BAB 25 - Beauty And The Beast

1763 Kata
Lapangan tersebut begitu terang benderang karena sengaja disinari oleh beberapa lampu sorot dari keempat sudut. Dan tepat ditengah-tengahnya; kedua orang yang belum pernah sekalipun bermusuhan itu, kini telah saling berhadapan sebagai lawan. Jika dilihat dengan mata telanjang saja, sebuah perbedaan besar akan seketika tampak dengan gamblangnya. Seorang lelaki perkasa bertubuh tegap, nampak berdiri dengan wajah menyeringai sombong. Tentu saja akan begitu; karena dihadapan badan kekar berotot yang hanya tertutup sebuah kaus tanpa lengan dibagian atasnya, nampak sesosok tubuh kurus berbalut pakaian gelap dengan ikat kepala kain wulung yang menutupi rambutnya. Meskipun memiliki tinggi badan yang diatas rata-rata teman sebaya, namun hal tersebut seperti tak berarti apapun saat ia berdiri berhadapan dengan sang jagoan bernama Edi Best. Sebab lelaki berangasan yang sangat mengunggulkan kekuataan fisiknya itu, ternyata memang benar-benar tampak sangat mengintimidasi dalam keperkasaannya. Sebetulnya, wajah sang preman tak dapat dikatakan jelek. Bahkan, sejujurnya saja ia termasuk dalam kelompok laki-laki yang wajahnya sedap dipandang mata. Nyatanya, laki-laki bernama Edi Best itu memang ganteng dan jantan jika dilihat secara fisik. Namun bila seseorang sudah berbincang dengannya selama beberapa menit, biasanya manusia dari golongan baik-baik akan dengan seketika tak dapat lagi melihat nilai positif darinya. Memang sangat disayangkan. Karena makhluk Tuhan yang sudah diberi karunia fisik sedemikian bagus seperti itu, dalam pertumbuhannya ternyata tak serta merta menjadi semakin baik dan dapat berkembang sebagai pribadi berakal budi luhur serta semestinya. Sebab entah sebagai akibat dari kesalahan apa, ternyata pemandangan fisik yang sedemikian mempesona telah jauh tersesat sehingga menjadi busuk didalamnya. Dan semuanya memang tercermin dengan jelasnya dari segala adab serta tindak-tanduk pribadi Edis Best sendiri. Seperti yang tengah ia lakukan saat ini, saat dengan begitu sombong ia sama sekali tak memandang sebelah mata pada si anak remaja belia kurus dan lemah di depannya. “Hei, bocah bayi baru kemarin sore lahir! Sungguh buta matamu yang tak tahu betapa kerasnya karang yang ada didepanmu sekarang. Ha ha … baru bisa mengalahkan sebangsa cecoro jalanan saja sudah ngelunjak menantang sang jawara,” demikian gertaknya sambil maju mendekati Wawang yang terlihat tenang namun waspada. “Maafkan aku, Jawara … aku tak tahu kalau ternyata coro-coro itu punya raja yang berujud manusia.” Jawaban si bocah benar-benar terdengar iseng, usil dan ringan tanpa sedikitpun rasa takut. Dan kata-kata yang sedemikian nakal bagai anak kecil bermain kata saling mengejek, dengan seketika telah menjadi secawan bensin yang disiramkan dalam lidah api. Tentu saja bara menjadi semakin memanas, karena belum pernah sekalipun Edi Best diejek dengan kata-kata merendahkan seperti itu dalam petualangannya. “Apa katamu? Arrggghhh … kutil kecil jelek berani bertingkah didepanku … rasakan kerasnya pukulanku!” sambil menggeram dan memaki sekenanya, pria tersebut langsung saja melompat sambil mengepalkan kedua tangannya karena kemarahan yang memuncak. Dug! Pukulan pertama Edi Best bisa ditangkis dengan telak oleh si pemuda. Namun dalam gebrakan pertama tersebut, segera terlihat jika tenaga sang lelaki dewasa jauh lebih kuat dibandingkan si pemuda yang kini terhuyung setelah melakukan tangkisan. “Ha ha ha … baru kupakai sebagian tenaga saja kau sudah hampir jatuh … rasakan yang ini!” Dengan kalap, Edi Best langsung menyusulkan beberapa pukulan yang semuanya terarah pada bagian-bagian fatal di tubuh Wawang. Tak mau mengulang kesalahan yang sama, si pemuda segera mengerahkan seluruh daya untuk menangkis serangan-serangan dari tangan si lelaki tinggi besar itu. Namun meskipun Wawang sudah menggunakan sepenuh kekuatannya, ternyata si preman berangasan masih saja terlihat unggul jauh dalam hal tenaga. Sepertinya, disitulah letak keistimewaan seorang Edi Best yang membuat dirinya ditakuti oleh semua lawan. Karena dengan memanfaatkan kelebihan postur tubuhnya yang tinggi dan besar, orang tersebut memang jadi memiliki sebuah kekuatan dahsyat yang jarang bisa ditandingi oleh musuhnya. Tak heran jika manusia yang satu itu masih sedemikian kuat dan bertenaganya meskipun sudah memiliki usia diatas empat puluh tahun. Sebab kecintaannya yang sedemikian ekstrim terhadap seni bela diri, memang sudah membawa lelaki tersebut ke dalam kesenangan yang mendekati sebuah candu. --- Semenjak kanak-kanak, Edi Best yang bernama asli Edi Sumarno itu memang sangat gemar berkelahi. Dan karena kebetulan memiliki orangtua yang terlalu sibuk berdagang dan tak selalu berada di rumah, ia seperti menjadi seorang anak liar tanpa kendali dan kurang cukup pendidikan dari orangtua terkait adab kesopanan dan pergaulan. Bahkan bertolak belakang dengan kebutuhan si anak yang harusnya masih butuh banyak belajar terkait etika sosial dan empati kepada sesamanya, sang orangtua malah mengambil sebuah jalan pintas dengan mengikut sertakan Edi untuk ikut berlatih dalam sebuah perkumpulan beladiri. Mungkin saja, pemikiran yang sederhana telah menyimpulkan jika sang anak akan bisa menyalurkan hobby berkelahi jika ia secara rutin mengikuti latihan beladiri. Dengan harapan, tentunya anak tersebut bisa berhenti bertindak agresif pada teman dan anak-anak sebaya yang ia jumpai. Namun jauh panggang dari api … apa yang dilakukan si orangtua, ternyata tak mendapatkan hasil yang diharapkan. Karena justru dengan bertambah terlatihnya si anak dalam sebuah perkumpulan beladiri, tingkahnya malah semakin menjadi akibat dikenalnya berbagai jenis tehnik pukulan serta apapun yang dapat dengan mudah dipakainya untuk menundukkan seseorang yang tidak ia sukai. Dan pada akhirnya, kegemaran berkelahi yang seolah tak pernah habis dipuaskannya telah benar-benar tersalur dengan semakin tingginya ia menuntut ilmu beladiri. Totalitas dan obsesinya menjadi seorang jawara, seiring waktu telah membawa dirinya merajai semua turnamen serta dunia jalanan. Sebab ternyata tak hanya di arena saja ia suka mengadu fisik … karena hingga dijalanan pun, si pemuda juga selalu saja haus untuk mempecundangi lawan-lawannya. Dari semua petualangannya itulah, para pecinta adu jotos telah menemukan sebuah julukan tepat untuk sang juara. Edi Best, adalah nama yang mendadak jadi sorotan dunia kekerasan karena kekejamannya dalam menaklukkan musuh. Dan dengan hanya mendengar namanya saja, banyak laki-laki yang mentalnya mendadak ciut karena gemetar oleh sosok sang penyandang nama besar tersebut. Namun sayang seribu sayang … wajah rupawan serta postur tubuh yang bagus dengan didukung segala kekuatan dan keahlian beladiri itu, selama berjalannya waktu malah tak sedikitpun pernah mendapatkan asupan makanan rohani yang sehat. Sebagai akibatnya, kemegahan seluruh kemenangan dari sosok tangguh serta elok rupawan dari segi fisik itu … pada akhirnya telah menjadi sebuah potret buram dari seseorang yang tak pernah mengenal belas kasih dan selalu menuruti hawa napsunya saja. Alhasil, setiap orang yang mendengar namanya dapat dipastikan akan menjadi takut karena aura serta cerita jahat yang selalu saja terdengar akrab bersamanya. Dan walaupun pria tersebut seharusnya telah bisa menjadi pribadi matang dalam usia; namun pernah sekalipun ia bisa menjadi sesosok yang dapat dicintai oleh seorangpun, sebagai akibat dari roh kejahatan yang seolah enggan meninggalkan hatinya. --- Pertarungan telah berjalan selama beberapa lama. Belajar dari pengalaman, kini Wawang hanya lebih banyak mengandalkan kegesitannya saja untuk menghadapi lelaki yang semakin kalap menyerangnya itu. “Pengecut! Hadapi aku, kita sedang bertarung, bukan main petak umpet!” demikian beberapa kali teriakan terdengar dari si lelaki paruh baya yang menjadi sedikit frustasi karena semua serangannya tak dapat mengenai tubuh lawan. Tentu saja memang harus demikian adanya. Karena si pemuda belia yang cerdik, kini sudah tak mau lagi mengadu fisik secara langsung dengan menerima serangan yang dilancarkan secara gencar itu. Memanfaatkan tubuhnya yang ramping, dengan mudah dan luwesnya Wawang selalu saja berkelit dari setiap pukulan yang mendatangi. Apa yang kini diperbuat oleh sang pemuda, tidaklah terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena selain mengandalkan gerak lincah dengan memanfaatkan postur tubuh, tentu saja ketajaman mata sang bocah yang sangat awas sudah menjadi sebuah nilai lebih yang sangat berguna baginya. Hasil yang didapatkan oleh Wulan dalam petualangannya berloncatan dari batu satu ke yang lainnya, dengan segera dapat dirasakan manfaatnya oleh si bocah yang berperan sebagai Wawang itu. Karena pada saat ia menemukan lawan yang memiliki tenaga lebih besar, kelincahannya telah menjadikan dirinya bisa mengimbangi serangan yang menghujani. Si bocah yang memiliki kemenangan lain dalam hal usia, tentu saja seperti tak kehabisan energi layaknya jika ia sedang bermain dengan teman-temannya. Dan kodratnya sebagai orang muda yang kebetulan juga terlatih dalam ilmu pernapasan, sepertinya telah meniupkan sebuah perubahan angin dalam pertarungan tersebut. Karena seiring berjalannya waktu, Wawang menjadi tak hanya mampu untuk menghindar dari serangan saja. Napas panjang serta kebugarannya sebagai remaja belia, sudah barang tentu akan menjadi satu hal yang tak akan bisa ditandingi oleh sang lawan yang sudah berusia. Sebab setelah sekian lama mengerahkan banyak tenaga untuk melancarkan serangan-serangan yang sia-sia, akhirnya sang jawara harus mau mencicipi beberapa tamparan serta pukulan yang ersarang ditubuhnya. “Kurangajar! Awas pembalasanku … rasakan!” dengan kalap, Edi Best beberapa kali berteriak saat pukulan-pukulan tangan kecil mendarat ditubuhnya. Meskipun tak mengakibatkan satu hal yang serius atau fatal, namun sejatinya apa yang telah dilakukan oleh Wawang adalah satu hal yang amat melukai sang Preman berangasan. Sebab dalam pertarungan manapun yang ia lakukan, belum pernah rasanya ia dipermainkan seperti itu. Apalagi, yang melakukan hal tersebut adalah seorang bocah yang lebih pantas menjadi anaknya. “Aku baru mengunakan sepuluh persen dari tenagaku … hi hi … bagaimana Bos? Edi Bos? Masih kuatkah napasmu untuk bermain lompat-lompatan denganku?” dengan sengaja, Wawang melontarkan kata-kata nakal untuk menggoda sambil ia berlompatan menghindari serangan. “b*****t cilik! Jangan jadi pengecut! Hadapi pukulanku, jangan cuma berani menghindar!” dengan kemarahan meluap, lelaki itu terus memaki sambil terus menggerakkan tangannya. Nampak nyata, wajahnya memerah murka. Dan yang tak bisa ia sembunyikan lebih lama lagi, adalah napasnya yang kini sudah mulai tersengal karena usia yang tak lagi muda. “Ha ha … alasan saja! Kamu yang tak bisa memukul dengan baik, kenapa aku yang disalahkan?” kembali usil, si bocah melempar kata sambil menghindar dari pukulan. “Tutup bacotmu yang licik itu!” genaplah sudah hinaan yang harus diterima oleh seorang Edi Best. Karena apa yang dikatakan oleh si bocah, seakan-akan telah melecehkan kekonyolannya yang belum pernah sekalipun berhasil menyentuh tubuh lawan dengan pukulannya. Namun, ternyata petarung tua itu bukanlah sebuah pepesan kosong belaka. Karena saat ia melemparkan u*****n pada Wawang, otaknya juga ikut diputar untuk menemukan sebuah kelamahan. Dan setelah menemukan kelemahan musuh serta menunggu dengan sabar, iapun menemukan saat yang tepat untuk melakukan sebuah serangan nekad. --- Wawang kembali meloncat ke kanan untuk menghindari sebuah pukulan lurus yang mengincar dadanya. Dan ketika ia hanya sekedar menghindar dengan otomatis seperti sebelumnya, itulah saat yang sudah ditunggu oleh lawannya. Pada waktu yang bersamaan, Edi Best membungkukkan badan setelah pukulannya berhasil dihindari oleh Wawang. Dan tanpa perlu melihat lagi karena sudah mengahapal pergerakan sang bocah, kaki kirinya langsung ia julurkan kebelakang dan serta merta ia sapukan kesamping kiri menuju depan. “Ahhh ….” Bruk! Hampir seperti berdebum, tubuh lencir itu terjatuh karena tersandung sapuan kaki Edi Best. Wawang jatuh tertelentang, sementara lawannya langsung berdiri dengan sedikit terhuyung untuk mendekati tubuh si anak muda. Dengan sedikit merasa aneh, Wawang menyaksikan gerakan sang preman yang tak segesit sebelumnya. Namun hanya sepersekian detik, ia harus segera mengabaikannya karena sesosok tubuh telah mendadak saja melayang untuk menerkamnya … ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN