis. Mungkin ia menyadari, bahwa kehadirannya sudah menjadikan sang paman menjadi lebih tenang dan terkendali. ---   Setelah diam beberapa saat, Wulan kembali berbicara, “Makanya, aku berencana pulang untuk bertemu Ki Jalitheng. Selain itu, aku juga sudah rindu pada desaku dan juga ingin mengunjungi makan ayah bundaku …” “Kapan?” “Setelah ujian selesai. Nah, jika Ki Jalitheng mengijinkan … aku akan meminta agar bambu kuning itu diperbolehkan untuk dirawat oleh Om Opik.” “Nggak usah … ha ha … percuma juga Om Opik memilikinya. Bukankah pernah kukatakan bila aku belum mampu untuk memanfaatkan keampuhan benda tersebut?” “Itu bisa dilatih, Om …” “Bagaimana caranya?” “Seperti saat Ki Jalitheng menggembleng diriku. Berloncatan di bebatuan kali, menyelam dan melatih pernapasan serta beberapa teori memukul, menendang serta menangkis.” “Pada siapa aku harus belajar itu?” “Hi hi hi … kalau Om Opik mau, aku akan mengajarinya.” “Memangnya kamu bisa?” “Jangan lupa, Om … semenjak kecil, aku sudah berlatih sendiri. Sementara Ki Jalitheng, beliaulah yang mengoreksi agar latihanku menjadi benar dan tepat. Karena itulah, sekarang aku jadi paham bagaimana cara berlatih yang tepat.” “Ohhh … baiklah, aku mau! Kapan kita bisa mulai latihan?” “Hi hi hi … kapan saja Om Opik mau. Emang terburu-buru banget?” “Wulan … kamu tidak paham juga. Sekarang ini tanggungjawabku menjadi semakin besar dengan bertambah luasnya daerah yang harus aku bawahi. Dengan keadaan demikian, pastilah akan semakin berat tantangannya.” “Berkelahi lagi untuk rebutan daerah kekuasaan?” “Antara lain seperti itu. Karena, aku rasa masih banyak orang yang meragukan kemampuanku dalam berkelahi. Sangat berbeda dengan dirimu yang nyata-nyata sudah berhasil menumbangkan Edi Best.” “Hmmm … aku paham. Tapi selain itu, memang ada baiknya kalau Om Opik berusaha untuk selalu membugarkan tubuh. Hi hi … lihat, perut aja udah jadi gendut begitu.” “Ah, kamu ini malah mengejek. Ha ha … semenjak Mas Jiwo meninggal, aku memang jarang latihan.” “Baiklah, kita berlatih secepatnya. Tapi untuk itu, kita perlu menemukan sebuah tempat yang sepi. Sungai dengan batuan kali besar serta jauh dari mata orang lain, adalah tempat yang sangat tepat untuk berlatih menyelam dan kelincahan.” “Ahaaa  … kebetulan kalau begitu. Kita bisa berlatih di desaku, tempat dimana anak dan istri Om Opik berada.” “Anak istri? Desa? bukankah Om Opik tinggal dikontrakan itu sendirian?” “Disini, aku memang sendiri. Anak istriku tak perlu tahu jika sang suami dan ayah bagi anaknya hanya bisa bekerja menjadi calo angkot. Bagi Om Opik, mereka hanya perlu mengerti bahwa ayahnya mencari hidup di kota dengan halal, meskipun sekedar pekerja kasar. Yang penting, beberapa hari sekali aku selalu pulang untuk memberi nafkah agar kebutuhan rumahtangga serta sekolah anak-anak tercukupi.” “Wahh … keren. Baiklah, kita berlatih disana saja, itu malah kebetulan. Tempatnya jauh, Om?” “Hanya memakan waktu tigapuluh menit dari kota dengan menggunakan kendaraan roda dua.” “Beres … kita susun saja jadwalnya!” ---        Semenjak saat itu, dimulailah latihan olahraga rutin Opik yang mungkin dirasa sedikit aneh dan lucu. Bahkan anak dan istri lelaki itu yang langsung bisa kenal akrab dengan Wulan, kadang sering tertawa geli saat menunggui sang kepala keluarga berlatih dibawah bimbingan si bocah muda. Tapi dasarnya memang punya sifat ceria dan suka iseng, Wulan malah bisa benar-benar menularkan pengetahuannya dengan santai dan mudah ditangkap. Sehingga dengan begitu, Opik lebih  bisa mendapatkan kemajuan yang cukup pesat. Lalu setelah merasa puas melihat lelaki tersebut dapat berlatih tanpa bimbingannya, gadis itupun mempersilakan sahabat sang paman itu untuk melakukannya sendiri. Hari-hari berlalu, dan sang pria bertubuh gempal itupun merasakan betapa besar manfaat dari latihan tersebut. Dalam bimbingan Wulan yang secara natural memang sudah memiliki pengetahuan dasar menghimpun tenaga murni dan olah tubuh, laki-laki baik hati itupun menjadi semakin percaya diri lagi akan kemampuannya. Karena setelah menjalani latihan dengan tekun dan tiada bosan, tenaga dan kelincahannya memang terbukti bisa bertambah hingga sekian kali lipat. Tak hanya itu;  kinipun penglihatan serta pendengarannya terasa menjadi lebih tajam, karena ketenangan batin yang ia dapatkan manfaatnya dari berlatih menahan napas dengan menyelam.   ***   Akhirnya, tibalah waktunya bagi Nawang Wulan untuk melepaskan semua kerinduan pada tanah tumpah darah yang telah membesarkannya. Walau Opik bersikeras untuk mengantar atau menyuruh seseorang membawa gadis itu dengan sebuah mobil pinjaman, si remaja belia tetap menolak dengan halus. Dasar si Wulan memang tak pernah mau menonjolkan diri. Bertolak belakang dari saran serta permintaan orang-orang yang menyayangi agar perjalanannya menjadi nyaman dan cepat, ia malah lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum saat kembali ke desanya. “Aku ingin menikmati perjalanan sebagai siapa aku sebenarnya. Biarlah aku naik bis saja, hitung-hitung untuk mengembalikan kenanganku saat dibawa pertama kali menaiki itu.” Demikian jawab si bocah pada Opik yang menghkhawatirkan perjalanannya. “Kamu berani? Bukankah kau belum pernah pergi jauh semenjak datang kemari?” “Aku berani, Om … jangan kuartir, aku bisa jaga diri. Perjalanan yang hanya empat sampai lima jam, aku rasa tidaklah jauh. Dan jangan lupa, aku ini anak sekolahan yang bisa bertanya dan tahu harus kemana karena tak buta baca tulis. Hi hi hi …” “Iya, iya … aku percaya. Yang penting hati-hati saja.” “Iya, pasti aku akan selalu hati-hati.” ---   Dan disinilah Wulan sekarang … Dihadapan dua pusara yang tadinya terlihat agak terlantar, keringatnya mengucur dengan deras saat selesai membersihkan serta membetulkan beberapa tempat yang kurang bagus. Untung saja ia memang sudah bersedia membawa berbagai peralatan. Jadinya, pekerjaan yang dulu selalu ia lakukan itu sudah bisa diselesaikan secara baik dan cepat.    Dirinya memang sengaja terlebih dahulu mengunjungi makam sebelum melakukan hal lainnya. Karena itulah, Wulan hanya sempat meletakkan barang-barangnya setelah menyapa para tetangga, lalu mengambil peralatan dan segera bergegas pergi menuju makam. Hari memang sudah mulai sore, karena perjalanannya harus dilakukan dengan berganti kendaraan umum sebanyak dua kali lagi setelah turun dari bis antar kota. Itu saja, sisa jarak juga masih harus ditempuh dengan berjalan kaki menaiki bukit selama sekitar tiga puluh menit. Lelah, gerah dan juga pegal … namun, semua hal tersebut tak dengan serta merta bisa membendung segenap kerinduan akan bayangan ayah serta ibundanya. Ayah yang tak pernah sempat memeluk serta menciumnya, dan sang ibu yang juga tak berdaya sementara si anak masih mengharapkan kasih sayang dan perhatiannya. Akan tetapi … gadis itu memang demikian istimewa pemberani serta tak pernah berprasangka buruk dengan kekejaman dunia.  Hal itu akan segera dapat diketahui jika ada orang yang menyaksikan betapa tegarnya sosok ramping itu saat berdiri tegak, sembari menghadap pada dua gundukan makam yang kini sudah bersih dan memiliki penanda baru. Dengan berurai airmata namun mengulum senyum yang begitu tulus, terdengar Wulan berkata, “Ayah yang tak penah melihatku berlarian … kau yang juga tak pernah sedikitpun sempat mendengarkan nyayian serta celotehku …, beristirahatlah dalam damai di surga sana. Percayalah, kelak kita akan berkumpul dalam bahagia jika saatnya telah tiba nanti. Dan disana … aku akan menyanyikan berapapun lagu indah yang ingin kau dengar dari bibirku ini.” Setelah menghela napas sambil melempar senyum yang sedemikian penuh cinta, iapun menengok pada pusara disebelahnya. Kemudian, dilanjutkannya kata-kata dengan nada penuh cinta dan kerinduan. “Ibu … maafkan aku yang tak sempat bisa membahagiakan hidupmu yang begitu singkat. Lihatlah anakmu ini, ibu … Aku sudah besar … dan semesta yang begitu menyayangiku, nampaknya akan selalu memberikan apapun yang kubutuhkan dalam hidup ini. Tak usahlah kalian berdua merisaukan aku,  karena percayalah … dalam kehidupan ini aku akan selalu dilindungi oleh bumi dan langit yang bagai saudara-saudaraku sendiri. Istirahatlah kalian berdua dalam kebahagiaan abadi …” Selesai mengucap doa dan juga semua rasa dihati, sang gadis menyusut airmata. Namun, tak nampak sedikitpun wajah murung dari sosok yang tak punya siapapun di dunia ini. Karena yang tampak membayang kini dari wajah ayu bersahaja itu, adalah kerasnya tekad yang juga disertai oleh semua kepasrahan dalam menjalani hidup untuk menemukan takdirnya sendiri. Karena kehidupan didunia memang sudah memiliki suratan nasibnya sendiri, Wulan memang tak pernah sedikitpun meragukan adil dan murahnya Sang Penguasa semesta. Dan oleh sebab itu, ia hanya tahu bahwa tugasnya didunia ini hanyalah sebatas menjalani garis yang sudah ditentukan dengan sebaik mungkin. Wulan paham … Jika hidup ini diibaratkan sebagai kertas putih saat ia dilahirkan, … dia hanya perlu melukis diatasnya dengan sebaik dan seindah kemampuannya belajar, tanpa banyak coretan dan noda diatas permukaannya. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN