Mendengar kata-kata terakhir dari sang pemilik rumah, suasana menjadi hening untuk sejenak. Penyebabnya, sudah tentu adalah sindiran tajam yang sudah dilemparkan oleh Ali Badri kepada Edi Best. Karena pada saat itu, Wawang tak nampak sepotongpun membawa sesuatu yang menyerupai senjata.
Namun beberapa saat kemudian, sang preman berangasan kembali berteriak. Seolah, ia tak mau kehilangan muka ataupun kalah gengsi didepan semua orang.
“Hah! Kau katakan aku pengecut? Belum pernah ada seorangpun yang berani mengatakan seperti itu kepada Edi Best sang Jawara!” semakin marah, lelaki paruh baya tersebut berteriak dengan keras. Kemudian ia menyambung kata-katanya kembali dengan kesombongan yang sulit untuk ditandingi,
“Hei, Bocah! Keluarkan senjatamu, atau kalau perlu … bawa sekalian pasukanmu untuk mengeroyokku! Malam ini juga, harus ada darah yang menetes demi menebus penghinaan kalian yang tak menghormat sedikitpun kepadaku. Dan tahukah kalian? Apapun yang bakal terjadi ditempat ini, adalah merupakan tanggungjawab dari orang yang bernama Ali Badri. Sebab karena ulah dia, darah akan tertumpah di tempat ini! Dan kalian juga harus bersedia menjadi saksi, bahwa aku hanya sekedar menuruti perintahnya saja hingga bersedia diadu dengan seorang bocah!”
Semua kembali hening saat menyadari betapa gentingnya perkembangan keadaan yang terjadi saat itu. Ditengah kalapnya sang jagoan yang terkenal akan kekejaman dan darah dinginnya, tentu saja segala kemungkinan akan bisa menjadi satu hal yang kurang baik bagi semuanya.
---
Ditengah keheningan, mendadak sebuah suara kembali menggema,
“Wawang!” terdengar sebuah teriakan yang tak asing bagi sang bocah.
Seketika, yang dipanggil menengok dengan cepat, lalu menemukan sesosok yang sangat ia kenal. Nampak sehat dan tak kurang suatu apapun, pemuda itu melihat Opik berdiri dipinggir lapangan sambil mengacungkan sebungkus kain putih panjang yang menutupi benda di dalamnya. Bambu kuning yang ia titipkan pada Yayan, dengan entah bagaimana telah dipegang Opik yang mendadak muncul ditempat itu tanpa ia sadari sebelumnya.
“Om Opik … apakah kau baik-baik saja?”
“Aku baik, dan semua telah berada dalam kendali. Apakah kau tetap akan meneruskan pertarungan itu?” tanya si lelaki bertubuh gempal.
“Aku akan lanjut. Apapun yang terjadi, semua sudah kepalang basah dengan terbukanya misteri kematian Paman Sujiwo. Karena itulah, malam ini juga semua harus bisa terselesaikan.”
“Baiklah kalau memang begitu maumu. Sekarang, aku sudah percaya pada kemampuan dan kecerdikanmu. Tapi meskipun begitu, tetaplah berhati-hati … karena dia itu bukan seorang jantan yang selalu bermain jujur.”
“Aku paham, Om …”
“Pergunakan ini. Pamanmu pasti akan bangga saat melihat dirimu memakai benda kesayangannya untuk menghajar musuhnya.” Berkata demikian, Opik melemparkan bungkusan kain putih ditangannya yang dengan sigap langsung ditangkap menggunakan tangan kanan si bocah.
“Terima kasih, Om … mohon doanya.”
“Pasti … jangan khawatir, semua urusan dibelakang sudah beres. Dan tenanglah, karena kami akan tetap selalu mengawasi serta melindungimu dari jauh.”
“Siap.” Setelah menjawab demikian, Wawang langsung membuka kain yang putih pembungkusnya. Lalu seketika … sebuah benda kuning berkilau nampak tergenggam di tangan mungil sang bocah.
---
Apa yang dilakukan oleh Wawang, semua diamati secara detil oleh Edi Best dengan perasaan yang mendadak menjadi tak enak. Karena dengan tak kepalang, ia menjadi sangat terkejut begitu melihat kehadiran Opik ditengah mereka dalam momentum yang sama sekali tak disangkanya.
Lalu hal yang lain lagi … keberadaan si lelaki sahabat Sujiwo dalam keadaan bugar tak kurang satu apapun itu, telah dengan jelas membuktikan sebuah fakta mengkhawatirkan bagi sang preman berangasan. Karena kesimpulan apalagi yang dapat diambilnya jika melihat sang tawanan telah terbebas? Selain, tentunya menjadi sebuah bukti bahwa rencana cadangannya telah rusak dengan parah sebelum waktunya tiba.
Menyadari bila semua kebusukan yang disimpan akan segera terbongkar tanpa menyisakan sedikitpun pembelaan baginya, lelaki paruh baya itupun menjadi nekad. Baginya, hanya ada satu jalan untuk melampiaskan semua kemarahannya.
Dendam harus segera terlampiaskan. Dan satu-satunya sasaran empuk untuk menumpahkan seluruh rasa murkanya, adalah si bocah kurangajar yang sudah sedemikian beraninya menyinggung perasaan sang petarung tak terkalahkan.
Karena itulah, dengan kilat ia langsung mengayunkan benda berkilat tajam ditangannya untuk tertuju pada sosok kurus yang belum sepenuhnya terlihat siap.
“Haiiiiittt … matilah kamu!” dengan teriak yang menggelegar untuk mengacaukan mental lawan, Edi Best menyabetkan batang Katana dalam genggaman tangannya untuk menyasar bagian kepala Wawang.
Sementara si pemuda belia yang baru saja selesai membuka penutup kain, mendadak saja menjadi termangu saat serangan ganas yang ditujukan padanya telah secepat angin menderu padanya.
Tentu saja Wawang menjadi sedikit gamang, sebab bukankah benda yang ada ditangannya hanyalah sebatang bambu belaka? Dan baginya; manalah mungkin sebilah bambu meskipun dari bibit yang terbaik, akan mampu menandingi tajamnya bilah Katana yang sangat terkenal itu?
Namun serangan yang dilakukan dengan begitu telengas serta kejam tersebut, bukanlah sesuatu yang patut ia tunggu dengan hati ragu. Saat maut akan menjemput, sekuat kemampuan dan seencer segala akal, iapun harus bisa bertahan agar tetap bisa berdiri dengan tegak di saat akhir.
Membuang rasa ragu, Wawang segera bergerak menghindar untuk menjauhkan dirinya dari bahaya yang tengah mengancam. Dengan penuh konsentrasi, Wawang meladeni meluapnya emosi amarah sang preman berangasan.
Disaat itulah, ketajaman mata serta telinga dan kelincahan tubuh sang remaja telah menjadi satu hal yang sangat berguna bagi dirinya. Karena yang dilakukannya sementara ini, hanyalah sekedar bisa bermain aman dengan menghindar dan mengandalkan kecermatan untuk menangkis sisi pedang yang tidak tajam.
Trang! Trang!
Beberapa kali terdengar benturan kedua senjata, saat dengan cantiknya si bocah menepis bilah Katana tanpa mau menyentuh ketajamannya. Karena memiliki keunggulan dalam pergerakan yang lebih cepat, tentu saja setiap serangan dari si lelaki selalu saja dapat ia mentahkan tanpa kesulitan berarti.
Hal tersebut, tentu saja telah semakin menjadikan Edi Best menjadi lebih frustrasi lagi. Serangan bertubi-tubi yang terus menerus ia lancarkan tanpa mengenai sasaran, tentu saja sudah semakin benyak menguras tenaganya. Terlebih, kaki kiri yang sempat cedera juga dirasakan telah hampir tiba dibatas kemampuannya bergerak dengan normal.
Bangsat licik ... Lawan aku! Jangan jadi pengecut yang hanya berani menghindar saja!” Demikian sang jagoan berkaok-kaok penuh emosi.
“Ha ha ha … buruk muka, kaca dibelah! Kakek Edi … apakah sudah hampir habis napasmu? Kenapa tak bisa dengan baik menggunakan pedang yang sedemikian bagus. Hi hi hi … tak malukah kau pada anak buahmu? Omongan besar setinggi langit, tapi melawan bambu memakai pedang saja tak berguna!” lincah, kenes dan begitu menggoda, Wawang mulai memainkan emosi lawannya agar semakin tak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Dan benar saja,
“Anjing kurap! Lihat seranganku!” menggelegar teriakan Edi Best, yang mencerminkan betapa ia sudah tak bisa menguasai dirinya lagi.
Setelah meneriakkan kata-kata terakhir, laki-laki itu langsung saja membabi buta menyabetkan pedangnya ke segala arah yang dapat dijangkau. Dan tentu saja, semuanya terus ditujukan pada tubuh si bocah yang kini semakin sering tertawa mengejek.
Trang!
Tring!
Traaaangggg!!!
Bentrokan senjata berkali-kali terdengar. Dan suara dentingan yang terakhir, terdengar dengan lebih keras dibanding sebelumnya. Tak hanya suara yang mengagetkan kedua orang yang tengah bertarung, namun bunga api yang keluar pada saat benturan itu terjadi, adalah satu hal yang juga membuat mereka terkejut.
Wawang meloncat menjauh, disusul dengan Edi Best yang juga diam tak bergerak untuk merasakan tangannya yang sedikit kesemutan akibat beradunya senjata tadi. Tak dipungkiri, hatinya jadi sedikit tergetar saat menyadari betapa kuatnya tenaga balik yang ia rasakan hingga kini.
Sementara, si bocah langsung memeriksa batang bambu yang dipegangnya. Dan seketika saja, tak kepalang rasa heran yang ada dalam benaknya saat ini. Karena yang ia temukan adalah satu hal yang membuat dirinya menjadi sangat takjub.
Sekedar membayangkan sedikitpun, sebelumnya Wawang tak berani. Karena sangat tak masuk akal baginya, bila sebilah bambu sepanjang gagang sapu tersebut bahkan tak sedikitpun tergores saat menangkis ketajaman senjata lawan yang dapat memotong benda dari logam dengan mudahnya. Dan tak hanya itu, ia juga semakin heran saat mengetahui betapa tenaga yang dimilikinya terasa sedemikian kuat memukul balik Katana yang memiliki bobot berat.
---
Edi Best yang semula mencecar serangan untuk memaksa Wawang mengadu senjata, awalnya masih merasa diatas angin. Pikirnya, ia akan mudah memenangkan pertarungan bila senjata lawannya bisa ditebas hingga tak dapat dipergunakan lagi.
Dengan demikian, tak akan ada satu orangpun yang mengatakan dirinya curang ketika nantinya akan bisa merobohkan si anak kurangajar yang sudah tak bersenjata lagi. Karena bukankah kekalahan itu akibat dari senjata yang tak bisa ia pertahankan dengan baik?
Namun sekali lagi, sang preman berangasan harus gigit jari! Karena ternyata, senjata lawannya bisa menandingi ketajaman Katana andalannya, dan bahkan bisa memukul balik telapak tangannya yang menggenggam senjata hingga terasa perih akibat sebagian kulitnya lecet.
“Sekali lagi, masihkah kau nekad untuk melanjutkan sementara kekalahan sudah di depan mata?” tanya Wawang dengan suara lembut.
“Aku belum kalah!”
“Pak tua, sadarlah … napasmu kembang kempis, kaki dan tanganmu juga sudah sakit … menyerahlah dan kami akan membawamu pada pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu dalam peristiwa tabrak lari Pamanku.” Masih dengan nada biasa, Wawang berupaya membujuk.
Dan nampaknya, kata-kata terakhir dari sang bocah telah sedikit menyadarkan hati si lelaki berangasan. Terbukti, tak terdengar lagi jawaban yang tidak enak atau malah kata-kata biasanya yang terdengar marah.
Lelaki itu nampak berdiri dengan tertunduk lesu. Pedang yang semula ia pegang menggunakan tangan kanan, sekarang sudah dipindahkan pada tangan kirinya. Sementara, telapak tangan kanannya ia usah-usapkan pada kain baju dan celananya. Sepertinya, ia tengah mengeringkan bagian tersebut dari keringat ataupun darah yang keluar dari robekan kulit.
Wawang mengawasi dengan rasa kasihan yang mendadak saja muncul kembali dari hatinya. Tak bisa disangkal, apa yang dilihatnya saat itu adalah satu pemandangan yang benar-benar memancing haru. Karena sang jawara tak terkalahkan, nampaknya telah menjadi putus asa akibat hasil pertarungan yang tak seperti harapannya. Semua itu, secara kasat mata bisa terlihat dari postur penuh kepasrahannya yang bahkan sudah terlihat tak terlalu antusias dengan pedang yang tergenggam lemas teracung kebawah dan bilah tajam menghadap ke belakang.
“Usaikan saja semuanya … hilangkan semua dendam, dan menjadi seorang jantan sejati dengan berani bertanggungjawab atas perbuatan yang kita lakukan. Semua masih bisa dibicarakan, karena sebagai pihak keluarga … aku pasti bisa memaafkan semua kesalahan.” Hati yang lembut dan penuh kasih, kini telah membuat si remaja langsung jatuh terenyuh melihat pemandangan di depan matanya.
“Aku … aku … ehhh …” Edi Best bergumam dengan tetap tertunduk sambil tangannya tetap diusapkan pada kain celananya.
“Ungkapkan saja semua kemarahanmu … dan usaikan semua kebencian sampai disini.”
“Oh … eh, aku …” seperti meracau, pria tersebut belum bisa mengeluarkan kata-katanya. Sepertinya, ia semakin grogi, karena terlihat tangan kanannya yang gemetaran malah ia masukkan kedalam saku celana.
Namun tiba-tiba …
Secepat kilat, lelaki berangasan itu langsung mencabut telapak tangannya dari saku celana. Dengan satu langkah lebar ke depan, ia maju sambil menyambarkan tangan ke arah wajah Wawang.
“Awas!!!”
“Ahhh!!!”
“Curang!”
Beberapa terikan keras terdengar, opik, Ali Badri dan beberapa orang lain yang melihat, langsung mengerti bahwa semua ulah yang dibuat oleh Edi Best, adalah sebuah trik baginya untuk berbuat curang kepada Wawang.
Tak kepalang terkejutnya si bocah. Karena sambaran tangan yang hanya beberapa puluh centi saja dari wajahnya, mendadak telah menyebarkan sebentuk serbuh putih yang seketika memedihkan matanya.
“Ihhh! Curang! Dasar tua bangka tak tahu diuntung!” dengan kekecewaan yang kini menjadi sebuah amarah teramat sangat, Wawang meneriakkan kata terkejutnya sambil mengumpat.
Tak menunggu lama, rasa pedih terasa ditusuk jarum lembut telah langsung saja menyerang mata Wawang. Dengan sekuat menahan sakit, ia mengusap matanya yang berair dengan sebelah tangan.
Namun saat itu, ia kembali mendengar teriakan yang sepertinya penuh dengan kepanikan serta kekhawatiran. Dan yang paling dapat ia tangkap, adalah menggelegarnya suara Opik,
“Wawang … awas serangan gelap! Munduuurrr… senjata datang dari atas kepalamu! b*****t curang!” setelah memberi teriakan peringatan, Opik langsung mencaci kalang kabut.
***