BAB 28 - Tumbang

1843 Kata
Dengan begitu licik, Edi Best berpura-pura hendak menyerah saat ia mendekat pada Wawang yang  sedang lengah. Padahal  pada waktu itu, sebenarnya ia tengah berusaha mengambil suatu benda dengan menggunakan  tangan kanan yang pura-pura ia usapkan pada kain celana. Dan setelah merasa waktunya tepat; preman licik berangasan tersebut langsung saja menyambitkan segenggam bubuk merica yang memang sengaja ia bawa untuk digunakannya sewaktu berada dalam keadaan terjepit. Dan benar saja … kekalahannya telah berubah menjadi keunggulan, ketika dengan cerdiknya ia meremas bungkus bubuk merica dan langsung menaburkan ke arah sepasang mata si pemuda yang tengah terhanyut haru menatap kasihan pada lelaki tengah baya itu. “Kena!” demikian teriaknya saat mendengar teriakan  spontan dari Wawang yang merasa perih dan panas pada bagian matanya. Dan tanpa memperdulikan perasaan serta martabatnya sebagai laki-laki terhormat, dengan serta merta dipindahkannya pedang ke tangan kanan … lalu diangkatnya tinggi-tinggi untuk disabetkan secara menyilang ke arah leher dan pundak Wawang. ---   Sang anak remaja paham, jika jiwanya saat itu sedang ditawar oleh sang dewi maut. Namun sebagai putri kesayangan bumi dan langit, ia hanya bisa pasrah mengikuti takdirnya sambil berserah diri sepenuh pada kekuatan batin yang senantiasa menyatu dengan semesta. Dengan masih menahan rasa pedih dimata, ia berusaha mengerjap untuk mengetahui posisi lawan. Lalu saat pendengarannya yang tajam menangkap desir angin akibat luncuran mata pedang, dengan cepatnya ia memusatkan tenaga pada kedua tangan yang kini telah semakin erat menggenggam bambu kuning. Dan hanya perlu sepenarikan napas panjang, segenap panca inderanya pun telah seketika menjadi sedemikian peka. Tak mau kalah cepat, diayunkannya lengan dengan sekuat tenaga untuk menyambut arah datangnya serangan senjata tajam yang sungguh sangat mematikan itu ... TRAANG!! … Bunga api berpijar menyertai benturan kedua benda yang sama-sama keras! Wawang terhuyung satu langkah kebelakang dengan telapak tangan yang terasa sangat panas dan perih menggigit kulit. Untuk sejenak, ia bertahan diam dalam pertahanan kuda-kuda yang memungkinkannya untuk bisa cepat bergerak kembali. Hening, sepi … tiada seorangpun yang berkata-kata setelah puluhan sosok disana berusaha menahan napas karena tegangnya seluruh syaraf. Tapi  tak lama setelah itu, tersengar desah halus dari beberapa orang yang nampaknya sedang menghembuskan napas lega. Si bocah menajamkan pendengarannya, namun tak juga menangkap suara gerakan lawan yang ada di depan. Hingga beberapa detik berikutnya, ia baru bisa menangkap sebuah pergerakan halus yang sepertinya serupa suara bergesernya alas kaki menyentuh lantai. Merasa harus mempertahankan nyawa yang hanya satu lembar saja, Wawang kembali menghela napas panjang, lalu berupaya keras melawan perih pada matanya untuk dibukanya meski hanya sekejapan saja. Dan meskipun hanya sepersekian detik, ia bisa melihat sesosok bayangan gelap didepannya yang tengah bersiap melancarkan satu serangan pamungkas. Tak mebuang waktu, remaja itu bergerak. Lalu … Trang!! Kembali, dua senjata beradu. Namun kini, nampaknya si pemuda cilik sudah memiliki sebuah rencana matang untuk mengakhiri pertarungan. Karena setelah berhasil menangkis tebasan Katana yang menyilang dari arah kiri atas menuju kanan bawahnya; dengan tanpa diduga oleh lawan, ia segera meneruskan gerakannya. Dan  betapa  indah dan luwes dipandang mata, gerakan itu ... Karena yang disaksikan oleh semua orang, tubuh ramping itu seperti menggeliat setelah melakukan satu tangkisan telak. Lalu sesudah itu, nampaklah suatu gerakan yang benar-benar natural serta menyatu secara sempurna bagai tarian gemulai yang siap menyebar kematian. Wawang memutar tubuhnya kearah kiri sembari menjatuhkan diri untuk bergulingan dilantai beton. Kemudian dalam satu putaran tubuh, tongkat bambu yang dibawanya itu turut berayun seirama bersama gerakannya. Dan ketika ia merasa saatnya telah tiba, dipukulkannya dengan keras benda tersebut ke arah sasaran yang sudah ia incar sebelumnya. ---   “Ahhhh … arggghhh!!! B*j*ng@# syaitan kecil … !!” dengan kerasnya, Edi Best berteriak sekuat tenaga saat merasakan kesakitan yang teramat sangat pada paha di atas lurut kirinya. Dengan sangat tepat, Wawang menggunakan sisa-sisa kekuatan dan pertahanan dirinya untuk mengincar tempat yang dengan seketika telah membuat lawannya tak berdaya. Si pemuda paham bahwa paha kiri, adalah salah satu kelemahan yang dimiliki oleh sang jawara.  Hal tersebut sebenarnya sudah ia mengerti sejak melihat Edi Best kesakitan disaat tadi ia  menendangnya dengan tanpa sengaja. Namun karena rasa tidak teganya, iapun berusaha untuk menghentikan pertarungan beberapa waktu yang lalu. Karena si remaja tahu , jika cedera yang dimiliki lelaki itu pastilah akan menjadi sebuah kekalahan telak pada akhirnya. Namun karena sang jawara yang terlalu tinggi menilai dirinya itu tak mau diajak berdamai dan bahkan malah melakukan kecurangan yang benar-benar tak pantas, tentu saja kesabaran Wawang pun ada batasnya. Dan kini … dengan telaknya, sang preman tak terkalahkan telah berhasil tumbang berkalang tanah dengan menahan kesakitan yang tak mampu ia sembunyikan lagi. Namun begitu … kesombongan yang tiada memiiliki penawar, nyatanya tetap saja akan dipertahankan. Karena dalam kesakitan ia memegangi sebelah kaki yang sudah tak bisa dipergunakan lagi, Edi Best berteriak dengan kerasnya. “Tunggu apa lagi? Serang!” demikian perintahnya dengan segala amarah tertumpah! ---    Bak tersengat sesuatu, anak buah Edi Best langsung mendusin dari rasa tak percaya akibat melihat kekalahan sang pemimpin. Lalu tanpa mendengar komando untuk kedua kalinya, belasan orang bergerak maju untuk menyerang Wawang demi melindungi ketuanya. Trang! Trang! … beberapa kali terdengar beradunya senjata akibat tangkisan Wawang yang dengan spontan menyambut datangnya serangan tak terduga. Namun pada detik berikutnya, kembali terdengar teriakan, “Majuuu … b*ng$@# licik nggak ada guna! Kalah bertarung, mengandalkan keroyokan!” demikian teriak Opik sambil maju mendekati Wawang yang sudah dikerubuti beberapa orang. Dan seakan baru tersadar akan kejadian yang begitu tiba-tiba … segera saja anak buah Ali Badri turut bergabung dengan kawanan Opik untuk meredam serangan anak buah Edi Best. Akhirnya, dua  kelompok terlihat saling serang. Namun tampaknya, mental anak buah sang preman berangasan sudah hilang setengahnya saat melihat sang pimpinan sudah terkapar tak berdaya lagi di tengah lapangan. Karena setelah terkena beberapa kali gebugan dan terjatuhnya beberapa orang, perkelahian dua kelompok tersebut langsung saja berakhir dengan kekalahan mutlak pihak Edi Best. *** “Kalian pergilah … setelah kita saksikan secara bersama-sama, kalian tahu bagaimana hasil akhir dari pertarungan tadi. Dan sebagai sesama manusia jalanan, kita sama-sama mengerti bagaimana aturan tak tertulis harus dijalankan. Pemimpinmu sudah kalah dan tak lama lagi akan kami serahkan pada pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Sujiwo.” Demikian Ali Badri mengatakan pada anak buah Edi Best. Lalu agar semuanya menjadi semakin jelas, iapun menambahkan kembali, “bekerjalah seperti biasa bagi yang tetap ingin mencari uang ditempat biasa masing-masing. Tapi mulai besok, akan ada pemimpin baru yang menggantikan Edi Best. Aku hanya bisa mengatakan … bagi yang tidak setuju, silakan angkat kaki dan tak usah bergabung dengan kami. Tapi untuk yang ingin tetap mempertahankan periuk nasi kalian, ikutilah aturan baru bersama pemimpin barumu.” Mendengar kata-kata yang terucap dari mulut sang sesepuh dunia abu-abu, semua kepala mengangguk untuk menyatakan persetujuan. Karena bagi mereka, yang terpenting hanyalah agar bisa tetap mendapatkan nafkah setiap hari. Sementara figur pemimpinnya sendiri, hal itu tidaklah terlalu berarti bagi mereka. Lalu setelah cukup diberikan wejangan serta petunjuk terkait siapa-siapa yang akan menjadi pemimpin di beberapa lokasi kekuasaan Edi Best, kelompok yang kalah itu segera membubarkan diri. Tak lupa, pada mereka juga dititipkan pesan untuk menyampaikan kabar tersebut pada teman-temannya diluar yang juga telah dikalahkan dalam kejadian pembebasan Opik sebelumnya. Hal yang sama juga diperintahkan sendiri oleh sang tetua kepada anak buahnya. Mereka berangsur pergi untuk menempati pos masing-masing dan hanya menyisakan beberapa orang saja yang hendak menyertai Edi Best menuju kantor polisi.   Sesudah itu, lelaki tua tersebut segera melakukan pembicaraan dengan Wawang dan Opik beserta rombongannya.  Pada intinya, ia meminta agar kejadian malam itu tidak dibocorkan kepada siapapun. Terutama terkait keberadaan Wawang yang masih sangat bocah dimatanya. “Bagaimana pendapatmu? Aku hanya sekedar memberi saran, dengan maksud supaya Wawang tidaklah berurusan dengan pihak berwajib karena peristiwa malam ini.” Ali Badri melempar pertanyaan tersebut setelah ia menjabarkan rencananya. “Lalu, siapa yang akan melaporkan orang itu pada pihak berwajib? Dan atas alasan apa, tiba-tiba saja kejadian tabrak lari Mas Jiwo dilaporkan sekarang dengan sekaligus membawa tersangkanya?” “Itulah yang kumaksudkan dengan menjauhkan Wawang dari urusan polisi. Dia masih terlalu bocah, dan aku tak yakin jika anak itu akan mampu menghadapi tekanan.” “Lalu, apa strategi yang Tetua Ali Badri tawarkan?” “Kamu yang melapor, bilang saja kalau anak buahmu yang akan menjadi saksi itu telah mengadukan perbuatan Edi Best padamu. Lalu karena lelaki itu tak terima, ia menantangmu untuk berkelahi dan berakhir dengan ini.” “Berarti … aku akan menjadi jagoannya, Tetua?” dengan menahan senyum geli, Opik berkata dalam nada canda. “Ha ha ha … itulah maksudku. Biarkan orang awam menduga demikian.” “Tapi … bagaimana dengan Edi Best sendiri? Bukankah ia akan menyangkal dan mengatakan jika aku adalah seorang pembual?” “Aku sangat paham bagaimana sifat dan watak si berangasan itu. Percayalah padaku … kesombongan yang sudah mendarah daging dalam diri seorang Edi Best, akan membuatnya menutup mulut tentang itu.” “Mengapa bisa demikian?” “Hmm … tak pahamkan kalian? Bagi lelaki itu, pasti akan lebih terhormat jika dianggap telah dikalahkan Opik, dibanding tersiarnya kabar bila ia dipecundangi oleh seorang bocah remaja.” “Ahhh … iya, aku tahu.” “Nah … nantinya, semua akan mendengar jika kamu sudah bisa mengalahkan Edi Best. Dengan demikian, seluruh wilayah kekuasaannya akan bisa kau miliki.” “Tapi, itu semua hak Wawang!” demikian tolak Opik dengan tegas. “Bodohnya kamu! Coba tanya sendiri pada anaknya … aku tak yakin kalau ia akan bersedia menjadi orang-orang kotor seperti kita.” Demikian tangkis Ali Badri sambil menudingkan telunjuknya pada Wawang yang sedari tadi diam. “Wawang?” tanya Opik dengan spontan. “Hi hi …Om Opik aneh! Apa Om tega melihatku disibukkan oleh urusan orang dewasa yang tak kumengerti?” demikian jawab si bocah sambil tertawa geli. “Lalu, apa maumu?” “Semua urusan aku serahkan pada Om Opik dan Tetua. Asal aku tetap diijinkan untuk bermain di pangkalan, jadi sopir tembak dan apapun yang kumau untuk mengisi waktu … aku tak akan keberatan sedikitpun.” “Ha ha ha … dasar anak-anak. Anak baik, anak baik … benar katamu, tak usahlah kamu ikut terjun dalam dunia itu. Biarkan saja Opik yang sudah terlanjur basah untuk menjalani itu. Nanti kalian aturlah sendiri  bagaimana pendapatan akan dibagi.” Demikian tutup sang Tetua dengan tawanya yang jarang sekali bisa ia ekspresikan. “Baiklah … terima kasih untuk sarannya, Tetua.” Opik mengucap persetujuannya. “Aku juga berterimakasih, Tetua … ternyata, kamu orang hebat yang bisa bertindak dengan adil.” Tak mau kalah, si bocah juga menyampaikan rasa terimakasihnya. “Ha ha … baik, aku terima semua ucapan kalian. Sekarang pulanglah, istirahatkan tubuh kalian setelah menghabiskan malam dengan begitu melelahkan. Dan kau … Wawang, aku membuka pintu rumah ini lebar-lebar bagimu. Datanglah kapan kau inginkan, karena aku pasti akan senang memiliki cucu pemberani sepertimu!” “Terima kasih, Tetua … iya, kapan-kapan aku akan datang lagi.” “Berjanjilah!” dengan tegas, si lelaki tua menyampaikan lagi pesan pada Wawang bahwa ia tak hanya sekedar basa-basi. “Aku berjanji, Tetua!” “Baiklah … aku terima janjimu. Dan jangan lupa… orang terhormat, adalah manusia yang tak pernah ingkar akan janjinya sendiri.” “Baik, Tetua … aku pasti tak akan melupakan janjiku.” ***           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN