BAB 29 - Kabar Baik

2081 Kata
Mengawal dibelakang, Opik mengikuti skuter yang dikendarai Wulan hingga sampai ke rumahnya. Malam sudah begitu tua, dan hari mulai bergeser untuk berganti dengan penanggalan baru. Karena itulah, si lelaki gempal tersebut tak mau berlama-lama atau walau hanya sekedar  mengikuti masuk ke dalam rumah. “Kau istirahatlah barang satu dua hari. Mungkin untuk beberapa saat, Om Opik akan disibukkan dengan urusan Edi Best dalam kaitannya dengan laporan kepolisian sehubung peristiwa pamanmu.” Demikian pesan Opik pada gadis tersebut. “Baik, Om … kabari saja jika aku dibutuhkan.” “Iya, pasti akan kuberi kabar berita perkembangan kasus orang itu. Termasuk juga, aku akan membicarakan denganmu tentang bagaimana kita nanti mengelola aset yang sedemikian besar yang sebelumnya berada dalam penguasaan Edi Best.” “Kalau untuk itu, ada baiknya Om Opik bekerjasama saja dengan Tetua Ali Badri. Percuma bicara denganku, karena yang ada malah akan bingung nantinya.” “Baiklah kalau begitu. Aku menuruti saranmu, sebab semua itu adalah menjadi hakmu.” “Mengapa bisa begitu?” “Karena hukum dunia jalanan memang seperti itu. Kau yang mengalahkan Edi Best, maka dengan otomatis akan menjadi pemimpin yang baru.” “Hi hi hi … Om Opik lucu.” “Kok lucu?” “Aku nggak mau jadi preman. Karena aku sama sekali tidak suka berkelahi, Om … yang kuinginkan, hanyalah menyelesaikan sekolah dan melanjutkannya lagi di kota besar agar bisa menggapai cita-citaku.” “Ahh … maafkan aku. Om Opik lupa, kau ini bocah sekolahan yang pintar dan cerdas. Baiklah … akan kutangani semua dengan mengajak pihak Tetua untuk bersama-sama mengelola. Tapi nantinya, kamu akan selalu mendapatkan bagian setiap harinya agar bisa ditabung untuk biaya sekolah tinggi nanti.” “Emmm … terserah Om Opik saja. Tapi untuk sementara, aku titip untuk dikumpulkan dulu saja uang itu. Hitung-hitung, anggap sebagai kas yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan anggota atau pekerja yang membutuhkan.” “Ohh … ide yang bagus. Ya … karena kata-katamu itu, aku jadi memiliki sebuah pandangan tentang bagaimana mengelola sekian anak buah dengan baik demi kesejahteraan mereka.” “Koperasi anggota?” “Semacam itu.  Hmmm … baiklah, Om Opik pulang dulu. Kamu istirahat saja, baik-baiklah di rumah …” “Siap, Om … terima kasih, hati-hati di jalan.” Segera setelah Opik pergi, Wulan memanaskan air untuknya mandi. Selarut itu, sebenarnya ia malas untuk mandi. Tapi karena keringat serta debu yang telah menempel sepanjang malam terasa begitu membuat risih, mau tak mau ia harus membersihkan badannya agar bisa tidur dengan nyenyak. Terlebih lagi, siraman air hangat pastilah akan dapat mengurangi rasa letih dan pegal pada sekujur tubuh yang entah sudah sebatas apa ia paksa untuk terus mengeluarkan tenaga. ---   Segar dan merasa lebih nyaman seusai membasuh tubuhnya dengan siraman air panas, si gadis langsung teringat untuk memeriksa satu hal yang terus saja membuatnya penasaran dan tak habis pikir. Masih membalut rambut basahnya dengan handuk kecil serta mengenakan  jubah mandi tanpa pelapis apapun didalamnya, si gadis ramping mengambil tongkat bambu kuning yang sudah dimasukkan kembali dalam wadahnya. Dengan perlahan, ia mengeluarkan benda yang sedari tadi masih saja menyisakan tanya, meskipun semua sudah dapat terlewati dengan baik. Dan karena rasa ingin tahunya yang begitu besar itulah, ia berniat untuk mengamati benda yang sudah berhasil menyelamatkan selembar nyawanya dari tebasan benda setajam pedang Katana. Jengkal demi jengkal, ia mengelus tongkat tersebut menggunakan jemari. Dengan cermat, ia meneliti untuk mencari sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti. Lalu seolah tak puas dengan hanya menggunakan tangan kosong, Wulan mengambil selembar kain halus yang kemudian digunakannya untuk menggosok batang bambu tersebut. Namun sekian lama mencari hingga ia bingung sendiri, ternyata masih saja ia benar-benar tak dapat menemukan jawaban pasti terkait betapa mentakjubkan keampuhan benda yang hanya berupa bilah bambu itu. Tentunya, keheranan sang gadis belia cukup beralasan. Karena bahkan ia sendiri yang tadi menggunakannya, ternyata juga tak bisa mengerti bagaimana cara benda tersebut saat bekerja. Yaitu dengan membantunya melawan tajamnya bilah Katana yang sedemikian terkenal mampu memutuskan benda keras lainnya. Selain hal itu, keheranan yang lainnya adalah; terkait betapa tenaganya yang jelas-jelas jauh kalah kuat dengan sang lelaki bertubuh tinggi besar, mengapa dengan ajaibnya bisa sanggup menahan beratnya bobot pedang yang diayunkannya hanya dengan menggunakan tongkat bambu biasa. Yang bahkan, tak meninggalkan bekas goresan apapun dipermukaan halusnya. Sungguh tak masuk akal serta logika … demikianlah kesimpulan si Nawang Wulan. Karena sebagai seseorang yang hidup di jaman modern, tentu saja ia tak bisa sepenuhnya percaya tentang cerita mitos yang mengagungkan sebuah benda menjadi semacam jimat pembawa keajaiban. Bagi Wulan sendiri, pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah bisa ia temukan jawabannya. Karena jika ia tak bisa mendapatkan sesuatu  yang masuk akal serta bisa diterima oleh nalar, pastilah akan tetap menjadi penasaran di sepanjang sisa hidup. Tapi karena malam itu ia belum bisa menemukan sebuah pencerahan yang berarti, nampaknya Wulan harus bersabar untuk menunggu beberapa saat lagi. Gadis itu tahu, kemana ia harus pergi untuk mencari jawabannya. Dan bila waktunya sudah tepat, ia sudah bertekad untuk mencarinya kesana. Ujian terakhir sekolahnya hampir tiba beberapa bulan lagi. Dan setelah semua itu dapat di selesaikan dengan baik, ia akan berkemas untuk pulang selama beberapa hari ke desanya. Disamping kerinduannya pada tanah tumpah darah, ia juga benar-benar sudah sangat ingin untuk nyekar ke makam Ayah serta Bundanya. Selain itu, mengurus dokumen untuk melanjutkan sekolah adalah satu hal penting yang harus dilakukan. Namun yang tak kalah penting, Ki Jalitheng pasti akan ada disana untuk memberinya jawaban terkait misteri tongkat bambu kuning itu. Karena Wulan memiliki feeling, jika sepertinya benda tersebut adalah milik sang guru yang entah bagaimana telah berada di tangan Sujiwo. Dengan mengembalikannya pada sang pemilik, tentu saja ia berharap mendapatkan suatu penjelasan yang dapat memuaskan rasa penasaran dalam hatinya. ***   Pagi harinya, Wulan sudah berada di sekolah seperti hari-hari yang lalu. Walau badannya terasa lelah luar biasa, namun tak mengubah kebiasaan sang gadis dalam menunaikan kewajiban pokoknya. Yaitu, selalu berangkat paling awal dan menjadi murid paling rajin semenjak kepindahannya ke tempat tersebut. Lima belas menit menjelang bel masuk berdering, suasana sekolah sudah menjadi ramai dengan kedatangan teman-temannya. Dan sebagai seorang anak yang tak pernah memilih-milih teman, gadis itupun langsung saja asyik berbaur dengan semua kawan satu kelas yang memang akrab dengan pribadi hangat serta lucu namun cuek itu. Karena dengan penampilan tomboi yang kadang disertai ceplas-ceplos bicara apa adanya, dengan cepat ia sudah memiliki banyak kawan yang menerima Wulan dengan apa adanya. Apalagi; ‘si anak baru’ yang mulai masuk bergabung dengan mereka dari awal kelas IX itu,  selama ini  telah dikenal sebagai seorang yang selalu mengalah dan rendah hati pada siapapun. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila sekarang ini Wulan sudah memiliki banyak teman yang bisa ia ajak bercanda serta bergembira bersama di sekolah. Seperti pagi itu, iapun langsung larut dalam canda dan bisa sedikit melupakan betapa pegalnya seluruh badan akibat aktifitas malam sebelumnya. ---   Tengah asyik tertawa, mendadak seorang temannya memanggil dan memberitahukan sesuatu. “Wulan, aku disuruh Ibu Yuni untuk mencarimu. Beliau mengharap kehadiranmu saat ini di ruangannya.” Demikian kata gadis itu. “Bu Yuni?” ulang Wulan dengan tanda tanya. Beberapa orang temannya juga saling berpandangan heran. Karena yang mereka tahu, sosok tersebut adalah merupakan seorang guru konseling yang menangani anak-anak bermasalah. “Iya, Bu Yuni guru konseling.” “Oh, baiklah … aku akan kesana sekarang,” jawab Wulan kembali dengan ringan. Tak mau menunggu lama, gadis berseragam putih abu-abu itu langsung melenggang menuju ruang kantor konseling untuk menemui gurunya. Di belakang Wulan, wajah-wajah bingung nampak saling pandang menyisakan tanya. ---      “Selamat pagi, Bu …” sapa Wulan setelah ia mengetok pintu dan dipersilakan masuk. “Selamat pagi, Wulan. Duduklah, kebetulan teman-temanmu sudah berkumpul semua,” jawab ibu guru muda yang cantik itu. “Terima kasih, Bu …” jawab kembali si gadis sambil mengangguk. Dalam ruangan tersebut, sudah ada tujuh orang yang duduk menunggu. Empat perempuan dan tiga anak laki-laki berseragam abu-abu, semua memandang Wulan sambil tersenyum tipis dan melambaikan tangan rendah. Wulan balas  mengangguk bingung  pada kawan-kawan satu angkatannya itu, lalu mengambil salah satu kursi kosong untuk diduduki. Tentu saja, ia masih merasa agak terkejut dengan panggilan guru konseling sekolahnya. Karena seperti adatnya, ruangan yang kini dimasuki adalah merupakan sebuah pengadilan bagi anak-anak bandel yang bermasalah dengan tata tertib sekolah. Ditambah lagi, ia juga menemukan wajah-wajah tegang yang menyiratkan sebuah kebingungan yang sama dengannya. Wulan menebak, kawan-kawan yang biasa ramah itu menjadi agak terlihat serius karena merasakan hal yang sama seperti dirinya.    “Baiklah … semua sudah berkumpul karena satu orang yang ditunggu telah datang. Kalau begitu, Ibu akan langsung saja memberikan informasi ini agar kalian tidak lagi menahan tanda tanya karena panggilan yang sedemikian mendadak.” Demikian sambutan sang ibu guru dengan santai. Tapi meskipun terdengar biasa saja dan tak ada gelagat sedkitpun terkait sebuah teguran, tetap saja semua murid yang ada disitu terlihat masih tegang. Mereka seperti menunggu, apa sebenarnya yang akan disampaikan. “Hmmm … Ibu kok melihat kamu semua tegang begitu? Kenapa? Takut diberi teguran?” tanya sang ibu guru kembali sambil tertawa. Namun saat melihat tak satupun muridnya yang berani ikut tertawa atau hanya sekedar senyum, akhirnya ibu guru tersebut menjelaskan duduk perkara pemanggilan yang sedemikian mendadak itu. ---  Dengan perlahan dan penuh rasa gembira, guru bimbingan dan konseling tersebut memberikan sebuah kabar gembira. Sebagai wakil dari pihak sekolah, ia memberitahukan sebuah informasi terkait rencana pengajuan  kedelapan murid terpilih untuk maju dalam seleksi masuk tanpa test pada beberapa universitas negeri pilihan. Dalam kesempatan itu juga, beliau juga memberikan penjelasan bahwa siapapun yang ada di ruangan tersebut dibebaskan untuk  bersedia ataupun menolak.  Karena sesuai kebijakan sekolah, mereka masing-masing memang sudah diarahkan pada jurusan yang sesuai dengan rekam nilai rapor semenjak kelas X. “Jadi, kalian boleh menerima ataupun menolak penawaran dari sekolah ini. Karena pada dasarnya, sekolah hanyalah berusaha membantu untuk mencarikan universitas negeri sebagai tempat lanjutan menimba ilmu yang sesuai dengan bakat serta kemampuannya.” Demikian tutup sang Ibu guru. “Kalau kami menerima, apa yang harus dilakukan, Bu?” tanya Wulan dengan antusias. “Nanti akan ibu beri daftar masing-masing universitas beserta formulir pendaftarannya, dimana kalian sudah diarahkan kesitu. Untuk yang menerima, kalian harus mengisinya dengan lengkap. Sementara bagi yang tidak, mereka boleh mengembalikannya tanpa diisi apapun.” “Lalu, apakah kami tidak boleh memilih jurusan sesuai keinginan meskipun pada universitas yang sama?” tanya seseorang yang lain. “Sayangnya, itu tidak bisa dilakukan. Karena sekolah sendiri sudah menetapkan demikian dengan berbagai pertimbangan, yang didalamnya juga termasuk dalam peluang serta kuota penawaran dari pihak kampus sendiri.”   “Ohh … jadi, kami akan kehilangan kesempatan itu jika menolaknya?” yang lainnya lagi bertanya. “Kira-kira seperti itu. Tapi jangan khawatir … pihak sekolah akan memberikan waktu pada kalian selama beberapa hari untuk memikirkannya secara masak dan sekaligus berkonsultasi dengan orangtua.” “Oh, baiklah kalau begitu …” “Tapi ingat! Bila kalian sudah memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan berhasil masuk ke universitas bersangkutan, kalian semua harus berani membawa sebuah konsekuensi berat. Yaitu, menyelesaikan dengan baik studi kalian dengan senantiasa menjaga nama baik almamater sekolah menengah atas kalian.” “Siap, Bu … “ ***   Sore hari sepulang sekolah dimana kabar baik itu diterima, Opik juga menepati janji dengan memberi kabar terkait perkembangan kasus yang menjerat Edi Best. Dimana pada hari itu juga, sang Preman berangasan telah resmi menjadi tahanan pihak kepolisian terkait perbuatannya yang tak bertanggungjawab. “Apakah dia baik-baik saja?” tanya Wulan dengan nada sedikit sedih, saat teringat betapa lelaki yang menjadi lawannya itu terlihat sangat kesakitan setelah menerima gebukan tongkat pada kakinya. “Sudah mendingan setelah mendapatkan penangan dokter. Hanya saja … ia harus menerima kenyataan, jika luka lama bekas pemasangan pen pada tulangnya akan sulit untuk dipulihkan kembali.” “Cacat permanen?” “Sebenarnya, ia memang sudah cacat akibat kecelakaan yang sempat dialami. Selama ini, tulangnya bisa tersambung baik karena alat bantu medis. Namun karena mendapatkan benturan jadi luka tulang yang baru lagi, dokter mengatakan kalau ia akan sulit pulih karena faktor usia.” “Ah, kasihan … itu semua salahku.” “Bukan kamu yang bersalah. Karena seharusnya ia mendengar saran dokter setelah menjalankan operasi sambungan tulang sebelumnya. Namun karena mengabaikan, ia nekad menjalankan aktifitas berat hingga menjadi trauma baru dalam luka lamanya.” “Tapi, sedikit banyak aku ikut andil dalam luka itu.” “Tak usah terlalu dipikirkan. Percayalah, itu malah akan berguna bagi dirinya saat harus menjalani hukuman penjara yang akan lama nanti.” “Terkait kecelakaan paman Sujiwo?” “Ya … dan karena hal tersebut merupakan sebuah perbuatan terencana, ia bisa mendapatkan vonis selama 20 tahun. Rasanya, ia tak terlalu membutuhkan kaki untuk dipakai berlarian.” ***     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN