BAB 24 - Jerat Janji Yang Terpaksa Harus Terucap

1878 Kata
Ketika Wawang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pembicaraan antara Edi Best dengan Ali Badri, kala itulah ia langsung tak memiliki sepotong pun rasa simpati pada si orang yang lebih muda. Sebab dengan nyata, si preman berangasan telah mempertontonkan betapa ia tak mempunyai rasa hormat pada orang yang lebih tua. Bagi si bocah remaja, omongan seperti yang ditujukan padanya sekarang ini bukanlah merupakan sebuah penghinaan yang menyinggung harga dirinya. Tapi justru dirinya malah merasa kasihan, saat melihat betapa orang seumur lelaki tersebut ternyata belum memiliki sikap beradab sedikitpun. Sebab bagi Wulan yang sedang menyamar sebagai anak laki-laki, nilai-nilai pribadi terkait martabat seseorang itu sangatlah ditentukan oleh pembawaannya saat menghadapi sesama mahluk hidup. Dan sepandai dan sepintar apapun orang yang bernama Edi Best dalam menunjukkan kerasnya otot dan tulang, baginya tidaklah akan berarti apapun. Karena kekuatan tanpa didasari oleh kasih yang lemah lembut, tentu saja hanya akan menghadirkan angkara serta kedzaliman bagi dunia ini.   ---   Sang pemuda belia hanya menatap calon lawannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Sementara, orang yang jauh lebih tua itu malah terlihat begitu berangasan serta mengumbar sikap over acting seolah merasa telah menang walau belum juga mengadu pukulan sedikitpun. Tentu saja, hal itu menjadi sebuah pemandangan janggal yang akhirnya mengundang sebuah senyum bangga yang terukir di bibir Ali Badri sebagai sesepuh di tempat tersebut. Karena dimata sang tetua, sikap yang ditunjukkan oleh Wawang adalah merupakan cerminan bagi pribadi juara yang penuh dengan isi. Tenang dan tak terpancing emosi, demikianlah apa yang ditunjukkan oleh si bocah. Seolah, dialah yang menjadi pihak lebih dewasa yang sedang mengawasi seorang anak berandalan mempertunjukkan tingkah norak si pencari perhatian. Ditengah serangan mental yang sedang coba dilancarkan oleh Edi Best, tiba-tiba seorang anak buahnya terlihat mendekat. Tanpa perlu berhadapan muka, orang tersebut nampak membisikkan suatu kalimat dari belakang tubuh sang pimpinan yang sedang melakukan intimidasi pada seorang anak kecil. Lalu tak lama setelah si anak buah mundur, terdengar kembali kata-kata yang diucapkan dengan keras oleh si preman berangasan. “Ohhh … jadi, kamu ini yang dikabarkan telah memukuli beberapa orang anak buahku. Hmm … pantas saja kau jadi demikian sombong dan berani menantangku. Apakah benar kau yang bernama Wawang?” “Benar, aku Wawang. Dan maaf,  aku tak pernah bermaksud memukuli anak buahmu. Mereka yang menyerang, dan aku hanya sebatas membela diri saja.” “Jangan sombong! Dan jangan kau kira kau akan bisa menang melawanku kalau hanya baru bisa mengalahkan sebangsa pencopet jalanan tiada berotak.” Dengan kembali memunculkan sisi congkaknya, pria tersebut melempar kata dengan maksud meremehkan Wawang. Namun bukanlah Wawang namanya kalau ia tak tergelitik mengeluarkan jawaban usil khas sifat seorang Wulan yang ada dalam dirinya. Karena dengan spontan, lidah tajamnya menyahuti kalimat menggelikan yang tidak konsisten terucap dari Edi Best. “Ahh … tolong jelaskan. Katamu tadi, meraka adalah anak buahmu … apakah benar begitu?” tanya si bocah untuk memancing kemarahan sang pria berangasan. “Memang benar mereka anak buahku. Dan kamu telah lancang dengan berani mengusik mereka!” tegas dan penuh ancaman, lelaki itu menjawab. “Ha ha ha … akhirnya, kau mengaku juga! Jika mereka merupakan anak buah yang hanya sebangsa pencopet jalanan tak berotak,  berarti kamu adalah kepala pencopet yang tak berotak juga. Pantas saja … ha ha ha …” “Jaga mulutmu! Pantas saja apa, ha?? Ayo jawab sebelum kuhancurkan bibir tipismu yang seperti anak perempuan itu!” satu tingkat, emosi kemarahan sudah mulai naik dari pihak si preman berangasan. “Oh, Maafkan … aku hanya mau berkata … pantas saja pemimpinannya tak punya otak dan hanya banyak omong belaka. Ingat … anak buah itu selalu meniru siapa pemimpinnnya. Pemimpin banyak mulut tiada isi, pasti akan ditiru oleh anak buah banyak gaya seperti kaleng kosong yang sekedar berkelontang nyaring tak berisi apapun.” Tajam, lidah si anak muda menusuk telak pada harga diri Edi Best yang terlalu tinggi menilai dirinya sendiri. Dan mendengar kata-kata terakhir dari sang bocah ingusan, emosi si lelaki tersebut langsuing saja naik beberapa tingkat. Dengan wajah merah padam karena merasa direndahkan di depan para anak buahnya, ia terlihat hendak merangsek sambil meneriakkan kata tak pantas, “B*ji*ng*n! B*ngs*t rendahan banyak cing-cong … akan kuhajar mulutmu yang kurangajar itu!” demikian teriaknya dengan penuh kemarahan yang membara. Namun mendadak saja, “Tahan!” sebuah suara terdengar. Meskipun tak terlalu keras, namun bisa terdengar jelas karena getar wibawa yang terkandung didalamnya. Edi Best menghentikan langkahnya, sementara Wawang masih tetap bersiaga tanpa sedikitpun bergeming dari tempatnya berdiri. “Hei … kenapa kau mencegahku untuk menyerangnya? Bukankah ini pertandinganku? Pak tua, apakah kau akan menjilat ludah sendiri dengan berniat membela bocah sombong itu?” kalap, si preman berangasan langsung memprotes Ali Badri yang dianggapnya telah menghalangi serangannya kepada Wawang. “Hmm … pertandingan belum juga dimulai …” sahut sang tetua dengan kata perlahan. Namun kalimat yang belum selesai itu segera saja ditimpali oleh Edi Best yang sudah terlanjur marah. “Ini pertarungan, bukan pertandingan! Jangan main-main denganku dengan membuat sebuah sandiwara tentang istilah pertandingan layaknya para pengecut yang berkelahi dalam banyak aturan dengan mengatasnamakan sebuah turnamen atau pertandingan belaka!” “Tapi tetap saja, ini adalah rumahku! Dan semua yang berada di tempat ini sekarang, adalah para tamu yang harus bisa menghormati aturan dari sang tuan rumah.” tegas dan penuh wibawa, Ali Badri menunjukkan kualitasnya sebagai seorang yang disegani. Dan nampaknya, Edi Best juga menangkap sebuah pesan yang terkandung dalam kata-kata sang pemilik rumah. Karena setelah kalimat itu diucapkan, ia terlihat menjadi sedikit menahan diri untuk tidak bertindak secara berlebihan dan semau sendiri. “Baik, Bos Ali … katakan saja peraturan di tempat ini.” Demikian jawabnya tanpa ingin merendahkan harga diri sedikitpun. “Pertarungan akan segera dimulai agar tak berlarut menjadi keributan berkepanjangan yang tanpa arti. Namun, hal tersebut akan dilakukan di dalam sana agar tak menarik perhatian orang lain yang ingin tahu dengan keramaian ini.” “Aku sepakat. Mari kita lakukan sekarang,” jawab si berangasan dengan cepat seperti tak sabar lagi untuk memulai. “Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu setuju?” tanya sang tuan rumah pada Wawang yang masih saja berdiri dengan tenang di tempatnya. “Aku menurut saja, Tetua … bagiku, tak masalah dimanapun hal itu akan dilakukan,” jawab si anak remaja dengan santun. “Ha ha … memang tak akan jadi masalah. Karena mau dimanapun, kau pasti akan babak belur berkalang tanah.” Si preman tak mengenal sopan langsung saja menyahut tanpa permisi. Namun tampaknya ia kecele, karena saat itu hanya mendapatkan sebuah cibiran tipis dari bibir lawannya. Hal yang demikian, tentu saja telah menjadikan perut Edi Best menjadi mulas. Sebab, tak biasanya ia benar-benar merasa disepelekan oleh orang lain seperti saat ini. Apalagi yang merendahkan omongannya hanyalah seorang bocah bau kencur, yang bahkan dianggapnya belum juga bisa buang seni dengan lurus. Namun selagi ia hendak melancarkan kata-kata provokasinya kembali, Ali Badri sudah membuka mulutnya kembali, “Mari semua pindah ke dalam. Agar tak saling curiga mencurigai, tugaskan beberapa orang dari kelompok kalian untuk berjaga di tempat ini secara bersama-sama.” Demikian kata sang Tetua untuk memulai memindahkan mereka menuju belakang rumah utama. ***   Pekarangan yang terletak di tengah-tengah beberapa bangunan kompleks rumah Ali Badri, ternyata lebih luas dibanding dengan  halaman depan. Dan disitulah kurang lebih empat puluh orang telah berkumpul mengelilingi sebuah lapangan yang luasnya hampir dua kali lapangan Volley itu. Sepertinya, tanah lapang tersebut kini memang sengaja disiapkan untuk menyelenggarakan pertarungan seperti yang dikehendaki oleh Wawang. Segera setelah sampai disana, dua orang sudah langsung saja menempatkan diri di area yang sepertinya sangat ideal bagi bertemunya dua orang untuk saling mengadu kekuatan. Sesuai dengan urutan kedatangan, Wawang menempati sebuah sudut yang tidak dipilih oleh Edi Best dalam posisinya menyiapkan diri. Kelompok tuan rumah yang berjumlah sekitar lima belas orang termasuk Ali Badri, nampak berdiri dalam deretan memanjang di sepanjang kiri dan kanan tangga teras belakang rumah. Sementara sang tuan rumah dan dua orang pengawalnya, dengan tampak dengan penuh perhatian  mengamati seluruh orang dari bibir teras. Ke sebelah kanan, ia menyapukan pandangan pada kelompok Edi Best dengan sekitar lima belas anak buahnya. Terlihat, sang pemimpin sudah menyiapkan dirinya dengan maju ke tengah lapangan untuk menunggu lawan yang akan bertarung dengannya. Wawang sendiri, dengan didampingi lima orang rekannya masih nampak diam di sudut lapangan untuk menunggu apa yang akan terjadi, ataupun maklumat yang akan disampaikan oleh sang tuan rumah terkait semua aturan dan tata cara pertarungan malam itu diselenggarakan. Dan benar saja, karena tak lama kemudian terdengar sebuah suara yang langsung membuat semua kegaduhan obrolan terhenti. Sebab setelah merasa semuanya berkumpul dengan rapi, Ali Badri segera akan membuka acara tersebut dengan sambutannya. “Aku rasa, kalian semua sudah tidak sabar menunggu pertarungan ini dilakukan. Namun demikian, ada baiknya jika aku mengucap sepatah dua kata demi terhindarnya kita dari kesalahpahaman.” Demikian kata pembuka dari sang tuan rumah. “Katakan saja intinya biar kita tidak bertele-tele. Dengan segala acara pidato seperti ini, rasanya percuma saja kita semua menunggu. Karena pada akhirnya nanti, kita malah terlalu banyak adu omong, sementara pertarungannya sendiri malah akan bisa kumenangkan dalam beberapa detik.” Dengan sombong yang tak kira-kira, Edi Best yang masih merasa kesal itu langsung menyahut dengan tanpa sikap menghormat. “Aku akan bicara pada intinya. Kuharap, kau bisa sabar menahan diri agar tidak ditertawakan orang muda yang ternyata lebih memiliki adab.” Dengan tenang, Ali Badri menjawab komentar tak sopan dari sang tamu berangasan. “Kau mau bilang jika aku ini orang biadab?” tanya orang yang lebih muda dengan nada tinggi. “Bukan aku yang mengatakannya. Kau bisa menilai sendiri bagaimana tingkahmu itu. Baiklah … karena ada yang sudah tidak sabar lagi, kurasa semua harus dimulai dengan secepatnya. Tapi sebelum itu, aku hanya mau mengatakan bahwa tujuan pertarungan ini adalah disebabkan oleh seseorang yang sedang mencari keadilan dengan membela seorang kawannya.” Dengan cepat, sang tuan rumah bicara pada intinya. “Halah … masa bodoh dengan segala macam keadilan! Aku mau bertarung sekarang!” dengan keras, si preman tak tahu sopan itu langsung berteriak. “Baik, aku turuti kemauanmu. Tapi sebelumnya, ada satu hal yang kuingin dengar darimu,” balas sang Tetua dengan nada kukuh menahan kemarahan. “Tanyakan saja, akan kujawab kalau bisa.” “Begini … dari tadi aku hanya mendengar bualanmu tentang kemenangan. Tapi aku ingin tahu … bagaimana jika kau yang kalah? Apa yang akan kau janjikan bila nanti sudah tak berdaya lagi karena ditaklukkan oleh seorang anak ingusan?”   “Ha ha ha … jangan mimpi bisa mengalahkanku!” dengan kata-kata pongah, lelaki tengah baya itu mentertawakan pertanyaan yang baginya sangat menggelikan. “Kau takut menjawabnya? Apakah dengan demikian, itu berarti kau sudah merasa akan dikalahkan oleh seorang anak-anak?” dengan pintarnya, Ali Badri memancing gengsi Edi Best dengan secara sengaja menyepelekan kemampuan laki-laki tersebut. “Hah? Aku takut? Tak ada satupun yang ditakuti oleh seorang Edi Best! Dengarkan hai orang tua … aku akan menuruti apapun kemamuan dan permintaan bocah ingusan itu jika ia mampu mengalahkanku!” tegas, keras, kalap dan takabur … itulah jawaban yang memang ditunggu oleh sang Tetua. “Baiklah jika begitu ucapanmu. Dengarkan semuanya! Kalian yang hadir disini, sekarang telah menjadi saksi dari janji seorang jagoan yang bernama Edi Best. Aku akan berlaku adil dengan tidak mencampuri pertarungan ini. Namun bila ternyata Edi Best kalah tapi tak mau menepati janji … itu semua akan menjadi urusanku! Dan sekarang … mari kita mulai pertarungan ini …” ***             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN