BAB 26 - Pengakuan

1869 Kata
Spontan, Wawang mencoba menghindar dengan berguling ke arah kiri agar tak kena tindih oleh tubuh yang sedemikian tinggi besar serta keras tersebut. Namun terlambat … karena dengan sigapnya, kedua telapak tangan Edi Best sudah berhasil mencengkeram kedua pundak kanan dan kiri sang bocah. Dengan reflek yang sedemikian bagus, si anak remaja langsung menyilangkan kedua lengan untuk melindungi dadanya sambil balas menggenggam tangan yang dengan keras meremas pundaknya. Tapi selagi berada dalam posisi yang sangat menguntungkan itu, si lelaki jagoan tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang baru kali ini bisa ia dapatkan setelah bertarung sekian lamanya. Sigap dan telengas, siku kanan Edi Best langsung saja menghajar wajah Wawang dengan kerasnya. “Uhhh …” terdengar jeritan pendek dari sang empunya pipi yang kena sikut dengan telaknya. Dan serasa tak cukup hanya sampai disitu, preman berangasan yang sudah kalap itu langsung mengangkat tubuh bagian atasnya sementara kedua paha masih menjepit pinggang si anak muda. Namun selagi ia berancang untuk melancarkan sebuah pukulan telak pada wajah Wawang, mendadak saja ia berteriak kesakitan, “Arhgghh … b*****t kecil,” dengan gerakan sangat cepat, lengan Wawang yang tadinya melindungi tubuh bagian atas telah bergerak dengan spontan untuk diayunkan ke arah rusuk lawannya. Meskipun tidak mengakibatkan luka dalam, namun tetap saja sebuah sengatan panas dibagian dadanya telah membuat lelaki berbadan tinggi besar itu menjadi lengah. Dan kesempatan tersebut, langsung saja dimanfaatkan oleh sosok kurus yang dibawahnya untuk melepaskan diri dari kedua kaki yang mengurung tubuhnya. Bagai belut yang licin, Wawang menggeliat dan menekuk kedua kakinya untuk diloloskan dari jepitan paha Edi Best. Setelah berhasil lepas, iapun mencari sebuah momentum untuk dapat berguling dengan cepat. Dan tanpa perlu melihat, telapak kakinya telah menemukan sesuatu untuk dijadikan pijakan. “Aduh …arggghhh …. b******n cilik …” Edi Best menjerit tanpa kendali saat merasakan sebuah tendangan keras yang tanpa sengaja telah dilakukan oleh si pemuda belia. Nampaknya, dengan tanpa terduga sama sekali Wawang telah menumpukan telapak kaki kanannya agar ia bisa cepat melepaskan diri dengan berguling. Dan diluar kesadarannya sendiri, sang bocah malah sudah menemukan satu kelemahan pada si lelaki perkasa yang tak pernah merasa sakit sedikitpun saat terkena pukulan maupun tendangannya. --- Hal itulah yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Ali Badri saat ia berusaha membantu Wawang sebelumnya. Karena lelaki tua itu paham jika kelemahan seorang Edi Best yang terletak pada kaki kirinya. Sang tetua sangat mengerti bahwa sejatinya si bocah muda itu bukanlah merupakan tandingan Edi Best jika ia harus beradu kuat dan keras dengannya. Karena daging dan otot yang sedemikian liat karena latihan sepanjang hidup, adalah satu hal yang akan sulit ditaklukkan oleh bocah kemarin sore yang hanya memiliki keawasan mata serta kelincahan tubuh. Sementara, bahkan pengalamannya bertarungnya malah bisa dikatakan masihlah sangat mentah. Niat Ali Badri semula, adalah memberikan sebuah petunjuk pada Wawang agar ia memperhatikan kuda-kuda si preman berangasan yang tak terlalu kuat. Hal tersebut, ternyata disebabkan oleh sebuah luka patah tulang parah yang pernah dialami oleh sang jagoan. Yang karena satu kecelakaan, lelaki tengah baya itu harus mengalami patah tulang parah hingga harus terpasangi beberapa belas pen besi untuk menyambungnya. Sebuah luka parah yang menyasar tulang, tentu saja akan mengakibatkan cacat permanen bagi seseorang yang sudah melewati usia pertumbuhan. Karena tak seperti orang muda, pria setengah baya tersebut ternyata tak bisa memulihkan diri sepenuhnya. Dan tentunya, hal tersebut merupakan sebuah kelemahan besar bagi dirinya yang demikian suka beradu fisik. Lalu kini … luka permanen yang sangat tergantung pada bantuan peralatan medis, dengan tanpa sengaja telah mendapatkan sebuah tendangan keras dari si pemuda yang bahkan baru paham setelah melakukannya. --- Wawang berdiri dengan sigap untuk mengantisipasi serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh Edi Best. Namun saat mata tajamnya mengawasi pergerakan lawan, iapun menjadi paham akan arti kejanggalan yang sempat ia tangkap beberapa saat sebelum lelaki tersebut menerkamnya. Semula, ia belum merasa aneh namun cukup melihat suatu hal yang tak biasa dalam sebuah pertarungan. Sebenarnya, hal itu terus saja menjadi pemikirannya selama ia berhadapan dalam beberapa menit dengan sang jagoan. Yaitu, sebuah keheranan akibat dari serangan-serangan sang jagoan yang jarang sekali mau memanfaatkan kakinya untuk menyerang. Padahal jika dilihat dari postur sang lawannya yang tinggi besar serta tegap dan kuat bertenaga, seharusnya Edi Best akan lebih unggul lagi bila mau melancarkan kombinasi tendangan selain pukulan yang terus saja ia lancarkan. Namun akhirnya, semua pertanyaan menjadi terjawab saat dengan tanpa sengaja Wawang menendang paha dekat lutut kiri lawan. Karena setelah itu terjadi, nampaklah dengan seketika akibat yang ditimbulkan dari itu. Sang Jawara tak terkalahkan, terlihat berdiri dengan sedikit tertatih. Matanya yang merah, kini nampak mencorong dengan segala kemarahan meluap yang ingin seketika ia tumpahkan. Pergerakan kakinya yang tadi sudah merasa sedikit tak nyaman akibat harus melayani sang bocah yang sedemikian lincah, kini menjadi lebih kentara terasa sakitnya akibat telah terkena tendangan. Dan si pemuda pun, akhirnya menjadi mengerti bila sebuah kekalahan telah menanti untuk sekali dalam hidup Edi Best yang tak pernah terjatuhkan. Namun begitu, halus budi pekerti dan hatinya yang lembut … ternyata telah melarangnya untuk memanfaatkan sebuah kesempatan yang sedemikian bagus itu. Lalu sesuai dengan sifat dasarnya yang memang baik, Wawang memilih untuk mengedepankan pembicaraan, “Bagaimana kalau kita akhiri sampai disini saja, Om?” dengan sopan, si remaja memanggil lawannya dalam sebuah sebutan yang terhormat untuk menawarkan sebuah perdamaian. “Ha ha ha … kau jeri padaku? Katakan saja kau takut. Jika memang demikian, berlututlah untuk mencium telapak kakiku! Lalu, katakan dengan keras bila kau ikhlas menerima kekalahan sekaligus bersedia menyerahkan pangkalan angkot itu dalam kuasaku!” tanpa mau kehilangan harga diri yang dilabeli dengan begitu tinggi, lelaki tersebut malah melemparkan suatu kalimat yang sedemikian merendahkan. “Ah, sayang sekali … aku bukannya takut hingga menawarkan perdamaian ini. Yang sebenarnya hanyalah kasihan saja melihat seseorang yang sudah berumur masih saja terlalu memaksakan diri.” Tanpa bermaksud mengejek, Wawang menyampaikan niatnya dengan jujur. “Kurang ajar! Kau pikir aku ini apa? Lihat saja nanti … karena tak lama lagi, kau akan segera meninggalkan dunia ini secara tak terhormat dalam kubangan darah seperti ayah asuhmu itu!” Meskipun terlihat dengan jelas jika laki-laki itu sudah cedera pada kakinya, namun segala kesombongan yang ia miliki tak sedikitpun bisa ia tanggalkan. Dengan masih tertatih karena nyeri pada bekas luka pada tulangnya, Edi Best berdiri dihadapan Wawang sambil memaki. Namun satu hal yang tak bisa diterima oleh sang anak remaja, adalah kata-kata dari si lelaki yang kini sudah menyinggung masalah meninggalnya sang paman. Tapi disaat kemarahan dalam hati yang mulai tumbuh, remaja tersebut masih berusaha menahan diri dengan bertanya untuk memperjelas maksud dari kata-kata sang lawan. “Meskipun meninggal dalam sebuah kecelakaan, namun pamanku tetaplah seorang lelaki terhormat. Ia lebih berharga dibanding seorang pengecut yang tak berani menghadapinya dengan jantan, ataupun layaknya seorang pecundang seperti adikmu yang mati konyol sebagai seorang penjahat kelamin!” “b*****t k*****t!! Sujiwo itulah yang tak berharga sedikitpun karena tergeletak dipinggir jalan karena aku tabrak … ha ha ha … kau dengar? Akulah yang menabraknya hingga ia meregang nyawa tanpa seorangpun yang sempat menangisi.” “Jangan asal ngarang! Aku tak yakin bila orang sepertimu punya keberanian untuk itu.” Dengan menahan kemarahan yang teramat sangat, Wawang masih menahan diri agar bisa mendapatkan sebuah pengakuan. “Ha ha ha … tanya saja pada Mamat yang ada di dalam mobil saat itu. Dan tahukah kamu … kendaraan yang kupakai menabrak Sujiwo tak bakal bisa ditemukan karena sudah kusembunyikan dengan baik.” Tertutupi oleh kesombongannya sendiri, sebuah pengakuan telah terucap. Dan dengan disaksikan oleh puluhan pasang mata serta telinga, hal tersebut pastilah sudah cukup untuk menjadi sebuah bukti penganiayaan yang terencana. “Baiklah … aku percaya. Terima kasih untuk pengakuanmu yang sangat jujur itu.” Dengan lirih, Wawang menjawab untuk menutup pembicaraan mengenai kisah kematian Sujiwo yang sangat ia sayangi. --- Hati sang remaja benar-benar sedih, saat pembunuh pamannya itu telah menceritakan kebrutalannya dalam keterlibatannya menghilangkan nyawa orang yang sangat dikasihinya. Namun tak hanya itu saja yang menyebabkan darah muda Wawang menggelegak untuk menuntut sebuah keadilan. Sebab kehilangan yang ia rasakan untuk kesekian kali itu, adalah merupakan suatu kemusnahan terakhir dari sebuah hubungan darah yang terkait dengannya. Karena, hanya tinggal satu-satunya Sujiwo sajalah orang terakhir yang bisa menjadi sebuah akar dalam keluarga yang pernah ia miliki. Dan kini untuk pertama kali dalam hidupnya, Wulan yang menyamar sebagai seorang pemuda itu … benar-benar ingin menumbangkan sebuah kesombongan yang selama ini selalu menebar benih bencana bagi sesamanya. “Haahh!! Aneh … mengapa kau harus berterimakasih? Aku tak butuh terimakasihmu! Karena yang kukatakan tadi, adalah satu hal nyata yang pernah kulakukan. Dan, dengarlah … aku akan memastikan jika kematian Sujiwo ditanganku bukanlah hal yang terakhir. Karena tak lama lagi, sang anak asuh akan segera menyusul karena sudah berani menghina adikku yang harus hilang nyawa karena ayah angkatmu!” Tak mau menanggapi benih dendam baru yang kini mulai tumbuh di hati Edi Best, Wawang hanya menjawab dengan dingin kata-kata ancaman itu, “Aku berterimakasih, karena pengakuanmu adalah merupakan sebuah alasan bagiku untuk menghilangkan semua rasa kasihan padamu.” “Kasihan, hah?!?! Apa yang patut kau kasihani dari seorang yang akan menang melawanmu nanti?” “Aku sangat kasihan, karena jangankan menambah waktu untuk bertarung kembali … sedangkan, untuk berdiri saja kau sudah tak mampu tegak lagi,” demikian kata si remaja lagi. “Jangan sombong! Lihat saja nanti! … KABUL!!” Edi Best menjawab dalam sebuah bentakan, lalu menyambungnya dengan satu teriakan yang dimaksudkan untuk memanggil nama seseorang. Dan benarlah … karena orang yang tampaknya memiliki nama tersebut, dengan cepatnya sudah maju mendekat untuk menyerahkan sebuah benda panjang berwarna hitam. Dengan angkuh, Edi Best menerimanya dan langsung meloloskan sebuah benda pipih berkilat dari balik wadah yang menutupinya. Dibawah cahaya lampu sorot yang demikian terang benderang; sebatang Katana khas senjata seorang samurai Jepang, nampak tergenggam dalam genggaman telapak tangan kokoh setelah sarungnya dibuang begitu saja. Bilah pedang sedang sepanjang delapan puluh centimeter dengan ketajaman yang tak perlu ditanyakan lagi, terlihat tegak mengacung diatas kepala sang pemilik. Dan benda tersebut, nampaknya sudah siap untuk ditebaskan pada lawan. Namun tiba-tiba … Terdengar sebuah suara bentakan yang cukup keras, “Berhenti! Jangan gunakan senjata!” Puluhan pasang mata menoleh ke arah sumber suara, lalu menemukan seraut wajah yang nampak marah. Sepertinya, Ali Badri sudah merasa gusar dengan situasi yang agaknya telah menjadi tidak terkendali. “Hei, aku katakan sekali lagi … ini pertarungan antara dua laki-laki jantan! Jangan sekali-kali kau mengatur seolah menjadi seorang wasit dalam pertandingan!” tak kalah keras, Edi Best membentak pada orang yang menghentikan gerakannya tadi. Dengan kesal, ia menurunkan pedang yang sudah siap ia pergunakan itu. “Tapi ini rumahku! Kau harus mau mengikuti aturan yang sudah ditentukan!” dengan tegas, sang tuan rumah kembali mendebat. “Tapi ini pertarunganku! Hei orang tua … jangan kau pilih kasih dengan membela si bocah. Dari awal tadi, tak pernah terucap sepatah katapun tentang larangan mempergunakan senjata. Mengapa tiba-tiba tidak diperbolehkan? Bukankah sudah kubilang jika salah satu diantara kami harus berkalang tanah terlebih dahulu sebelum pertarungan ini usai, hah?” Mendengar jawaban yang demikian, seketika Ali badri tak bisa mengajukan argumentasi lain untuk mencegah pria tersebut mempergunakan senjata. Dan setelah terdiam beberapa detik, akhirnya ia hanya berkata, “Pertarungan yang jantan, adalah dua orang yang sama-sama mempergunakan tangan kosong, maupun bersenjata. Jika hanya salah satu yang menggunakan senjata sementara yang lain tidak, itu sama halnya dengan perbuatan seorang pengecut!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN